
24 Januari xxxx
* di pesawat
para penumpang yang terhormat, sebentar lagi kita akan mendarat di bandara Haneda Tokyo, Jepang. pastikan semua barang bawaan anda tidak ada yang tertinggal.
terima kasih karena sudah memilih maskapai kami dan nikmatilah waktu anda di Jepang. terima kasih-
Kanata pun tidak sabar karena sebentar lagi ia akan mendarat di bandara Haneda, ia masih tidak menyangka karena ia benar benar di Jepang saat ini.
ia pun melihat pemandangan awan di jendela.
“ woahh... indah nya, wah bandaranya sudah mulai kelihatan! woah rasanya seperti di awan ya, tidak ku sangka ternyata aku benar benar pergi ke Jepang sendirian tanpa kakak dan Juga kedua orang tuaku.”
Kanata kagum melihat indahnya pemandangan awan di luar sana, lalu tiba tiba seorang pramugari pun menghampiri dirinya dan bertanya apakah ia boleh menemaninya.
“ permisi nona, apakah saya boleh menemani nona?.”
Kanata pun terpesona melihat sang pramugari, ia pun tidak menyangka kalau pramugari ini sangatlah cantik.
cantiknya.. batinnya berkata, lalu si pramugari pun bertanya lagi kepada Kanata Dan Kanata pun mengizinkannya duduk di sebelah nya.
“ nona?.”
“ ah iya, hehe maafkan aku kakak pramugari... duduklah di sebelah ku hehe.”
sang pramugari pun tersenyum dan duduk di sebelah Kanata sambil mengajaknya ngobrol.
“ kelihatannya dari tadi nona hanya sendirian disini.... orang tua nona kemana?.”
tanyanya, lalu Kanata pun menjawabnya.
“ ah.. aku memang sendiri di sini hehe, orang tuaku dan kakakku ada di New York.”
si pramugari pun terkejut karena baru kali ini ia melihat seorang gadis muda menaiki pesawat sendirian tanpa ada pendamping di sisinya.
“ wahh... nona hebat sekali ya, ngomong ngomong... nama nona siapa? umur nona berapa?”
tanyanya lagi, lalu Kanata merasa agak aneh karena dari tadi si pramugari di sebelah ini banyak bertanya. kenapa si kakak pramugari banyak bertanya ya? aneh.... aku harus berhati-hati dan selalu ingat apa yang kakak bilang.
ia pun terdiam sejenak lalu si pramugari pun tiba tiba meminta maaf karena ia terlalu lancang dan banyak bertanya, Kanata Yang melihatnya pun merasa tidak enak karena sebenarnya niat si pramugari ini baik.
“ ahh .... maafkan kelancangan saya nona, saya sangat lah tidak sopan karena banyak bertanya... saya tidak punya niat buruk apa apa kepada nona, saya hanya ingin memastikan nona Baik baik saja karena nona kelihatannya masih muda.”
“ ahh tidak... tidak apa apa ... maafkan aku juga karena sudah mencurigai mu, aku memanglah harus banyak berhati hati kepada orang yang tidak ku kenal.... oh iya... namaku adalah Kanata... Saigusa Kanata Dan usiaku 15 tahun... kalau kakak pramugari sendiri?.”
si pramugari pun tersenyum dan mengenal kan dirinya.
“ wah berarti kamu masih sangatlah muda, namaku adalah Helena aoi. nona bebas memanggilku apa saja, salam kenal ya nona manis.”
aku boleh memanggil Kakak pramugari ini apa saja? wah... bukan hanya cantik tetapi hatinya juga lembut! pramugari memang lah terbaik!. batinnya Kanata berkata, lalu Kanata pun sudah memutuskan nama yang akan ia panggil untuk si pramugari.
“ apakah aku boleh memanggilmu kak aoi?.”
aoi pun mengangguk sambil tersenyum lalu mengelus rambut Kanata dengan lembut, Kanata pun merasa nyaman berada di sebelah pramugari itu.
aoi pun memutuskan untuk menjaga Kanata sampai di bandara nanti, ia akan memastikan keselamatan Kanata pun Aman. lalu ia pun memulai percakapan lagi.
“ dalam rangka apa nona pergi ke Tokyo? apakah liburan? atau hanya sekedar jalan jalan?.”
Kanata pun menjawabnya.
“ aku... aku di pindahkan oleh papaku ke Jepang, aku... katanya aku harus mulai belajar hidup mandiri dan ya.. disinilah aku sekarang hehe.”
aoi pun merasa prihatin karena ada seorang orang tua yang mengirim anaknya untuk hidup sendiri di negara lain dan untungnya gadis ini bisa berbahasa Jepang, kalau tidak dia pasti akan kesulitan. tidak kusangka ternyata ada orang tua yang mengirim anak mereka untuk belajar tinggal sendiri... ya memanglah tidak salah sih cuma... apa tidak terlalu kecepatan? karena umurnya saja baru 15 tahun.
“ apa kamu tidak merasa keberatan di kirim ke luar negri dan tinggal sendiri seperti ini?.”
perasaan Kanata kini berubah, ia pun sebenarnya juga merasa keberatan karena kedua orang tua nya memisahkan dirinya dari mereka dan sebenarnya juga baginya tidak ada salahnya jika belajar mandiri di negara lain, ya jadi menurut nya tidak ada salahnya mencoba tinggal disini untuk beberapa lama.
“ aku tidak merasa keberatan kok... lagi pula... ya ini adalah keputusan orang tuaku dan aku pun juga sudah memutuskan nya juga, lagi pula tidak ada salahnya kan belajar hidup sendirian?.”
aoi pun menghela nafas dan tersenyum sambil menjawab pernyataan dari Kanata.
“ iya, kamu hebat ya sudah mau belajar hidup sendirian di negara lain... padalah umurmu saja masih belum sepenuhnya dewasa... tetapi kamu sudah berani mau mencoba dunia luar, aku kagum kepadamu.”
Kanata pun merasa sangat senang karena menerima pujian dari seorang pramugari yang ia kagumi saat ini, lalu pesawat pun mendarat dan satu persatu penumpang pun turun bergantian. Kanata pun bersiap akan turun lalu aoi pun menemaninya turun dari pesawat dan memutuskan mengantarkanya dan menemaninya sampai gadis itu benar benar bertemu dengan orang yang akan menjemput nya.
“ Kanata, Mari saya antar kamu sampai ke tempat penjemputan. aku tidak tenang rasanya meninggalkan gadis di tempat yang sangat ramai sendirian.”
aoi pun mengulurkan tangannya dan mengajak nya bergandengan tangan, Kanata pun memegang tangan sang pramugari sambil membawa tas nya.
kak aoi memanggilku dengan namaku? wah senangnya aku. batinya Kanata berkata.
lalu mereka pun pergi ke tempat pengambilan barang barang dan mengantar gadis itu sambil membawa barang-barang nya yang banyak.
* di tempat penjemputan
Kanata melihat ke sekeliling nya, ia mencari seseorang yang akan menjemput nya... tetapi orang itu belum kelihatan juga dari tadi. aoi pun menanyakan Kanata siapa yang akan menjemput nya agar dia juga bisa membantu mencari nya.
“ Kanata, siapa yang akan menjemput mu?.”
Kanata pun menjawab sambil melihat sekeliling nya.
“ yang menjemput ku hari ini adalah nenek dan kakek... tetapi aku belum melihat mereka, Hmm... ah itu dia! NENEK! KAKEK!.”
Kanata pun akhirnya menemukan Kakek dan neneknya, ia pun memanggilnya. aoi pun lega akhirnya Kanata pun menemukan jemputan nya. kakek dan neneknya pun menghampiri Kanata.
“ ahh Kana cucuku tersayang, wahh wahh siapa yang bersama mu ini sayangku.”
sang nenek pun bertanya, lalu aoi pun langsung memperkenalkan dirinya.
“ ah maaf nyonya, saya adalah pramugari disini. saya melihat nona Kanata sendirian di pesawat tadi dan makanya saya menemaninya karena saya khawatir disini kan tempat umum dan... banyak orang.”
kakek dan nenek Kanata pun berterima kasih lalu mereka pun pamit.
“ terima kasih ya nona karena sudah mau menjaga cucu kami, kami sangat berterima kasih.”
“ sudah menjadi kewajiban saya menjaga dan menemani anak anak yang masih belum dewasa sepenuhny, mana gitu dia naik pesawat sendirian.. saya jadi semakin khawatir.”
Nenek dan kakek pun berterima kasih sekali lagi dan pamit untuk pergi, Kanata pun juga ikut berpamitan dan berpelukan lalu ia pun pergi menaiki mobil jemputan nya.
“ kak aoi... terima kasih ya karena sudah mau menemaniku sampai nenek dan kakekku datang, aku sangat beruntung bisa menemui orang sebaik kakak. aku pamit ya... semoga kita bisa bertemu lagi secepatnya! bye bye! bon voyage!.”
Mata aoi pun terbelalak dan melambaikan tangan kearah Kanata Dan lalu ia pun pergi meninggalkan tempat itu dan mulai kembali bekerja.
* di sepanjang jalan.
di mobil, Kanata melihat lihat pemandangan Tokyo yang sangat indah sambil memakan potato chips kesukaannya. ia pun membuka jendela dan melihat keluar jendela sambil berteriak.
“ BON VOYAGE NEW YORK! BONJOUR TOKYO!.”
Kakek dan nenek Kanata hanya tertawa melihat tingkah cucu kesayangannya itu.
“ Kana Chan, harusnya kamu bilang KONICHIWA TOKYO! bukan BONJOUR TOKYO, Kan sekarang kita ada di Jepang bukan di Perancis.”
Kanata pun hanya tertawa kecil, sang nenek pun menanyakan Kanata tentang semua keluarganya di New York.
“ Kana Chan, bagaimana semuanya di New York? apakah perjalanan mu tadi menyenangkan?.”
Kanata pun menjawab.
“ ah... semuanya baik baik saja kok... mama, papa dan juga kakak baik baik saja disana. perjalanan ku juga sangatlah menyenangkan tadi karena pramugari tadi menemaniku sepanjang perjalanan dan mengajak ku mengobrol lalu kami bermain sedikit permainan hehe... jadi aku tidak merasa sendirian.”
“ baguslah kalau begitu, nenek dan kakek sangat lega mendengarnya.”
nenek dan kakeknya pun menghela nafas lega dan Karen pun hanya tertawa kecil.
* sesampainya di tujuan
Karen terkejut karena ia melihat rumah yang lumayan besar dan rumah itu akan ia tempati mulai sekarang, nenek dan kakek pun menyuruh nya masuk. didalam Karen semakin takjub karena seluruh sudut ruangan sangatlah luas dan berlari kesana kesini untuk melihat seluruh ruangan.
sang nenek pun menghela napas dan mulai menasehati cucunya yang satu itu agar tidak berlari larian kesana dan kesini.
“ Kana... sayang.... jangan lari lari seperti itu nak, nanti kalau kamu jatuh dan terluka bagaimana?.”
gadis itu pun menjawabnya.
“ tenang saja nenek! aku tidak akan jatuh kok hehe.”
sang kakek hanya tertawa, lalu Kanata tun melihat sebuah piano di ruang tamu. ia sangat takjub melihat betapa indahnya piano itu dan juga ia jadi teringat dengan suasana rumah nya di new York, ia pun mendekati piano itu dan menyentuhnya.
Piano ini .... jadi mengingat kan ku dengan piano yang biasanya aku dan kakak mainkan di rumah, aku dan kakak biasanya memainkannya di kala semua keluarga sedang berkumpul dan di saat kita lagi bosan tentunya. batinnya berkata.
lalu ia pun membuka piano itu dan menemukan selembar kertas di dalamnya, ia pun membukanya dan melihatnya.
dear Kanata, gadis kecil papa tersayang~
papa membelikan piano ini agar kamu tidak merasa sendirian nanti.
jika kamu merasa bosan.. mainkanlah piano ini, papa sengaja membelikannya sama dengan yang ada di rumah agar ada suasananya tidak jauh beda dengan dirumah.
- from your papa
Kanata pun terharu setelah membaca kertas yang berisikan surat dari papanya itu, ia tidak menyangka sampai segitukah papanya menyayanginya dan membelikan piano yang sama seperti yang ada dirumah.
terima kasih papa, batinnya berkata. lalu kakek dan nenek pun menghampirinya dan menyuruhnya duduk di sofa karena ada yang ingin mereka bicarakan, lalu Karen pun duduk di sofa dan kakek dan neneknya pun mulai berbicara.
“ Kana Chan.... mulai sekarang kamu tinggal disini sendirian, nenek dan kakek akan pulang ke Shimizu sekarang. kamu jaga rumah ini baik baik.”
Kanata terkejut bukan main, matanya terbelalak dan ia masih tidak percaya akan kata kata dari sang nenek.
“ APA!? SENDIRIAN!? DISINI!? bagaimana dengan ku?? siapa yang akan membereskan rumah sebesar ini?! masa aku sendiri sih, lagipula kenapa nenek dan kakek tidak Tinggal disini bersama ku saja?.”
kini giliran sang kakek yang berbicara, ia menghela nafasnya dan mulai menasehatinya.
“ kami berdua tidak bisa terus terusan bersama mu, kan kau akan belajar mandiri mulai saat ini. urusan bersih bersih sudah ada yang menangani nanti, jika kamu ingin tau kamu tanya papamu nanti ya sayang.”
Kanata pun mengerti dan kini ia mengantar kakek dan neneknya sampai ke depan gerbang, mereka berpamitan dan lalu berpisah. kini Kanata sendirian di rumah yang lumayan besar itu, ia pun segera pergi lantai atas dan menuju kamarnya.
sebelum ia memasuki kamarnya, ia menelurusi lantai atas dan melihat melihat setiap ruangan.
ada beberapa kamar yang kosong dan dan satu perpustakaan kecil, ia pun berpikir keras untuk apa semua ruangan ruangan ini.
semua ruangan ini untuk apa ya? oh iya.. mungkin buat mama, papa dan juga kakak kalau sedang berkunjung kesini kali ya?. batinnya. lalu ia pun kembali ke kamarnya dan ketika ia masuk ke kamarnya untuk yang pertama kalinya.
betapa takjubnya ia ketika melihat kamarnya yang sangat luas, ia pun sampai tidak bisa mengedipkan matanya karena sanking takjubnya.
kamarnya sangat lah mewah dan baru pertama kalinya ia mempunyai kamar seluas ini, di New York ia hanya mempunyai kamar yang biasa seperti kamar seorang remaja pada umumnya tetapi ini? langit langitnya pun penuh dengan hiasan hiasan bintang yang bisa menyala kalau kamarnya gelap.
“ wah... tidak ku sangka ternyata papa benar benar membuat kan kamar ini khusus untuk... ya tetapi bukankah ini terlalu berlebihan? karena aku tinggal disini sendirian dan tidak ada seseorang yang mendampingi ku... seandainya ada Olivia Disini... pasti dia akan takjub dan tak ingin pulang hahahah.”
ia pun melihat lihat semua barang barang Yang ada di kamarnya itu mulai dari meja belajar, tempat tidur dan ini baru pertama kalinya ia mempunyai kloset pribadi.
kalau di New York dia harus berbagi klosetnya dengan kakaknya karena memang orang tua mereka memberikan satu kloset untuk berdua.
Kanata pun mengecek kamar mandinya, ia sangat senang karena kamar mandinya juga lumayan luas, ya tidak di ragukan lagi karena rumah sebesar ini tidak mungkin isi rumahnya sempit kan?
lalu ia membereskan dan mulai menata barang barang yang ia bawa mulai dari baju, buku buku dan juga gitar kesayangannya.
“ nah, kalau begini kan baru benar.”
selesai ia merapikan barang barangnya ia pun melihat kearah jendela, ia pun berjalan menuju jendela dan membuka sedikit korden jendelanya itu. ia melihat ke rumah tetangga di sebelahnya itu.
“ rumah di sebelah juga lumayan besar ya.... tetapi kenapa rumahnya sangatlah gelap? kelihatannya tidak ada penghuninya... apa penghuninya Sedang keluar ya? padahal aku ingin sekali akrab dengan tetangga pertama ku.”
lalu ia pun tiduran di tempat tidur nya yang lumayan luas itu, ia berguling kesana kesini sambil tertawa sendiri. lalu ia menyalakan tv dan mulai melihat lihat Chanel tv.
“ ternyata Chanel TV di Jepang memanglah beda ya... kebanyakan siaran berita.”
ia pun mengambil game controller dan mulai menyambung kan game controller itu ke TV dan mulai memainkan beberapa game.