THE TWO BLACK DRAKES

THE TWO BLACK DRAKES
PART 25



Happy Reading.


🚬🚬🚬🚬🚬🚬🚬


“Den Reno!” sebuah seruan menyapa telinga Reno sesaat setelah dia sampai di depan gerbang rumah keluarganya dan langsung mematikan mesin motornya.


“Gimana Yu?”


Reno segera merespons seruan dari seseorang yang adalah satpam yang bekerja pada keluarganya, setelah Reno melepaskan helm yang ia kenakan tanpa Reno turun dari motor kesayangannya.


“Saya udah dapet informasi yang Den Reno minta tadi pagi,” ucap si satpam yang melapor pada Reno, setelah ia mendekati Reno dengan nampak sedikit tergesa.


“Bagus,” sahut Reno. “Udah ngomong sama Andrew?....” lalu Reno bertanya pada satpam rumahnya yang bernama Wahyu itu.


Hanya berbeda 3 tahun lebih tua dari Reno, makanya Reno hanya memanggilnya dengan nama saja. Namun Reno masih menggunakan sebutan kata pengganti orang pertama tunggal yang sopan pada Wahyu.


🚬


“Saya belum ketemu Den Andrew, Den.”


“Dia disini atau di rumahnya?”


“Ada disini Den. Tadi saya liat motornya ada di garasi.”


“Ya udah. Apa informasinya?” respons Reno pada jawaban Wahyu, seraya ia bertanya.


“Namanya Eka Arlan. Dia kuliah di MB. Ini Den....” jawab Wahyu sambil ia menyodorkan selembar kertas yang terlipat pada Reno. “Informasi lengkapnya udah saya catet di sini.”


🚬


Reno pun mengulurkan tangan kanannya untuk mengambil kertas tersebut, dimana Wahyu kemudian langsung lagi bicara. “Sama itu Den....”


Namun Wahyu menggantungkan kalimatnya.


“Itu—“


“Apa? Ngomong aja....”


Reno menimpali dengan cepat perkataan Wahyu yang menggantung itu.


“Uang yang saya kasih untuk dapatkan itu informasi kurang?....”


Reno lalu bertanya lagi pada Wahyu yang langsung menjawabnya. “Oh bukan! Bukan Den.... bukan itu maksud saya.”


“Terus apa?....“


🚬


“Itu Den....” sahut Wahyu. “Orangnya kebetulan lagi ada di taman....”


Nampak sangat ragu, namun akhirnya Wahyu mengatakan apa yang barusan ia katakan.


“Naik—“


“Heu?—“


“Naik. Ikut saya ke taman.”


Wahyu tak Reno beri pilihan.


🚬


“Tetap dalam jarak kamu saat saya sedang mengurus urusan saya. Ga perlu ikut campur.”


Hanya beberapa menit saja, Reno pun sampai di taman yang ada di pusat komplek tempat tinggalnya yang sama seperti Andrew. Lalu ia turun dari motornya setelah berhenti di pinggiran taman, setelah Wahyu turun lebih dulu.


Kemudian Reno yang tahu kalau pengawal pribadi yang ditugaskan ayahnya Andrew untuk selalu berada di dekatnya—masih terus melakukan tugasnya, menghampiri pengawal tersebut yang kemudian Reno berikan penegasan.


Namun bukan peringatan keras. Hanya sekedar pemberitahuan. Kalau dirinya tidak suka ada orang yang mencampuri urusannya kalau bukan keluarganya atau orang-orang yang Reno ijinkan untuk itu, jadi Reno katakan itu pada pengawal yang disediakan oleh ayah Andrew khusus untuknya itu.


Lagipun, Reno belum dekat dengan pengawal pribadinya tersebut. Yang mana bagi Reno, pengawal itu masih orang asing hitungannya. Dan sang pengawal pun mengangguk mengiyakan ucapan penegasan Reno itu, walau terlihat yang bersangkutan agak ragu-ragu untuk mengiyakan ucapan Reno soal agar dirinya jangan ikut campur urusan tuan muda yang harus ia awasi dan jaga itu.


“Kecuali saya memang meminta bantuan kamu, jangan nanti kamu masuk campur dengan urusan saya di beberapa menit ke depan. Ingat itu. Kamu langgar, hari ini juga kamu akan kehilangan pekerjaan.”


Apalagi ucapan Reno yang berikutnya mengandung sebuah ancaman bagi kelangsungan pekerjaan sang pengawal, yang ia yakini kalau itu bisa terjadi. Mengingat jika Reno sama kedudukannya seperti Andrew bagi ayahnya Andrew.


“Baik, Tuan Muda Moreno,” ucap sang pengawal mau tidak mau.


“Ya sudah....”


Reno pun berpaling dari sang pengawal.


“Ayo Yu....”


Kemudian Reno bicara pada Wahyu.


“Ada dimana dia?....” tanya Reno kemudian.


“Sebentar Den—“


🚬


“Saya liat dulu orangnya ada dimana.” Wahyu kemudian hendak berpamitan pada Reno untuk memastikan keberadaan orang yang Reno cari.


“Oke....” jawab Reno tenang.


“Eemm—“


“Kenapa?....”


Reno langsung bertanya pada Wahyu, karena laki-laki yang bekerja sebagai satpam di rumah keluarganya itu tidak langsung hengkang dari hadapannya.


Dan terlihat ingin mengatakan sesuatu, namun ragu-ragu.


“Kalau orangnya beneran ada, Aden mau apa?—“


“Nanti kamu lihat sendiri.”


“Kalo Den Reno mau bikin perhitungan sama dia, mendingan jangan deh Den—“


“Lihat saja dimana orang itu berada,” timpal Reno. “Tidak perlu kamu pusing memikirkan apa yang akan saya lakukan. Sekarang lihat sekeliling dan beritahu saya kalau dia memang ada disini.”


Wahyu kemudian langsung mengiyakan ucapan Reno seraya ia menyahut dan mengangguk. Mematuhi ucapan Reno yang orangnya nampak tenang saja.


🚬


“Den....”


“Ada orangnya?” Reno langsung bertanya pada Wahyu yang telah kembali dengan cepat kehadapannya setelah memastikan keberadaan orang yang Reno cari.


“Ada Den—“


Reno lekas lagi menyambar untuk bertanya.


“Di lapangan basket, Den—“


🚬


Reno lalu memantapkan langkahnya menuju tempat pada taman yang dikatakan oleh Wahyu.


“Yang mana orangnya?....“


“Itu Den, yang pake kaos item sama celana basket warna putih.”


“Oke—“


“Den, Den....”


Wahyu kemudian dengan cepat menahan lengan Reno, saat majikan mudanya itu hendak melangkah masuk ke lapangan basket yang agak ramai dengan beberapa orang yang sedang bermain di bagian tengah lapangan, lalu ada juga beberapa orang yang sedang duduk-duduk dipinggirannya.


Laki-laki dan perempuan yang sepertinya adalah satu kelompok. Karena nampak sedang bercanda satu sama lain, sambil sesekali berinteraksi dengan mereka yang sedang bermain basket di lapangan tersebut.


“Apa?—“


“Jangan diajak ribut deh Den.”


Wahyu kiranya bisa menebak apa yang hendak majikan mudanya itu pada orang yang tadi ditunjuknya.


“Inget ga yang saya bilang tadi pagi?” kata Wahyu lagi. “Dia suka bayar preman,” sambungnya. “Belum lagi itu tuh, dia sama temen-temennya yang kayaknya tengil juga. Sementara Aden sendirian.”


Wahyu bertutur khawatir.


“Ya ada saya sih, tapi dua lawan banyak gitu?”


Wahyu masih dengan kekhawatirannya.


“Saya bonyok ga apa-apa. Tapi Aden jangan sampe.”


🚬


“Kamu diam di sini.”


Reno lalu berkata datar pada Wahyu yang mencoba mencegahnya itu.


“Kalau saya mereka keroyok lalu kalah dan sekarat, baru kamu bawa saya ke rumah sakit.”


“Ta-ta tapi Den....”


Wahyu tergugu, hendak lagi menyergah Reno dan mengekorinya.


“Kalau masih mau kerja pada keluarga saya, kamu diam disini.”


Namun Reno segera mencegahnya.


Dan Wahyu membeku di tempatnya kemudian.


Dilema sebenarnya. Antara ia tidak ingin majikan mudanya kenapa-napa, tapi majikan mudanya itu juga mengeluarkan ancaman yang bisa terjadi.


Mengingat Reno adalah anak tunggal dalam keluarganya, yang terlihat betul dimanja oleh kedua orang tuanya.


Dan jika Reno minta kedua orang tuanya untuk memecat pekerja mereka, rasanya hal itu pasti akan dikabulkan. Begitu pikir Wahyu.


Jadi kala Reno sudah memantapkan langkahnya yang nampak santai menuju bagian tengah lapangan basket yang sedang digunakan oleh beberapa orang di sana, Wahyu berdiri dengan gelisah di tempatnya.


🚬


“Lo Eka Arlan?” Reno sudah berada di hadapan salah seorang yang berada di lapangan basket, dimana orang tersebut adalah orang yang ditunjukkan oleh Wahyu tadi.


“Siapa lo?!”


Namun orang yang Reno tanya itu bertanya balik pada Reno dengan ketus.


“Berani-beraninya petantang-petenteng di depan gue?!” seru seorang cowok yang kini berdiri tegap di depan Reno dengan sikap sok jago.


Reno pun menegap di hadapan cowok yang sedang menatapnya nyalang itu. Nampak tenang, meski dirinya kini telah dikerubungi oleh beberapa cowok lain yang merupakan teman dari cowok yang sedang tepat berhadapan dengan Reno.


“Anak SMA lagi!” seru cowok yang memang adalah orang yang sedang Reno cari-cari sebelumnya. “Ngapain lo nyariin gue?!—“


BUGHH! 


Dimana ucapan cowok yang bernama Eka itu terpotong dengan segera, karena satu hantaman tinju Reno, dengan cepat menghantam bagian bawah dagunya.


Dan dengan cepatnya juga, Eka terhuyung dengan teramat ke belakang—bahkan cowok itu kiranya akan terjengkang, jika teman-temannya tidak segera menangkap tubuhnya.


“Aarghh....” namun begitu si Eka itu nampak payah, dengan tubuhnya yang tertahan itu nampak lemas merebah, dan mengaduh—merasakan sakit karena pukulan keras Reno di bawah dagunya.


Hingga mencederai rahang cowok itu. Yang Reno pandangi dengan tersenyum miring di tempatnya.


Namun hanya sebentar saja dari itu, prediksi Wahyu dan juga Reno sudah memprediksikannya—teman-teman Eka tidak akan tinggal diam setelah Reno menghantam keras cowok itu.


Reno sudah dikepung oleh teman-teman Eka sekarang.


Tahu dia akan dikeroyok, dan mungkin tipis untuk menang--namun Reno nampak tenang.


🚬


Grep!


Tahu-tahu Reno disergap dari belakang. Salah seorang teman si Eka Arlan lalu memegangi dirinya, dimana satu teman lain sudah siap untuk meninju Reno. Lalu beberapa teman lain juga sudah mengambil ancang-ancang untuk memukuli Reno secara bergantian.


Syuu....


BUKK!


Teman si Eka yang pertama sudah dengan percaya dirinya hendak meninju Reno.


Namun sayangnya, sebelum pukulan itu sampai pada Reno, cowok itu sudah keburu mendapat sapaan alas sepatu Reno di perutnya.


Yang membuat teman-teman Eka yang lain spontan terkejut.


Lalu formasi kepungan mereka pada Reno sedikit jadi berantakan, karena beberapa langsung mendekati satu teman mereka itu. Dimana yang bersangkutan sempat mengaduh dan kini sedang memegangi perutnya.


Cowok yang ditendang Reno itu langsung memandang nyalang pada Reno, dikala ia masih sedikit terhuyung. Namun dengan cepat seruan keluar dari mulutnya. “HAJAR!” menyuruh teman-temannya yang lain untuk langsung saja memukuli Reno yang masih dipegangi itu bersama-sama.


Dimana beberapa cowok yang hendak menyerang Reno bersama itu kemudian membeku bersama, ketika teman mereka yang memegangi Reno dari belakang itu, kini telah gabruk di atas lantai lapangan dengan keras karena Reno nyatanya bisa mengangkat tubuh cowok yang memeganginya itu—yang ia banting ke depan kemudian.


Kiranya mudah untuk Reno lakukan, karena ia menguasai taekwondo yang ia pelajari sejak masih kecil.


🚬🚬🚬🚬🚬🚬🚬


To be continue...