
“Van! Arvan!!” Panggil seorang siswa kepada temannya yang terlihat tengah menjahili para
junior.
Arvan hanya menoleh kearah suara masih tidak ingin beranjak dari tempatnya berdiri. “Apa, Ko?” Tanyanya pada siswa tersebut yang terlihat tengah melambaikan sebuah agenda.
“Ini data peserta MOS yang bakalan masuk ke grup elo!”
Arvan mengambil agenda yang diserahkan padanya. “Thanks, Ko.” Katanya dengan seringai ramah.
Dibukanya lembar demi lembar halaman dalam agenda tersebut untuk mencari nama Grup yang akan dibinanya selama MOS. Ketika meneliti setiap nama dalam daftar
peserta yang baru saja ia temukan. Sebaris nama yang tertulis di lembar Agendanya membuat Arvan membelalakkan mata.
“Mana anak yang pakai initial Bunny?” Tanyanya sedikit meninggikan suara.
Beberapa anak dalam kelompoknya menoleh satu-sama lain. Kemudian seorang siswi yang sepertinya teringat akan sesuatu, mengangkat tangan kanannya sebelum menjawab pertanyaan Arvan.
“Maaf kak… kalau gak salah ingat pak guru bilang anak yang pakai initial Bunny tidak bisa mengikuti MOS karena opname di rumah sakit.”
Jawaban itu setidaknya mampu membuat Arvan terlihat sangat kecewa. Kembali dilihatnya sebaris nama yang ditemukannya. Dalam hatinya ia berencana bagaimana pun juga akan menemui pemilik nama yang sudah menarik perhatiannya ini.
“Elo senyam-senyum terus liat agenda, malah bikin peserta MOS lo pada nervous.” Ujar seorang siswa yang sedari tadi memperhatikannya.
“Elo kira-kira tau gak Ru, cewek yang katanya diopname selama MOS itu, kapan mulai masuk?” tanya Arvan mendekati sahabatnya.
“Setahu gue sih, dia ijin seminggu. Emang kenapa?”
“Ck… gue gak bisa nemuin dia langsung nih kayaknya,” ucapnya berdecak kesal.
“Emang kenapa sih?”
“Elo bakalan tau juga entar,” jawabnyadengan enteng.
Seringai manis terukir indah dibibir tipis Arvan, membuat sahabatnya hanya bisa mengankat satu alisnya, penasaran.
***
Bali,
Hari Minggu pukul 8 pagi
Di teras vila, Arvan terlihat tengah bersantai dengan earphone yang sudah menempel di
telinganya, dengan senyum yang lebih seperti seringai jahil tersebut, Arvan menghubungi salah satu sahabatnya, “Oi, Haru... ada info apa soal si Arvi Nandani?”
“... Lo tau nggak sekarang di sini jam berapa?” seloroh Haru masih setengah mengantuk—Merem-melek**—sembari menjawab telpon dari sohibnya yang paling suka ngerjain orang tersebut.
“Mana gue tauk, yang penting kita masih satu negara, dan sekarag di negara kita udah pagi.” Jawabnya santai dengan sedikit menahan tawa.
“Kalau bukan sahabat gue, udah pasti gue hajar elo besok.” Katanya lagi dengan alis mengkerut.
“HAHAHAHAHA makanya karena gue jadi sahabat elo, gue bisa bebas gangguin elo setiap hari.” Jawabnya enteng yang makin membuat Haru
menghela nafas panjang.
**merem-melek:menutup-membuka mata
Berdebat dengan sahabt terbossy nya itu sama dengan berdebat dengan anak kecil yang manja. Bukannya menang atau berhasil membungkam Arvan, Harulah yang paling kena dampak buruknya, tekanan darah tinggi pasti naik. Jadi dia lebih baik diam atau
“Nothing Special I think... selain dia itu ewek dan lagi single...” sambungnya lagi dengan
malas.
“Yaiya lah Ru, dia cewek. Masa iya gue nyuruh elo sama Koko nyari informasi soal bencong.” Ucap Arvan mengendus lucu.
“Yang penting itu info, mau crucial atau trivial...”
“Terus...?”
“Tinggi 155cm, berat 47 kg, tanggal lahir 2 maret, hobi menggambar, makanan kesukaan yang pedas-pedas sama cokelat, binatang piaraan kucing, takut sama laba-laba...”
jelasnya panjang lebar yang disambut oleh siulan kekaguman dari Arvan.
“Dari mana elo dapat semua info seakurat itu?” Yanya Arvan salut.
“Gue punya informan dan jangan samain gue dengan Koko.” Jawabnya yang malah membuat Arvan tertawa keras.
“Nah itu... kalau dia yang gue suruh nyari info soal nih cewek, bisa-bisa dia bakalan langsung nemuin Arvi sendiri buat ngisi formulir data diri.”
Haru hanya bisa mengendus lucu. Cowok golongan darah AB yang sulit bangun pagi dan suka jadi badmood bila tidurnya terganggu ini tau betul kalau sahabatnya yang bernama Runako itu paling sableng dan jauh dari kata bisa diandalkan kalau untuk urusan secret mission macam begini.
“Emang kapan elo mau balik?” tanya Haru yang sudah sepenuhnya sadar, walau dirinya masih malas untuk meninggalkan tempat tidur.
“Minggu depan. Emang kenapa?”
“Kalau elo mau, gue bisa minta informan gue buat ambil foto dia.”
“Emang gimana anaknya?” tanya Arvan penasaran.
“Gimana ya… Biasa aja.”
“Oh ya? Gue jadi makin penasaran.”
“Elo yakin masih tertarik buat nemuin tuh cewek?” Tanya Haru sedikit mengangkat alisnya.
“Iya lah. Lagian sejak awal gue gak berharap tuh cewek harus cantik atau apa.” Jawab Arvan dengan santai, mengubah posisinya yang tengah menikmati pemandangan alam dariteras kamarnya untuk beranjak kembali
ke kamar.
“Jadi cuman gegara namanya aja yang hampir mirip sama elo?”
“One thing or another. Lagian gue bisa jamin ke elo, kalau cewek yang punya nama semirip gue itu bakalan lebih menarik dari cewek tercantik di sekolah kita.”
Haru hanya bisa mendengarkan penuturan sahabatnya dengan kedua mata menyipit. Dia memang tidak mengenal Arvi, si cewek yang punya nama semirip sahabatnya itu secara langsung. Tapi, menurut pemaparan sang informan, gadis itu tipikal average girl yang
bisa ditemui dimana pun. Jadilah dirinya menyembunyikan tanda tanya besar di
balik punggungnya, karena bagaimana pun ia berusaha berpikir untuk mencari tau
alasan mengapa Arvan sampai bisa tertarik oleh cewek ‘se-ordinary’ itu, he absolutely
had no clue.
“Menemukan mu adalah takdir. Memilikimu adalah berkah…
Karena kau adalah hadiah terindah dari Tuhan
Yang pernah ku dapatkan.