
Happy Reading.
🚬🚬🚬🚬🚬🚬🚬
“Fania?? ..”
Adalah Reno yang menyebut nama seorang cewek dengan wajah yang penuh keterkejutan.
Karena kondisi cewek SMP yang tomboy penampilan dan kelakuannya itu agak memprihatinkan sekarang.
Nampak sedikit payah dalam duduknya, dengan tangan kirinya kaku. Karena terbebat oleh perban yang terlihat terpasang ketat, dengan duduk selonjoran di atas sebuah karpet kayu yang diselimuti dengan seprai --- dimana sepasang kaki yang selonjoran itu, nampak dihiasi beberapa goresan luka.
“Kak Re, no?” si empunya kaki yang selonjoran itu nampak terkejut melihat keberadaan Reno di hadapannya sekarang.
“Lo, kenapa?? ..” Yang orangnya langsung meringsek kepada dia gerangan yang sedang selonjoran dengan beberapa luka di tubuhnya.
Mengabaikan ucapan pria dewasa yang tadi sempat berseru padanya, namun kemudian Reno menyadari kekurang – sopanannya itu.
“Eh, maaf, Om. Reno kaget keadaan Fania kok begini? Tadi Om bilang, kebetulan Reno dateng? Fania begini ada hubungannya dengan Reno –“
“A –“
“Ga ada!”
Reno bertanya pada pria dewasa yang ada di sampingnya. Ayah dari cewek abg yang menjadi sumber kekhawatiran Reno sekarang.
Yang sudah hendak menjawab pertanyaan Reno, namun yang sedang Reno khawatirkan kondisinya itu langsung dengan cepatnya menyambar --- menjawab pertanyaan Reno yang ditujukan pada ayah si cewek abg yang adalah Fania.
Gadis SMP kelas dua yang Reno sayangi macam adiknya sendiri.
🚬
“Ga ada apa – apa kok, Kak Reno ..”
Gadis SMP yang tomboy itu, Fania --- langsung lagi bicara setelah menyergah ayahnya yang hendak menjawab Reno.
Reno langsung saja spontan menoleh padanya. Dimana Fania menampakkan senyum ceria miliknya saat Reno sedang menoleh padanya itu.
‘Apa yang Fania sembunyikan dari gue?’
Namun Reno menangkap jika senyum Fania itu dibuat – buat. Sekedar untuk menenangkan dirinya.
Yang orangnya langsung lagi nyerocos pada ayahnya, “Papah kalo mau balik ke kantor, pergi aje ga apa – apa. Ada Mamah ini. Ada Kak Reno juga nih malah. Lagian Fania juga ga kenapa – napa –“
“Apaan ga kenapa – napa?! Tadi waktu di urut kejer – kejer kesakitan!” dan ayahnya Fania langsung menimpali dengan cepat ucapan anaknya tersebut.
🚬
“Sstt, ada tamu juga?”
Ibunya Fania berujar pada Fania dan papanya.
Reno menampakkan senyuman. Sambil ia memandangi satu – satu 3 orang pemilik rumah sederhana tempatnya berada sekarang.
“Eh?”
Sedetik setelah mamanya berujar, gadis tomboy itu nampak terkejut melihat keberadaan seseorang di belakang mamanya.
Andrew.
“Eh ini, siapa?”
Ayahnya Fania langsung bertanya, disaat Fania yang terkejut itu langsung memandang penuh tanya pada Reno.
“Ini saudara Reno, Om .. Tante –“
“Saya Andrew, Om ..” Andrew langsung memperkenalkan dirinya pada ayahnya Fania saat Reno yang lebih dulu memperkenalkannya pada ayahnya Fania.
🚬
“Sorry,dia maksa ikut soalnya ..” disaat Andrew sedang memperkenalkan dirinya pada ayahnya Fania, Reno berbisik pada cewek tomboy yang sudah ia anggap adiknya sendiri itu.
“Iya Kak, ga pa – pa,” sahut Fania pelan.
“Tenang aja, dia udah jinak.”
Lalu Reno berbisik lagi pada Fania, yang orangnya lagi terkekeh kecil.
Sebentar saja gadis tomboy itu terkekeh bersama Reno.
“Hai ..”
Karena Andrew dipersilahkan untuk mendekat ke tempat Reno dan Fania berada, dan langsung menyapa Fania saat netranya bersinggungan dengan gadis tomboy itu.
“Ha,i ..” Fania pun langsung menjawab sapaan Andrew tersebut.
Hanya saja, Fania nampak agak canggung saat membalas sapaan Andrew.
“Ini ngomong – ngomong pada mau minum apa? ..” tawar ibunya Fania dengan ramah pada Andrew dan Reno.
“Terima kasih Tante, tapi ga usah repot – repot.” Andrew yang langsung menjawab tawaran ibunya Fania itu.
“Iya Tan, santai aja ..” Reno mendukung ucapan Andrew.
“Ga ada repot.”
Ibunya Fania langsung membalas ucapan Reno dan Andrew yang langsung tersenyum.
“Jadi mau minum apa nih? Yang dingin pasti. Keausan kan abis panas – panasan ke sini?”
Ibunya Fania berkata lagi, dengan pembawaannya yang santai dan terkadang lucu bagi Reno.
“Nah minuman dinginnye mau yang bening apa yang berwarna?” seperti kalimat pertanyaannya ini, yang membuat Reno merasa sedikit geli --- hingga ia spontan terkekeh.
Dan Andrew merasakan hal yang sama dengan Reno, hingga ia pun terkekeh kecil secara spontan seperti Reno.
“Apa aja, Tante.”
Reno lalu menjawab tawaran ibunya Fania.
Andrew pun mengiyakan ucapan Reno.
🚬
Andrew mengambil tempat di samping Reno yang duduk di atas karpet kayu yang juga sedang diduduki Fania sambil cewek itu selonjoran.
“Duduk di bangku gih ..” lalu tak lama kemudian Fania berujar sambil memandangi Andrew dan Reno bergantaian.
“Nah iye kenape jadi pade duduk di bawah?” timpalan lalu terdengar dari mulut ayahnya Fania. Yang cara bicaranya kental dengan logat suatu suku di negara tempatnya tinggal.
“Ga apa – apa, Om. Reno sama Andrew duduk di sini aja.” Reno yang menjawab ucapan ayahnya Fania tersebut.
Sementara Andrew hanya menganggukkan kepalanya saja.
Maklum baru banget kenal dengan keluarganya Fania, jadi Andrew masih canggung untuk berinteraksi.
Jangankan dengan keluarganya Fania, dengan gadis tomboy itu sekarang juga Andrew merasa canggung. Padahal sebelumnya ia sempat berinteraksi santai dengan Fania, walau tidak seakrab Reno dengan gadis itu.
Namun karena sempat bersikap sangat ketus pada Fania yang kemudian diam padanya di sisa waktu saat terakhir gadis itu ke rumah Reno dan Andrew banyak sekali mencibirnya, Fania nampak menjaga jarak pada Andrew.
Nampak agak takut – takut juga kelihatannya.
Dan masih agak seperti itu sekarang. karena yang bersangkutan tidak santai menegur Andrew seperti sebelumnya hanya sekedar untuk mengajaknya bicara.
🚬
Reno lalu mencetuskan pertanyaan sambil ia memandang pada ayahnya Fania yang langsung melontarkan jawabannya.
“Terus ini ngomong – ngomong kenapa Fania bisa begini? –“
“Si Fania dijahatin sama orang di daerah rumah kamu, sampe geser tuh tulang tangannya –“
“A, pa?? ..” Reno langsung terbelalak.
Begitu juga Andrew.
🚬
Lalu sanggahan dengan cepat keluar dari mulut Fania yang Reno dan Andrew perhatikan, seperti bergelagat memandang pada ayahnya.
“Orang Fania jatoh sendiri.”
Gadis tomboy itu langsung dengan cepat menambahkan ucapannya.
“Jatuh sendiri gimana?”
Reno langsung bertanya.
“Ga mungkin tiba – tiba jatuh ga ada sebabnya?” tambahnya.
“Ngindarin motor. Gue kagok terus jatoh deh ..”
Fania langsung menjawab Reno.
“Gitu ..” tambah Fania yang menyertai cengiran setengah bodoh pada Reno sedetik kemudian.
Reno membalas cengiran Fania dengan tersenyum pada cewek tomboy yang sudah ia sayangi layaknya adik kandung itu.
“Lain kali hati – hati,” ucap Reno kemudian.
Sambil satu tangannya terulur ke kepala Fania yang Reno acak pelan.
“Iya Kak ..” jawab Fania kalem, dan cewek tomboy itu pun tersenyum manis pada Reno --- lalu adegan kakak cowok yang nampak sayang banget pada adik perempuannya itu, terjeda oleh kedatangan ibunya Fania yang membawakan minuman dan makanan ringan untuk Reno dan Andrew.
“Seadanya ya, Nak Reno, sama siapa tadi nih sodaranya apa temennya? Lupa namanya. Susah disebut perasaan,” ucap ibunya Fania pada Reno dan Andrew yang langsung mengulum senyum geli mereka.
“Andrew, Tante.”
Andrew pun menjawab ucapan ibunya Fania.
“Oh iye. Silahkan deh kalo gitu, diminum dulu.”
Ibunya Fania kemudian merespons ucapan Andrew.
“Pada keausan pasti,” kata ibunya Fania lagi. “Sama ini dicobain kue cin –“
“Ih Mamah ..” namun sebelum ibunya Fania selesai bicara, suara anak gadisnya terdengar. “Ngapain ini kue dikeluarin? –“
“Ya emang kenapa? –“
“Ya mana cocok lidah orang kaya sama kue kampung?”
Oh, ada yang tertohok hatinya.
‘Kok gue merasa kayak dia lagi sindir gue ya? ..’
Andrew gerangan yang merasa hatinya jadi terasa tak nyaman setelah ucapan Fania yang membawa – bawa soal perbedaan kasta sosial antara dirinya dan Reno dengan cewek itu, melalui kue tradisional.
‘Tapi dia kan ga ada saat gue bilang kalau gue tau dia orang biasa dari pakaiannya?’
🚬
“Oh iya, ini kemarin kejadiannya? ..”
Reno bertanya pada Fania setelah ibu cewek itu menyajikan minuman dingin dan makanan ringan untuknya dan Andrew yang langsung berterima kasih pada ibunya Fania itu.
Dan Andrew yang sempat termangu karena merasa tersindir oleh ucapan Fania yang membuatnya ingat pada rasa bersalahnya, kemudian tertarik kesadarannya.
Lalu memperhatikan Fania yang langsung menjawab pertanyaan Reno. “Iya.”
“Gimana kejadiannya, sampai tangan lo bisa kayak gini? ..”
Andrew akhirnya angkat suara.
“Kan tadi gue udah bilang kalo gue jatoh?” Fania pun langsung menjawab Andrew.
Namun cewek itu nampak masih canggung pada Andrew yang langsung menimpali jawaban Fania. “Maksudnya jatuhnya kayak gimana sampai tangan lo jadi begitu?”
“Ya bagian ini duluan yang jatoh. Nahan tapi salah posisi .. ya gitu deh pokoknya –“
“Tunggu deh.”
Reno menginterupsi.
“Tadi kalo ga salah, katanya lo begini karena dijahatin di daerah rumah gue? –“
“Ih apaan engga, Kak .. ga ada yang jahatin. Gue jatoh sendiri –“
“Iya udah intinya lo jatoh di sekitaran rumah gue?”
“Iya –“
“Dari sepeda? –“
“Iya –“
“Hah?!”
Reno dan Andrew sama terperangah.
“Elo naik sepeda dari sini ke daerah rumah kita orang?!” Yang kemudian rasa terperangah dua cowok itu di cetuskan oleh Andrew dalam kalimat yang bernada amat tercengang.
Fania langsung mengangguk polos.
“Serius?“ kata Andrew lagi dengan ekspresi tak percaya.
“Iya. Emang kenapa? –“
“Ya ampun Faniaa.”
Reno menimpali ucapan Fania yang menjawab Andrew.
Sama macam Andrew, dirinya begitu tercengang mendengar jika Fania menggunakan sepeda dari rumahnya untuk menyambangi rumah Reno yang lumayan jauh jaraknya dari daerah tempat tinggal Fania.
“Dari sini ke rumah gue kan jauh? –“
“Ya engga jauh juga sih. Kan ga gue ga perlu muter balik karna naik sepeda? Gue dorong sepeda gue naek jembatan penyebrangan. Motong jalan –“
“Tetep aja itungannya jauh .. astagaa ..”
Sekali lagi Reno berkesah.
“Gue udah biasa naek sepeda sampe Ha – I, Kak –“
“Kenapa ga telfon kalo mau main ke rumah? Gue bisa jemput lo ..”
Reno menginterupsi Fania.
“Ya ga ada rencana juga gue sebenarnya.” Fania pun langsung menimpalinya. “Bukan mau main.”
Fania lanjut bicara.
“Gue tadinya mau cari buku pelajaran bekas ke Kuitang. Karena buku cetak gue belom lengkap. Tapi gue terus inget elo, Kak. Kan elo pernah SMP, terus gue pikir gue mau nanya buku bekas lo SMP dulu. Kalo masih ada kan lumayan duit buat beli buku di Kuitang bisa gue minta sama Papah supaya itu duitnya buat gue jalan – jalan ke Ancoll ..”
Nampak enteng saja Fania bicara pada Reno, bahkan cewek itu menampakkan senyuman senang.
Hanya saja ucapan entengnya Fania yang dicetuskan cewek itu dengan polosnya, ditangkap oleh 2 cowok yang berada di dekat gerangan.
Yang terdiam karena kata – kata Fania begitu masuk ke sanubari keduanya.
Reno dan Andrew.
Yang sungguh langsung mencelos hati keduanya.
🚬🚬🚬🚬
To be continue......