
Happy Reading.
🚬🚬🚬🚬🚬🚬🚬
Apa yang terjadi pada cewek tomboy yang sudah Reno sayangi layaknya adik kandungnya sendiri, membuat Reno memutar otak tentang apa yang sebenarnya menimpa cewek bernama Fania itu hingga bisa luka-luka, bahkan menurut ayah dari Fania, tulang tangan Fania yang sebelah kiri itu sampai bergeser.
Meskipun tak sampai patah, tapi Reno yakin kalau Fania lumayan kesakitan.
Toh Reno masih ingat saat ayahnya Fania bilang kalau gadis itu sampai ‘kejer-kejer’ saat ayahnya sang adik angkat, membawa anaknya itu ke sebuah tempat pengobatan yang dapat dikatakan sebagai tempat pengobatan tradisional, karena tindakan yang dilakukan di tempat pengobatan yang biasanya didatangi oleh mereka yang menderita patah tulang—tidak disertai tindakan medis.
Melainkan hanya dengan urutan alias pijatan oleh ahli pijat yang katanya ilmu pijat mereka yang bisa membuat pasien patah tulang tanpa adanya tindakan medis seperti operasi, dapat kembali pulih seperti semula, tulang mereka yang patah itu. Sudah banyak yang membuktikan kesaktian para ahli urut turun temurun di tempat tersebut, makanya sangat tersohor itu pengobatan untuk pijat patah tulang yang dikatakan jika tempat dan metode pengobatan di sana sudah melegenda.
Usut punya usut, ternyata salah seorang pekerja di keluarga Andrew ada yang sudah pernah melakukan pengobatan di sana waktu kakinya patah.
“Kaki saya waktu itu juga pernah geser tulangnya. Digerakin aja susah, walau udah ke dokter. Tapi abis dipijat di HN, kaki saya malah langsung bisa diangkat. Ngilu banget sih. Tapi cepet sembuhnya.” begitu penuturan salah seorang pekerjanya keluarga Andrew di kediaman cowok tersebut di Jakarta, saat Andrew iseng bertanya pada salah seorang pekerjanya tentang pengobatan khusus patah tulang yang melegenda itu.
🚬
“Tapi ya itu, sakitnya lumayan bikin keluar airmata.” Tambahan informasi dari salah seorang pekerjanya Andrew itu yang tahu tentang pengalamannya menjalani pengobatan di tempat yang melegenda tersebut.
Dan kalimat itu yang membuat Reno ingat ucapan ayahnya Fania pada anak sulungnya tersebut. “Tadi waktu di urut kejer–kejer kesakitan!” yang Reno paham arti itu kata ‘kejer-kejer’, walaupun tidak ada di kamus Bahasa Indonesia.
Kalau menurut ucapan ayahnya Fania, cewek itu sampai nangis sejadi-jadinya saat diurut di pengobatan melegenda tersebut.
Dan karena hal itu, Reno mencelos hatinya. ‘Kasihan Fania. Pasti kesakitan banget.’ Reno merasa miris memikirkannya.
Ditambah lagi, cewek itu--Reno bayangkan harus menahan sakit karena tulangnya yang bergeser dari daerah komplek tempat tinggalnya dan Andrew, saat mengendarai sepedanya untuk pulang karena tidak bertemu dengan Reno yang memang saat kejadian Fania sampai geser tulang tangannya itu, belum pulang ke rumahnya.
Yang mana Fania juga tidak sempat mencapai rumahnya karena keburu celaka. Dan itu yang Reno yakini, karena penjaga gerbang rumahnya mengatakan kalau Fania tidak ada datang mencari Reno.
Tapi memang Fania datang ke daerah tempat tinggalnya dan Andrew di hari dimana cewek itu celaka, karena Reno sempat bertanya pada seorang pedagang di area taman yang kenal dengannya juga Fania.
Dan yang bersangkutan bilang, Fania bahkan sempat jajan di sana. Namun Reno tak mendapat informasi yang lebih dari itu.
🚬
“Siapa yang tega buat Fania sampai begitu? Dia ga pernah cerita dia punya musuh di sini?” gumam Reno yang sedang termenung sendirian di rumahnya.
Sementara Andrew sedang berada di dalam kamarnya yang disediakan di rumah keluarga Reno. Entah sedang apa dia di dalam sana.
Lalu Bunda Rina sedang pergi untuk menghadiri undangan dari sebuah acara bersama suaminya, yakni ayahnya Reno yang sudah kembali dari perjalanan bisnisnya.
Yakin ada seseorang yang katakanlah merundung Fania dengan parah di daerah tempat tinggalnya, makanya Reno bergumam seperti itu.
Kemudian Reno terdiam sebentar setelahnya, menatap ke sembarang titik di hadapannya.
Lalu tak lama ia beranjak dari duduknya.
“Gimana cara gue harus tau, siapa-siapa aja orang sekitar sini yang ada bersamaan dengan waktu Fania ada di sini.”
🚬
“Wahyu!...” Reno menyambangi pos satpam di rumah keluarganya.
“Ya Den?” sahut yang bersangkutan. Satpam di rumah keluarga Reno.
Pada satpam rumah keluarganya yang Reno panggil dengan Wahyu itu, Reno meminta bantuan. “Yu, tolong cari tahu ke teman – teman kamu yang ada di sekitar sini. Kemarin, sekitar pukul 2 atau 3 apa ada yang melihat Fania? Terus tanyakan juga, siapa aja orang – orang yang mereka lihat selain Fania di kisaran waktu itu.”
“Oke Den,” sahut Wahyu dan Reno langsung berterima kasih padanya.
“Makasih Yu. Tapi tolong cari informasinya dengan cepat,” ucap Reno setelahnya. “Tadi siang saya lupa mau minta tolong itu sama Pak Eman.
“Siap Den,” sahut Wahyu lagi dengan sigap. “Tapi mohon maaf nih Den. Apa ada masalah?”
“Ada...” Reno menjawab cepat. “Ada yang celakai Fania.”
“Hah?!...” Wahyu berkesah terkejut.
“Sampai tulang tangannya bergeser.”
Reno menambahkan ucapannya.
“Allahu Akbar!”
Wahyu yang terkejut.
“Yang bener, Den?!—“
“Ya benar. Makanya saya minta tolong sama sama kamu untuk mencari tahu apa yang saya minta tadi.”
“Astagfirullaah... siapa yang tega bikin Non Fania begitu?”
“Itu yang saya ingin tahu karena saya ingin memberikan pelajaran pada orang yang sudah mencelakai Fania, apapun alasannya.”
🚬
“Tapi saya yakin, kalau Fania ga bertingkah sampai harus mendapatkan perlakuan seperti itu.” Reno lanjut bicara.
“Makanya saya perlu tahu, siapa yang membuat Fania celaka begitu.”
“Oke Den saya akan cari tau secepatnya.”
“Saya tunggu kabarnya ya?”
“Siap Den.”
“Saya masuk dulu kalau begitu,” pamit Reno kemudian.
“Iya Den...” jawab Wahyu dengan santun.
Reno lalu hengkang dari hadapan salah satu satpam rumah keluarganya itu dari dua satpam yang dipekerjakan oleh orang tuanya.
🚬
“Fania udah tidur belum ya?” gumam Reno yang sudah masuk kembali ke dalam rumahnya. Sambil ia melirik ke tempat telepon rumahnya berada. “Eh tapi Fania ga mungkin bisa jalan ke rumah sebelah buat terima telepon gue dengan kondisinya begitu. Gue ngomong sama mamanya aja apa ya? Eh tapi—“
“Ren!” sebuah seruan dari arah tangga membuat Reno yang asik bergumam itu, langsung membuatnya menoleh ke sumber suara.
Andrew, yang berseru memanggil Reno itu. Yang langsung mendapat tudingan dari Reno. “Abis nonton BF lo ya?” dan Andrew langsung terkekeh.
“Gue sedang ga mood untuk itu,” kata Andrew kemudian.
Dan Reno lalu masa bodoh saja. Namun sepersekon detik berikutnya, Andrew bertanya padanya.
“Lo dari mana?”
“Minta tolong sama Wahyu.”
“Minta tolong apa?” tanya Andrew lagi.
Lalu Reno mengatakan tentang hal yang ia katakan pada salah seorang satpam yang bekerja di keluarganya itu pada Andrew.
🚬
Andrew manggut-manggut kemudian setelah mendengar penuturan Reno tentang gagasan sahabat rasa saudaranya itu tentang menemukan fakta yang terjadi pada Fania sebenarnya, sampai cewek tomboy itu mengalami cedera pada salah satu tangannya.
Dimana gagasannya Reno yang dipikirkan oleh sahabatnya itu, adalah gagasan yang sama Andrew pikirkan.
Makanya saat ia sedang berada di dalam kamarnya, dimana Andrew sedang mengerjakan satu PR dari satu mata pelajarang—langsung bergegas untuk keluar dari dalam kamarnya setelah PR tersebut selesai ia kerjakan.
Guna mengatakan pada Reno tentang sebuah gagasan untuk menguak fakta yang terjadi pada Fania, setelah ide itu melintas di pikirannya—yang ternyata sama dengan pemikiran Reno. Namun Reno sudah duluan memikirkannya.
Sudah mengambil tindakan awal pula.
Yang Andrew saluti pola pikir sahabatnya yang kalau dalam area para anak geng motor, Reno punya kedudukan sebagai ahli strategi kira-kira. Bahkan menurut Andrew, Reno sangat layak untuk menjadi pemimpin.
Namun Reno tidak tertarik dengan hal-hal semacam itu. Anak rumahan. Cinta Bunda Rina. Yang bisa kena serangan jantung kalau Reno sampai jadi anggota geng motor. Cukup si Andrew saja yang sering membuat Bunda Reno khawatir atas saudara angkatnya itu yang meskipun menolak untuk disebut anak geng motor tapi Andrew punya pasukan yang sering berkonvoi motor dengannya.
Dan karenanya Andrew sering terlibat masalah. Membuat Bunda Rina lebih sering mengkhawatirkan Andrew ketimbang Reno malah yang anak kandungnya sendiri.
Tentu saja begitu. Karena Reno, jangankan berkonvoi motor—nongkrong di luar bersama teman-teman sebayanya di luar rumah pun amat sangat jarang. Hanya sesekali saja. Itu pun tak lama.
🚬
Keesokan harinya...
“Den Reno. Saya udah dapet informasi yang Aden minta semalem.” Adalah satpam yang semalam Reno mintai tolong yang menghampirinya, kala Reno telah siap untuk berangkat sekolah.“Saya bahkan tau siapa itu yang jahat sama Non Fania—“
“Siapa?”
“Itu, kakaknya cewe yang sering saya liat deket sama Den Andrew di taman.”
“Oh.” Reno menanggapi dengan datar ucapan Wahyu yang menyampaikan informasi padanya perihal apa yang ingin Reno ketahui dengan sangat dibeberapa jam ke belakang.
Namun sorot mata Reno dingin. Berikut rahangnya yang nampak mengetat. Yang membuat Andrew langsung memandang heran pada Reno, setelah ia sudah menyusul Reno dari dalam rumah sahabat rasa saudara kandungnya itu.
🚬
🚬
“Jadi apa rencana lo?...”
Andrew yang bertanya pada Reno.
Setelah informasi yang Reno dapat tentang siapa orang yang menjahati Fania, telah juga Andrew dengar.
“Hadang, hajar.”
🚬🚬🚬🚬🚬🚬🚬
To be continue...