
Happy Reading.
🚬🚬🚬🚬🚬🚬🚬
“Dia sudah melukai seorang gadis belia yang kurang lebih seusia Michelle, yang aku sudah anggap sebagai adikku sendiri, Dad.”
Jawaban Reno atas pertanyaan ayahnya Andrew padanya tentang keheranannya sampai Reno tumben-tumbenan mau repot berkelahi, walau ini bukan kali pertama Reno terlibat baku hantam---itupun menjadi bala bantuan Andrew kala itu.
Dan Reno yang terlibat perkelahian itu, sungguhlah tidak sesering Andrew.
Jarang-jarang, teramat jarang.
Bahkan tidak sampai lima jari, Reno berkelahi.
Makanya sekarang ayahnya Andrew yang sudah menganggap Reno adalah anaknya itu terheran, jika yang bersangkutan terlibat perkelahian.
Malah dari apa yang ayahnya Andrew dengar, kalau Reno memang niat betul ingin berkelahi dengan seorang cowok yang usianya sedikit lebih tua dari Andrew dan Reno.
Tumben Reno begitu, makanya Dad Anthony menyuarakan keheranannya itu pada Reno. “Kamu memiliki seorang adik angkat sekarang? sejak kapan? Kamu tidak pernah cerita, begitu juga Andrew?----“
“Aku juga baru tahu saat aku datang ke sini setelah aku hendak pindah sekolah, Dad,” timpal Andrew pada sedikit cerocosan penasarannya ayahnya itu.
“Belum lama juga, Dad. Dan memang aku belum punya kesempatan untuk cerita tentang Fania pada Dad.”
Reno lalu langsung bicara setelah Andrew.
“Selain aku rasa Dad akan berpikir itu bukan suatu hal yang penting..”
Reno menambahkan ucapannya. Dad Anthony pun tersenyum. Lalu beliau berkata, “Kuingatkan lagi padamu, Tuan Muda Moreno Aditama Alexander, kalau kamu sudah layaknya anak bagiku seperti Andrew. Hal sekecil apapun yang ingin kamu katakan padaku, aku tidak akan pernah meremehkannya.”
Sambil Dad Anthony menepuk-nepuk pelan satu pundak Reno yang direngkuhnya, dimana satu tangan ayahnya Andrew itu merengkuh pundak anak lelaki kandungnya.
Reno langsung tersenyum setelah mendengar ucapan Dad Anthony barusan, “Thanks, Dad..” ucap Reno kemudian pada Dad Anthony yang membalas senyumannya dan ucapan terima kasihnya itu juga dengan senyuman.
“You welcome, Son..” balas Dad Anthony untuk ucapan terima kasih Reno. “Perkenalkan aku dan Mom dengan adik angkatmu itu nanti, hem?..” kata Dad Anthony setelahnya.
Reno pun langsung mengangguk mengiyakan, seraya ia tersenyum pada ayahnya Andrew itu.
*
“Oh, Anthony, Erna, apa kabar? kalian kapan datang?” adalah ayahnya Reno yang menyapa pada Dad Anthony dan Mom Erna, yang baru saja tiba di rumahnya.
“Belum lama,” Dad Anthony yang menjawab sapaan berikut pertanyaan dari ayah kandungnya Reno itu.
Dimana Dad Anthony berdiri dari duduknya untuk sekedar berjabat dan saling menyapa dengan pelukan antar lelaki pada ayah kandungnya Reno itu.
Ayah Peter, Reno memanggilnya. Yang wajahnya nampak biasa saja, bahkan terkesan santai.
Lalu Ayah Peter menyapa juga Mom Erna dengan saling berpelukan dan dibumbui kecupan pada kedua pipi Mom Erna yang tidak menimbulkan rasa cemburu baik di hati Bunda Rina ataupun Dad Anthony.
Karena hal itu adalah salam kekeluargaan yang biasanya mereka lakukan, dimana Dad Anthony pun melakukan hal yang sama kepada Bunda Rina ketika mereka bertemu dan saling menyapa, sebagaimana yang dilakukan oleh Ayah Peter dan Mom Erna itu.
*
Ayah Peter juga menyapa Kusuma. “Pantas Anthony mempertahankanmu, Kusuma.. kamu sungguh rajin bekerja,” kata Ayah Peter pada Kusuma, dimana keduanya saling berjabat tangan.
Entah itu pujian atau sindiran dari Ayah Peter untuk Kusuma, namun laki-laki yang merupakan salah seorang kepercayaannya Dad Anthony itu tersenyum saja setelah mendengar ucapan Ayah Peter tersebut.
“Aku hanya pekerja. Jadi aku menganggap jam kerjaku habis, apabila bosku ini menyuruhku pergi.” Kusuma berkata setelah ia menerbitkan seutas senyum menanggapi ucapan Ayah Peter padanya tadi.
Ayah Peter tersenyum sambil manggut-manggut saja menanggapi ucapan Kusuma itu, dengan ia yang bergerak untuk duduk di salah satu kursi pada ruang makan dimana anak dan istrinya serta tiga orang yang selama ini sudah layaknya keluarga berikut satu orang kepercayaan dari laki-laki yang seusia dengannya dan memiliki kedekatan dengan keluarganya, berada.
*
Ayah Peter yang sebelumnya tersenyum itu, kini berubah menjadi sedikit panik ketika ia melihat pada Reno dan mendapati lebam di salah satu bagian wajah anak lelakinya itu. “Loh, Reno, kenapa wajah kamu lebam begitu?” tanya Ayah Peter sambil ia beringsut dari tempatnya dan lebih mendekat pada Reno.
Dengan tangan Ayah Peter yang memegang dagu Reno hingga anak lelaki kandungnya itu sedikit mendongak.
“Apa kamu berkelahi, Nak?”
Ayah Peter bertanya lagi pada Reno.
Dan Reno pun mengangguk. “Iya, Ayah.”
“Kenapa bisa kamu sampai berkelahi?.. dan dengan siapa?..”
“Bentuk pembelaan diri pada mereka yang berusaha menculik bahkan mungkin hendak membunuh Reno dan aku.”
“A-pa kata kamu Andrew?..”
Ayah Peter langsung nampak sangat terkejut setelah mendengar ucapan Andrew barusan.
*
“Aku sudah mencoba hubungi kamu, bahkan meninggalkan pesan di penyeranta kamu. Tapi aku sulit menghubungi kamu dan mungkin kamu belum membaca pesan yang aku kirimkan ke penyeranta kamu.”
Bunda Rina kemudian langsung terdengar suaranya, tepat saat Ayah Peter nampak hendak meminta penjelasan lebih detail tentang apa yang tadi Andrew katakan. “Ah iya, ponselku tidak mendapat sinyal di Hotel M----“
“Ho, tel.. M??..” sambar Bunda Rina.
“Hu’um.. kamu tahu kalau di gedung tinggi----“
“Tapi kamu bilang padaku kalau kamu akan menemui calon investor di Kafe T?..”
“Heu?----“
“Aku ingat betul kamu mengatakan kamu akan menemui yang bersangkutan di Kafe T.”
“Sepertinya kamu salah dengar, Rina----“
“Aku tidak tuli, Peter. Dan kita tidak sedang berada di tempat yang bising saat kamu mengatakan kalau kamu membatalkan acara makan malam kita karena akan menemui calon investor kamu di Kafe T.”
“Eum..” Ayah Peter nampak tergugu. “Itu.. calon investor itu.. mengubah tempat janji temu kami..” kata Ayah Peter kemudian dengan ia memandang pada Bunda Rina yang langsung berdehem maklum.
*
“Sudahlah itu tidak penting.”
Senyuman miring nan samar milik seseorang yang berada di tempat yang sama dengan Bunda Rina dan Ayah Peter itu kemudian menghilang setelah suara Ayah Peter terdengar lagi.
“Yang penting aku menepati janjiku untuk segera pulang jika urusanku sudah selesai, kan?” kata Ayah Peter, dengan masih memandang pada Bunda Rina yang orangnya langsung mengangguk seraya tersenyum pada suaminya itu.
“Duduklah, Yah..” suara Reno yang kini terdengar.
“Ceritakan dulu bagaimana bisa ada orang yang ingin menculik dan membunuh kamu serta Andrew?..” pungkas Ayah Peter.
“Mungkin Ayah dan Dad punya musuh dalam bisnis kalian?”
“Tapi siapa?..”
“Seseorang dan sekutunya yang dengki pada Aditama Corp.dan Smith Company.”
Suara Dad Anthony yang kemudian terdengar, menjawab pertanyaan Ayah Peter dengan ekspresi herannya.
Dimana Ayah Peter langsung memandang pada Dad Anthony dan langsung bertanya pada ayah kandungnya Andrew itu.
“Aku tidak tahu jika ada orang yang dengki dengan Aditama Corp. dan Smith Company? Siapa dia?”
“Ketua dewan pada konstitusi tertinggi di negeri ini. Yang tinggal di komplek yang sama dengan kita----“
“Maulana Arlan?----“
*
Dad Anthony langsung berdehem seraya mengangguk sambil menyeka bibirnya setelah menyudahi makannya.
“Dulu saat Ayah Aditama masih hidup dan orang itu masih menjabat di posisi wakil, setahuku dia pernah meminta saham Aditama Corp.”
Dad Anthony lalu bicara.
“Dengan membawa nama ketuannya dan juga mengancam kalau Aditama Corp. akan dihancurkan jika Ayah Aditama tidak menyetujuinya. Tapi ancamannya dibalikkan oleh Ayah Aditama yang memiliki kelemahan dan aibnya, lalu dia menyerah saat itu. Dan mungkin saat ini setelah dia menjabat sebagai ketua, merasa memiliki kekuasaan dan uang yang lebih banyak dari sebelumnya jadi dia yang tetap penasaran pada Aditama Corp. mencoba cara yang kotor untuk mendapatkan keinginannya yang tak kesampaian pada Aditama Corp saat Ayah Aditama masih hidup.”
Ayah kandung Andrew itu selanjutnya memberikan penjelasan panjang lebar pada Ayah Peter yang nampak menyimak dengan seksama penjelasan Dad Anthony tersebut.
“Lalu sekarang dia mengambil jalan pintas karena enggan bernegosiasi dengan cara baik-baik padamu yang mungkin dia pikir juga sudah tahu kelemahan dan aibnya yang sudah diceritakan Ayah Aditama padamu----“
“Tapi Ayah Aditama tidak pernah cerita apapun mengenai hal itu padaku?” sambar Ayah Peter.
Dad Anthony nampak menarik sudut bibirnya. “Aku tahu,” katanya kemudian.
“Kenapa Ayah Aditama cerita padamu tapi tidak cerita padaku??----“
“Mungkin belum sempat saja, dan tak lama setelah itu ayah jatuh sakit.”
Dad Anthony menimpali dengan cepat ucapan Ayah Peter yang bernada heran itu.
“Lagipula, saat orang itu hendak maju untuk berusaha mendapatkan setengah dari saham Aditama Corp, aku sudah menjegal jalannya duluan.”
Ayah Peter lalu terlihat manggut-manggut.
“Mungkin dia sudah lebih dulu menyuruh orang mengawasi kediamanmu dan kediamanku lalu mengetahui tentang dua anak lelaki kita ini, lalu langsung bergerak untuk mencelakai mereka dengan harapan jika keinginannya dapat terwujud soal Aditama Corp.”
“Kurang ajar sekali orang itu.”
Ayah Peter langsung terlihat geram.
“Kita harus melaporkan kejahatannya ini.”
“Tenang saja, karena aku sudah mengurusnya----“
“Terima kasih, Anthony. Tak heran jika Smith Company berada jauh di atas Aditama Corp, karena kau begitu cepat----“
“Aku hanya melindungi keluargaku. Dan kau, Rina serta Reno.. adalah keluargaku..”
*
“Dad.” Adalah Andrew yang memanggil ayahnya itu ketika ia dan kedua orang tuanya berikut Kusuma telah berpamitan dari keluarga Reno untuk kembali ke kediaman mereka sendiri.
“Yes, Son?” sahut Dad Anthony pada Andrew.
“Alasan yang Dad katakan pada Uncle Pete soal aku dan Reno yang sampai mengalami apa yang belum lama kami alami ini, apa benar begitu?”
“Tidak.. aku mengarangnya. Karena aku melihat Reno seolah enggan untuk menceritakan hal yang sesungguhnya pada Peter tentang sebab dia dan kamu hendak diculik dan disakiti..”
“Dad niat sekali mengarang eh?..” cibir Andrew namun bermakna candaan.
“Haha.” Dad Anthony spontan tergelak.
Andrew mendengus geli.
“Tapi aku salut, otak Dad sangat cepat dan aku membenarkan ucapan Uncle Pete tentang dirimu yang hebat itu..”
“Pintar kan Dad-mu ini?..”
“Heem..”
“Ya sudah, pergilah beristirahat.”
“Ada satu hal lagi yang ingin aku tanyakan.”
“Tanyakanlah.”
Dad Anthony mempersilahkan Andrew.
“Aku melihat ada yang janggal dari Dad saat kita masih di ruang makan rumah keluarga Reno.”
🚬🚬🚬🚬🚬🚬🚬
To be continue...