TOKYO! BON VOYAGE

TOKYO! BON VOYAGE
#8 APA!?SEKOLAH!?



Malam itu Kanata Sedang melihat pemandangan seluruh kota Tokyo dari balkon kamarnya, ia terpesona karena suasana malam hari di New York dan di Tokyo sangatlah beda.


biasanya di New York tepatnya di kawasan rumahnya tidak begitu ramai, berbeda dengan di sini. disini lumayan ramai dan masih banyak orang orang yang lewat.


“ kurasa aku tidak perlu merasa takut berjalan di malam hari kalau setiap hari ramai seperti ini hehe.”


katanya, lalu ia menutup pintu balkon kamarnya dan pergi tidur.


paginya, Kanata bangun lebih awal pagi ini dan tidak biasanya ia bangun jam segini. entah kenapa akhir akhir ini dirinya bangun lebih awal.


“ oh.. aku bangun lebih awal lagi hari ini... baguslah! Dengan ini aku bisa terbiasa bangun pagi bukan? hehe.”


ia pun beranjak dari tempat tidurnya lalu membuka semua korden jendela yang ada di kamarnya, ia pun melihat indahnya suasana pagi hari dari balkon kamarnya.


“ pemandangan Yang sangat indah... kuharap Olivia dan Daniel bisa melihat pemandangan ini, ya walaupun tidak ada bedanya dengan pemandangan pagi hari di New York... tetapi suasanya jauh lebih berbeda di sini.”


ia melihat langit pagi hari yang sangat indah dan juga melihat banyak orang yang sudah beraktivitas di jam jam yang awal pagi ini. mulai dari orang pergi berangkat kerja, tukang pos, anak anak, tukang koran dan masih banyak lagi.


tiba tiba dari bawah seorang nenek pun memanggilnya.


“ Kana-chan, selamat pagi.”


Kanata pun langsung menoleh ke bawah dan melihat nenek yang memanggil dirinya, awalnya ia tidak mengenali wajah nenek itu dan setelah di perhatikan lagi ternyata itu nenek yang kemarin ia kunjungi.


“ ah!... selamat pagi nenek.”


tanpa basa-basi akhirnya ia langsung membalas sapaan dari sang nenek, sang nenek pun tersenyum dan meninggalkannya.


Kanata membalas senyumannya itu dan ia mulai merasa tidak enak karena kelakuannya tadi.


“ aku akan berkunjung kerumah nenek itu dan meminta maaf atas kelakuan ku yang barusan... hahhh Kanata kenapa kau bodoh sekali!? dimana tata keramamu!.”


katanya sambil menyenderkan kepalanya di tembok, ia pun pergi mandi dan mengganti pakaiannya. setelah itu dia pergi keluar rumah dan mengunjungi nenek yang tadi pagi ia sapa, di sepanjang jalan banyak orang yang menatap dirinya. ia merasa tidak enak ketika semua orang memandang dirinya.


kenapa semua orang menatapku ya? apa ada yang salah denganku?. batinnya berkata.


lalu sesampainya di rumah si nenek, ia mengetuk pintu rumah nenek itu, dan pintu itu dibukakan oleh nenek yang tadi pagi ia sapa. nenek itu tersenyum dan menyuruh Kanata masuk.


“ wah lihat lihat siapa yang datang, silahkan masuk Kana-chan.”


Kanata pun menjawab tawaran si nenek dan


tersenyum.


“ terimakasih nenek.”


di dalam, Kanata terpesona karena suasana rumah nenek ini sangatlah berbeda dengan suasana rumah orang orang normal biasanya. disini banyak barang barang kuno dan nuansa rumahnya pun seperti rumah orang Jepang jaman dulu.


apa mungkin rumah orang orang Jepang pada jaman dahulu seperti ini ya?. batinnya berkata lalu si nenek pun menyuruhnya duduk .


“ maaf ya jika rumahnya terlihat sangat kuno.”


kata si nenek sambil mengambilkan beberapa cemilan dan minuman untuk Kanata, Kanata Yang mendengarnya semakin tidak enak. sebenarnya Kanata sangat kagum dengan rumah ini... ya memang rumah ini kelihatannya kuno tetapi banyak benda benda bersejarah disini bukan?


“ ah tidak.. apa maksud nenek, aku malah mengagumkan rumah ini. rumah ini banyak benda benda kuno yang belum pernah aku lihat Dan juga sudah berapa lama rumah ini berdiri nek?.”


tanyanya, lalu si nenek pun menghampirinya sambil membawakan beberapa cemilan khas Jepang yang bernama dango, Dango adalah kue Jepang berbentuk bulat seperti bola kecil, terbuat dari mochiko, dan dimatangkan dengan cara dikukus atau direbus di dalam air. Adonan dango dibuat dari tepung beras yang diulen dengan air atau air panas.


Kanata pun langsung berterimakasih karena si nenek sudah repot repot sampai membawakan beberapa cemilan, si nenek duduk di hadapan Kanata sambil menjawab pertanyaan Kanata tadi.


“ rumah ini sudah berdiri sejak 50 tahun lalu, aneh ya.. tidak biasanya anak anak remaja seperti mu mengagumkan rumah kuno seperti ini.”


Kanata pun menjawabnya sambil menggaruk garuk belakang kepalanya.


“ hehe.. aku memang suka rumah rumah dan barang barang kuno seperti ini, sebenarnya ini tidak kuno... ini adalah tempat bersejarah! jadi tidak pantas di bilang kuno! aku sangat menyukai tempat ini.”


si nenek pun tertawa dan tersenyum, ia pun menuangkan teh ke dalam sebuah cangkir teh yang biasa orang jaman dahulu gunakan untuk meminum teh dan memberikan nya kepada Kanata.


“ Ini tehnya, kuharap kau menyukainya.”


Kanata semakin tidak enak karena nenek ini sangatlah baik sampai sampai membuatkan teh untuknya, ia sangat merasa merepotkan sang nenek kali ini. ia pun menarik nafas dan berterima kasih sambil meminta maaf atas kelakuannya tadi pagi.


“ ah.. terimakasih nenek, anu .... maafkan atas ketidak sopanan ku tadi. aku tidak bermaksud menjawab salam mu tadi pagi.. hanya saja aku masih belum mengenali wajahmu dan namamu nek, maafkan aku ya.”


si nenek pun tersenyum dan menjawabnya dengan menatap nya dengan tatapan yang sangat lembut.


“ tidak apa apa nak, nenek mengerti.. kau masih belum terbiasa dengan orang orang baru bukan? tidak apa apa.. jangan menyesali nya. perbuatan mu tidak salah, nenek mengerti karena kau masih belum terlalu mengenali nenek. nama nenek adalah Sakura imai, salam kenal ya sayang.”


hati Kanata sangat tersentuh setelah mendengar kata kata yang di keluarkan dari mulut si nenek, ternyata walaupun ia masih belum mengenali suasana di sekitarnya tetapi masih ada orang yang peduli kepadanya.


“ terima kasih nenek.”


kedua mata Kanata berkaca kaca seakan akan ia ingin mengeluarkan air matanya, tetapi ia harus menahannya karena ia tidak ingin terlihat cengeng. ia pun tersenyum dan kembali menyantap dango dan secangkir teh yang dibawakan oleh si nenek, si nenek tersenyum.


“ Kana Chan sangatlah cantik ya, kalau kau bertemu dengan cucuku pasti aku yakin kalian berdua akan berteman baik.”


Kanata memiringkan kepalanya sambil bertanya kepada si nenek.


“ hm? cucu nenek?.”


si nenek pun tertawa kecil lalu menjelaskan kepada Kanata.


“ nenek tinggal berdua dengan cucu nenek, cucu nenek sama sepertimu dan kurasa kalian seumuran.”


Kanata semakin merasa sangat ingin mengetahui tentang cucu di nenek dan ingin berkenalan jika bisa, seumuran? kurasa aku bisa membuat teman baru dengannya nanti.


“ kalau boleh bertanya... cucu nenek perempuan atau laki-laki? dan siapakah namanya?.”


tanyanya, lalu si nenek pun menjawabnya.


“ dia adalah perempuan dan namanya Aiko.”


“ Aiko ya?... nama yang sangat indah, kuharap aku dan dia bisa berteman nanti. ngomong ngomong... dimana cucu nenek sekarang?.”


“ dia sedang mengunjungi temannya sekarang, besok seperti dia akan pulang.”


jawab si nenek, lalu tiba tiba perut Kanata berbunyi. wajahnya memerah dan merasa malu karena kenapa dia masih merasa sangat lapar? padahal dia sudah memakan 2 buah dango dan secangkir teh tadi. si nenek yang mendengar bunyi perut Kanata pun langsung berdiri dan pergi ke dapur untuk membuatkan sarapan untuknya.


“ kau lapar ya? apa kau belum sarapan? baiklah, duduklah di situ dan nenek akan membuatkan sarapan untukmu.”


Kanata semakin merasa merepotkan sang nenek dan ia berusaha menolak tetapi si nenekpun malah menolaknya balik dan kembali membuatkan sarapan untuknya.


“ ah nenek, tidak usah repot-repot... aku tidak apa apa kok hehe... aku memang belum sarapan.. tetapi aku sudah kenyang memakan dango dan secangkir teh yang nenek bawakan untukku tadi.”


“ itu tadi hanyalah cemilan, duduk dan tunggulah. sarapan itu sangat baik untuk kesehatan.”


Kanata pun akhirnya pasrah dan menuruti perkataan si nenek, lalu tidak lama makanan pun datang. si nenek menyuruh Kanata duduk di meja makan yang ada di dapur.


“ Kana-chan, makanannya sudah matang kemarilah dan duduklah di meja makan bersama nenek.”


“ ah.. baiklah.”


Kanata menyantap makanannya dengan sangat lahap, rasa masakannya mirip dengan yang di biasa dibuat mamanya waktu di New York. sebenarnya si nenek tidak tau akan memasakkan makanan apa untuk Kanata.. Karena Kanata bukan orang Jepang melainkan orang asing, jadi apakah makanan Jepang tidak apa apa untuknya?.


“ maaf ya.. nenek tidak bisa membuat masakan luar negri, nenek hanya bisa membuatkan sarapan yang biasanya orang Jepang makan... apa kau tidak keberatan Kana Chan?.”


tanya si nenek, Kanata pun menjawabnya sambil tersenyum.


“ aku tidak keberatan kok, aku malah suka masakan nenek karena mengingatkan ku akan masakan mamaku. sebenarnya aku ini ada darah Jepang juga... nenek ku orang Jepang, ia tinggal di Shimizu dan juga aku juga terbiasa makan masakan Jepang seperti ini.”


si nenek yang mendengar nya pun menghembuskan nafas lega.


Kanata mengangguk dan tiba tiba ia berkata, dan si nenek yang mendengarnya pun terkejut.


“ andai saja nenek adalah nenekku, aku pasti akan bahagia.”


“ ha? ada apa Kana Chan?.”


Kanata Yang sadar karena perkataannya di dengar si nenek pun akhirnya mengungkapkan perasaan nya dan menceritakan sedikit tentang neneknya yang berada di Shimizu.


“ ah.. anu... coba saja jika nenek adalah nenekku yang asli... pasti akan menyenangkan, maksudku... nenekku tidak perhatian dan tidak begitu memperdulikan ku... dia hanya selalu menyuruhku tetap mengikuti semua yang di perintahkan olehnya... dia... terlalu cuek.”


si nenek yang mendengarnya pun jadi agak cemas dan kasihan, tetapi si nenek pun berusaha membuat Kanata kembali tersenyum dan menghabiskan makanannya.


“ mungkin nenekmu sibuk, kau bisa menganggap ku sebagai nenekmu sendiri sayang. nenek juga sudah menganggap mu sebagai cucu nenek sendiri... jarang ada anak remaja yang suka mengunjungi nenek nenek sepertiku.”


Kanata Yang mendengarnya pun tersenyum dan akhirnya mengeluarkan air mata kebahagiaannya, ternyata masih ada orang yang mau memperhatikannya. ia pun langsung berdiri dari tempat duduknya dan langsung memeluk si nenek.


siangnya, Kanata harus segera pulang karena ia sudah terlalu lama disini dan ia tidak ingin merepotkan si nenek lagi. Kanata pun menghampiri si nenek yang ada di dapur dan berpamitan.


“ nenek, aku harus pulang sekarang... terimakasih atas makanannya.”


“ ah iya... terimakasih Kana Chan karena sudah berkunjung dan terima kasih juga atas kuenya kemarin... nenek lupa mengucapkan terimakasih kepada mu, kue nya sangat enak.. bahkan cucuku juga menyukainya.”


“ ahh tidak apa apa nek, lain kali akan ku buatkan lagi kalau begitu hehe.”


“ terima kasih Kana chan.”


Kanata pun meninggalkan si nenek dan ketika ia ingin keluar dan membuka pintu, si nenek pun bertanya kepadanya.


“ oh iya Kana Chan... apa kau tidak bersekolah?.”


Kanata Yang mendengarnya pun terdiam dan menjawab pertanyaan nya.


“ uh... kurasa mungkin nanti aku akan bersekolah disini, nanti aku akan bertanya dengan orang tua ku. terima kasih karena sudah mengingatkan ku.”


Kanata pun pergi meninggalkan si nenek, di perjalanan pulang ia pun bertemu dengan sekumpulan anak anak yang biasanya ia temui di taman.


semua anak anak itu pun menghampiri Kanata Dan menyapanya.


“ selamat siang kakak kue.”


Kanata Yang mendengarnya pun menaikkan alis sebelah kiri nya, ia bingung kenapa ia dipanggil kakak kue? akhirnya ia pun bertanya kepada anak anak itu.


“ kenapa kalian memanggilku kakak kue?.”


anak anak itu menatap satu sama lain lalu menjawabnya sambil cengengesan.


“ hehe... itu karena kue yang kakak buat sangatlah enak! maka dari itu kita memanggilmu kakak kue.”


Kanata hanya terkekeh dan mengenalkan dirinya kepada mereka.


“ ohiya.. kalian belum tau siapa namaku kan? dan aku juga masih belum mengetahui nama kalian... nama ku adalah Saigusa Kanata.”


semua anak anak itu pun juga ikut mengenalkan diri mereka.


“ salam kenal kak! nama ku Kenta, aku Kyo, aku Riki dan aku Reo... apakah kami boleh memanggilmu kak Kana?.”


Kanata menjawab pertanyaan mereka sambil mengangguk.


“ tentu saja boleh! ohiya... kalian baru pulang sekolah?.”


tanyanya lalu semua anak anak itu pun menjawabnya.


“ iya, apakah kakak tidak pergi sekolah?.”


Kanata pun hanya diam lalu menjawabnya dan pamit pulang.


“ aku.. aku sekolah kok hehe, aku pulang duluan ya. kalian hati hati di jalan dan jangan berbicara kepada orang yang tidak di kenal.”


Kanata pun pulang sambil melambaikan tangannya kepada semua anak anak itu dan anak anak itu juga melambaikan tangannya kepada Kanata, sesampainya di rumah ia pun langsung pergi menuju kamarnya dan merebahkan diri nya ke tempat tidur kesayangannya. ia menatap langit langit kamarnya dan memejamkan kedua matanya.


sekolah ya... kenapa aku tidak berpikiran seperti itu? aku ingin sekali bersekolah... tetapi .... bersekolah di Jepang ya? kurasa tidak ada salahnya untuk mencoba membuat teman baru di sana dan menyesuaikan diri ku dengan sekolah baru nanti, apakah papa dan mama akan mendaftarkan ku ke sekolah baru ya?. batinnya berkata, lalu ia pun kebablasan tidur sampai sore hari.


Kanata tertidur sangat pulas kali ini, lalu tiba tiba ponselnya berdering dan ia pun langsung terbangun dari tidurnya. ia melihat ke kanan dan ke kiri untuk mencari ponselnya dan ternyata ponselnya itu ia duduki sendiri.


ia langsung melihat siapa yang menelepon nya dan ternyata yang meneleponnya itu adalah Takahiro papanya.


ia pun langsung mengangkat teleponnya.


“ halo papa?.”


“ halo Kanata, bagaimana kabarmu?.”


“ aku baik, papa sendiri?.”


“ papa baik baik saja disini, semuanya juga baik baik saja disini... ohiya ada yang ingin papa bicarakan denganmu.”


“ apa?.”


“ mulai besok kau akan mulai bersekolah di sekolahmu yang baru, jaraknya juga tidak terlalu jauh dari rumahmu dan untuk urusan seragam. besok kau pakai seragam sekolah mu yang biasa kau pakai di new York dulu, nanti kau akan diberikan seragamnya disana.”


“ oh.. ha? APA!? BESOK!? SEKOLAH !? APA PAPA GILA!? MASA BESOK!?.”


“ apa yang kau bicarakan Kana? harusnya kau senang karena akan bersekolah di sekolahmu yang baru nanti dan bukan mengatakan kalau papamu ini gila.”


“ ahh tapi bukan itu maksudku... TAPI MASA HARUS BESOK!? AKU BELUM MENYIAPKAN APA APA! DAN AKU JUGA TIDAK TAU APA SAJA YANG HARUS DI BAWA KETIKA DI SEKOLAH KU YANG BARU NANTI!.”


“ kau bawa saja perlengkapan mu yang biasa kau bawa kesekolah, nanti kau akan tau barang apa saja yang akan dibawa nantinya... sudah ya persiapkan dirimu untuk besok, besok ada supir pribadimu yang akan mengantarkan mu dan menjemput mu nanti.”


“ haahh baiklah, apa boleh buat.. sampai jumpa papa.”


Kanata mematikan ponselnya dan kembali merebahkan diri nya, ia masih tidak menyangka bahwa besok ia akan pergi ke sekolah.


Kanata p.o.v


apa yang papa katakan? masa harus besok juga!? lagipula aku belum siap apa apa... coba saja ada kakak, Olivia dan juga Daniel... pasti aku tidak akan merssa bingung seperti ini.


haruskah aku menelepon kakak?


baiklah aku akan menelepon nya.


Kanata p.o.v end


Kanata mengambil kembali ponselnya dan berniat menghubungi kakaknya, kuharap kakak tidak sibuk kali ini.


“ halo Kana?.”


“ halo kakak? kakak! apa kakak tidak percaya! papa tiba tiba menyuruh ku untuk pergi sekolah besok dan aku kan belum mempersiapkan apa apa!.”


“ ha? papa mendaftarkan mu ke sekolah? ya ... bukankah itu hal yang bagus?.”


“ iya sih.. cuma... masa harus besok? aku kan belum mempersiapkan apa apa.”


“ kalau begitu ikuti apa yang papa katakan dan jangan lupa untuk bangun pagi! kau kan pemalas.”


“ ih kakak sama saja! yasudah aku ingin mempersiapkan barang barang yang akan ku bawa untuk besok, sampai jumpa kakak.”


“ hahah baiklah, sampai jumpa sayang.. semoga hari mu menyenangkan.”


Kanata menutup ponselnya sekali lagi dan kini ia sangat geram karena ulah kakaknya dan papanya yang tiba tiba mendaftarkan dirinya kesekolah yang baru, ia pun akhirnya memutuskan untuk menuruti kata kata papanya dan mulai mengemaskan barang barang yang akan ia bawa untuk kesekolah besok. mulai dari tempat pensil, buku dan juga yang lain lainnya.