
Jam istirahat pertama,
Arvan kecolongan. Karena sibuk ‘mengoda’ guru Bimbingan Konseling yang ‘mengkritik’
ketidaktaatan Arvan si pentolan sekolah dikarenakan lagi-lagi tidak mengenakan seragam dengan baik dan benar. Kelas Arvi sudah kosong, meski tidak melompong tapi
gadis itu sudah tidak ada di sana.
“Hei Avie’ tadi kemana?” Tanya Arvan tanpa basa-basi pada cewek yang
tengah asik makan bekal di kelas bersama beberapa temannya.
“Tadi dijemput sama dua temannya kak… tidak tau kemana…”
Jawab gadis itu polos dengan wajah memerah malu mendapati Arvan yang dengan sebodo tuing duduk di sebelah cewek itu dan melahap udang goreng tanpa permisi.
Sudah tentu yang menjadi
korban perampokan udang goreng merasa senang-senang saja, mendapati si pentolan
sekolah yang ganteng dan tak ada tandingannya itu, tengah duduk bersamanya dan dengan lahap mencomot lauknya.
“Bilang sama yang masak, udang gorengnya enak.” komentarnya santai sembari pergi meninggalkan kelas Arvi.
Sedangkan, yang ditinggalkan
tengah menjerit dalam hati saking bahagia dan irinya. Setelah, memastikan
bahwa kelas lain bukanlah tempat dimana gadis manis itu bersembunyi, ia menghubungi beberapa temannya termasuk Haru dan Koko untuk memberi tahu
dimana persisnya lokasi si cewek itukini berada.
“Tadi di kantin cuma ada sahabatnya itu, siapa namanya? Yayak sama Meimei?”
Ucap Koko yang sedang asik mencomot roti isi di kantin anak kelas X yang memang
terkenal enak seantero kantin sekolah.
“Nah sekarang tuh cewekkemana semua?” Tanya Arvan yang masih menyisir lantai satu dari ujung kelas ke kelas
lain, memantau dan men-scaning setiap wajah murid yang lewat
di sana.
“Gue tadi liat mereka lurus ke toilet cewek, perlu gue samperin?”
Tanya Koko balik, membuat Arvan geleng-geleng kepala atas kesablengan teman karibnya ini yang memang terbilang cukup edan dan nekat terkadang.
“Gak! Gak usah! Daripada elo entar dapat gelar Ero Senpai**.” Jawab Arvan yang disambut tawa oleh Koko di seberang line sana. Beberapa detik setelah memutus percakapan dengan Koko, datang pangilan dari sahabatnya Haru.
**Ero Senpai : Senior mesum
“Gue lihat dua sahabatnya turun dari gudang lantai tiga di pekarangan belakang, lo mau samperin kesana atau gimana?”
Tanya Haru yang baru saja meninggalkan lokasi tempat sang buron
besembunyi, tanpa sepengetahuan dua insan berkelamin perempuan itu dimana merekabaru saja meninggalkan sahabatnya untuk ke toilet.
“Yang di sebelahnya lahan out bond itu?”
Tanya sang pentolan sekolah langsung bergegas menuju ke suatu tempat yang berseberangan dengan lokasi persembunyian.
“Iyah, dia di lantai tiganya lagi gelantungan kaya orang hilang ingatan.”
Kalimat terakhir ini tentu saja membuat Arvan mengangkat satu alisnya
tinggi-tinggi saking tidak mengertinya
maksud dari ucapan Haru barusan. Dengan senyum mengembang
bak Srigala lapar yang baru dapat Kelinci segar buat makan siang. Arvan dengan
santai melangkahkan kakinya kembali menuju ke sarangnya lantai tiga angkatan
XII. Seperti biasa tanpa permisi Arvan langsung nyelonong masuk ke
sebuah kelas. Tentu saja membuat para cewek yang
lagi ayik ngerumpi berkya-kya antara
kaget dan senang mendapati tamu tampan berkunjung tanpa undangan.
Namun, tak lama setelahnya mereka langsung dibuat bengong begitu melihat sang pentolan sekolah
membuka jendela lebar-lebar dan langsung melompat naik ke meja seperti menyaksikan
adegan maling yang tengah mencoba kabur dari tuan si pemilik rumah. Selain pemberani,
badung dan nekat, tentu saja cowo itu juga terkenal dengan aksi tak takut mati.
Balkon di seberang gudang kosong tempat
Arvi bersembunyi tentu saja bukan di kelas yang baru saja ia masuki tanpa
permisi. melainkan Balkon ruang Lab Komputer yang berada di sebelah Lab Bahasa
Inggris di samping kelas ini.
Para kaum Hawa kembali dibuat histeria dengan tingkah sang pentolan sekolah yang kini tengah menaiki
pinggiran balkon untuk menyeberang ke balkon ruangan
sebelahnya. Setelah berhasil melewati satu ruangan menuju ke tempat dimana dia
bisa memperhatikan gadis itu dengan leluasa. Pemuda itu tidak sadar bahwa
tingkahnya kini seperti seorang Junior yang tengah mengagumi sang Senior dari
jauh.
Sebenarnya bisa saja cowo itu langsung menuju ke gudang belakang, lalu naik ke lantai tiga dan
mendesak gadis itu disana, atau mungkin juga menggodanya hingga keluar air
mata. Tapi, entah kenapa hari ini Arvan memutuskan untuk meliburkan diri,
memberi setidaknya keringanan dan kebebasan untuk gadis itu hanya hari ini.
Saat memandangi gadis itu secara seksama, Arvan kini tau apa maksud Haru saat
di telepon tadi. Yah... benar, gadis itu tengah duduk di
pinggiran balkon gudang, bergelantungan seperti lupa akan gender-nya. Hampir saja tawanya meledak kalau tidak ia tahan.
Sedangkan si cewek tidak sadar akan kehadiran mahluk ghoib yang paling tidak ingin dilihatnya tengah memandangi dirinya di seberang sana. Masih
nyaman dengan kegiatannya, Arvi membiarkan mood-nya
mengambil alih dalam alunan lagu hip-hopyang menyumbat indra
pendengaran dari kebisingann manusia di sekelilingnya.
suaranya sudah melengking dengan merdu di lantai bawah. Membuat Arvan harus
berjongkok duduk bersembunyi kalau tidak ingin kehadirannya ketahuan.
“Ini belum elo isi, yah?”
Memey dengan gaya
centilnya langsung mengganggu keasyikan sahabatnya itu tanpa rasa bersalah.
“Apaan?” Tanya Arvi kali ini menurunkan headphone-nya membiarkan benda itu
menggelantung melingkari lehernya.
“Brosur, elo mau ikut ekskul apa? Minggu ini dah kudu diisi, minggu depan kita udah diwajibkan ikut kegiatannya.” Sambung Yaya’ kali ini menerangkan pada sahabatnya yang masih berusaha mengerti dengan
membaca isi brosur tersebut.
“Hmmm… sebenarnya sih gue bingung antara mau ikut klub menjahit atau klub manga.” ucapnya seolah menggerutu pada dirinya sendiri.
“Udah deh jangan ikutan klub jahit.”
“gak-gak-gak jangan ikut klub jahit.” timpal kedua sahabatnya itu hampir
bersamaan.
“Elo itu cuma pinter nge-design doang, gak ada bakat jahit.”
“Daripada entar bajunya gak ada yang jadi… mending gak usah aja.”
Jelas kedua sahabatnya itu membuat Arvi memanyunkan bibirnya kesal
dengan pernyataan yang memang benar adanya itu.
“Ehh elo kan suka menggambar, coba ikut klub mading, atau apa gitu yang sekiranya bisa ngembangin
bakat lo.” ucap Memey lagi mengambil buku sketch ukuran A5 dari tangan
sahabatnya.
“Emang kalian mau ikut ekskul apa?” tanya Arvi kali ini.
Perbincangan seru itu didengarkan
oleh Arvan yang kini tengah duduk bersembunyi di pinggiran balkon. Canda tawa
ketiga gadis itu tentu saja membuatnya terhibur. Another smile tengah tersungging di bibirnya lembut
dan tulus seolah ia tengah mendengar seseorang tengah melantunkan puisi cinta
untuknya.
“Eh iya, ngomong-ngomong nih, kog elo hari ini aman-aman aja? Emang si setan ganteng itu
kemana?" Ucap Memey yang membuat Arvan tertohok.
“Udah jangan diomongin, entar kalo sampai dia beneran muncul, elo yang bakalangue cekek.”
Jawab sahabatnya itu membuat Arvan terkikih dalam hati.
“Menurut lo, dia gak tau tempat persembunyian kita?”
Tanya Yaya’ kini membuat Arvan tersenyum sinis penuh kelicikan dan kemenangan dibalik
tembok balkon.
“Demi Tuhan semoga enggak. Kalo sampai ini tempat juga ketahuan gue gak tau lagi
musti sembunyi dimana.” Sahut gadis itu bingung, membuat Arvan jadi sedikit merasa bersalah karena sudah merusak harapannya.
“Elo kanapa gak langsung tanya aja sih maksud dia itu apa?" Ucap Yaya’ agak keki juga, mengingat betapa mereka bertiga sangat terganggu dengan
ulah si pentolan sekolah itu.
“Lah kalo maksud dia emang cuma pengen ngeganggu gue, terus gue musti ya apa emangnya?” tanya Arvi kali ini agak sewot.
Membuat Arvan tergoda untuk muncul dan mengagetkan ke-3 gadis itu dan melihat bagaimana reaksi mereka. Tapi,urung ia lakukan karena masih banyak hal yang harus dikerjakan oleh cowo itu
sebelum puncak acara dimulai dan tentu saja dia masih memiliki hari esok yang
menanti kejutan lain.
“Udah yuk masuk, lama-lama di sini gue jadi merinding.” ujar
gadis itu seraya mengusap-usap leher bagian belakangnya.
“IIIIHHH apaan sih,Vie’!” Sergah Memey mulai sebel kalau sahabatnya itu sudah mengeluarkan feeling Sixth sense-nya.
Sedangkan, Yaya’ sudah lebih dulu ambil langkah seribu meninggalkan kedua sahabatnya itu.
“YAAA’ tungguin gue napa!” Kejar gadis centil itu
meninggalkan Arvi yang tengah cekikikan, mendapati kedua sahabatnya yang
memang paling takut dengan hal-hal seram. Namun, tiba-tiba saja Arvi
yang merasa diawasi menoleh ke kiri secara perlahan. Tatapan mata Arvi
bertubrukan dengan sepasang mata Arvan yang tengah mengenakan kaca mata milik
gadis itu. Melihat wajah bengong Arvi, membuat Arvan tergoda untuk melambaikan
tangan kearahnya yang dibalas dengan polos oleh gadis itu dengan sekali angguk.
Antara bingung dan tidak mengerti dengan siapa pastinya mahluk berbentuk
manusia laki-laki di seberang balkon nan jauh di mato itu tengah memberi
lambaian tangan.
Dalam hati Arvan tertawa.
Separah itu kah gangguan pengelihatan gadis itu hingga tidak bisa mengenali
wajahnya yang tampan rupawan. Detik berikutnya Arvi pun beranjak pergi
meninggalkan sosok Arvan yang masih berdiri bersandar tembok ruang Lab
mengamati gadis tomboy itu dari jauh.
“Vie’! Ayo cepet turun!! gue tinggal lho!!!” Ancam
Memey paling sebel dengan kelakuan sahabatnya yang suka sekali menyendiri itu.
Sedangkan Arvi
sendiri masih merasa heran dengan keberadaan manusia satu biji di balkon kelas
di seberang gudang kosong pada jam istirahat seperti ini.
***