
"Karena kau adalah putri kerajaan yang menghilang. Siapa pun yang dapat menemukan pangeran atau putri kerajaan akan mendapatkan apa yang diinginkan. Kami menginginkan keluarga kami yang terkurung di dalam istana itu kembali. Maafkan kami Lucia." Stycky merasa bersalah.
"Tidak-tidak! Kalian salah. Aku bukan putri kerajaan seperti yang kalian bicarakan. Aku hanya rakyat biasa dari England, bahkan aku tak mengetahui bagaimana aku bisa sampai di sini. Kalian baru mengenalku, bagaimana kalian tahu bahwa aku adalah putri yang menghilang." Lucia menentang, mengerutkan dahinya.
"Ratu Alexa terbangun dari tidurnya. Itu berarti anak-anaknya sudah kembali dalam negeri ini. Dunia menyimpan begitu banyak rahasia, Putri Lucia. Itu yang selalu dikatakan oleh raja kami." balas Stycky memberi hormat kepada Lucia.
"Kalian hewan yang baik, aku sangat yakin untuk hal itu. Bahkan pamanku juga mengatakan hal yang sama seperti yang raja kalian katakan. Kalimat yang kau ujarkan menunjukkan jika kalian berada di pihak kebaikan. Tapi bagaimana raja kalian mengatakan hal yang sama?” Tunggu—aku mengingat sesuatu (Lucia teringat, terakhir kali ia membaca buku dongeng itu bahwa pemimpin kerajaan Timur bernama Anasca. Dan mungkin saja A benar Anasca.) siapa nama raja kalian?”
"Ya, dulunya kami memihak Anasca, pemimpin kami. Sebelum dia menghilang dan para raja dikalahkan," sahut Dillighost bersuara pelan.
"Apa? Dulunya? Kau tak memihaknya lagi untuk saat ini?" tanya Stycky keheranan.
"Itu semua sia-sia, jika kau melakukannya, Styc. Kita tak tahu kapan Anasca akan kembali. Bisa saja dia tak pernah kembali. Bahkan kau juga ingin menemui keluargamu, kan?"
"Tidak-tidak. Jika benar aku putri yang kalian maksud dan Anasca adalah pemimpin kalian, itu berarti Anasca akan melawan penyihir itu dan menyelamatkan keluarga kalian. Jika aku bisa sampai di negeri ini maka Anasca dan Edward juga pasti ada di sini." Lucia meyakinkan mereka berdua agar tak menyerahkan dirinya pada penyihir.
“Apa kau benar-benar mengenal Anasca?” tanya Stycky penuh harapan.
“Tentu saja. Dia adalah sosok yang membesarkan aku dan juga Edward. Dia paman kami. Dia juga memiliki bekas goresan di mata kanannya. Namun, dia bukanlah seekor singa.
"Kau tak memiliki bukti untuk itu. Hanya kau yang kami temukan. Kami tak melihat adanya Anasca denganmu. Kau bahkan terlihat tak begitu yakin apakah Anasca yang kau maksud sama dengan pemimpin kami. Ayo Stycky kita bawa gadis kecil ini."
"Tidak! Itu tak akan terjadi! Aku tak akan membiarkanmu membawanya. Apa yang dikatakan Lucia itu benar, jika kau masih tak mempercayainya maka kau tak bisa merebut tuan putri dariku. Karena aku sangat percaya bahwa negeri ini dapat kembali seperti dulu lagi. Tidakkah kau dengan Anascanya memiliki goresan di mata kanan. Itu sudah mirip dengan Anasca kita. Pergilah, Yang Mulia!"
Lucia kemudian berlari menjauhi Stycky dan Dillighost. Saat Dillighost hendak mengejar Lucia, Stycky menahannya dengan menggigit leher Dillighost. Kejadian ini terjadi untuk pertama kali karena mereka teman baik dari kecil sampai saat ini. Keduanya mulai berkelahi dan pada akhirnya diketahui oleh penyihir shapeshifter yang melintasi perbatasan kerajaannya. Mereka dipanggil oleh penyihir itu untuk mengatakan apa yang sedang terjadi. Anehnya, Dillighost tak mengatakan apapun tentang Lucia saat penyihir itu bertanya.
"Kami hanya berkelahi untuk sebuah makanan, Yang Mulia. Maafkan kami jika mengganggu perjalananmu ini." Dillighost menundukkan kepalanya.
"Oh ya? Aku tak berpikir seperti itu kejadiannya. Ada sesuatu yang kalian sembunyikan dariku. Tak ada makanan apapun yang berada di antara kalian kecuali jalan putih ini." Penyihir bersuara pelan namun tatapannya sinis. “Tataplah aku!” perintahnya.
Dillighost dan Stycky yang melihat Caddis seketika mendadak kaku. Mata mereka menatap lurus ke arah penyihir itu. Cahaya hitam yang lurus menghubungkan mata Dillighost dan Stycky pada penyihir, tampak dari kejauhan. Hal itu berlangsung selama lima menit, Caddis telah melihat apa yang terjadi melalui kedua mata mereka. Saat cahaya dari mata serigala hitam dan anjing putih itu menghilang, mereka berubah menjadi patung es. Penyihir itu mulai tertawa dengan keras dan merubah wujudnya menjadi Lucia.
"Oh tidak! Apa yang akan dia lakukan dengan rupaku?" Lucia menonton dari semak-semak hutan yang berjarak tak begitu jauh dari perbatasan kerajaan.
Edward berjalan dari Barat dan mendapati sebuah bendera berkibar leluasa dari kejauhan. Ia langsung berlari dengan lajunya menuju arah bendera itu berasal berharap yang dia lihat adalah bendera Kerajaan Timur. Saat memasuki semak hutan yang tak begitu luas, Edward dapat melihat Lucia.
"Lucia... Lucia..." teriak Edward saat keluar dari sisi semak hutan lainnya yang berlawanan dengan keberadaan Lucia sebenarnya.
Lucia yang merasa terpanggil segera membalikkan tubuhnya kembali yang hendak meninggalkan tempat persembunyiannya. "Edward? Oh tidak! Jangan ke sana," ucapnya pelan. Ia langsung khawatir akan keselamatan Edward yang tanpa ia ketahui sedang menghampiri penyihir shapeshifter berwujud saudarinya itu.
"Lucia. Akhirnya aku menemukanmu. Sudah lama aku mencari dirimu dan juga Anasca. Apa ini Kerajaan Utara? Tampaknya sangat mengerikan," ujar Edward terengah-engah usai berlari.
"Anasca? Anasca sudah kembali?" tanya penyihir yang benar-benar sama rupanya dengan Lucia sampai Edward tak mengenalinya.
"Aku rasa kita semua masuk ke dalam buku dongengmu, Lucia. Buku-buku itu sebelumnya mengeluarkan sinar yang sangat terang dan tiba-tiba saja aku sudah di wilayah Ba—tunggu! Apa maksudmu bertanya tentang Anasca sudah kembali?"
"Apa yang kau bicarakan, Lu? Aku tak mengerti yang kau maksud."
"Lupakan saja. Ayo masuk ke Kerajaan yang agung itu. Di sana ada ratusan mantel berbulu tebal untuk menghangatkan tubuh kita dan yang terpenting mereka sangat ramah dan baik. Kau pasti kedinginan, bukan?" Penyihir itu merangkul pundak Edward dan menuntunnya ke arah kerajaannya.
"Ya." Edward mulai merasa terdapat keanehan dalam diri saudarinya. Lucia sangat tidak nyaman jika merangkul seseorang, kecuali ia yang dirangkul.
Lucia yang berada di semak-semak kebingungan. Apa yang harus dia lakukan. Pertanyaan itu selalu muncul setiap saat mereka berbicara. Pada akhirnya dia memutuskan untuk keluar dari persembunyiannya. Tak ada cara lain.
"Edward, tunggu!" teriaknya kencang sembari berlari mendekati perbatasan.
Edward dan penyihir itu terhenti, kemudian melihat ke arah belakang. Edward merasa kaget melihat ada dua Lucia yang tak dapat ia bedakan mana yang asli dan palsu. Ia segera melepaskan rangkulan dari penyihir shapeshifter. Edward kemudian melangkah kembali ke perbatasan, tepat di tengah-tengah kedua gadis yang berupa sama.
"Apa-apaan ini? Kenapa Lucia ada dua? Siapa yang sebenarnya adalah Lucia?" tanya Edward sangat kebingungan.
"Aku adalah Lucia sebenarnya, Edward. Dia adalah penyihir yang menyamar menjadi aku. Kau lihat saja, dia muncul dari semak gelap itu. Penyihir suka bersembunyi dan muncul secara tiba-tiba untuk menyerang mangsanya, sama seperti yang baru saja dia lakukan," kata penyihir meyakinkan Edward untuk memilihnya.
"Tidak! Jangan dengarkan dia! Edward aku adalah Lucia sebenarnya. Kau harus mempercayaiku. Dialah penyihirnya!" tegas Lucia menunjuk ke arah penyihir menggunakan jari telunjuknya. "Apakah kau tidak menyadari kita sedang berada di mana, Ed?" Kita berada di Kerajaan Selatan. Dia ingin membawamu masuk ke dalam rumahnya dan melenyapkan dirimu. Sumpah demi apapun, kau harus mempercayaiku!" sambung Lucia tergesah.
"Bagaimana kau tahu ini adalah Kerajaan Selatan? Kau dengar apa yang dia katakan, Edward? Dia mengetahui lokasi di negeri ini. Tentu saja dia penyihirnya!"
"Hari senin, saat memulai kelas semester akhir. Kau dan aku merebut sebuah kamar mandi, kemudian aku menuduhmu dan berlari hingga terjatuh di halaman rumah. Kita bersama melihat aurora dan aku mengingat tentang ayah dan ibu. Saat pulang sekolah kau berkelahi di terminal bus kuda. Aku mengetahui lokasi ini karena buku dongeng yang sering kubaca. Kau pasti juga tahu, Kerajaan Utara tak pernah mengalami kegelapan. Kau ingatkan? Aku juga mengenal dua hewan yang terdiam beku menjadi es di sana. Mereka adalah temanku Stycky dan Dillighost. Terakhir, aku seratus persen yakin kau terbangun di Barat karena aku terbangun di Timur. Hanya itu yang dapatku katakan untuk meyakinkanmu. Kau pasti memiliki firasat untuk memilih siapa dan kau tak akan mengecewakan saudarimu," kata Lucia terburu-buru dan tak lama mengeluarkan air mata.
"Ini sudah jelas. Kau adalah Lucia sebenarnya." Edward melihat Lucia yang menangis kecil.
"Sial!" ujar penyihir itu dalam hatinya.
Anak laki-laki bertubuh tinggi itu bergegas lari menjauhi perbatasan dan penyihir jahat yang telah menipunya. Lucia menangkapnya dengan pelukan yang sangat erat.
"Ayo!" ajak Lucia pergi menarik tangan Edward.
"Kau ingin pergi?" tanya penyihir tertawa jahat penuh dengan kegirangan di wajahnya. "Jangan terburu-buru anak-anak!" sambungnya.
Mereka terpancing untuk berhenti saat penyihir itu mengangkat suara. Membalikkan tubuh mereka, kembali menatapi penyihir yang masih berwujud seperti Lucia.
Saat itu, penyihir memegang sebuah belati hitam yang sangat tajam. Ia menatap ke arah Lucia dengan fokusnya, begitu juga Lucia. Ia terdiam kaku nyaris seperti patung.
"Apa yang akan dilakukannya?" tanya Edward, “dia akan membunuh kita .Cepat lari!" sambungnya yang mulai berlari mendahului Lucia yang masih menatap penyihir itu.
"Aku tak bisa la—” kata Lucia yang tak begitu jelas karena bibirnya sulit untuk bergerak. “Jleb!!" suara belati hitam itu menusuk perut kiri penyihir itu. Sihirnya yang sudah bertambah kuat tak membuatnya merasa kesakitan, ia justru tertawa semakin keras. "Edward!" Lucia (sudah dapat menggerakan bibirnya) bersuara pelan memanggil saudara yang berada di depannya. Edward pun melihat ke arah Lucia yang mulai menjatuhkan tubuh dan menahannya dengan kedua lutut. Darah mulai mengalir menodai pakaiannya.
"Tidak! Lucia!" Edward kembali melangkah ke arah Lucia dan merangkulnya, membantu dia untuk berlari.