
Happy Reading.
🚬🚬🚬🚬🚬🚬🚬
“Udah ada informasi soal orang yang menyerang Fania?...” Adalah Andrew yang mencetuskan pertanyaan, saat dirinya yang baru keluar dari dalam rumah keluarganya Reno itu mendapati wajah sahabat rasa saudaranya itu sedang mengetat --- yang Andrew bisa tebak Reno itu kenapa, selain karena ada seorang satpam rumah keluarga Reno yang Andrew tahu jika yang bersangkutan dimintai tolong oleh Reno untuk mendapatkan informasi yang berkaitan dengan tindakan kekerasan oleh seseorang pada Fania berdasarkan dugaan Reno dan Andrew.
“Udah, Den Andrew. Bahkan bener yang Den Reno bilang semalem kalo ada yang sengaja bikin Non Fania keadaannya jadi kayak yang Den Reno omongin ke saya...” sang satpam yang menjawab pertanyaan Andrew. Karena Reno nampak sedang memandang nanar ke satu titik di hadapannya, terkesan sedang berpikir --- namun entah apa yang sedang sahabat rasa saudaranya itu pikirkan, yang jelas pasti rencana pembalasan pada orang yang mencelakai Fania sampai cewek itu mengalami cedera tulang yang bergeser pada satu tangannya.
“Siapa?...” tanya Andrew langsung pada satpam rumah keluarga Reno tersebut yang bernama Wahyu.
“Itu, Den Andrew... dia---“
“Kakaknya gebetan lo si anak dewan.” Reno yang kemudian menyambar untuk menjawab Andrew.
🚬
Andrew terdiam sesaat, namun tak lama berselang ia kembali bersuara seraya bertanya.
“Alasannya apa dia sampai menyerang Fania begitu?---“
“Apapun alasannya, dia udah nyakitin adik gue,” tukas Reno.
“Kalau soal alasannya saya kurang tau Den Andrew... tapi yang jelas, ada satu pembantu di daerah sini yang liat kalau itu Non Fania dipepet sama motor pas lagi gowes sepedanya sampe dia jatoh di pafingblok pinggiran taman...”
Wahyu lalu bertutur setelah Reno menukas pertanyaan Andrew, dimana Andrew kemudian memandang padanya --- begitu juga Reno, yang sudah merasakan emosi di hatinya --- namun ia tetap mendengarkan setiap penuturan Wahyu yang sedang memberikan informasi yang ia dapat.
“Udah niat bantuin, tapi pas dia ngenalin kalo itu anaknya pejabat yang rumahnya di ujung, dia ga berani maju karena itu anaknya pejabat yang adalah kakaknya pacarnya Den Andrew---“
“Dia bukan pacar saya ...”
Andrew segera menimpali untuk meralat satu kata dari Wahyu.
“Oh bukan ya, Den?---“
“Bukan.”
“Maaf Den, soalnya saya sering ngeliat Den Andrew sama itu cewe di taman---“
“Ga masalah. Teruskan cerita lo...”
“Ya itu pokoknya, si Imah ga berani deket pas liat mukanya itu anak sulungnya pejabat yang adenya kemaren-kemaren saya liat sering sama Den Andrew buat bantuin Non Fania, soalnya itu orang emang terkenal suka seenaknya mentang-mentang anak pejabat, selain suka maen kasar sama orang dan biasanya karena banyak duit, dia bayar preman buat gebukin orang yang bermasalah sama dia...”
“Cih!---“
“Gitu ya?” Reno berkata bersamaan dengan Andrew yang mendecih muak.
“Iya, Den. Saya prihatin sih kalo sampe Non Fania dicelakain sama dia. Tapi Den Reno sama Den Andrew mendingan jangan urusan sama itu orang deh, ngeri suka bayar preman gitu.”
“Saya sama Andrew berangkat dulu...” putus Reno.
“Oh iya, Den.”
“Oh iya Yu, jangan ngomong soal ini ke ayah ataupun bunda,” pesan Reno pada Wahyu.
“Siap, Den Reno,” jawab Wahyu sigap, sambil mempraktekkan ‘hormat grak’ pada majikan mudanya itu.
🚬
Reno dan Andrew kemudian berpamitan pada Wahyu dan langsung menaiki motor mereka masing-masing, namun sebelum Reno memakai helmnya --- ia bicara lagi pada Wahyu yang masih setia berdiri di tempatnya sampai dua majikan muda itu hengkang dari hadapannya, untuk sebuah kesopanan sebagai --- katakanlah karyawan Reno dan keluarganya.
“Saya mau minta tolong 1 lagi, Yu...”
“Silahkan Den---“
“Ini.” Reno menyodorkan beberapa lembar uang pecahan besar pada Wahyu, yang sudah sempat Reno ambil dari dalam dompetnya yang berada di saku celana sekolahnya.
“A---“
“Buat beli rokok kamu, sama minta tolong satu lagi...”
Reno segera lagi bicara saat Wahyu yang nampak sedikit terkejut karena disodorkan beberapa lembar uang pecahan besar olehnya.
“Kamu kan punya banyak teman di daerah sini?... terus akrab juga sama satpam yang suka keliling komplek. Sebagian uang ini, entah siapa aja yang kamu mintai tolong, buat honor mereka. Terserah kamu bagaimana mengaturnya. Tapi yang jelas, saya mau ada laporan tentang orang yang mencelakai Fania... Jam berapa dia biasa keluar rumah dan kembali lagi, apa kendaraannya. Kalau perlu nomor polisi kendaraannya saya mau tau...“
“I-iya Den... Tapi ini kayaknya kebanyakan, Den---“
“Sudah cepat ambil, nanti keburu ayah atau bunda keluar karena belum mendengar suara motor kami.”
“I-iya Den...”
Wahyu pun menerima uang yang disodorkan oleh Reno itu.
“Saat saya pulang sekolah nanti, saya harap informasi yang saya minta tadi sudah saya dapat...” ucap Reno sambil memberi penegasan sekali lagi pada Wahyu. “Dan ingat jangan bicara sedikitpun soal ini pada ayah atau bunda, kalau perlu orang di rumah ini ga ada yang tau selain saya, Andrew dan kamu.”
“Baik, Den Reno...” jawab Wahyu.
Baru setelahnya Reno dan Andrew hengkang dari hadapan satpam rumah keluarga Reno tersebut, dengan melajukan motor keduanya masing-masing untuk pergi ke sekolah.
🚬
“Jadi apa rencana lo?...”
Andrew mencetuskan pertanyaan pada Reno, sesaat setelah mereka telah sampai di sekolah dan telah turun dari motor mereka yang telah diparkirkan di area parkir sekolah sepasang sahabat kental itu yang lebih nampak macam saudara kandung kedekatannya.
Bahkan mengalahkan akrabnya saudara kandung beneran sih dua cowok itu, yang sering terlihat berdua saat kemana-mana, bahkan saat Andrew masih tinggal di kota yang berbeda dengan Reno. Namun saat Andrew belum pindah domisili karena ia pindah ke sekolah yang sama dengan Reno, keduanya sering saling mengunjungi.
Karena punya jadwal reguler berkendara untuk mengunjungi satu tempat dengan berkonvoy bersama komunitas anak motor yang menolak untuk disebut geng motor, soalnya kegiatan Reno dan Andrew bersama mereka yang tergabung dalam komunitas motor yang mereka gunakan, memang tidak macam anak geng motor yang kerap kali terkenal begajulan dan bahkan sarat dengan tindakan kriminal.
“Hadang, hajar.”
“Okay---“
“Lo masih tertarik sama adiknya itu manusia brengsek?”
Reno menukas cepat ucapan Andrew, yang segera menjawabnya.
“Well, tadinya gue udah berencana mau jadiin si Arista pacar gue karena dia cantik dan sexy. My tipe... tapi karena dia punya kakak brengsek yang beraninya sama perempuan apalagi sama anak SMP dan anak SMP itu kesayangan brother tercinta gue, so I skip her...”
Cerocos Andrew menjawab pertanyaan Reno.
“Di kota ini bukan dia seorang cewek cantik dan sexy---“
“Baguslah. Karena kalau gebetan lo itu ternyata ada sangkut pautnya juga dengan tindakan kakaknya yang mencelakai Fania, dia pun akan jadi target gue...”
“Memang gue rasa si Demi Moore KW itu pakai susuk. Karena dia bisa membuat brother gue yang dingin macam kutub utara dan selatan, sampai sesayang itu sama dia---“
🚬
Reno berdecih geli setelah mendengar selorohan Andrew tentang Fania. “Dan gue yakin, soon-lo akan sama menyayangi Fania seperti gue menyayangi dia...” ucap Reno kemudian. “Atau siapa tau ada letupan-letupan asmara antara lo dan Fania dikemudian hari?---“
“What?!”
Andrew berjengkit dengan wajah yang tak percaya setelah mendengar ucapan Reno tentang kemungkinan akan ada hubungan asmara antara dirinya dan Fania.
“Bisa aja kan?---“
“Ga bisa dan ga itu ga akan terjadi, okay?---“
“Jodoh ga ada yang tau...”
Andrew lalu tertawa setelah mendengar ucapan Reno itu.
“Sekali lagi gue kasih tau ya?---“
🚬
“Satu, gue ga pacaran sama anak SMP---“
“Fania ga akan SMP selamanya...”
“Tapi gue yakin penampilannya yang seperti itu akan bertahan selamanya...”
Andrew kembali menukas argumen Reno dengan argumennya.
“Lo perhatikan sendiri kalau dari ujung rambut sampai ujung kaki, Fania ga ada femininnya sama sekali. Dan itu alasan gue yang kedua kalau gue ga akan naksir sama adik angkat lo yang bahkan udah mirip laki-laki betulan,” tegas Andrew yang ia sampaikan dengan nada bicara yang santai. “Rambut lo sama rambut si Fania aja masih lebih pendek rambut dia.”
Reno cengengesan saja mendengar penegasan Andrew itu.
“Serasa homo gue kalau pacaran sama dia, sudah lagi suaranya macam mom... bahkan lebih nyaring suara si Fania daripada mom.”
Andrew masih melanjutkan argumennya.
“Dan adik angkat kesayangan lo itu, ga ada lembut-lembutnya sebagai cewe---“
🚬
“So No...” sambung Andrew. “Gue ga minat pacaran dengan cewe macam si Fania itu yang ga ada sisi femininnya sama sekali...”
Reno masih cengengesan saja mendengarkan ocehan Andrew yang berjalan bersisian dengannya menuju kelas mereka.
“Sayang sama dia, kemungkinan bisa. Macam lo sayang sama Fania sebagai adik perempuan lo... tapi pacaran sama dia?... terpikirkan pun engga...”
“Kalau sampai kejadian?...” timpal Reno iseng. “Lo pacaran sama Fania?... saat dia udah SMA mungkin?...”
“Gue salto di keramaian.”
“Gue pegang omongan lo nih ya?”
“Silahkan, tapi jangan mengharapkan hal yang ga mungkin terjadi...”
“Ga ada yang ga mungkin di dunia ini, Andrew my brother. Termasuk kemungkinan kalau lo akan cinta mati sama Fania di masa depan.”
“Memang!”
Andrew merespons cepat omongan Reno barusan.
“Memang ga ada yang ga mungkin di dunia ini.”
Andrew menambahkan ucapannya.
“Tapi gue jatuh cinta sama adik angkat lo yang sangat kelaki-lakian itu, sangat sangat tidak mungkin.”
“Sekali lagi, kita lihat saja nanti dalam beberapa tahun ke depan... ga sabar lihat lo salto di keramaian...”
Reno pun cekikikan, dan Andrew berdecak sambil memutar bola matanya malas mendengar ucapan sahabat rasa saudaranya itu.
🚬
“Lo balik duluan aja Ndrew.”
Beberapa jam telah berlalu, dan waktu pulang sekolah telah tiba.
Lalu Reno berkata pada Andrew sesaat setelah guru mapel pelajaran terakhir telah hengkang dari kelas mereka.
“Gue ada rapat sama anak-anak MPK dan Bu Endang. Takutnya lama. Jadi lo balik duluan aja.”
“Okelah kalau begitu...”
Andrew lalu mengiyakan ucapan Reno.
“Sekalian tanya Wahyu soal informasi yang gue minta tadi---“
“Okay brother...”
“Tapi ingat, jangan lo bertindak duluan kalau ada informasi dari Wahyu tentang itu cowok brengsek. Dia urusan gue---“
🚬
Dan yang menjadi urusan Reno itu, kini telah Reno ketahui sosoknya setelah dirinya sampai ke rumah keluarganya---dan mendengar semua informasi yang ingin ia ketahui dari mulut Wahyu, sang satpam di rumah keluarganya tersebut---bukan dari mulut Andrew yang belum sempat bertemu Wahyu karena saat Andrew pulang duluan ke rumah keluarga Reno, jam kerja salah seorang satpam keluarganya Reno itu belum sampai.
Namun saat Reno telah sampai di depan gerbang rumahnya, jam kerja Wahyu sudah tiba.
Lalu Wahyu dengan tergesa menghampiri Reno untuk melapor.
Bahkan Wahyu mengatakan tentang keberadaan orang yang sedang Reno cari itu, yang ia lihat saat datang ke komplek tempat tinggal Reno dan Andrew untuk menjalankan shiftnya di rumah keluarga Reno.
Dan setelahnya, Reno langsung menggas kembali motornya untuk pergi ke tempat yang dikatakan oleh Wahyu tentang orang yang sedang ia cari itu---hingga membuat satu orang bodyguard yang bertugas untuk mengawasi dan menjaganya dalam jarak tertentu, menjadi heran.
Namun bodyguard tersebut kembali tetap ingat pada tugasnya. Jadi ia kembali mengekori Reno dengan motor yang ia gunakan.
Reno membonceng Wahyu untuk ikut dengannya, untuk mengenali wajah orang yang sedang Reno cari itu.
Dan bodyguard khusus Reno berada sedikit berjarak dari motor Reno yang sedang melaju ke satu arah tersebut.
“Tetap dalam jarak kamu saat saya sedang mengurus urusan saya...”
Reno yang tahu kalau satu orang bodyguard itu masih mengekorinya, kemudian mendekati yang bersangkutan kala sang bodyguard telah juga memberhentikan motornya saat Reno telah memarkirkan motor yang cowok itu gunakan di pinggiran sebuah taman.
“Ga perlu ikut campur.”
Reno memberikan penegasan pada si bodyguard yang kemudian mengangguk ragu.
“Kecuali saya memang meminta bantuan kamu, jangan nanti kamu masuk campur dengan urusan saya di beberapa menit ke depan. Ingat itu. Kamu langgar, hari ini juga kamu akan kehilangan pekerjaan.”
Sekali lagi Reno memberikan penegasannya pada si bodyguard yang kembali mengangguk ragu, mau tidak mau---mengingat jika Reno dikatakan sama kedudukannya dengan Andrew, oleh Tuan Besar yang mempekerjakannya sebagai pengawal untuk Reno.
Jadi kalau Reno mengeluarkan ancaman tentang dirinya yang terancam dipecat, kemungkinan itu akan sangat mungkin terjadi jika dia tidak mematuhi ucapan Reno yang memberikan larangan sekaligus peringatan untuknya---jadi mau tidak mau, bodyguard khusus Reno itu mengiyakan ucapan cowok tersebut.
Lalu Reno kemudian pergi dari hadapan si bodyguard setelah yang bersangkutan mengiyakan ucapannya, menuju ke sebuah lapangan basket yang berada di tengah taman tersebut. Dimana disana ada beberapa orang cowok yang kira-kira usia kisaran masa kuliah sedang bermain basket bersama, dan Reno segera bertanya pada Wahyu.
“Yang mana orangnya?---“
🚬🚬🚬🚬🚬🚬🚬
To be continue...