THE TWO BLACK DRAKES

THE TWO BLACK DRAKES
PART 33



Happy Reading.


🚬🚬🚬🚬🚬🚬🚬


“Siapa kalian dan sedang apa di rumah saya?!”


“Aku sudah mencoba bicara baik – baik padamu bahkan aku menawarkan kompensasi yang lebih dari besar atas perbuatan 2 anak lelakiku kepada anak lelakimu, tapi kau nampaknya ingin bermain – main denganku Tuan Maulana Arlan?”


“Kamu –“


“Anthony Adjieran Smith.”


***


“Orang terakhir yang akan bertamu di rumahmu ini, karena sebentar lagi kau dan keluargamu tidak akan di tinggal di rumah ini –“


“Kamu tau siapa saya –“


“Jabatan yang kau miliki saat ini maksudmu? –“


“Iya! Saya –“


“Aku tidak peduli apapun jabatanmu.”


***


“Karena apapun jabatanmu sekarang, kau mendapatkannya dengan cara yang kotor –“


Srek!


“Apa itu? –“


“Bukti, jika kau telah memfitnah ketua dewan sebelumnya dengan tuduhan untuknya yang kau buat sedemikian rupa, dimana kau berkonspirasi bersama orang – orang yang sama kotornya denganmu. Berikut kebusukanmu yang lain yang memungkinkan kau mendapat hukuman pidana yang lumayan lama di balik jeruji besi.”


“Hah?! –“


“Mereka yang bertanggung jawab untuk mengurusi para koruptor negeri ini juga sudah menerimanya.”


“Pengacara saya akan mengurus ini semua, dan tunggu saja ... akan tiba giliran kamu yang saya beri pelajaran –“


“Heh.”


***


“Seharusnya kau nyalakan televisimu sekarang -"


“.....“


“Mungkin kau ingin melihat berita tentang pengacaramu yang mengaku kalau dia menerima sejumlah uang darimu untuk memanipulasi segala bukti yang menjatuhkan ketua dewan yang kau singkirkan dengan cara yang kotor dari jabatannya, dan membuatnya mendekam di balik jeruji besi selama ini –“


“A – a – apa?? –“


“Aku tak peduli seberapa kotor kau atau orang yang memiliki jabatan tinggi lainnya di negeri ini yang kurang lebih sama licik dan serakahnya denganmu.”


“.....”


“Aku takkan mengganggu ...”


“.....”


“Tapi jika kalian mengganggu keluargaku, dan dalam hal ini kau ingin menyakiti dua anak lelakiku untuk menunjukkan siapa dirimu di depanku yang kau pikir jika aku akan takut padamu? ... heh! ...”


***


“Untuk itu aku tidak bisa tinggal diam. Akan aku hancurkan setiap orang yang mencoba menyakiti tiap - tiap anggota keluargaku –“


“Keluar kamu! –“


“Tentu. Aku pun selesai di sini.”


***


“Ah ya –“


“Apa lagi?! Cepat Keluar Dari Rumah Saya! –“


“Seharusnya kau tidak ikut campur perkelahian antar anak lelaki yang wajar saja terjadi –“


“Enak aja ga ikut campur! Anak kamu udah mengeroyok anak saya sampe patah tangannya! –“


“Itu karena anak lelakimu banyak lagak padahal dia hanya seorang pengecut macam ayahnya –“


“Jaga mulut kamu! –“


“Well, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya bukan? –“


“Kurang ajar –“


“Berani menyentuh Tuanku, kulubangi kepalamu.”


Gluk!


“Ingat namaku baik – baik ...”


***


“Anthony Adjieran Smith.”


“.....”


“Jika kau masih ada umur saat keluar dari penjara nanti, silahkan kau mencariku jika ingin membuat perhitungan denganku ...”


“.....”


“Itupun jika kau mampu –“


🚬🚬


🚬🚬


“Reno! Andrew!” ini Bunda Rina yang berseru. Yang orangnya langsung berdiri dengan tergesa dari duduknya, kala melihat kemunculan Andrew dan Reno di rumahnya.


Dan saat ini, Bunda Rina tak hanya sendiri dengan para pekerjanya --- namun ibunya Andrew sudah ada juga di rumah keluarga Reno.


Lalu 2 orang wanita yang setara usia itu kemudian langsung mendekati Andrew dan Reno dengan cepat.


🚬🚬


“Ya Tuhan ...” Rintihan ini keluar dari mulut ibu kandungnya Andrew --- Mom Erna --- kala melihat wajah Reno yang lebam, sambil ia menatap khawatir pada Reno sebagaimana Bunda Rina --- ia juga memeriksa wajah Andrew.


“Mereka ada menyakiti kamu juga, Andrew?” Bunda Rina juga ikut memeriksa wajah Andrew. Dengan menangkup wajah Andrew disaat Mom Erna menyingkir dari hadapan anak lelaki kandungnya itu dan beralih lagi pada Reno yang kemudian memberikan pelukan padanya seperti yang ia lakukan sebelumnya pada Bunda Rina.


“Hanya 3 pukulan di perut aja Bun ...”


🚬🚬


“Hanya! Hanya!”


Seruan itu keluar bukan dari mulut Bunda Rina, melainkan dari mulut Mom Erna yang menanggapi cepat jawaban Andrew pada Bunda Rina.


“Jangan suka menyepelekan apapun!” seru Mom Erna lagi. “Mereka ga mungkin pukul kamu dengan pelan kan?! Sudah lagi ini perut yang dipukul! Bisa bahaya efeknya!”


Andrew meringis saja mendengar ocehan ibu kandungnya itu. Sementara Reno dan Kusuma yang ada di belakang Reno dan Andrew tersenyum geli saja melihat pemandangan itu.


“Mom Erna benar, kamu jangan menyepelekan hal itu, Andrew.” Bunda Rina lalu menimpali ocehan Mom Erna, namun dengan nada suara yang jelas betul perbedaannya dengan ibu kandungnya Andrew itu.


“Ayo kita ke Hospital! ...”


Mom Erna berseru lagi, sambil meraih tangan Andrew dan Reno.


“Kamu juga Kusuma!” Lalu Mom Erna berkata setengah ketus pada laki – laki yang merupakan salah satu tangan kanan suaminya itu.


Kusuma langsung terkesiap. ‘Bau – bau gue bakal kena semprotan Nyonya Erna ...’ dan langsung membatin.


Kusuma tak luput dari omelan Mom Erna dengan suara nyaringnya. Dan seperti Andrew, ia pun spontan meringis. ‘Gue bilang juga apa!’ batin Kusuma sambil ia mengusap tengkuknya yang tak gatal sambil meringis.


Andrew dan Reno yang melihat Kusuma agak gelagapan di depan Mom Erna, terkikik di tempat mereka. ‘Jangankan Om Kusuma, Dad aja ga berkutik kalau Mom udah mengomel padanya.’ Sambil keduanya sama membatin.


Lalu Kusuma bicara lagi pada Mom Erna. “Maafkan aku, Nyonya Erna –“


“Sudah! Suruh anak buah kamu siapkan mobil!”


Namun ucapan Kusuma yang mengatakan permintaan maaf itu ditukas dengan cepat oleh Mom Erna yang sudah memegang tangan Andrew dan Reno dan langsung bicara pada keduanya kemudian.


“Ayo kita ke Hospital sekarang! –“


“Haish, ga perlu lah Mom ...”


Dimana Andrew langsung berkesah menolak. ketika Mom Erna yang tidak menanggapi permintaan Kusuma itu -- meraih tangannya dan Reno kemudian menariknya di waktu yang bersamaan.


“Aku okay. Okay? Mom bisa lihat aku masih bisa berdiri tegak,” tambah Andrew. “Aku yang tahu kondisi tubuhku –“


“Andrew bener kok, Mom. Kami cuma punya luka lebam ini aja,” sambar Reno.


“Iya, tapi kan –“


“My Dear Mother Ernakanti Anthony Smith, anakmu ini baik – baik saja. Titik,” kata Andrew sambil memegangi lengan ibu kandungnya itu yang hendak menyergah ucapannya dan Reno.


“Haish! ...”


Dimana Mom Erna langsung berkesah frustasi setelah mendengar ucapan Andrew barusan.


“Kalian ini ...” gemasnya pada Andrew dan Reno yang di mata Mom Erna meremehkan lebam yang ada di wajah dan tubuh keduanya.


Lalu Bunda Rina terdengar suaranya. “Ya sudah, Bunda sama Mom aja yang cek luka kalian, ya? –“


“Aku dan Reno hanya lebam aja, Bun –“


“Jangan terus – terusan membantah!”


Ucapan Andrew yang memotong ucapan Bunda Rina, langsung ditimpali dengan cepat oleh Mom Erna.


“Apa susah sih tinggal duduk saja?! ...” sekali lagi Mom Erna berseru dengan sedikit melotot pada Andrew. “Paling tidak Mom dan Bunda mengecek betul keadaan kalian agar kami tidak kian khawatir!”


🚬🚬


“Iya okay, okay ...”


Andrew memilih untuk lekas saja mengiyakan apa yang ibunya inginkan itu.


Daripada kupingnya pengang mendengarkan suara cempreng ibu kandungnya itu.


“Bi, Tika, tolong ambilkan kotak P3K. Sama tolong siapkan kompres air hangat dan satu wadah dengan air hangat beriku handuk.” Bunda Rina bicara pada 2 artnya.


Dan keduanya langsung mengiyakan dan segera berbalik pergi untuk mengambilkan apa yang barusan Bunda Rina minta.


Sementara Andrew dan Reno telah duduk di sofa panjang yang sama, bersama Bunda Rina dan Mom Erna yang mengambil tempat di samping anak mereka masing – masing.


“Coba angkat kaus kamu.” Mom Erna bicara pada Andrew. “Ya ampun Andrew!” kemudian ibu kandung Andrew itu langsung setengah memekik setelah Andrew menyingkap sedikit kaus oblong dibalik jaket yang ia kenakan. “Ini lebamnya parah di perut kamu! Sampai biru – biru begini??? ...”


“Yang namanya di tinju ... ya pasti bekasnya biru – biru.”


Andrew menimpali ucapan Mom Erna.


“Kalau pink – pink bukannya di tinju, tapi pakai blush on –“


“Ish!” membuat Mom Erna jadi tambah gemas sebal pada anak lelakinya itu. Sisanya tersenyum geli saja mendengar selorohan Andrew dengan nada suaranya yang malas.


“Ouch!”


Di detik berikutnya, suara aduhan keluar dengan cepat dari mulut Andrew.


Karena Mom Erna yang gemas sebal pada anak sulungnya yang sedang dikhawatirkan namun malah berseloroh itu padahal dirinya sudah sangat tegang saat mendengar kalau Andrew dikatakan telah diculik atas suruhan seseorang, lalu kiranya akan disakiti bersama juga dengan Reno, Namun anak sulungnya itu malah masih sempat – sempatnya berseloroh -- makanya Mom Erna spontan mencubit perut Andrew yang lebam kebiruan itu.


“Sakit Mom!“ protes Andrew pada ibu kandungnya yang ia pandangi dengan mendelik.


“Tadi sok kuat!”


Mom Erna langsung saja menimpali keluhan Andrew barusan dengan setengah sinis.


“Ya bukannya sok kuat ... memang sakitnya biasa saja menurutku.” Andrew segera merespons timpalan ibu kandungnya itu. “Tapi tangan Mom mencubit tepat di bagian yang lebam yang aku abaikan rasa sakitnya malah jadi lebih terasa sakit gara – gara cubitan Mom itu.”


Andrew berkata seraya mengoceh kemudian, sambil memandang dengan sebal pada ibu kandungnya tersebut.


Tapi ocehan Andrew langsung mendapat balasan dari Mom Erna.


“Makanya atur emosi kamu –“


“Astaga Mom!” Dimana Andrew nampak terkejut sampai membelalakkan matanya memandang pada Mom Erna, sambil ia memekik tertahan.


Pasalnya, Mom Erna malah mencubit paha Andrew dari bagian luar celana yang Andrew kenakan.


“Sakit!” pekik Andrew lagi.


“Ah manja!” ledek Mom Erna dengan cepat pada anak sulung kandungnya itu, dimana pada detik berikutnya Andrew kembali membelalakkan matanya.


Karena Mom Erna malah mengulang cubitannya pada paha Andrew yang satunya.


“Masa dicubit begini aja sakit?” sambil Mom Erna berkata tanpa dosa.


Dengan Andrew yang sampai menganga sambil mengusap – usap bagian pahanya yang menjadi sasaran cubitan ibu kandungnya itu.


Lalu kalimat yang bernada protes keluar dari mulut Andrew.


“Enteng aja Mom ngomong masa cubitan Mom begitu aja sakit? ... asal Mom tau ya? Cubitan Mom itu punya efek setrum yang bisa membuat aku langsung merinding parah ketimbang melihat hantu yang ga aku takuti sama sekali! –“


“Ya gimana kamu mau takut sama hantu? Kamu kan ga cuma pacaran sama cewe yang berwujud manusia? Tapi sama kuntilanak dan sundel bolong juga?” beo Mom Erna, dan Andrew langsung mendesis sambil melirik sebal saja pada ibu kandungnya itu.


Dimana interaksi anak serta ibu itu, membuat rasa geli di perut mereka yang melihatnya.


🚬🚬


Lebam di wajah Reno sedang diolesi salep oleh Bunda Rina setelah lebih dulu diseka dengan handuk yang telah sebentar di rendam dalam air hangat, sementara Andrew sedang ditempelkan kompresan perutnya.


Yang mana kompresan itu dipegangi oleh Mom Erna, dengan Andrew yang nampak keberatan ekspresinya dengan perlakuan ibu kandungnya itu padanya saat ini.


“Aku bisa memegangnya sendiri, Mom,” jengah Andrew. Karena merasa jika sikap ibu kandungnya itu berlebihan, yang kerap kali masih memperlakukan Andrew layaknya bocah.


“Diam atau Mom cubit lagi?” sahut Mom Erna cepat.


“Hish!” Andrew langsung mendesis sebal, namun pasrah pada akhirnya.


“Oh iya Bun, apa Bunda memberitahu ayah soal ini? ...” Reno terdengar bertanya pada Bunda Rina tak seberapa lama kemudian.


“Bunda sudah mengirimkan pesan ke pager ayah.” Bunda Rina langsung menjawab pertanyaan anak kandungnya itu. “Tapi sampai kamu dan Andrew tiba, ayah belum ada menghubungi,” tambah Bunda Rina, dan Reno langsung lagi bicara. “Bunda coba hubungi telfon genggamnya juga ga bisa – bisa.”


“Mungkin dua – duanya habis baterai, Bun ...” kata Reno. “Lagipula Reno malah berharap Bunda belum sempat mengirimkan pesan pada ayah tentang hal ini.”


“Bagaimana mungkin Bunda tidak langsung menghubungi ayah saat tau – tau ada polisi mendatangi rumah ini?” sahut Bunda Rina. “Lalu melihat anak Bunda, termasuk kamu Andrew, dibawa oleh mereka tanpa memperbolehkan Bunda untuk ikut?”


Reno lalu tersenyum mendengar penuturan Bunda Rina.


Bunda Rina pun berkata lagi. “Kalau Bunda tau Erna dan Anthony akan datang, mungkin Bunda tidak akan tergesa dan panik untuk menghubungi ayah.”


“Ya udah ga apa – apa, Bun,” timpal Reno, merespons penuturan Bunda Rina.


Dimana suara Andrew yang selanjutnya terdengar.


“By the way, mana Dad? –“


🚬🚬🚬🚬🚬🚬🚬


To be continue...