THE TWO BLACK DRAKES

THE TWO BLACK DRAKES
PART 27



Happy Reading.


🚬🚬🚬🚬🚬🚬🚬


“Den—“


“Tuan Muda....”


Dua pria bersuara disaat yang bersamaan dengan wajah mereka yang khawatir karena melihat Reno terlibat perkelahian yang timplang.


Hendak maju untuk memberikan pertolongan sambil satu pria berkata, “Ayo kita bantuin Den Reno, Den Andrew—“


“Tenang....”


Namun pria itu di cegal oleh rentangan tangan, pada dia yang disebut namanya di akhir kalimat yang terputus.


Andrew.


Yang sama seperti kata yang ia ucapkan tadi, Andrew nampak tenang melihat Reno.


Dimana Reno dalam kondisi sedang terlibat perkelahian dan ia disedang coba dikeroyok oleh beberapa orang.


“Majikan lo itu juara taekwondo dan cuma tinggal beberapa tahap lagi jadi master, jadi lawan segitu belum apa-apa—“


“Tapi, Den Andrew.” Dia yang sedang diajak bicara oleh Andrew, menukas dengan khawatir---namun dilema untuk melangkah maju mendekati Reno, karena Andrew menahannya.


Begitu juga satu laki-laki lainnya, yang merupakan bodyguard-nya Reno---yang lebih dilema lagi dari laki-laki yang barusan berinteraksi dengan Andrew, pasalnya dia dipekerjakan tidak hanya untuk mengawasi Reno, tapi untuk menjaga cowok itu juga.


Namun saat ini, justru dirinya hanya bisa berdiri terpaku di tempatnya, karena Andrew melarangnya ikut campur---dimana ia juga ingat peringatan Reno padanya sebelum satu majikannya itu masuk ke area lapangan basket, lalu bodyguard Reno itu berpikir cepat untuk menghubungi rekannya yang merupakan bodyguard-nya Andrew---agar Andrew diberitahukan tentang gelagat akan adanya perkelahian antara Reno dan beberapa orang di lapangan basket.


Tapi kemudian, bodyguard itu dibuat heran oleh Andrew---yang datang ke taman komplek dengan tergesa, tapi ketika sampai di lapangan basket---malah ia menepuki Reno, bukannya membantu Reno menghadapi beberapa orang yang nampak sedang mengeroyok sahabat rasa saudaranya Andrew itu. Bahkan Andrew juga menepuki dan mengeluarkan celotehan macam cheer leaders pada Reno,  sambil ia cengengesan.


Entah apa yang dipikirkan satu tuan muda dari pria yang mempekerjakannya itu, bodyguard Reno sungguh heran. Sama seperti satpam rumahnya Reno dan 1 bodyguard lain yang berada pada jarak tertentu dari tempat Andrew berdiri.


Dan dikala bodyguard Reno terheran-heran sekaligus dilema antara tetap diam di tempatnya karena ancaman kehilangan pekerjaan dari 2 tuan muda atau membantu satu tuan mudanya yang nampak sedang mulai terpojok, tahu-tahu Andrew yang tadi di dekatnya---menggerakkan tangannya---melempar sesuatu, sambil satu ucapan keluar dari mulut Andrew.


“Bull’s Eye!” ( Tepat Sasaran! )


Dimana tak lama kemudian, suara samar-samar benda menghantam sesuatu terdengar, bersamaan dengan pekikan kesakitan---disepersekon setelahnya.


Lalu fokus orang-orang pada satu titik termasuk Reno, mengarah ke sumber suara pekikan kesakitan tersebut.


🚬


“Eka!”


Seruan terdengar dari mulut teman-teman orang yang sudah tersungkur akibat ditimpuk Andrew dengan menggunakan bola tenis yang memang tak sengaja Andrew kantongi, karena niatannya memang ingin bermain tenis sebelum bodyguard khusus dirinya datang tergopoh menghampiri Andrew, dan mengatakan situasi yang sedang dialami Reno berdasarkan info dari rekannya yang bertanggung jawab mengawasi dan menjaga Reno.


Mereka yang berseru itu lalu langsung menoleh ke arah Andrew yang sedang berjalan lebih masuk ke dalam lapangan dimana Reno tengah dikepung hendak dikeroyok oleh beberapa anak kuliahan, setelah Andrew mengatakan pada dua laki-laki yang bersamanya untuk tetap di tempat mereka---yang patuh pada Andrew mau tidak mau, karena dipecat---adalah ancaman Andrew pada mereka berdua soalnya.


“ARKH!”


Dan saat Andrew tengah berjalan, suara pekikan tak lama terdengar dari arah tempat Reno berada.


Bukan pekikan Reno, melainkan seorang dari yang mengepung Reno, dimana fokusnya teralih pada temannya yang ditimpuk kepalanya dengan bola tenis oleh Andrew.


“TETAP DI TEMPAT LO SEMUA KALO GA MAU TEMAN LO INI GUE INJAK SAMPAI MATI!”


Lalu teriakan Andrew dengan suaranya yang menggelegar terdengar.


Memberi peringatan kepada beberapa orang yang hendak mendekat ke arah Andrew yang sudah menempatkan kakinya pada dada orang yang ia timpuk tadi.


Cowok yang bernama Eka Arlan.


Yang orangnya tengah mengaduh kesakitan.


Hendak bangkit namun tak jadi, karena Andrew menghentakkan sekali kakinya di paha Eka, yang kemudian bergerak gelisah kesakitan---dengan punggungnya yang bergesekan dengan lantai lapangan.


🚬


Di sisi lain dalam waktu yang bersamaan, Reno memanfaatkan kesempatan yang terbuka baginya untuk merubuhkan sampai telak teman-teman Eka yang sudah teralih fokusnya karena tindakan Andrew pada Eka.


Yang mudah dan cepat Reno lakukan, karena sebagian sudah mengarah pada Andrew yang menjadi target untuk di serang---dimana sebelumnya mereka mengira, kalau Andrew gede badan doang---tapi taunya, Eka dirubuhkan olehnya hanya dengan sebuah bola tenis.


Ditambah Andrew selain menahan perut Eka dengan kakinya, pun sudah juga menghantam paha Eka dengan injakan yang cukup kuat.


🚬


Begitu bernafsu teman-teman Eka yang hendak menyerang Andrew itu, namun sayangnya nafsu itu tak bisa tersalurkan. Karena Andrew kiranya, bukanlah tandingan itu teman-teman Arlan.


Jika Reno menguasai taekwondo, Andrew menguasai cabang olah raga yang sarat dengan baku hantam. Pun Andrew menguasai seni bela diri yang serupa dengan taekwondo, dan sering keluar sebagai juara pada tiap kompetisi yang diikutinya.


Terlebih sekarang, Andrew dalam mode segar. Karena cukup istirahat dan udah makan.


Jadinya, dalam satu menit saja, beberapa tinju dan tendangan Andrew telah bisa merubuhkan 4 orang dalam waktu berdekatan.


Bukan hanya rubuh, namun sampai rebah di atas lantai lapangan.


Tak lupa, kesakitan.


Hantaman tinju Andrew memang begitu menyakitkan bagi mereka.


Dan memang kepalan tangan Andrew kalau ia gunakan untuk memukul itu, akan memberikan efek kepala pusing jika Andrew memukul lawannya di wajah.


Lalu sesak nafas, kala Andrew memukul lawannya di dada dan menendang pada bagian perut---karena tinju, adalah satu hal yang dikuasai Andrew---olah raga favoritnya.


Yang mana Andrew rutin latihan di sasana, kemudian rajin juga melatih kepalan tinjunya juga kecepatannya pada sebuah samsak---dan hasil latihannya, yah kiranya bisa terlihat dari otot tangan Andrew yang kiranya tak menunjukkan dia anak SMA kalau sedang pakai baju biasa.


Keturunan ras barat membuat Andrew mempunyai tubuh tinggi menjulang, dimana gen sang ayah mendominasi perawakan Andrew yang tidak seperti orang lokal di negara tempatnya tumbuh dari sejak ia lewat usia balita.


Lalu hobi olahraga dan kebanyakan latihan yang Andrew lakukan tak jauh-jauh dari alat berat pada tempat fitness selain tinju dan olahraga semacam itu, membuat Andrew kian tak nampak macam anak SMA.


Tapi memang Andrew sedang dalam tahap menuju kedewasaan, karena ini tahun terakhirnya menjalani masa sekolah---tahun depan sudah akan duduk di bangku kuliah.


🚬


Singkat kata, semua teman-teman Eka Arlan yang hendak mengeroyok Reno kini sudah payah dan tak berdaya semua.


Telah dibuat KO oleh Reno dan Andrew.


“Angkat Nih Temen-Temen Lo!” seruan lalu terdengar dari mulut Reno, sambil ia menatap teman-teman Arlan yang berada di pinggir lapangan.


Yang kemudian bergerak cepat dengan nampak takut-takut untuk menolong teman-teman mereka yang sedang terkapar serta mengaduh kesakitan.


“Terkecuali dia.”


Namun saat Eka Arlan hendak dibantu, larangan keluar cepat dari mulut Reno pada teman Arlan yang hendak menolongnya.


🚬


“Lo berdua sebenarnya ada masalah apa sama gua??... sshhh...” Eka Arlan berkata sambil menatap Reno dan Andrew dengan penuh tanda tanya sambil kalimatnya terhiaskan dengan ringisan. “Karena seinget gua kita ga pernah ada urusan sebelumnya...” sambung Eka, lalu meringis lagi.


“Lo udah mencederai adik gue!”


“Adik lo?---“


“Cewek bondol yang lo bully sampai dia jatuh di menghantam paving block taman setelah lo tabrak sepedanya dan lo lindas juga itu sepeda punya adik gue!---“


“Hah??...”


Eka lalu nampak berpikir setelah Reno sedikit menerangkan.


"Inget?---"


“Jadi ini gara-gara itu cewek kampung yang udah ngotorin ini lingkungan elit---“


“Jaga mulut lo brengsek!”


“Argh!”


Eka mengaduh lagi, setelah Reno sedikit memukul wajahnya sambil Reno berjongkok.


Kesal, karena Eka menghina adik angkat kesayangannya. “Yang lo bilang cewek kampung itu adik gue, dan gue mau buat perhitungan sama lo karena udah buat dia cedera!”


Reno bicara lagi, dan ia cengkeram rahang Eka.


“Ya udah gua minta maaf!...”


Eka berseru cepat, dan Reno langsung berdecih sinis.


“Maaf lo bilang?...” ucap Reno kemudian. “Lo udah bikin adik gue geser tulang tangannya, jadi lo harus mendapatkan ganjaran yang sama.”


Bicara dengan ekspresi dan sorot mata yang dingin pada Eka.


Lalu tangan Reno bergerak untuk meraih satu tangan Arlan, yang dadanya masih di tekan namun tak seberapa kuat oleh kakinya Andrew---dimana yang bersangkutan kemudian bersuara, “Biar gue aja.”


Sambil Andrew tahan tangan Reno. Dan Eka Arlan sudah nampak panik di tempatnya.


“Tenaga lo udah tinggal sedikit brother. Nanti yang geser hanya bulu tangannya yang lebat macam monkey ini.”


Andrew berkata lagi. Bahkan dia sempat-sempatnya meledek Eka yang memang tangannya ditumbuhi bulu yang cukup lebat, dan Andrew terka kalau cowok yang sudah mencederai Fania itu, memanglah spesies manusia yang punya bulu berlebih di tubuhnya.


Reno pun langsung beringsut dari tempatnya, berdiri dan memberikan ruang pada Andrew yang sudah menyeringai pada Eka yang paniknya mulai bertambah.


Sedikit ketakutan, karena seringai Andrew yang menyiratkan kalau cowok itu hendak melakukan hal yang mengerikan---“L-o... lo mau a-apa?!...” dan Eka bersuara dengan tergagap sambil mencoba melepaskan diri dari Andrew yang sudah memegang satu tangannya.


“Geser tulang tangan lo lah!”


Andrew menyahut cepat dengan entengnya.


“Macam lo buat adik kita orang geser tulang tangannya!” ucap Andrew lagi yang sudah siap melakukan hal yang benar akan ia lakukan, bukan sekedar gertakan.


Heran juga pada dirinya, yang kenapa sekarang dia kok sangat ingin memberikan pelajaran pada Eka karena perlakuan brengseknya pada Fania sampai cewek itu cedera.


Dan tanpa sadar juga, Andrew mengatakan kalau Fania adiknya.


🚬


“JA---“


KRAAKK!


Eka hendak menyergah, namun tangan Andrew lebih cepat dari ucapannya.


“AARRGGHHHH!!!!...”


Di detik kemudian lolongan kesakitan teramat, lolos dari mulut Eka---dimana Andrew lalu berkata, "Sorry, tenaga gue kebablasan."


Karena tulang Eka yang hendak Andrew geser, malah patah---membuat merinding yang melihatnya.


Andrew sendiri terlihat masa bodoh saja, sementara Reno sempat meringis secara spontan setelah melihat adegan Andrew mematahkan tulang orang dengan mudahnya.


Walau tidak sampai mematahkan parah.


Tapi tetap saja, namanya orang yang patah tulangnya---biar sesenti juga, kan pasti merasakan sakit yang kiranya membuat mulut merintih dan mengaduh secara spontan.


‘Terkadang gue berpikir, Si Andrew ini bukan keturunannya Dad Anthony, tapi keturunan Samson.’ Lalu Reno membatin, sambil ia merasa geli sendiri di perutnya dengan kelakuan Andrew yang tenaganya berlebih itu.


🚬


Setelah adegan yang cukup membuat merinding selain Reno tentang penampakan tenaganya Andrew, duo sahabat rasa saudara itu kemudian hendak hengkang dari lapangan basket yang sempat jadi arena pertarungan, bukannya pertandingan olahraga yang berhubungan dengan fungsi lapangan itu sendiri.


Reno dan Andrew berjalan dengan santai menjauhi si Eka itu, yang sedang rebahan dan merintih kesakitan. Lalu tak lama setelah Reno dan Andrew telah berjalan menjauhinya, cowok itu berteriak di belakang keduanya. “GUE AKAN BIKIN PERHITUNGAN SAMA LO BERDUA, B*NGSAT!” Dengan Eka yang berteriak penuh dendam pada Reno dan Andrew.


Yang ditanggapi masa bodoh oleh duo sahabat rasa saudara itu.


Bahkan Andrew mengacungkan dua jari tengahnya dengan tetap berjalan membelakangi dan menjauh dari Eka.


Sebuah kode yang bermakna membalikkan dan menunggu tantangan si Eka itu direalisasikan oleh yang bersangkutan, selain Andrew memang tak takut akan tantangan tersebut.


Reno sih menyungging miring saja menanggapi tantangan Eka yang lebih terdengar seperti sebuah ancaman, sambil ia berjalan bersisian dengan Andrew---dimana teriakan nyalang Eka yang ditujukan untuk mereka berdua terdengar lagi.


“TUNGGU PEMBALASAN GUE!---“


“KITA BERDUA TUNGGUIN!”


Yang mana teriakan Eka berikutnya yang bermakna ancaman itu, kemudian dibalas Andrew yang berhenti lalu berbalik dan berdiri memandang pada Eka yang sudah dibantu berdiri oleh teman-temannya.


“TAPI LAKUKAN 2 HAL SEBELUM LO BUAT PERHITUNGAN SAMA KITA BERDUA!”


Andrew lanjut berseru tak kalah lantang pada Eka yang masih menatapnya penuh dendam.


“SATU, LURUSIN DULU TANGAN LO YANG UDAH GUE PATAHKAN!”


Didetik berikutnya, Reno terkekeh geli karena ucapan Andrew yang memang seringnya enteng sekali kalau mengeluarkan ejekan pada seseorang.


” DUA, CUKUR ITU BULU-BULU DI TUBUH LO KARENA GUE GA MAU BERTARUNG DENGAN SIMPANSE!”


🚬🚬🚬🚬🚬🚬🚬


To be continue...