THE TWO BLACK DRAKES

THE TWO BLACK DRAKES
PART 34



Happy Reading.


🚬🚬🚬🚬🚬🚬🚬


“By the way, mana Dad?“


Pertanyaan itu keluar dari mulut Andrew.


Setelah Reno dan Bunda Rina bicara mengenai ayahnya Reno.


Dimana Andrew menyadari ketiadaan ayahnya disaat ibunya ada di rumah keluarga Reno.


Ibunya Andrew—Mom Erna, hendak menjawab pertanyaan anak sulungnya itu—namun tak jadi.


Karena suara mesin mobil yang terdengar di pekarangan rumah keluarga Reno, mengalihkan fokus Mom Erna.


Termasuk juga fokus orang-orang yang sedang bersama ibu kandungnya Andrew itu. Andrew dan Reno tak terkecuali.


“Thanks God both of you are save.” ( Syukurlah kalian berdua selamat )


Lalu sebuah suara bariton terdengar tak lama kemudian.


🚬🚬


Ayah kandungnya Andrew, laki – laki pemilik suara bariton yang sudah menyambangi ruangan dimana ada Andrew, Reno dan kedua ibu dari masing – masing cowok itu berikut salah seorang pria yang merupakan 1 dari 2 kepercayaannya, diluar saudara lelaki ayah kandungnya Andrew yang selama ini merawat Andrew saat Andrew masih tinggal di kota B.


“Dad darimana?” tanya Andrew pada sang ayah yang sempat mengusap kepalanya selepas ayah kandungnya itu mendekat padanya dan Reno yang sama diperlakukan seperti Andrew.


“Mengurus kecoak yang sudah berani berniat mencelakai kedua anak lelakiku—“


“Dad dari rumah ketua dewan itu?—“


“Yes—“


“Apa yang Dad lakukan padanya?...”


Andrew kembali bertanya.


“Membuatnya merasakan dan mendapatkan apa yang seharusnya ia rasakan dan dapatkan...”


“Apa Dad dan Om Kusuma melakukan suatu latihan?...” Lalu Reno ikutan bertanya pada Dad Anthony.


Yang orangnya langsung mengernyit memandang pada Reno. “I don’t get it?—“ ( Aku tidak paham )


“Tadi saat kami diselamatkan dan dibawa pergi dari tempat orang-orang yang berniat menghabisi aku dan Andrew, Om Kusuma mengatakan hal yang kurang lebih sama macam kalimat yang Dad katakan barusan.”


🚬🚬


Flashback on,


“Benalu memang harus dimusnahkan bukan?” Yang Kusuma katakan setelah ia memberi kode pada anak buahnya untuk melepaskan satu tembakan yang tepat mengenai kepala salah seorang laki – laki dengan pakaian aparat kepolisian.


Kusuma dan beberapa anak buahnya yang jumlahnya melebihi orang – orang yang membawa Andrew dan Reno untuk diculik lalu dicelakai atas suruhan seseorang, sudah sampai di tempat dimana mobil Van dan sebuah mobil sedan yang digunakan para orang – orang suruhan itu berhenti di suatu tempat yang sangat sepi.


Dua orang dari mereka yang dibayar oleh seseorang untuk mencelakai Andrew dan Reno telah tumbang bersimbah darah dan sudah tak bernyawa, akibat masing – masing 2 orang yang sudah tumbang itu dilubangi kepalanya dengan timah panas oleh 2 anak buah Kusuma.


Yang membuat Andrew serta Reno terpana selain terkejut melihat salah satu orang kepercayaan ayahnya Andrew itu, seolah menjadi pribadi yang lain dari yang selama ini mereka kenal—karena Kusuma yang biasa Andrew dan Reno panggil dengan Om Kusuma itu, selama ini mereka kenal sebagai orang yang kalem dengan penampilan layaknya pekerja kantoran.


Yah pekerja kantoran yang punya posisi tinggi sih. Karena Kusuma seringnya menggunakan setelan jas dalam penampilannya.


“Sekarang lepaskan dua Tuan Mudaku itu.”


Yang orangnya kini nampak berdiri dengan menatap tajam ke arah orang-orang yang masih memegangi Andrew dan Reno.


“Dan kau, aku tahu kau aparat kepolisian betulan. Begitu juga 2 rekanmu yang sudah tak bernyawa itu.”


Lalu Kusuma bicara pada satu orang berseragam kepolisian yang tersisa.


“Tapi kau lihat, kalau aku tidak peduli. Kau dibayar untuk mencelakai 2 tuan mudaku itu, dan aku dibayar untuk melindungi mereka. Bedanya, bayaranmu hanya cukup untuk membeli satu setel pakaianku saja, itupun tak termasuk jasnya. Sementara bayaranku bahkan lebih besar dari setahun gajimu...”


Kusuma bicara dengan dinginnya, dan sedikit menyombongkan dirinya. Dimana Andrew dan Reno spontan mendengus geli di tempat mereka setelah mendengar ucapan dalam beberapan kata pongah yang keluar dari mulut Kusuma barusan.


“Jadi lebih baik kau turunkan senjatamu itu, jika tidak ingin bernasib macam 2 rekanmu,” kata Kusuma lagi pada satu orang berseragam aparat yang masih tersisa, dimana orang itu langsung menyahut untuk menyerah.


“Ba-baik. Saya turunkan senjata saya—“


“Dan kalian... apa kalian tuli? Atau ingin berkenalan dengan peluru dari anak buah gue karena kalian belum melepaskan 2 tuan muda gue itu?”


Kusuma menyambar dan bicara dengan cepat pada beberapa preman yang sudah ambil posisi untuk memukuli Andrew dan Reno, dengan 2 orang yang masing-masing memegangi keduanya dengan kuat.


Dimana beberapa senjata langsung lebih ditujukan kepada preman-preman itu. Lalu kesemua dari mereka langsung spontan mengangkat tangan.


Membuat Andrew dan Reno otomatis terlepas dari cengkeraman 2 orang preman yang tadi memegangi masing-masing keduanya. Kemudian 6 orang anak buah Kusuma maju untuk menjemput Andrew dan Reno, dengan 4 orang yang memfokuskan ujung senjata yang mereka pegang ke arah para preman tersebut.


“To-tolong jangan bunuh kami. Ka-mi hanya dibayar oleh Pak Maulana Arlan untuk mengurus 2 anak ini karena udah mengeroyok anak beliau sampe patah tangannya—“


“Aduh... mereka sempat memukuli kalian rupanya?” ucapan Kusuma terdengar, memotong seorang preman yang mengoceh sekaligus mohon ampun atas nyawanya dan teman-temannya itu— yang Kusuma tak pedulikan ucapannya, disaat Andrew dan Reno telah berada didekatnya.


Dua cowok itu langsung menerbitkan senyum mereka pada Kusuma.


“Kami okay, Om.”


Andrew lalu langsung berkata, setelah Kusuma melihat ada darah di sudut bibir Reno dan melihat Andrew memegangi perutnya.


Dimana ucapan Andrew itu pun diiyakan oleh Reno.


“Hanya perih aja... tapi paling cuma sebentar,” ucap Reno kemudian.


“Bocah-bocah tangguh memang kalian, ya?...” timpal Kusuma yang sudah berdiri diantara Andrew dan Reno yang menarik kembali sudut bibir mereka.


“Eum, Om...”


Andrew bersuara.


Namun ia nampak ragu untuk melanjutkan perkataannya.


“Ada apa Andrew?...”


“Ada 2 orang yang terpaksa kami tusuk perutnya karena mereka menodongkan pisaunya pada kami di dalam Van. Belum terlihat sadarkan diri sampai aku dan Reno dipaksa keluar tadi. Jadi kami khawatir kalau mereka mati dan—“


“Yusa!” seruan keluar dari mulut Kusuma sebelum Andrew menyelesaikan kalimatnya.


Lalu seorang anak buah Kusuma mendekat dengan segera ke tempat Kusuma berdiri bersama Andrew dan Reno.


“Ya Pak?”


Dan yang bersangkutan langsung berkata sigap pada Kusuma.


“Cek 2 orang dalam Van apa mereka masih hidup atau sudah mati.”


Kusuma langsung memberikan perintah pada yang bersangkutan.


“Baik Pak.”


Yang orangnya langsung menyahut dengan sigap, kemudian bergerak dengan cepat untuk melakukan perintah Kusuma.


“Masih hidup Pak. Tapi nadinya lemah.” Tak berapa lama, satu anak buah Kusuma yang bernama Yusa itu kembali setelah melaksanakan tugas dari Kusuma dan langsung memberikan laporan.


Kusuma lalu mengangguk. “Kalian masuklah ke dalam mobil,” kemudian bicara pada Andrew dan Reno.


Sambil menunjuk pada satu mobil yang Kusuma tumpangi saat ia datang dengan iringan beberapa mobil lain yang berisikan anak buahnya untuk menyelamatkan Andrew dan Reno.


“Om akan menyusul.” Kusuma menambahkan ucapannya. “Setelah membagi tugas pada mereka.”


Dimana setelah kalimat tersebut keluar dari mulut Kusuma, Andrew dan Reno mengangguk patuh.


Keduanya selanjutnya melakukan apa yang sebelumnya Kusuma katakan.


Yakni masuk ke dalam sebuah mobil dengan satu orang supir yang sudah berdiri sigap di dekat mobil tersebut.


Lalu bergerak cepat membukakan pintu mobil serta menahan pintu tersebut yang kemudian langsung ia tutup saat Andrew dan Reno telah masuk serta duduk di dalamnya.


“Kita ke Rumah Sakit dulu untuk memeriksa luka kalian.” Kusuma tak seberapa lama telah menyusul masuk ke dalam mobil yang sama ada Andrew dan Reno di dalamnya.


Andrew lalu menyergah untuk menolak usulan Kusuma. “Iya lah Om, luka di bibir aku juga ga seberapa. Dan perut Andrew cuma tinggal di kompres aja...” dan Reno langsung menimpali ucapan Andrew.


Kusuma lalu mengiyakan permintaan Andrew dan Reno. Kemudian bicara pada supir yang mengemudikan mobil yang sedang ia, Andrew serta Reno tumpangi.


“Om,”


Suara Reno terdengar lagi, tak lama setelah mobil yang ia tumpangi itu melaju dan sempat terdiam, sama seperti Andrew dan Kusuma yang langsung menyahut.


“Ya, Ren?... ada barang kalian yang tertinggal di Van itu?...”


Sekaligus Kusuma bertanya.


Reno menggeleng, begitu juga Andrew.


“Ga ada, Om...”


“Lalu?...”


“Mengenai 2 orang yang kami tusuk. Apa Om menyuruh anak buah Om untuk bawa mereka ke Rumah Sakit?—“


“Kalian tidak perlu mengkhawatirkan mereka...” tukas Kusuma atas pertanyaan Reno.


“Bukan mengkhawatirkan mereka Om, justru aku dan Reno kiranya sama berpikir apa kami akan berurusan dengan hukum apabila Om menyuruh anak buah Om membawa 2 orang itu ke Rumah Sakit, tapi mereka keburu mati di jalan...”


Kusuma tersenyum di tempatnya, dan Reno lanjut bicara.


“Aku dan Andrew sih terima aja kalau memang harus berurusan dengan hukum karena hal itu. Tapi kami mengkhawatirkan Bunda dan Mom yang pastinya syok nanti—“


“Aku yakinkan itu tidak akan terjadi,” tukas Kusuma. “Jika 2 orang itu mati, apa yang kalian lakukan dapat dikatakan sebagai bentuk pembelaan diri... Uncle Glenn kalian yang akan mengurusnya...” tambah Kusuma.


Andrew dan Reno lalu manggut-manggut.


“Dan bicara tentang syok, Om rasa Mom Erna dan Bunda Rina akan lebih dulu syok setelah melihat luka dan lebam kamu itu, Ren—“


“Mom ada di sini?...”


“Hu’um—“


“Ah, ya soal memberi laporan dengan sangat cepat pada Dad, Om memang jagonya.”


Kusuma terkekeh mendengar ucapan Andrew barusan. Sementara Reno mendengus geli dan Andrew berdecih setengah geli.


“Lalu apa Dad marah kali ini?—“


“Dad Anthony tidak akan pernah marah pada kalian aku rasa... terkecuali kalian melakukan hal yang hina—“


“Contoh?“ tukas Andrew.


“Tanyakan saja langsung pada Dad Anthony nanti—“


“Okay then,” tukas Andrew. “Lalu 2 polisi yang sudah jelas mati itu? atau mereka hanya polisi gadungan?...” Andrew bertanya kemudian.


“Mereka benar polisi yang sesungguhnya—“


“Lalu bagaimana?—“


“Apanya?...” Kusuma balik bertanya pada Reno yang barusan bertanya padanya, selepas Kusuma menjawab pertanyaan Andrew.


“Om sudah menyuruh anak buah Om menembak mati mereka?”


“Lalu?”


“Yaa atas namanya mereka aparat hukum, lalu mereka mati begitu? Apa instansi mereka tidak akan menyelidikinya?...”


“Kita lihat saja nanti,” jawab Kusuma.


“Jika bukti mengarah pasti pada Om, Om akan mendekam di penjara dalam waktu lama—“


“Ya sudah mau dibilang apa?...“


“Santai sekali eh?...”


“Aku tidak punya anak dan istri yang akan menderita bila aku di penjara...”


Kusuma berkata dengan santainya, dan Andrew serta Reno geleng-geleng saja sambil mengulum senyum mereka.


“Another thing Om.”


Andrew kembali bersuara.


“Apa?” sahut Kusuma.


“Para preman kampung serta 1 polisi yang masih hidup, apa yang Om perintahkan pada anak buah Om untuk mengurus mereka?—“


“Membuat mereka merasakan dan mendapatkan apa yang seharusnya mereka rasa dan dapatkan...”


Flashback off.


🚬🚬


“Membuat mereka merasakan dan mendapatkan apa yang seharusnya mereka rasa dan dapatkan...”


Reno mengulang ucapan Kusuma saat dalam perjalanan dari sesi penyelamatan dirinya dan Andrew oleh laki-laki yang Reno dan Andrew panggil dengan ‘Om Kusuma’ itu beserta beberapa anak buah laki-laki itu, yang tentunya adalah para anak buah ayahnya Andrew juga.


Karena laki-laki yang merupakan kepala keluarga dikeluarganya Andrew itu yang menggaji para anak buah yang dibawa Kusuma saat menyelamatkan Andrew dan Reno tadi. Dan para anak buah yang menyertai Kusuma tadi bukan hanya anak buah yang ayahnya Andrew punya.


Di negara tempat orang tua Andrew berdomisili, ada anak buah lain yang khusus ditempatkan di negara tersebut untuk ragam kepentingan.


“Itu kan yang Om bilang? Kurang lebih sama dengan yang barusan Dad katakan.” Reno melanjutkan ucapannya. “Makanya aku tanya apa Dad dan Om melakukan latihan makanya bisa memberikan jawaban yang hampir sama persis, karena merupakan kalimat wajib kalian mungkin?”


Ayahnya Andrew dan Kusuma kemudian langsung terkekeh setelah mendengar cerocosan iseng Reno itu.


🚬🚬


“So, boys,” Dad Anthony bersuara, nampak mengajak Andrew dan Reno bicara ketika ia dan mereka yang tadi duduk bersama, kemudian hendak beranjak ke ruang makan keluarga Reno.


Karena Bunda Rina meminta orang tua Andrew yang ibundanya Reno ketahui itu belum makan malam, agar melakukan hal tersebut di rumahnya—termasuk juga Andrew dan Reno dan dirinya sendiri yang tadi belum rampung dengan makan malam mereka akibat gangguan dari orang-orang yang hendak menculik dan mencelakai Andrew serta Reno.


“Ya, Dad?...”


Andrew dan Reno langsung sama menyahut.


Sambil keduanya menjeda langkah seperti Dad Anthony dan Om Kusuma untuk pergi ke ruang makan rumah keluarga Reno. Sementara Mom Erna dan Bunda Rina telah lebih dulu melangkah ke ruangan tersebut.


“Jadi apa sebenarnya yang membuat kalian terlibat masalah dengan anak yang ayahnya membayar orang-orang untuk menculik dan mencelakai kalian?...” tanya Dad Anthony kemudian. “Dan yang lebih membuatku heran, aku dengar jika sebenarnya yang memiliki masalah dengan anak itu adalah dirimu, Boy.”


Lalu ucapan Dad Anthony tertuju pada Reno.


“What a rare thing for me,” kata Dad Anthony lagi.


“Dia sudah melukai seorang gadis belia yang kurang lebih seusia Michelle, yang aku sudah anggap sebagai adikku sendiri, Dad.”


Reno pun menjawab pertanyaan Dad Anthony, lalu mengatakan garis besar masalah hingga kemudian ia dan Andrew menjadi sasaran niat jahat dari bapak dan anak yang mana anaknya telah dicederai dengan cukup serius oleh Andrew—dimana setelah Reno memberikan penjelasan yang singkat tentang apa dan kenapa perihal apa yang belum lama menimpa dirinya dan Andrew, Dad Anthony manggut-manggut.


🚬🚬


“Kusuma,”


Dad Anthony kini tengah berdua dengan Kusuma saat ia dan istrinya berikut Andrew, telah berada di rumah mereka sendiri yang tak jauh letaknya dari rumah keluarga Reno.


“Ya Tuan?” jawab Kusuma santun pada bosnya itu, meski dirinya sangat dekat dengan ayahnya Andrew tersebut karena telah mengabdi dengan cukup lama padanya—namun Kusuma selalu menyematkan panggilan ‘Tuan’ kepada Dad Anthony.


Dimana setelah Kusuma menyahut, Dad Anthony kemudian memberikan salah satu orang kepercayaannya itu sebuah perintah.


“Cari tahu tentang gadis yang tadi Reno katakan.”


🚬🚬🚬🚬🚬🚬🚬


To be continue...