
Ini tak akan menjadi mimpi yang seperti kalian pikirkan yaitu mendapat emas saat kau terbangun. Namun, ini adalah mimpi nyata yang membuktikan keberadaan negeri ajaib (sebuah negeri yang tidak bakal kalian capai walau menggunakan pesawat atau roket. Benar-benar dunia lainnya, di semesta lain yang tak akan pernah kalian gapai) dalam kehidupan dua bocah cilik tanpa mereka ketahui.
Semua ini dapat terjadi karena bantuan dari paman mereka, Anasca. Profesor tua dengan bekas goresan di mata kanannya, berambut putih yang memenuhi hampir seluruh bagian wajah serta tambahan kacamata bulat bertangkai emas yang tak pernah lepas dari matanya walau ia sedang tidur sekalipun. Mereka tinggal di sebuah rumah kayu yang cukup panjang di pinggir kota Sheffield, England.
Malam itu hujan deras turun, ditemani suara guntur yang terus menggelegar dengan keras, telah membangunkan kedua bocah berumur lima tahun yang sedang tertidur pulas di atas kasur putih. Mereka dipanggil dengan nama Edward dan Lucia. Sontak setelah mendengar suara guntur itu, mereka melepaskan selimut putih hangat dan nyaman, melompat dari tempat tidur, lalu bergegas berlari ke kamar paman Anasca sambil menjerit namanya berulang kali hanya untuk meredakan rasa takut.
Tentu saja suara guntur sangat menakuti anak yang berusia sekecil itu bahkan kalianpun juga akan ketakutan jika diusia mereka. Kaki-kaki mungil mereka yang bergerak dengan laju dapat kalian lihat bak menonton pertandingan lari tercepat di dunia. Setelah menghabiskan beberapa waktu, mereka akhirnya sampai di kamar paman Anasca. Alih-alih mengetuk pintu, mereka menerobos masuk dan langsung menyelimuti diri mereka di samping paman Anasca.
“Hahaha …” tawa Paman Anasca yang terbangun dari tidurnya karena mereka berdua,
“Apa yang dunia ini lakukan sehingga membuat kalian begitu ketakutan seperti ini?” tanyanya.
“ Ada suara bom yang berbeda dari biasanya. Yang ini sangat nyaring dan tiba-tiba terjadi,” jawab Edward ketakutan.
“Kita harus segera pergi ke tempat perlindungan sebelum bom itu benar-benar mengubur kita di sini. Ayo cepat,” sambung Lucia, namun dia tak bergerak sedikitpun padahal meminta yang lainnya untuk cepat.
Suara guntur kembali terdengar dengan keras, Edward dan Lucia berteriak bersama, memecah suara guyuran hujan. Namun, paman Anasca kembali tertawa (lebih keras kali ini) dan menarik selimutnya ke bawah agar dapat melihat wajah keponakannya. Akan tetapi, mereka menahan paman Anasca untuk membukanya hingga kata-kata yang menenangkan hati mereka keluar dari mulut Anasca.
“Tenanglah. Kalian akan baik-baik saja. Aku selalu bersama kalian bahkan jika aku tak terlihat sekalipun. Aku ada di sini. Lagipula, ini bukanlah suara bom dan perang dunia sudah berakhir belasan tahun yang lalu. Bagaimana kalian bisa tahu suara bom itu seperti apa? Bunyi yang begitu nyaring ini hanyalah suara guntur.”
“Kata orang-orang seperti itu—seperti—doom!! Dan ini sama bunyinya,” kata Lucia dengan polosnya menjawab pertanyaan Anasca.
Edward dan Lucia masih saja menutupi seluruh tubuh dengan selimut. Tak lama setelah paman Anasca tak kembali berbicara, mereka berdua membuka perlahan selimut mereka ke bawah dan melihat ke arah paman Anasca yang sedang menunggu mereka sambil tersenyum manis. Paman Anasca selalu memiliki senyuman yang berbeda dari orang-orang tua pada umumnya. Dari senyumnya, kita dapat merasakan ketentraman dan ketenangan yang bebas dari rasa kekhawatiran serta rasa takut. Senyumnya seperti mengobati semuanya.
“Lihat … tidak terjadi apa-apa, bukan?” tanya Paman Anasca. “Atap rumah kita saja tidak hancur.”
Sekarang, keduanya sudah berani untuk perlahan mengangkat tubuh mereka dan duduk di samping Anasca. Dapat ditebak dari wajah Edward bahwa ia bertanya-tanya apakah guntur yang dimaksud oleh pamannya itu. Paman Anasca kembali berbicara, “Benar. Itu bukanlah bom. Itu adalah suara guntur yang disebabkan oleh pemanasan yang cepat kemudian mengalami pendinginan udara dari petir.”
“Aku harap aku cukup besar untuk memahami hal itu,” jawab Edward dengan wajah aneh yang dipasangnya.
“Kau akan, Edward. Saat kalian mulai sekolah nanti, kalian berdua pasti akan belajar banyak tentang ini dan itu dalam dunia kita. Dunia menyimpan begitu banyak rahasia, anak-anakku.”
“Apa suara gunur—tidak-tidak—apa tadi?—oh ya guntur, apa suara guntur itu dapat membunuh kita?” sambung Lucia.
“Tentu saja tidak, itu hanya sebuah suara yang memang nyaring. Akan tetapi, garis-garis terang yang ada di langit, namanya petir, mungkin saja dapat menyambar dan melukai kalian. Maka dari itu, semua orang akan tetap di dalam rumah saat hujan. Selain agar tidak kebasahan, juga agar tidak tersambar. Kata orang-orang juga tidak baik jika kau berteduh di bawah pohon saat banyak petir.”
Paman Anasca mengelus-elus kepala mereka dan tertawa bersama, karena ini sudah sangat larut dan jam menunjukkan hampir pukul tiga dini hari, paman Anasca meminta mereka untuk kembali tidur. Akan tetapi, guntur itu tampaknya telah mengagetkan Edward dan Lucia sehingga tak ada lagi rasa kantuk dalam diri mereka.
Edaward dan Lucia adalah anak kembar tak identik. Keduanya sering saja memiliki pemikiran yang sama serta kadang dapat merasakan perasaan satu sama lainnya. Kau tahu apa yang mereka lakukan? Mereka meminta paman Anasca untuk mendongeng agar mereka dapat kembali merasakan kantuk dan tidur menuju alam mimpi.
Paman Anasca seolah telah mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya, maka dari itu ia beranjak menuju lemari baju tua miliknya dan mengambil empat buku dongeng. Ia berkata bahwa buku-buku itu sangat spesial karena dia sendiri yang telah menulisnya selama lima tahun terakhir dan sudah pasti buku dongeng itu tak dapat ditemukan di toko buku atau perpustakaan manapun.
“Apakah kau menulisnya khusus untuk kami?” tanya Lucia.
“Sudah pasti untuk kalian.”
“Ini pasti akan menjadi dongeng yang terpanjang dan terseru yang pernah aku dengar di bumi ini. Kami tahu bahwa kau sangat mengenal kami dan Paman pasti telah menulis cerita yang mengagumkan untuk kami dengar. Terima kasih, kau telah bersusah payah,” ucap Edward dengan yang matanya berbinar, tak sabar menunggu cerita itu mulai didongengkan. “Aku harap kau menulis sesuatu yang seperti sihir,” sambungnya.
“Dan juga unicorn.”
“Juga penyihir”
“Juga pangeran dan putri kerajaan.”
“Tentu saja aku sudah menyiapkan itu semua. Akan aku ceritakan semua yang telah aku tulis di empat buku ini secara bertahap dan untuk malam ini aku hanya akan membacakan satu bab awalnya saja kepada kalian. Kalian tahu aku tidak muda seperti dulu lagi dan aku sudah mengantuk bahkan untuk sekarang ini.”
Edward dan Lucia menaati permintaan dari paman Anasca. Saat mendengar cerita itu dimulai, keduanya tampak begitu bergairah. Setiap kata yang dikeluarkan dari mulut paman Anasca, mereka pasti akan langsung menggambarkannya di dalam imajinasi mereka. Kau pasti tak akan menyangka betapa imajinatifnya Edward dan Lucia di usia mereka sekarang ini.
Tak lama setelah bab pertama mulai dibacakan, mereka telah tertidur pulas di atas kasur tua yang sangat kokoh itu. Padahal paman Anasca baru saja membacanya setengah. Kurasa mereka kehabisan tenaga karena terlalu bergairah atau cuaca dingin yang membuat suasana terasa nyaman untuk tidur.
Paman Anasca menutup bukunya, kemudian berjalan ke arah jendela kamar yang berada di sisi kiri kamar dan menatap keluar. Hujan yang deras itu sudah mereda, guntur sudah berhenti menggelegar.
Ia berdiri dengan pandangan lurus ke sebuah pohon yang berada di halaman rumah. Dari matanya, kau dapat melihat bahwa dia sedang menggelisahkan dan mencemaskan sesuatu. Seekor burung yang sedang berdiri di salah satu ranting pohon itu terus berkicau dan menatap ke paman Anasca. Sepertinya burung itulah yang menimbulkan rasa kecemasan pada paman Anasca. Mereka berkomunikasi. Tapi bagaimana manusia dapat berkomunikasi dengan burung?
Setelah burung itu selesai berkicau, ia terbang tinggi dan tak terlihat lagi. Paman Anasca menutup jendelanya dengan gorden dan kembali tidur bersama Lucia dan Edward di sampinya. Selimut putih hangat menutupi mereka. Tiba-tiba empat buku dongeng yang telah paman Anasca letakkan di meja mengeluarkan sinar yang begitu terang saat semuanya terlelap dan tidak satupun dari mereka menyadarinya.