
“Kak Haru sama kak Koko masih di sana?” Tanya Arvi via telpon begitu dia telah kembali dari gudang.
“Udah pergi tadi. Rasanya kog kayaknya mereka emang sengaja ngehalangin kita ketemuan ama elo, ya?! Tadi elo baik-baik saja, kan?” TanyaYaya’ yang memang paling peka dibanding kedua sahabatnya itu.
“Baik-baik aja kog, gak ada yang berkurang.” Jawab Arvi enteng.
“Apa elo ketemu sama cowok Casper itu lagi?” Tanya Memey kali ini.
“Hehehe iyah.” Jawab Arvi tersenyum geli.
“Eh, Vie’... gue bukannya mau nakutin elo sih. Cuma kog gue curiga, sebenarnya si cowok Casper itu yah si kak Arvan. Apalagi namanya aja juga hampir sama.” Ucap Yaya’ langsung membuat cewek itu tertegun sampai-sampai mendadak berhenti di tempat.
“Gue juga ngerasa gitu sih. Apalagi elo kan gak liat wajahnya secara langsung. Emang elo gak curiga apa?” Tanya Memey yang membenarkan asumsi Yaya’ soal kecurigaannya tentang si cowok Casper.
“Yaaaah...jangan gitu dong. Masa sampai gudang belakang juga dia udah tau. Apes banget sih gue.” Rengek Avie’ membuat kedua sahabatnya hanya bisa tersenyum kecut.
“Emang ada apa sama gudang belakang?”
Lagi-lagi suara tersebut hampir membuat jantung Arvi naik ke kerongkongan. “Kak...Avan?!”
Gadis itu menoleh perlahan, seolah memastikan bahwa tidak ada setan di belakangnya. Apalagi di seberang sana sudah majang dua algojonya si pentolan sekolah. Otomatis ia tidak mungkin bisa lari lagi. Menuju ke kelas pun sepertinya agak mustahil, jika Arvan sudah stand by di belakangnya seperti sekarang ini.
Ngomong-ngomong lagi, dari mana munculnya mahluk astral ini? Padahal dirinya yakin tidak diikuti oleh siapapun begitu keluar dari gudang belakang.Apakah mungkin kecurigaan Yaya’ itu benar adanya? Meskipun begitu, Arvi tidak mungkin mau memastikannya sendiri, karena jika tebakannya salah akan sangat beresiko.
“Gak...gak ada apa-apa...” gelengnya cepat membuat Arvan cuma bisa tersenyum lucu.
“Hari ini elo pulang sama gue, yah? Ada yang mau gue omongin sama elo. Kalau bisa gak perlu pakai acara nangis segala, ya?!” Bujuk Arvan lembut.
Didekatinya gadis yang makin menjauh itu. Hingga, dengan terpaksa Arvan meraih pergelangan tangan Arvi dan menariknya hingga gadis itu hanya berjarak sekian senti saja dengannya. “Kali ini...kalau Kay pacar bo’ongan sialan mu itu belagu lagi. Bakal gue hajar dia sampai mati.” Ucapnya.
Mengancam cewek yang di matanya terlihat berekspresi biasa-biasa saja itu—meskipun sebenarnya, dalam hati Arvi merasa deg-degan juga, waktu diperlakukan lembut namun egois seperti itu oleh Arvan yang kegantengannya sudah ia akui—bagaimana tidak, toh Kay bukan benar-benar pacarnya.
Seperti yang Arvan bilang. Dan kalau pun Arvan dan Kay memang punya dendam pribadi dengan menyangkut pautkan dirinya, dia lebih memilih untuk tidak membela siapa-siapa.
***
“Dia ngomong gitu?” Tanya Kay pada Arvi, yang menceritakan peristiwa saat dirinya dicegat oleh Arvan,di lorong menuju kelasnya.
Arvi cuma membalasnya dengan anggukan. Gadis itu hanya menelengkan kepalanya. Sembari menopang dagu dengan kedua tangannya yang bersandar di atas meja. Matanya melirik memperhatikan Kay yang tengah duduk menghadap ke arahnya.
“Kalau gue masih nekat gak mau ngelepas elo?” Tanya Kay padanya. Tatapan mata dan senyuman itu seolah tengah menantangnya.
“Gue cium lo.” Jawab gadis itu sontak membuat Kay sedikit berjingkat kaget.
Arvi hanya meringis melihat reaksi spontan Kay barusan. “Gak apa-apa, kalau elo nyiumnya di depan Kak Arvan.” Balas cowok itu balik menantang.
“Idiih males banget.” Balasnya sambil memercingkan mata, seolah habis makan jeruk lemon.
“Meskipun sebenarnya yah~ gak ada ruginya juga sih dicium sama cowok ganteng kayak elo.” Sambungnya asal dan terang-terangan.
Cowok itu meringis, Kay benar-benar senang bisa menemukan cewek yang luar biasa berbeda dari yang lainnya. Arvi bukannya sok cuek, juga bukan sok cari perhatian.
Meskipun pendiam, Arvi bukannya takut atau apalah itu seperti cewek pada umumnya. Bisa dibilang kalau dia menganggap Kay tak lebih dari sekedar teman biasa saja, suka yang biasa, tidak berlebihan hingga seperti
memujanya. Hingga tanpa sadar, tangannya melayang mengusap puncak kepala cewek yang tengah duduk di sebelahnya itu.
“Ya udah untuk kali ini gue yang ngalah. Daripada bikin elo nangis lagi.” Ucapnya menimpali yang dibarengi oleh tawa kecil, membuat gadis itu tersenyum memperlihatkan gigi kelincinya yang khas itu.
Tanpa mereka berdua sadari, Metha dengan tatapan mata penuh amarah dan dendam—terhadap cewek yang tidak ada manis-manisnya itu—terus memperhatikan bagaimana kedua sejoli itu tengah asyik mengobrol, seolah dunia hanya milik mereka berdua.
***
“Elo gak pulang?” Kini giliran Arvi yang bertanya pada Kay—yang tenyata tengah menunggunya—di depan ruang menjahit. Kebetulan kelas memasak Kay, bersebelahan dengan ruangan kelas menjahit Arvi
“Bentar lagi.” Jawab Kay yang masih santai bersandar di depan ruangannya, sembari menonton para senior kelas XII, yang tengah bermain basket di tengah lapangan sana.
Arvi ikut mematung di sebelah Kay, memperhatikan sosok cowok di lapangan Basket sana, yang tengah berpeluh keringat merebut bola dari lawan mainnya.
Meskipun wajahnya masih terlihat ngeblur oleh jarak pandang yang lumayan jauh, Arvi masih bisa mengenali siapa pemilik aura menggoda itu. Matahari yang tengah terhalang oleh awan, membuat para anggota tim basket tersebut makin bersemangat dalam permainan three on three melawan Arvan dan kedua dedengkotnya.
Kaum Hawa yang belum ingin pulang, menyempatkan diri untuk menjadi penonton sekaligus pendukung Arvan, yang tengah melawan para pemain inti di klub basket.
Arvi sama sekali tidak sadar kalau dirinya begitu terpesona, melihat performa Arvan yang tengah men-drible bola ke arah ring. Sebenarnya bisa dibilang kalau Arvi paling lemah dengan cowok model Arvan.
Tampang oke, badan tinggi atletis, rambut agak panjang tipis model anime jepang, baju berantakan dengan kancing yang agak terbuka, sedikit memamerkan dadanya yang bidang plus kulit kuning langsat mulus oriental khas Indonesia.
Ditambah lagi cowok itu tengah memainkan olahraga favorite-nya. Kay yang memperhatikan bagaimana Arvi memusatkan perhatiannya, pada sosok Arvan tanpa berkedip.
Membuat Kay merasa agak sedikit tidak terima, entah mengapa?! Apalagi harus mengakui Arvan sebagai saingannya, bukan hanya sekedar musuh dari masa lalunya.
“Elo suka sama dia yah?” Sebenarnya ingin sekali Kay menanyakan hal tersebut, pada cewek yang seperti tengah terhipnotis, oleh aura menggoda si pentolan sekolah itu. Namun, sebelum ia bisa berkomentar apa-apa. Arvan sudah keburu mendatangi mereka berdua.
“Dari tadi merhatiin gue terus. Jatuh cinta beneran sama pesona gue, yah?” Goda Arvan, yang tak peduli bagaimana Kay tengah menatapnya dengan kesal. Arvi tak menjawab. Tapi wajahnya sudah mengisyaratkan, bahwa pertanyaan itu boleh dibenarkan. Arvan hanya bisa tertawa lembut. Ia menarik tangan gadis itu dan mengajaknya ke tengah lapangan.
Tidak peduli bagaimana para siswi yang sedari tadi jadi cheerleader dadakan, sudah berteriak-teriak tidak terima. Apalagi sampai melihat Arvan menggandeng cewek pendek itu dengan mesra. Sedangkan, yang bersangkutan cuma bisa menahan diri untuk tidak salah tingkah,dengan perlakuan Arvan.
“Elo bisa main basket?” Goda Arvan yang memberikan bola pada Arvi.
“Kalau elo bisa masukin bola ini sekali ke ring, gue bakal nurutin satu permintaan elo.” Tantang Arvan yang sudah mulai melancarkan serangan berupa senyuman paling menawan.
“Serius?” tanya Arvidengan tatapan ragu.
“Serius.” Jawab Arvanenteng
“Sumpah?”
“Iyaaah~” Arvan hanya meringis, mendapati reaksi polos cewek yang tengah menjadi mainannya ini.
“Janji?”
“Pinky promise.”
“Kalau nggak bisa?” Tanya Arvi sekali lagi.
“Yaaah~ elo jadi yang harus nurutin satu permintaan gue,” Ucap Arvan membuat wajah Arvi makin bersemu merah seperti udang rebus.“Apapun itu.”
Cewek itu otomatis gugup, grogi, kedua telapak tangannya sudah mulai berkeringat dingin saking nervous-nya. Jantungnya berdegup kencang seperti tengah berlomba pacuan kuda. Tapi, demi satu-satunya keinginan yang akan dipenuhi jika ia berhasil memasukkan bola ini. Arvi harus bisa berusaha melakukan yang terbaik. Dia tidak boleh gagal, jika tidak. Maka dia bisa habis ‘dimakan’ Arvan dengan permintaan “abnormal”-nya.
Diletakkannya tas ransel itu di sampingnya. Arvi berdiri di luar garis kuning tempat di mana ia boleh melempar bola ke arah ring. Dipusatkannya konsentrasi pada tenaga di ke dua tangannya.
Matanya tertuju lurus pada ring tersebut. Dalam hati dirinya berkomat-kamit membaca doa. Setelah men-drible bola tersebut sebentar sebagai pemanasan, ia langsung melompat melayangkan bola tersebut hingga membentur palang di atas ring. Tanpa terduga bola masuk dengan sempurna.
“MASUK???!!! PUJI TUHAN!!!” Cewek itu berjingkrak senang, melompat-lompat saking girangnya.
Arvi sampai tidak sadar, bahwa dirinya tengah membuat sang pentolan sekolah ingin tertawa,melihat tingkah konyol cewek yang mendadak jadi seperti anak TK yang dapat mainan baru.
“Lo liat gak Kay? Gue berhasil, tembakan gue masuk!!” Serunya, tidak mempedulikan bagaimana dirinya membuat Arvan cemburu dengan kata-katanya. Arvan mengernyit kesal.
“Gue lihat kog, tembakan lo bagus banget.” Puji Kay dengan senyum riangyang makin membuat Arvan berang.
“Aku mau buku sketch sama kacamata aku balik, boleh kan kak?” Bujuk gadis itu, begitu ia berbalik dan kini menghadap Arvan,seniornya.
Arvan melirik pada gadis pendek di sebelahnya itu. Senyum Arvi mengembang menghiasi bibirnya. Wajahnya begitu terlihat sumringah benar-benar seperti anak kecil,yang ingin menagih mainan baru kepada orang tuanya.
“Cuma itu? Apa elo gak mau nyoba ngelempar lagi?? Siapa tau bisa masuk dan elo bisa ngajuin permintaan lain.”
Rayu Arvan, benar-benar tidak ingin hal yang selama ini menjadi alasannya bisa mengikat Arvi hilang.
“Keberuntungan gak datang dua kali kak, satu aja udah cukup,” Ujar gadis itu membuat Arvan tidak bergeming, senyum manisnya masih lembut terukir di sana. “Kak...?”
Dalam keterdiaman, Arvan menarik pergi gadis itu dan mengambil tas ranselnya yang tergeletak di sisi lapangan.
“Ayo pulang!”
Tanpa Ba-bi-bu, Arvan menggandeng Arvi dan menyeretnya pergi meninggalkan lapangan. Dan kini sekali lagi membuat para siswa cowok Cuma bisa menggeleng-gelengkan kepala, saat melihat betapa para kaum hawa sudah berteriak histeris dibuatnya.
Sedangkan Kay mulai menguntit kepergian mereka dari jauh. “Permintaan aku gimana kak?” Tanya Arvi yang masih dengan susah payah menyamakan langkahnya dengan si kaki panjang.
“Kalau elo mau nemenin gue kencan.” Ucapnya pada cewek yang sudah melongo—bermaksud menyuarakan aksi protes—karena apa yang diucapkan, tidak sama dengan apa yang dilakukan.
“Kalau aku kencan sama kak Arvan, kacamata sama buku sketch-nya beneran bisa balik, yah?” Tanya
gadis itu dengan mata mengiba.
Arvan yang melihatnya jadi agak terhenyuh juga. Padahal dia pikir, akan mendapatkan penolakan lagi seperti waktu itu. Tapi, belum sempat Arvan akan mengungkapkan sesuatu, matanya menangkap sosok Kay yang kembali membuatnya kesal hingga mengacuhkan permintaan gadis itu.
Mengacuhkan seluruh mata yang tengah memperhatikan gelagat mereka, juga mengacuhkan suara-suara yang terdengar tengah ber-gossip soal mereka. Saat ini bagi Arvan yang terpenting adalah menjauhkan Arvi dari pengawasan Kay. Bagaimanapun caranya. Jika ia tidak bisa menjauhkan Kay dari Arvi, maka ia akan membuat Arvi yang menjauh dari Kay.
Caranya? Dengan membuat gadis itu 100% berpaling padanya. Jadi, mungkin Arvan harus benar-benar membuat cewek itu jatuh cinta, cinta mati. Kalau perlu sampai seperti Milena yang selalu memujanya seperti berhala. Seolah cowok di dunia ini Cuma Arvan seorang saja.
Sedangkan, Kay hanya bisa menyunggingkan senyum yang entah berarti apa?! Sebenarnya tujuan utama Kay mendekati Arvi, bukanlah untuk menjauhkan para lebah dari sekelilingnya.
Melainkan adanya keterlibatan Arvan dengan masa lalunya. Rahasia yang belum bisa ia beritahu bahkan kepada Arvi sekalipun. Karena itu, ia merasa tidak ada salahnya memanfaatkan Arvi, sebagai jembatan untuk membalaskan dendam.
Meskipun, di satu sisi ia sudah mulai sedikit tertarik dengan gadis itu. Cemburunya, kesalnya, perasaan tidak terimanya saat ia melihat Arvi bersama musuhnya itu, bukan sekedar main-main juga bukan bohong belaka. Perasaan itu sungguhan, murni dari lubuk hatinya yang terdalam.
Ringtone nada panggilan Crawling LP itu terdengar di saku celana Kay. Dilihatnya nama si penelpon adalah orang yang sudah lama ingin sekali ia lupakan.
“Hallo?” Jawabnya dengan suara yang terdengar agak tertahan.
“Saya baik-baik saja… uhm, iya… tidak apa-apa.” Jawabnya singkat dan sekenanya.
Pandangan matanya masih menatap kepergian kedua insan manusia tersebut. “Yah… saya sudah bertemu dengannya.” Jawaban itu terasa begitu berat di bibirnya.
“Tenang saja, saya masih belum mengatakan apa-apa.” Ucapannya itu dibarengi dengan seringai sinis yang ditujukan kepada si penelpon. “Wah wah wah, saya kira anda sudah tidak peduli lagi dengan saya. Hal ini benar-benar membuat saya terharu.” Kata Kay lagi seolah menyindir.
“Anda tidak perlu mencemaskan apapun. Hubungan kami sangat dekat. Sampai-sampai kami berdua bisa menyukai satu hal yang sama.” Jawaban itu membuat Kay kembali membayangkan Arvi yang diberondong pergi oleh Arvan sesaat lalu.
Setelah beberapa menit, obrolan yang agak menyesakkan dada Kay itu akhirnya berakhir. Kay yang masih bertahan di koridor sekolah yang sudah mulai sepi, kembali teringat oleh bayang-bayang Arvan.
BERSAMBUNG...