The Story Of Ferindya

The Story Of Ferindya
Cerita yang Menjadi Nyata



Edward membubarkan anak-anak dengan alasan Lucia sedang sakit dan membutuhkan istirahat. Edward mengarahkan anak-anak untuk mengambil minuman dan biskuit yang sudah disajikan kemudian meminta mereka untuk kembali ke panti asuhan. Setelah semua anak-anak pulang, Lucia dibawa ke kamarnya (juga merupakan kamar Edward). Anehnya, Anasca seolah sudah tahu apa yang sedang terjadi. Ia sudah berada di kamar itu saat Edward tiba di sana, bahkan seperti menyambutnya dengan membukakan pintu dari dalam. Namun, Edward tak menyadari hal itu, karena terlalu panik melihat Lucia seperti itu.


"Apa yang terjadi dengannya, Anasca? Mengapa setelah membaca dongeng itu, dia bergetar? Dan setelah aku tutup bukunya, ia langsung pingsan." Edward mengerutkan dahinya.


"Tenanglah. Pasti akan ada jawaban. Dunia menyimpan begitu banyak rahasia, Edward," sahut Anasca.


"Kau selalu mengatakannya berulang kali, Anasca. Mengapa di saat seperti ini kau masih saja bicara tentang ‘dunia menyimpan banyak rahasia dan kami akan mengetahuinya di saat waktunya sudah tepat.’" balas Edward kesal, melangkah ke arah jendela samping lemari coklat (kamar-kamar di rumah itu terlihat sama satu sama lain, isinya sama begitu pula tata letaknya.


Kau bahkan akan mengira ini adalah kamar Anasca yang ada di gambar pertama buku ini, namun dengan tambahan satu kasur dan satu meja di tengah-tengah kedua tempat tidur).


"Tunggu! Apakah ini saatnya, Anasca?" sambung Edward kembali melangkah ke arah Anasca dan Lucia.


"Benar, Edward. Lucia telah merasakan kehadirannya lebih dulu. Sayangnya dia tidak kuat untuk menahan semua itu terjadi. Maka dari itu ia tak sadarkan diri."


"Apa maksudnya? Aku tak mengerti. Apa yang hadir?"


Sinar putih yang berkilau terpancar dari keempat buku dongeng yang berada di samping tubuh Lucia. Momen ini sama seperti saat mereka masih kecil, namun dalam keadaan sadar. Sinar itu menusuk setiap mata yang memandangnya. Edward menutup matanya dan menghadang dengan lengan bawah kirinya saat tak dapat menahan silaunya cahaya yang memenuhi seluruh sudut rumah. Anasca, Lucia serta kamarnya langsung menghilang, lenyap begitu saja. Itu semua terjadi sangat cepat.


Hal selanjutnya yang Edward ketahui, cahaya itu berubah menjadi sangat gelap dan suasana sekitarnya terasa sangat dingin. Dia pun membuka matanya perlahan, mendapati dirinya berada di suatu tempat asing, di sebuah hutan yang tidak begitu lebat, gelap, semak-semak tumbuh di mana saja mata melihat dan dipenuhi salju yang berjatuhan. Tempat ini sunyi dan sepi.


Sunyi yang di sini terasa hampa, kosong, menyedihkan seperti dalam bangunan berhantu. Sekeliling hanyalah jalan yang dipenuhi salju dan pohon-pohon yang juga diselimuti buritan putih hampir tak terlihat warna asli pohon itu. Beberapa tiang lampu (isinya adalah api yang ditutup dengan sebuah kaca berbentuk persegi) yang terlihat berjarak agak jauh dari satu sama yang lain, hingga hasilnya hanya seperti lampu kuning remang. Ia berdiri di sebelah pohon paling besar (namun tak setinggi yang lainnya) yang ada di sana, seorang diri di sana, memutari kepalanya untuk melihat sekeliling. Tentu saja ia merasa takut di tempat seperti itu.


"Lucia... Anasca..." teriak Edward menghadap sisi kanan dan kirinya dan terus bersuara hingga seseorang menyaut teriakannya.


"Anasca?" suara seseorang yang tiba-tiba datang.


"Ya. Aku mencari seorang profesor dan seorang gadis. Siapa kau? Apakah kau melihat mereka lewat?" tanya Edward memutar tubuhnya, melihat sekeliling. Namun tak ada satupun orang yang berdiri. “Di—dimana kau?”


"Aku pohon yang ada di sampingmu.” Edward yang berdiri di sebelahnya melompat terkejut. Matanya terbuka lebar, agak ketakutan dan langsung bergerak menjauhi pohon itu. “Apa yang kau lakukan dengan mencari Anasca di sini?” jawab pohon itu sekaligus bertanya. “Apa kau baru lahir? Anasca sudah pergi—atau menghilang—atau—ya semacam itu. Dia sudah tak ada di negeri ini begitu lama mungkin sudah sekitar seratus tahun yang lalu.


“Mustahil. Bagaimana sebuah pohon dapat berbicara?” Edward berbisik pada dirinya sendiri. Ia menatap pohon itu beberapa saat. “Di mana aku? Bagaimana kau bisa mengenal Anasca? Tapi kurasa Anasca yang kau maksud tidak sama dengan yang aku maksud. Anascaku bahkan belum mencapai usia seratus tahun.”


"Siapapun yang ada di negeri ini mengenal sosok Anasca. Terlalu banyak pertanyaan. Aku tak akan menjawab pertanyaan konyolmu itu. Tapi biar aku beritahu jika kau ada di kawasan Kerajaan Barat. Kemana saja kau selama ini sampai tak mengenal negerimu sendiri? Dan tentang Anasca. Hanya ada satu Anasca di negeri ini, jangan mengarang tentang Anasca yang lain."


"Kerajaan Barat dalam dongeng Lucia?" bisiknya pelan. Pohon itu tertawa melihat ekspresi Edward yang penuh akan pertanyaan.


"Maaf, jika aku boleh tahu apakah Kerajaan Barat ditempati oleh semacam makhluk mitologi?" Edward memotong.


"Apa itu makhluk mitologi? Pohon tak pernah bersekolah, itu kata-kata baru untukku. Lupakan saja! Kau memiliki saudari?"


"Ya, namanya Lucia. Namun aku tak dapat menemukan mereka."


"Siapa yang datang bersamamu selain saudarimu? Kau mengatakan mereka tadi," tanya pohon penasaran.


" Sepertinya aku sudah bilang, seorang paman, Anasca. Dialah profesor yang aku maksud. Perutnya sedikit buncit dan ada goresan di mata kanannya. Tapi, aku tak terlalu yakin kalau mereka mengalami hal yang sama seperti yang aku alami. Tapi, Anasca mengatakan Lucia merasakannya lebih dulu, itu berarti Lucia sudah ada di sini sebelum aku sampai."


“Bagaimana aku bisa memanggilmu? Maksudku namamu.”


“Aku Edward.”


"Lucia, Edward, goresan di mata sebelah kanan,” gumam pohon itu seperti berkumur-kumur jika kau mendengarnya dari bawah. Ia memikirkan sesuatu dan kemudian ia melanjutkan, “Dia sudah kembali? Anasca sudah kembali. Oh ya! Aku tak menyangka aku dapat hidup untuk menyaksikan ini terjadi. Aku pikir dia akan kembali setelah aku tiada," teriak pohon itu tampak sangat bergembira. "Jika Anasca sudah kembali, dan saudari yang kau cari bernama Lucia dan kau bernama Edward, maka kau pasti—oh tidak! Aku sudah sangat tidak sopan. Maafkan aku, Yang Mulia." Pohon itu berusaha menundukkan dahan-dahannya yang kaku terbungkus salju, hendak memberi hormat.


"Kenapa kau memanggilku dengan sebutan Yang Mulia? Aku bukan seperti yang kau kira."


"Kau pasti pangeran yang dibawa Anasca saat kehancuran ini terjadi dan saudarimu adalah seorang putri kerajaan, putri Lucia."


"Apa yang kau bicarakan? Bahkan kami tak pernah tahu tentang orang tua kami, bagaimana kami bisa tahu kalau dia adalah raja dan ratu? Kau sangat lucu, kami bukan berasal dari tempat ini. Kami berasal dari tempat lain yang berbeda. Tempat itu di sebut bumi." Edward tersenyum ringan dan kemudian mulai mengurangi porsinya. Ia mengingat dongeng Anasca memiliki pangeran bernama E dan putri bernama L. Terakhir kali Lucia juga membacakan pemimpin Kerajaan Timur adalah Anasca. Ia mulai memahami maksud dari pohon itu dan merasa ada kaitannya namun masih bingung tentang bentuk Anasca. Paman mereka adalah manusia bukan singa.


“Jika benar ini dunia ajaib seperti dongeng itu berarti Lucia dan Anasca pasti dalam bahaya,” sambungnya.


"Royabiz. Namaku Royabiz. Kau tak perlu mengkhawatirkan Anasca. Dia pasti berada di Utara saat ini. Sebaiknya kau mencari saudarimu di Timur. Hutan di sini sangat berbahaya karena banyak mata-mata Casso dan Caddis. Jangan sampai mereka menemukan putri Lucia lebih dulu.”


“Demi Tuhan! Semuanya sama (Edward mengenali nama penyihir-penyihir itu.).


“Di perbatasan Kerajaan Barat dan Timur akan ada bendera merah berlambang singa dan kentaur. Sekali lagi, kau harus bergerak dengan cepat sebelum penyihir menemukan saudarimu terlebih dahulu. Jika kau sudah menemukan saudarimu, pergilah ke Utara secepat yang kalian bisa. Berlari tanpa istirahat jikalau bisa. Maaf aku tak bisa membantu, Yang Mulia."


"Saran dan informasimu sudah cukup bagiku. Terima kasih banyak, Royabiz. Panggil aku Edward saja. Maaf jika aku terlalu banyak melontarkan banyak pertanyaan untukmu. Aku senang bisa bertemu denganmu. Aku pergi dulu." Edward bergegas lari menuju Timur sesuai dengan yang dikatakan Royabiz.


"Begitu pula aku, Yang Mulia. Semoga berhasil, Pangeran Edward. Kau pasti bisa melakukannya. Mulai sekarang semuanya akan berbeda. Terima kasih telah datang membawakan kehangatan dengan berita bahagia untukku," ucap Royabiz pelan setelah Edward pergi meninggalkannya.