
Happy Reading.
🚬🚬🚬🚬🚬🚬🚬
“Gue udah bilang, kalau gue dan Reno ga perlu bodyguard.” Adalah Andrew yang bersuara, ketika ia dan Reno telah dekat dengan 2 orang yang berdiri tercengo di tempat mereka. Masih terkesima dengan satu perbuatan majikan muda mereka, yang enteng saja mematahkan tangan orang.
Reno sih hanya tersenyum saja melihat satpam dan bodyguard khususnya itu tercengo karena melihat langsung kebengisan satu majikan muda mereka tersebut. Yang ekspresi dan sikapnya santai saja setelah ia mematahkan tangan orang yang sudah mencederai cewek tomboy yang sudah Reno sayang layaknya adik kandung.
“Bunda sama ayah ada di rumah?”
Reno lalu bertanya pada Andrew, selepas mereka sudah lebih jauh dari lapangan basket.
“Bagusnya engga. Jadi kita ga perlu dapat cecaran pertanyaan yang pasti langsung dilakukan Bunda dan Uncle Pete, saat lihat anaknya berantakan begini.”
🚬
“Lo pasti udah laporan sama Dad atau Om Kusuma atau bahkan Uncle Glenn tentang apa yang terjadi tadi kan?” ucap Andrew pada bodyguard khususnya yang kini sudah berdiri di dekatnya dan Reno yang sudah hendak menaiki motor Reno. Dimana kini Andrew yang akan dibonceng Reno, melupakan satpam rumah keluarga Reno yang tadi cowok itu bonceng saat datang ke taman untuk menyambangi cowok yang telah mencederai Fania.
“Maaf Tuan, tapi tugas saya dan Sugeng memang melaporkan semua tindak tanduk anda dan Tuan Moreno.”
Bodyguard khusus Andrew itu langsung menjawab Andrew dengan santun. Dimana Andrew langsung saja memutar bola matanya malas.
“Apa diharuskan juga lo melapor sama Nyonya Rina dan Tuan Pete?”
Andrew kemudian bertanya lagi.
“Tidak Tuan. Pak Kusuma hanya memerintahkan kami hanya laporan padanya dan pada Tuan Glenn serta Tuan Besar Anthony kalau beliau sulit dihubungi...”
“Kalau begitu, ga perlu mengatakan apapun pada bunda dan ayahku nanti.”
Reno lalu menimpali ucapan bodyguard Andrew. Yang orangnya langsung mengangguk paham bersama 2 lainnya yang juga ada di dekat Reno dan Andrew.
Dan tak lama kemudian, Reno menggas motornya dengan membonceng Andrew menuju rumah keluarganya.
🚬
“Menurut lo, itu simpanse akan melakukan apa? Karena gue yakin, dia pasti serius sama ancamannya tadi.” Andrew berkata pada Reno yang baru selesai mandi.
Dimana Andrew menyambangi kamar Reno setelah ia dan sahabat rasa saudaranya itu sampai di rumah keluarga Reno.
Yang sebelumnya disambut khawatir oleh asisten rumah tangga Reno yang sudah bekerja dari sejak Reno dan Andrew kecil.
Karena yang bersangkutan melihat Andrew berlari dengan tergesa keluar rumah, setelah bodyguardnya satu cowok yang bisa disebut sebagai majikan mudanya itu mengatakan sesuatu yang sang asisten rumah tangga Reno tersebut dengar perkataannya.
Bahwasanya Reno sepertinya akan terlibat perkelahian. Yang mana bukan sepertinya. Tapi kejadian. Reno terlibat perkelahian, lalu Andrew dengan entengnya mematahkan tangan orang. Yang kata Andrew ga ada maksud mematahkan tangan yang bersangkutan.
Cuma kerahan tenaganya untuk sekedar menggeser tulang saja, agak kebablasan. Yang mengakibatkan tulang tangan cowok yang bernama Eka Arlan, tidak hanya bergeser. Tapi patah pada satu bagian.
🚬
Asisten rumah tangga di rumah keluarga Reno yang biasa dipanggil Bi Sari itu tidak hanya khawatir pada Reno, namun juga pada Andrew yang sama ia sayangi seperti ia menyayangi anak majikannya yang sudah ia bantu urus dan rawat sejak kecil.
Namun Bi Sari kemudian ditenangkan oleh Reno dan Andrew. Lalu dipesankan juga oleh keduanya, agar tidak mengatakan apa-apa pada orang tua Reno tentang apa yang sudah Bi Sari ketahui. Pun mengatakan agar Bi Sari mengatakan pada satu asisten rumah tangga yang lain.
Barangkali satu asisten itu juga tahu soal Reno dan Andrew yang berkelahi. Yang kemudian Bi Sari iyakan.
Dan Reno serta Andrew lalu langsung pergi ke kamar mereka masing-masing.
Dimana setelah beberapa menit berikutnya, Andrew menyambangi kamar Reno saat orangnya sudah berada di kamar mandi.
“Kelakuan klasik seorang pengecut yang merasa bapaknya kaya.”
Yang orangnya sudah selesai mandi sekarang. Lalu menjawab pertanyaan Andrew sambil Reno mengganti pakaian di ruang ganti dalam kamarnya.
🚬
“Berarti besok itu 2 bodyguard bisa benar-benar bekerja.”
Andrew mencetuskan komentarnya setelah mendengar ucapan Reno sebelumnya.
“Heem.”
Reno mengiyakan ucapan Andrew yang ia pahami maksudnya, hanya dengan deheman saja.
Namun kepala Reno manggut-manggut.
“Heran ya?...”
Andrew lalu kembali angkat suara.
“Heran soal?...” Reno spontan bertanya.
“Itu anak-anak orang-orang kaya disini...” jawab Andrew cepat. “Kenapa rata-rata macam si Ferdi itu?” kata Andrew lagi. “Belagu!”
“Lo termasuk dong?”
Reno lalu langsung menimpali ucapan Andrew sambil ia menunjukkan ekspresi meledek pada Andrew dengan cengengesan kemudian.
Dimana sahabat rasa saudaranya Reno itu langsung saja menyanggah ucapan Reno tadi.
“Woah! Jangan samakan gue dengan si biang kerok dan si simpanse yang udah buat Fania cedera, okay?!”
🚬
“Satu, gue ga pernah sok jagoan, kalau gue ga diganggu duluan. Dan gue ga pernah cari-cari masalah kalau ga ada yang cari masalah duluan dengan gue...” Andrew lanjut bicara. Dan Reno sih manggut-manggut malas saja mendengarkan Andrew yang terkadang pada satu titik, sahabat rasa saudaranya itu akan merepet sampai dia puas mengeluarkan apa yang di dalam hatinya.
‘Pas emang kalo Little F kasih julukan Donal Bebek ke si Andrew,’ batin Reno. Lalu ia mendengarkan saja Andrew yang masih nampak ingin mengoceh.
“Dan dua...”
Dan ya, begitulah.
Seperti yang Reno duga.
Andrew tidak akan pernah berhenti di ‘satu’.
“Gue bukan anak orang kaya,” kata Andrew lagi. “Tapi anak orang super kaya!”
Membuat Reno jadi terkekeh geli di tempatnya. Namun serapah Andrew memang benar adanya.
Dan Reno tahu itu dengan pasti. Bahwa ayahnya Andrew memang super kaya.
Bisa dilihat dari bagaimana kediaman keluarga Andrew yang ada di negara I sana.
Belum lagi ayahnya Andrew punya tak kurang dari 10 unit koleksi mobil klasik dalam kategori mewah yang fantastik harganya.
Pikir saja berapa nominal uang yang harus digelontorkan untuk membayar pajak mobil yang bahkan jarang sekali di pakai oleh ayahnya Andrew itu.
Dan karenanya, jadi tak mungkin Andrew anak dari keluarga yang hanya sekedar kaya bukan?
🚬
“Loh Bun, kok pulangnya sendirian? Ayah mana? Kata Bi Sari, Bunda pergi sama Ayah?” tanya Reno pada Bunda Rina yang ia sambangi setelah dirinya dan Andrew mendengar suara mobil yang masuk ke pekarangan rumahnya.
“Kenapa Bunda ga ikut?” lalu Andrew ikutan bertanya, setelah menyalim takdzim punggung tangan kanan Bunda Rina seperti yang dilakukan Reno sebelumnya.
Hal yang sebenarnya bisa dikatakan canggung untuk Andrew lakukan, karena di dalam keluarganya, kebiasaan cium tangan pada orang tua itu, katakanlah tidak berlaku.
Bukan tak tahu tata krama.
Namun penggunaan budaya, berbeda dalam keluarga Reno dan Andrew.
Di dalam keluarga Andrew, memeluk dan mencium pipi lah, sapaan yang digunakan.
Dan itu juga bermakna menghormati kedua orang tuanya. Malah terkesan dalam ikatan satu sama lain karena asal bertemu pasti akan saling memberikan pelukan.
Juga kecupan di pipi, yang biasanya Andrew lakukan saat menyapa para perempuan dalam keluarganya.
Walau di permukaan, keluarga Andrew nampak cuek satu sama lain. Padahal tidak seperti itu yang sebenarnya.
Kenyataannya, keluarga Andrew begitu erat hubungannya dan solid juga.
🚬
Well, terkadang apa yang terlihat mata belum tentu benar adanya bukan?
Makanya ada peribahasa, “Don’t judge a book by it’s cover.”
Jangan menilai buku dari sampulnya.
Yang dikaitkan dengan maksud kata bijak untuk mengingatkan, kalau janganlah kita menilai seseorang dari apa yang tampak di luarnya saja.
🚬
“Calon rekan bisnis ayah itu laki-laki, dan dia juga ga bawa pasangannya.” Bunda Rina yang menjawab pertanyaan Andrew. “Dan bisa aja memang hanya para laki-laki saja di undangan itu, kan?...” kata Bunda Rina lagi. “Jadi Bunda pikir, Bunda ya mending pulang aja. Lagian memang suami Bunda itu ga akan mau ambil resiko Bunda ikut, lalu benar kalau disana hanya ada sekumpulan laki-laki aja,” tambahnya.
Lalu Reno dan Andrew pun tersenyum. “Ya Tuan Peter Alexander ga akan mau ambil resiko kalo istri cantiknya akan sering dilirik sama rekan bisnisnya yang bisa aja bikin Bunda naksir.” Lalu Reno berkomentar iseng. Dan komentar isengnya itu kemudian didukung Andrew, membuat Bunda Rina langsung terkekeh.
“Alhamdulillah, Bunda mah istri setia. Dan di mata Bunda, suami Bunda itu yang paling ganteng pokoknya—“
“Iya deh iya.“
Reno dan Andrew sama-sama langsung menimpali ucapan Bunda Rina.
“Percaya, percaya.”
Lalu ketiga orang itu terkekeh bersama.
“Tapi Bunda dan Ayah, jadi batal candle light dinner dong?”
Reno lalu bertanya lagi pada ibundanya, setelah ia selesai terkekeh bersama Andrew dan Bunda Rina.
Yang orangnya langsung menjawab Reno. “Esok kan... masih ada...” dengan sambil bersenandung.
🚬
“Tapi ayah ga akan langsung melakukan perjalanan bisnis lagi kan, Bun?” Reno kini sudah duduk bersama ibundanya dan juga Andrew di ruang makan rumah keluarga Reno, untuk makan malam bersama setelah Bunda Rina pamit kepada Reno dan Andrew untuk membersihkan dirinya karena habis beraktifitas di luar rumah.
Lalu segera kembali ke hadapan Reno dan Andrew yang bertahan di lantai bawah, saat Bunda Rina pamit ke kamar pribadinya dan suami untuk bebersih diri dan berganti pakaian. Dan bersama 2 cowok yang ia sayangi dengan kadar yang sama itu, kemudian pergi ke ruang makan dan selanjutnya melakukan makan malam. “Engga... ayah akan langsung pulang kalau pertemuannya dengan rekan bisnisnya itu udah selesai—“
“Baguslah kalo gitu...” timpal Reno. “Jadi Reno ga perlu buang tenaga percuma buat marahin ayah kalau sampai ayah terlalu mementingkan bisnis daripada keluarganya—“
“Kamu nih—“
🚬
Bunda Rina tersenyum saja mendengar ucapan Reno perihal ayahnya. “Kasihan tau ayah. Asal dia pulang, kamu selalu aja ngomelin ayah.”
Bunda Rina lanjut bicara sambil mengacak pelan rambut anak satu-satunya, sambil ia tersenyum lagi----lalu Andrew ikut membubuhkan komentar.
“Tapi memang harus begitu,” kata Andrew. “Uncle Pete itu macam Dad, yang kalau sudah menyangkut bisnis, keduanya akan sama-sama lupa kalau mereka punya keluarga yang perlu diperhatikan. Jadi memang harus diingatkan.”
Andrew mendukung Reno.
Sekali lagi, Bunda Rina tersenyum.
Ingin melakukan hal yang sama seperti yang ia lakukan pada Reno, mengacak rambut.
Tapi sayangnya Andrew minim rambut.
Bukan karena mengalami penyakit kebotakan, tapi memang Andrew enggan memelihara rambutnya. Ribet katanya.
Jadinya Bunda Rina menepuk-nepuk tangan Andrew saja sambil ia tersenyum.
“Walau begitu, baik Ayah Peter ataupun Dad Anthony sibuk dengan bisnis ya karena mereka berusaha keras agar keluarganya tidak kekurangan,” ucap Bunda Rina kemudian.
“Tapi tetap harus ada batasan dong, Bun.” Reno lalu menimpali. Dan Andrew kembali mendukungnya.
🚬
Selanjutnya, topik pembicaraan antara Bunda Rina, Reno dan Andrew berganti. “Oh iya Ren, Fania nanti sabtu ke sini kan?” Bunda Rina bertanya soal Fania. Dimana Reno kemudian langsung saling lirik dengan Andrew barang sesaat.
Lalu dengan cepat, Reno beralih kepada Bunda Rina. “Sepertinya engga Bun. Karena Fania lagi sakit.”
“Sakit?...”
Bunda Rina langsung nampak sedikit terkejut. Dan Reno pun mengangguk.
“Sakit apa?... kok kamu ga bilang sebelumnya sama Bunda?...” kata Bunda Rina lagi seraya bertanya pada Reno.
“Lupa, Bun. Lagian kan Bunda beberapa hari belakangan juga sibuk?”
“Iya sih. Selain Bunda memanfaatkan waktu sama ayah selagi dia belum kembali sibuk, Bunda juga lagi urus masalah di Yayasan.”
“Masalah apa, Bun?—“
“Sepertinya ada tamu?...”
Andrew menyambar bicara, saat Reno bertanya pada Bunda Rina.
Sambil Andrew menatap ke arah ruang depan rumah keluarga Reno, seraya ia menggerakkan dagunya.
Lalu Reno dan Bunda Rina spontan menoleh ke arah yang ditunjuk Andrew. “Mungkin ayah Peter,” ucap Bunda Rina menanggapi ucapan Andrew.
Dimana tak lama kemudian, satpam rumah keluarga Reno datang tergopoh ke hadapan Andrew, Reno dan Bunda Rina yang tengah makan malam itu.
Lalu yang bersangkutan bicara dengan tergugu.
“Maap, Nyonya... Den Reno... Den Andrew... Anu... ada polisi dateng—“
🚬🚬🚬🚬🚬🚬🚬
To be continue...