
Arvi hanya bisa menghela nafas panjang. Heran dengan cowok yang sekarang lagi duduk anteng di
sebelahnya ini. Toh kalau pun dia emang eneg** sama Metha yang cewek kenapa gak sekalian nyamar jadi Homo. Tukeran bangku sama Fitra atau Tirta, biar sekalian kapok mereka semua. Jadilah ia tak perlu menerima kutukan dari Metha and the gank-nya seperti ini. Begitu ada kesempatan untuk membuka ponsel yang masih tidak berhenti bergetar itu.Beberapa pesan datang dari Metha, isinya semua bernada ancaman.
**Eneg : muak
Pokoknya bagaimanapun Metha tidak terima Kay duduk di sebalah cewek yang sama sekali tidak punya daya tarik seperti Arvi. Yang merasa sudah diejek malah biasa saja tuh.
Arvi tidak heran bila banyak yang menilainya terlalu luar biasa berbeda dari yang terlihat. Ia tidak memotong rambutnya seperti cowok atau paling tidak, sependek rambut Yaya’ waktu masih SMP dulu.
Rambutnya panjang sebatas punggung tapi selalu dicepol berantakan kebelakang, karena
gak pernah sisiran. Juga tidak memakai gelang-gelang besar dan Kalung Hitam model EMO. Asesoris yang
ia kenakan hanya sebuah kalung Silver Monel kado dari kedua sahabatnya, dan jam tangan Swis Army berukuran cowok yang bertengger di tangan kanannya.
Dia juga tidak menindik hidung atau memasang anting hitam besar di satu sisi telinganya, hidung dan lubang telinganya polos. Juga tidak bergaya sok cowok untuk memperlihatkan ketomboyannya.
Arvi adalah sosok pendiam yang lebih memilih untuk tidak banyak bicara jika tidak diperlukan. Ia cuma senang
Basket meski pendek, juga lebih memilih Sepak Bola ketimbang Voli. Lebih suka memanjat pohon atau pagar pembatas di sebelah lapangan Outbond ketimbang menghadiri event gratis dari sebuah brand ternama, yang datang ke sekolah untuk mempromosikan produknya.
Juga lebih suka berlecet-lecet ria di lapangan Outbond dengan para cowok ketimbang cuma duduk manis bersama teman-teman cewek sebagai cheerleader dadakan. Dia bukannya anti-sosial. Tapi, ia memang tidak pandaibergaul. Ia berbeda dengan Yaya’ dan Memey yang paling flexible dengan
siapapun dan dimanapun.
Kedua sahabat karib Arvi itu bukan hanya bisa bergaul,
tapi mereka berdua dengan mudahnya mampu menyesuaikan diri. Sedangkan dirinya
sulit sekali berinteraksi dengan teman cewek di kelasnya, apalagi jika tipenya seperti Metha. Alhasil, Arvi
hanya mampu berteman dengan cowok di kelas dan teman ceweknya hanyalah kedua
sahabat karibnya.
Bel jam istirahat pertama berbunyi. Tak berapa lama saat sang guru keluar dari ruangan, Kay langsung
menggandeng Arvi dan menyeretnya pergi. Metha and the geng tentu saja langsung melotot sekaligus melongo
mendapati sang Pangeran pujaan hati malah menggandeng dengan paksa Si tomboypergi. Padahal, baru saja Arvi
berencana akan menuju ke gudang belakang. Demi untuk menghindari sang pentolan
sekolah juga si Kay.
“Kay… elo mau bawa gue kemana?” Tanya Arvi yang masih dengan tergopoh-gopoh, menyamakan langkahnya
dengan Kay si kaki panjang.
“Ke tempat dimana dia gak bakal nemuin elo.” Jawabnya datar.
“Dia?” Gumam Arvi dalam hati masih mencerna perkataannya.
***
“Avie’ kemana?” Tanya Arvan pada teman sekelas Arvi, setelah mengetahui bahwa cewe yang tengah diincarnya kini menghilang.
“Ta-tadi… digandeng pergi sama Kay, kak…” jawab salah seorang cowok dengan nada gugup.
“DIGANDENG?? Kemana???” Tanya Arvan lagi dengan nada membentak.
“Gak tau kak… benaran gak tau, swear.” Jawabnya lagi pakai salam dua jari, saking takutnya.
“Beneran minta dihajar tuh bocah.” Gerutu Arvan meninggalkan kelas Arvi dengan wajah berang.
“Elo mau cari dia ke mana? Kalau sama Kay belum tentu mereka ke gudang belakang.”
Ucap Haru mencoba menenangkan sahabatnya yang sudah seperti ingin mencabik-cabik daging
manusia itu.
“Yah kemana aja. Sekolah ini kan isinya manusia semua bukan patung. Bakal gue cari ampe ketemu.” Balasnya dengan wajah yang sudah terlihat kaku.
Haru hanya bisa menghela nafas panjang, antara cemas dan pasrah saja. Menghentikan Arvan pada kondisinya
yang sekarang, sama saja dengan main Matador. Bukan Arvan yang bakalan tenang.
Tapi dialah yang bakalan mati.
***
Di lokasi kejadian lain, dalam mobil HR-V putih.
“Kita ngapain di sini?” Tanya Arvi heran.
“Jadi elo lebih seneng digangguin sama Si setan pentolan sekolah itu?” Tanya Kay balik tanpa sekali pun memandang ke arah Arvi.
“Ohhh... thanksdeh kalo gitu.” Balas Arvi polos sambil melontarkan senyum simpul. Membuat Kay meliriknya dengan tatapan yang lumayan menyiratkan rasa penasaran.
Tak berapa lama kemudian dering Handphone milik Arvi berbunyi nyaring mengejutkan keduanya yang sempat terdiam. Tanpa pikir panjang Arvi segera men-silentpanggilan yang rupanya berasal dari
Arvan.
“Mampus gue dia nyariin.” Keluh Arvi seketika, membuat Kay langsung mengambil ponsel Arvi dan menjawab panggilan tersebut meski tanpa persetujuan pemiliknya.
“Sekarang Arvi lagi sama gue. Bye.” Katanya tegas, jelas dan sangat mencengangkan cewek pemilik Handphone tersebut.
Dimatikannya seketika panggilan itu tanpa tau apa yang akan Arvan katakan sebagai balasan. Arvi
cuma bisa melongo mendapati orang asing yang baru dikenalnya sehari sebagai
teman baru—cowok populer yang ganteng sekaligus judes itu—menantang sang pentolan sekolah seolah Arvan bukan siapa-siapa.
Kalau dalam hati Arvi berasumsi, bahwa Kay yang hampir akan dipanggilnya dengan nama Ayana itu mungkin saja hombreng alias homo.
“Elo beneran segitu bencinya yah ama gue?”
Tanyagadis itu tib a-tiba. Membuat Kay berpaling memandangi wajah polos cewek yang kini
sudah mengerutkan dahinya.
“Maksud, lo?” Tanya Kay balik.
“Entar kalau dia marahnya ke gue gimana? Ntar kalau gue dihajar sampai mampus gimana? Elo mau tanggung jawab kalau sampai gue wafat?” Celotehnya panjang lebar membuat cowokyang sedari tadi berwajah kaku itu hampir saja meledakkan tawa.
“Kalau gitu jadi pacar gue aja. Biar gue yang ngelindungin elo dari dia.” Jawabnya enteng sembari menaruh kedua
lengannya yang besar dan putih itu ke atas stir.
“HAH??!!!” Expressi lain daripada yang lain itu baru sekali ini Kay dapatkan. Membuatnya
harus benar-benar mengendalikan diri agar tidak tertawa hebat.
“Emang kenapa? Apa elo udah punya cowok?” Tanyanya kali ini membuat cewekyang sudah bermuka seperti ikan Koi itu berubah normal.
“Jadi gak ada masalah, kan? Atau... elo lebih suka jadi mainannya Kak Arvan?” Pancing
Kay kali ini kembali membuat alis cewek itu bertaut.
“Emang apa untungnya buat elo kalau pacaran sama gue?” Tanya gadis itu kali ini,mengalihkan pertanyaan Kay.
Dihelanya nafas panjang sebelum ia mulai memberi jawaban. “Elo liatkan gimana para cewek
itu ngerubungin gue kayak laler**?” Katanya sarkastik membuat Arvi cuma bisa ketip-ketip.
“So?”
“So... gue pikir kalau gue punya pacar mungkin mereka bakal mundur dan gak bakal ngerusuhin gue lagi. Mereka itu bikin gue risih.” Ujarnya lagi malah dibalas satu alis terangkat tinggi-tinggi—oleh Arvi—saking gak percayanya kalau ternyata, pikirnya, soal asumsi mengenai Kay yang homo itu beneran. Cowok normal kan gak bakal risih dikerubungin cewek. Begitu batin Arvi.
**laler : Lalat
“Kenapa gue?” Tanyanya lagi penasaran. Kenapa gak sama cowok aja sekalian biar para cewek itu
pada jijay. Batinnya yang tak mampu diutarakan.
“Karena elo butuh gue, ya kan?” Jawabnya dengan senyum penuh percaya diri.
“Hah? Maksud lo??”
Tanya Arvi benar-benar terkejut dan gak mengerti jalan pikiran cowok ganteng yang sok keren meskipun memang benar-benar keren itu.
“Emang… habis gue ngomong gitu ke kak Arvan, elo mau minta tolong siapa kalau sampai entar dia beneran marah sama elo?”
Tanya Kay kini mengangkat satu alisnya dengan senyum yang hampir lebih mirip seringai licik.
Arvi tertegun, gadis itu dibuatnya berpikir. Namun, ditengah kesibukannya itu, tiba-tiba Kay mendorong Arvi
dengan menyandarkan kedua lengannya ke sandaran jog mobil di kedua sisi lengan Arvi seolah berniat akan memeluk. Gadis itu tentu saja terperanjat kaget apalagi waktu Kay mengubah jog tersebut ke dalam posisi tidur.
“Elo... ngapain,Kay?” Tanya gadis itu lagi, kali ini karena grogi, mendapati badan tinggi besar bak atlet basket itu,kini berada 30cm di atas tubuhnya yang tengah terbaring kaku.
“Shhht... diem... ada dedengkotnya Arvan lagi keliling.” Bisik Kay perlahan.
Jawaban itu seketika saja membuat Arvi kena serangan jantung stadium ringan. Saking kerasnya membuat gadis itu cemas bila sampai terdengar oleh Kay.
“So?” Tanyanya kini seolah menggoda.
“Apanya?” Tanya gadis itu balik dengan polos.
“Soal jadi pacar gue, cuma bo’ongan aja kog. Anggap aja kita lagi menjalin hubungan Simbiosi Mutualisme.”
Katanya enteng dengan senyum yang bisa dipastikan cewek manapun pasti ingin sekalimenggigit bibirnya.
Gadis itu berpikir lagi, berpangku tangan sambil gigit kuku jari. “Apa gak mencurigakan tuh kita jadian tiba-tiba? Kita kan baru kenal sehari?!”
Kay hanya membalasnya dengan seringai penuh arti. Ditatapnya kini gadis yang berada di bawah tubuhnya
itu lekat-lekat. Diperhatikannya manik mata yang menyiratkan tanya itu dengan
lembut namun tajam, bak seorang detective yang tengah menilai pribadi tersangka.
***
Kali ini, lagi-lagi Kay membuat seisi sekolah gempar. Sekembalinya mereka dari tempat persembunyian, Kay dengan terang-terangan menggandeng tangan Arvi yang sedari tadi sudah merasa tidak tenang. Membayangkan bagaimana ia akan menghadapi kemarahan Arvan nantinya saat mereka kembali, atau bagaimana ia harus menangani Arvan seorang diri ketika cowokdi sebelahnya ini nanti tidak bersamanya.
Atau mungkin lebih parah lagi. Membayangkan bagaimana nasib kacamata dan sketch book-nya jika sampai membuat Arvan murka.
“Uhm... Kay... bisa gak kita pikirin ulang soal ini?” Tanya
Arvi tiba-tiba menjadi ragu setelah beberapa bayangan buruk menyerang isi kepalanya.
Kay hanya meliriknya sekilas, menyeringai nakal dan kemudian membalasnya dengan hanya memberikan dua huruf sebagai jawabannya, yaitu N dan O saja. Yang makin membuat gadis itu nelangsa,
menyesali keputusannya yang mengiyakan ajakan Kay untuk jadi pacar bo’ongannya.
“Hooo... habis berduaan darimana nih? Sampai-sampai Handphone pun dimatiin.” Tanya Arvan dengan pandangan tajam dan menghujam ke arah cewekyang sudah mengkeret di belakang Kay.
Sebenarnya Arvan bukannya marah terhadap gadis itu, dia cuma merasa tidak suka melihat kebersamaan mereka berdua. Apalagi sempat melihat Kay menggandeng tangan Arvi seolah gadis itu sudah menjadi hak miliknya.
Tapi, bukannya menjauh dari Kay, tindakan Arvi yang menjadikan Kay sebagai tameng, malah membuat Arvan makin geram. Mengetahui bahwa gadis yang hampir berhasil diraihnya itu, kini malah bersembunyi di belakang
cowok bau kencur seperti Kay.
Arvan sendiri sudah berencana akan membantai Kay. Menghajar cowok itu kalau perlu sampai sekarat, karena sudah menyandang gelar—dengan berani—sebagai saingannya, ditambah lagi dengan lancangnya sudah menyentuh—Arvi—miliknya.Walaupun sebatas hanya menggandeng tangan si cewek
tomboy itu saja.
“Avie’... sini sama gue. Apa elo gak sayang sama barang-barang elo?” Ajak Arvan dengan senyuman. Hal tersebut cukup mampumembuat gadis yang biasanya tegar dan tak gentar itu kini gemetar.
“Avie’ itu cewek gue! Elo gak punya hak ngelabelin dia jadi milik elo!!” Potong Kay yang sudah merentangkan tangan kirinya, mencegah Arvi yang sudah akan beranjak pergi, melangkah ke tempat Arvan.
Tanpa sepengetahuan mereka berdua, rupanya Koko sudah berdiri tak jauh di belakang Arvi, dengan perlahan namun tiba-tiba, Koko menyeret gadis itu mundur sebelum kena jotosan nyasar.
Kay meleng, kaget begitu melihat cewek yang semenjak tadi merapat di punggungnya sudah menjauh sekian meter, sehingga tidak menyadari adanya serangan datang dari seniornya. Hampir saja ia jatuh terjerembab oleh pukulan Arvan yang telak mengenai pipinya, membuat sudut bibir Kay berdarah.
“KAK ARVAN!!!” Teriak Arvi, membuat murid yang lain di sekitar mereka ikutanpanik dan bergerombol menyaksikan
pergulatan yang sepertinya tidak begitu seimbang. Antara murid baru dan sang pentolan sekolah.
“Elo jangan ngawur, yah! Sejak kapan anak yang baru masuk ke sekolah ini kemarin, udah ngaku-ngaku jadi pacarnya Avie’, hah? Apa elo butuh pukulan di kepala buat nyadarin kegilaan elo? Atau mungkin lebih baik gue bikin elo hilang ingatan sekalian?”
Ujarnya dengan geram mendapati cowok yang sudah mengelap darah di sudut bibirnya itu hanya tersenyum
sinis, mengolok perkataan Arvan.
“Gue emang udah lama pacaran sama Avie’. Bahkan sejak sebelum elo kenal sama dia. Apa elo tau alasan gue pindah ke sekolah ini tuh buat ngejar Avie’?! Kita aja yang emang masih ngerahasiain semuanya.”
Jawabnya membuat para penonton tersebut terbelalak saking gak percayanya. Terutama Arvi dan kedua sahabatnya yang baru saja datang—setelah berhasil kabur, saat para algojo tak lagi menunggui mereka—dan
menyeruak masuk kedalam kerumunan.
“Bulshit!” Sergah Arvan yang terlihat tidak terima.
“Whatever… mau elo percaya apa enggak, itu gak bakal ngerubah kenyataan bahwa Avie’ itu sebenarnya pacar
gue.” Balas Kay dengan senyum menyeringai.
Membuat Arvan hampir saja ingin menghabisinya di tempat—saat itu juga—kalau bukan karena kedatangan Pak
Taufan yang berteriak membubarkan kerumunan. Arvan pun beranjak pergi, mengajak Koko dan Haru kembali.
“You are mine! remember that!!”
Ucapnya pada Arvi, sebelum benar-benar pergi meninggalkan cewek tomboy yang sudah dirangkul oleh kedua
sahabatnya. Arvi shock bahwa apa yang ia takutkan sudah 35%-nya
terjadi.