The Story Of Ferindya

The Story Of Ferindya
Wanita Bercahaya dan Teman Lama



Mereka menjauh dari pohon itu dan melihat apa yang sedang terjadi. Pohon yang tadinya hanya terdiam membeku itu mulai bergerak—sedang menggeleng-gelengkan ranting dan dahannya yang penuh dengan salju. Pohon itu juga terlihat berubah warna menjadi warna yang seharunya dimiliki sebuah pohon. Daun-daunnya mulai terbebas dari tumpukan salju dan warnanya hijau segar seperti baru tumbuh. Tidak ada yang dilakukan selain terdiam menatapi pohon itu. Tak ada satupun yang bergerak, takut membuat suara dan pohon itu menyadari keberadaan mereka. 'Apa dia Royabiz?' batin Edward mulai menerka.


"Apakah itu pohon yang pernah kau temui, Edward?" bisik Lucia yang kebetulan berpikir hal yang sama. Lucia berlindung di belakang Edward dan memegang pundak kanannya menggunakan tangan kiri dengan erat. Anak-anak kelinci turut bersembunyi di balik Lucia dan memejamkan mata mereka karena ketakutan, tapi mereka menjadi sangat menggemaskan saat merasa takut.


"Aku tak tahu. Tapi ak juga bertanya apakah itu Royabiz yang pernah aku temui dan jika benar, bagaimana dia bisa berpindah?" jawab Edward memegang tangan Lucia yang mulai bergetar di pundaknya.


Hal-hal mengejutkan terus saja terjadi sejak masuk dalam negeri ini. Sesuatu yang tidak mungkin di dunia manusia menjadi mungkin di negeri ajaib ini. Sekarang, pohon itu sudah kembali ke wujud sebenarnya, walau dia tak pernah berubah—tapi dia lebih layak dipanggil pohon sekarang. Dahan bewarna coklat tua dengan dedaunan hijau pekat. Penampilannya lebih baik dari pada saat membeku seperti pohon buatan yang dapat pecah saat sesuatu menghantam dengan keras. 'Apakah negeri ini sudah menyala seperti dulu?' batin pohon bertanya. Ia memutar balik tubuhnya ke arah Edward dan Lucia.


"Sepertinya aku pernah melihatmu. Ooh—ooh—kau Edward. Sang Pangeran Utara," sapanya bahagia sembari menundukkan dahannya tanpa kaku.


"Oh My Goodness! Ini sungguh dirimu, Royabiz. Aku sudah menduganya." Edward yang tadinya menjauh dari pohon itu, kini berlari dengan semangatnya ke arah Royabiz dan memeluknya dengan erat.


"Apa kabarmu, Royabiz?"


"Aku belum pernah merasa sebaik ini sejak negeri menjadi gelap dan terasa mati. Bagaimana denganmu? Kau sudah menemukan saudarimu?"


"Hai, Tuan Royabiz. Pleased to meet you." Lucia memberi salam hormat kembali dengan menekukkan kaki kanannya ke belakang serta kedua tangannya yang melebarkan sisi kanan dan kiri gaun.


"Itu saudarimu? Maafkan aku, maksudku apakah dia Putri Lucia? Lihatlah dia sangat cantik sama seperti ratu Alexa." Royabiz membalas hormat Lucia dengan menundukkan kembali dahan-dahannya seperti ia memberi hormat kepada Edward.


"Terima Kasih."


"Apa yang terjadi padamu, Royabiz? Bagaimana kau bisa sampai di sini?" tanya Edward penasaran.


"Aku melakukan perjalanan ke Utara. Aku merasa bosan terus berdiam, menyamar seperti patung es, nahasnya aku bertemu dengan penyihir warlock, Casso yang menyebalkan. Kami sempat melakukan perbincangan dan pada akhirnya dia merubahku menjadi apa yang tidak ku inginkan."


"Lalu bagaimanan kau bisa terbangun tadi? Maksudku kembali normal dan tidak membeku?" Lucia turut bertanya.


"Itu berkat tangan Edward, Putri Lucia. Dia menyentuh salah satu kakiku (maksudnya akar) dan aku bebas dari hibernasi menegrikan yang diberikan oleh penyihir. Tapi bagaimana itu bisa terjadi? Sepertinya tidak mungkin hanya sentuhan saja. Apa kau juga punya sesuatu seperti magic, Pangeran Edward? Kau anak raja William dan ratu Alexa, pasti kau memilikinya.”


"Tidak-tidak. Kami tak memilikinya sedikitpun. Ini pasti dari simbol matahari itu."


Suara guntur tiba-tiba terdengar dari jauh dan setiap detiknya terdengar makin nyaring dan dekat. Kilat-kilat mulai menari-nari di langit yang hitam dengan awan hitam yang datang bersamaan. Apa lagi sekarang? Sebuah badai besar akan menghantam? Hujan lebat akan turun di tengah musim salju? Ini tak masuk di akal. Itu terjadi di luar dugaan dan logika. Itu yang muncul dalam pikiran Lucia. Tapi ingat sekali lagi, bahwa kita tak ada dalam dunia manusia. Penyihir itu sangat luar biasa memainkan negeri ini.


Kedamaian, keharmonisan, ketenangan, cahaya, wilayah, iklim dapat dikendalikan sesuai keinginannya. Penyihir di bumi saja berkemungkinan kecil bisa melakukan semua ini. Petir mulai menyambar pepohonan yang tinggi dan membakar mereka perlahan.


"Kita harus pergi, sekarang! Jalanlah merunduk, Royabiz!"


“Sepertinya mereka tahu tentang pertemuan kita dengan Royabiz. Oh tidak!” Lucia merasa sangat cemas.


“Casso pasti menandai aku. Jika aku kembali seperti wujud sekarang maka dia akan mengetahui bahwa ada seseorang yang memiliki sihir membantuku. Tentu saja seperti itu. Aku benar-benar minta maaf telah membuat kalian dalam bahaya.”


“Ini bukan salahmu. Kau tak perlu minta maaf.”


Kabut-kabut hitam nan pekat datang menghampiri. Menghadang langkah kaki dan mengurung mereka agar tak keluar. Kabut itu berkumpul menjadi satu dan membentuk wujud layaknya sebuah sumur yang sangat dalam bahkan sedikit lebih tinggi dari Royabiz. Tidak ada jalan keluar selain dari atas. Mereka juga tak dapat jalan menembusnya padahal itu hanya semacam kabut.


Hujan mulai berjatuhan dari satu awan yang berada tepat di atas mereka. Semua ini adalah jebakan dari kedua penyihir karena kejadian yang mereka alami sangatlah aneh. Pohon di sekeliling mereka secara tiba-tiba terbakar. Deras hujan hanya jatuh dari awan di atas mereka. Air mulai meninggi hanya dalam hitungan menit hingga dapat membuat Edward dan Lucia mengapung.


"Apa yang harus kita lakukan Ed? Airnya mulai meninggi dan memanas. Kita akan tenggelam dan termasak di sini. Kita akan mati, Ed!" Lucia berkata dengan panik.


"Aku tak punya ide, Lu. Yang kupikirkan adalah menunggu airnya tinggi sampai atas kabut itu dan kita bisa keluar. Kau lihat sendiri kabut itu hanya sedikit lebih tinggi dari Royabiz. Kabut itu sudah berhenti membentuk."


Sungguh sia-sia harapan yang dibuat Edward. Ia salah menerka bahwa ia dapat keluar. Kabut itu memang tidak meninggi lagi, namun menutup mereka dari atas layaknya sebuah panci yang sedang merebus sesuatu dan air hujan masih mengguyur. Tamatlah riwayat mereka, kali ini sungguh tak ada harapan untuk keluar dari kabut itu.


"Oh tidak! Kita benar-benar terkurung, Ed. Goergo, Georgi, Pully cepat naik ke dahan Royabiz. Airnya terasa semakin panas. Cepat! Cepat! Kau juga Edward!" perintah Lucia dengan segala kepanikan yang dia rasakan.


"Bagaimana mungkin? Royabiz tak akan mampu menahan keseimbangannya jika aku naik. Dia juga ikut terapung sekarang."


"Tatap aku! Aku di sini. Tenanglah. Kita akan baik-baik saja, Lu." Edward memeluk saudarinya.


"Ed, ada sesuatu di ka—" Lucia tenggelam. Sebuah akar menarikannya ke bawah. Edward berteriak memanggil namanya dengan keras dan menyelam ke bawah mencarinya.


Edward menarik napasnya dalam-dalam dan mulai menyelam untuk mencari Lucia yang tertarik ke bawah. Cahaya redup tampak bergerak-gerak yang ternyata berasal dari tangan Lucia. Untung saja tangan Lucia bersinar walau redup setidaknya Edward dapat melihatnya, jika tidak Edward tak akan melihat apa-apa karena keadaan dalam air sangat gelap seperti tak ada bedanya membuka dan menutup mata.


Lucia tampak sibuk melepaskan sebuah akar yang menyangkut di kakinya. Edward menepuk pundaknya dari belakang, kemudian membantunya melepaskan. Itu bukanlah akar biasa seperti yang sering kita lihat. Akar itu keluar dari kabut hitam. Ikatannya kuat dan memiliki duri-duri halus yang menancap di pergelangan kaki Lucia. Darah mulai mengalir, Lucia tak lagi mampu menahan napas. Ia menepuk pundak Edward pelan, menggelengkan kepala dengan wajah yang pucat.


"Lucia!" Edward tampak memanggilnya tanpa suara sembari menepuk pipi saudarinya.


Kini Edward juga kekurangan oksigen dengan terpaksa ia meninggalkan Lucia sendiri di bawah dan mengambil oksigen untuk di hirup. Menarik napas dengan panjang, kembali menyelam ke bawah.


Sesuatu terjadi. Lucia terdiam, matanya terbuka kecil dan menelan air dalam jumlah yang banyak. Simbol yang ada di tangan Edward menyala dengan terang begitu pula Lucia yang sebelumnya redup, sekarang menjadi terang dan terus menerang. Akar-akar yang mengikat di pergelangan kaki Lucia perlahan mulai mengendurkan ikatannya hingga tak menyentuh kaki Lucia. Akar itu hilang setelah terlepas. Edward melihatnya dengan jelas dan saat Lucia benar-benar bebas, Edward membawanya ke atas.


"Apa yang terjadi padanya?" Pully memecah keheningan.


"Dia pingsan. Apa yang harus ku lakukan? Aku tak ingin kehilangannya," kata Edward panik dengan napasnya yang terengah-engah. "Lucia, ayo bangun!” lanjutnya sudah menangis. “Bangunlah kumohon ... aku masih membutuh—"


“Lihat! Tangan kalian bersinar, Pangeran Edward,” pekik Georgi.


“Itu dia jalannya.” Royabiz terlihat senang.


“Satukan kedua tangan kalian, cepat!” sambungnya.


“Apa?”


“Lakukan saja!”


Edward langsung menyatukan kedua telapak tangan bersinar itu dan boom. Kabut sumur itu lenyap, air yang tertampung di dalamnya terhempas ke bawah bersama mereka yang sedang mengapung.


Seorang wanita berdiri dari kejauhan. Gaun hijau muda yang kumal terpasang di tubuh wanita itu. Ia mendekat dengan langkah kaki yang lamban dan pincang. Pandangan yang belum kembali normal karena air membuat Edward mengira bahwa itu adalah penyihir yang menyerang Lucia sebelumnya. Ia mengucek kedua matanya.


Wanita bergaun itu tampak bercahaya bak malaikat. Edward kembali mengucek kedua matanya, mengira apa yang dilihatnya tadi hanya imajinasinya namun itu semua nyata dan terjadi di depan mata. Sekarang, wanita itu sudah cukup mendekati Edward dan lainnya. Ada sebuah tongkat ditangannya yang membuat wanita itu bercahaya. Ia mengayunkan tongkatnya dan cahaya itu menjadi bola besar dan mereka berada di dalamnya. Cahaya itu semacam perisai. Wanita itu terduduk di samping Lucia sembari meneteskan beberapa air matanya. Edward menatap wanita itu dengan saksama, sesekali menelan liurnya.


Tak ada hal yang mencurigakan terjadi selain wanita itu terus mengelus kepala Lucia dan pada akhirnya menatap ke arah Edward dengan mata berkaca-kaca, hendak menyentuh wajahnya. Edward terkejut, langsung menghentikan tangan wanita itu. Tangannya sehangat api pemanas ruangan, sangat nyaman dengan tangan Edward yang dingin.


Edward bertanya, "Siapa kau? Kenapa aku tak merasa khawatir sedikitpun saat kau mendekati saudariku dan aku?"


"Oh sayangku. Itu semua terjadi karena kita memiliki hubungan yang sangat kuat. Darahku mengalir dalam tubuhmu. Kalian sudah besar sekarang. Anasca menjaga kalian dengan baik. Aku adalah ibu paling tidak beruntung karena tak dapat menyaksikan anakku sendiri tumbuh menjadi seperti sekarang." Air mata wanita itu mengalir lebih deras dari sebelumnya.


"Ibu? Apa yang kau maksud? Kau adalah ibu kami? Apa kau Ratu Alexa?"


"Tepat sekali putraku... simbol matahari yang terukir di tangan kanan kalian, aku yang mengirimnya saat kau terduduk di luar gubuk bersama Caleberz dan para anak kelinci, saat Lucia sedang terbaring dalam gubuk diobati oleh Eillyet dan Alice. Itu satu-satunya alasan mengapa Lucia tetap bertahan."


"Kau maksud dia tak akan selamat jika itu tak terukir di tangannya?"


"Ya. Dengarkan aku, itu bukan hanya belati biasa. Belati itu adalah tongkat sihirnya. Caddis dapat merubah tongkatnya sesuai dengan keinginannya. Satu hal lagi, apapun yang melukai diri kita jika berasal dari tongkat sihirnya selalu terdapat semacam racun mematikan di dalamnya. Jika itu terjadi pada diri kita, racun itu akan membunuh kita perlahan. Setidaknya itu yang aku ketahui."


"Bagaimana aku bisa percaya dengan kata-katamu?"


"Pertanyaan yang bagus. Akan tetapi aku tak punya banyak waktu untuk menjelaskannya padamu. Dunia punya banyak rahasia dan waktunya untuk kau mengetahui salah satu. Edward, kau hanya perlu percaya terhadap semua nalurimu dan terus lakukan apa yang menurut nalurimu benar. Aku percaya naluri kalian akan menuntun kalian ke arah yang benar. Saat Lucia bangun tolong sampaikan padanya bahwa aku sangat menyayanginya begitu pula denganmu. Tongkat yang saat ini ku pegang, kau akan pergi bersamanya dan pada saat yang tepat tongkat ini akan membantumu dan Lucia untuk melawan penyihir-penyihir itu. Hancurkan tongkat mereka saat berubah bentuk. Sekarang tutup matamu."


"Tunggu dulu... jika kau benar ibu kami, maka ikutlah dengan ka—"


"Aku ingin, tapi aku tak bisa. Sekarang tutup matamu Ed," pinta ulang wanita itu yang sebenarnya adalah Ratu Alexa. Ia menggunakan tangan hangatnya menutup mata Edward.