
Lucia kembali ke halaman hijau itu dengan membawa empat buku dongeng favoritnya. Kemeja putih berlengan pendek dengan satu kancing atas yang tak ditautkan dan paduan rok coklat span (tapi tidak membentuk bodi tubuhnya, seperti pakaian formal)yang Lucia kenakan, membuatnya terlihat begitu sederhana dan anggun. Ada lagi yang menyita perhatianku, uraian rambutnya membuat tampilannya sangat memukau dan sangat feminim.
Rambutnya terikat setengah ke belakang, menggunakan pita hitam. Saat turun dari anak tangga yang ada di depan rumahnya, angin melintas sedikit lebih bertenaga membuat rambutnya tertiup dan saat itu kau bisa melihat perempuan tercantik di dunia ini.
Aura cantik yang dikeluarkan oleh Lucia terus membuat para anak-anak perempuan mendambakan rupa wajah seperti dia. Kau tahu anak-anak juga ingin terlihat cantik seperti orang dewasa tanpa mereka sadari bahwa mereka sendiri juga cantik, terlebih lagi keimutan wajah mereka. Untuk saat ini, anak-anak itu sudah terduduk sopan di atas karpet merah bermotif kotak-kotak putih, menunggu Lucia datang dengan sabar.
“Lucia datang-Lucia datang.” kata seorang anak perempuan yang duduk paling depan dan paling tengah. “Lihat dirinya,” lanjutnya berbisik ke anak perempuan lainnya yang berada di sampingnya, “saat aku besar nanti aku ingin secantiknya,”
Lucia yang tak sengaja mendengar bisikan itu tersenyum malu, berkata “apa yang kau katakan?”
Dan dengan polosnya anak itu menjawab, “Tidak-tidak. Hanya saja aku berharap saat besar nanti aku bisa menjadi cantik sepertimu.”
“Ayolah, aku tak secantik itu. Aku sudah tua. Bahkan aku ingin memiliki wajah imut seperti kalian. Kalian tahu wajah kalian bisa meluluhkan hati orang dewasa, apalagi saat kalian tertawa.
Saat kalian besar, kalian harus menjadi diri kalian. Kalian itu istimewa, mengerti?”
"Kau sudah menceritakan dongeng tentang Kerajaan Timur, Barat, dan Selatan. Sekarang ceritakan kami tentang kerajaan—satunya lagi, Lucia," kata anak laki-laki yang berusia empat tahun di pojok kanan Lucia bernama Harry, yang tak mengingat kata ‘utara’.
"Maksudmu Kerajaan Utara. Tentu saja. Ini adalah dongeng favoritku. Mari kita simak," jawab Lucia tersenyum lebar dan penuh semangat.
Lucia pun mulai mendongeng, "Pada zaman dahulu terdapat kerajaan yang sangat megah dan menakjubkan terletak di Utara negeri ajaib. Kerajaan itu adalah Kerajaan Utara yang berada di bawah pimpinan Raja William dan Ratu Alexa. Mereka adalah satu-satunya keturunan kaum adam dan kaum hawa di negeri ajaib tersebut. Raja dan ratu mendapatkan hadiah berupa sihir dari para dewa untuk menjaga kesejahteraan negeri ajaib itu."
"Wahh, dalam negeri ajaib itu banyak sekali pemimpinnya. Dari seekor singa, kemudian kentaur, lalu penyihir, dan sekarang ada raja William dan ratu Alexa. Jika aku dapat tinggal di sana, apakah aku juga akan bisa menjadi seorang raja?" ungkap salah satu bocah yang duduk di depan Lucia pada barisan kedua, bernama George.
“Tapi, apakah tempat seperti itu benaran ada. Maksudku—tempat di mana ada hewan yang berbicara.”
“Menurutku jika kau mempercayai itu ada, maka itu ada. Hanya saja kita mungkin tak memiliki kesempatan untuk berada di sana.”
“Apa kau percaya, Lucia?”
“Sejak aku berada di usia seperti kalian hingga sekarang, jujur saja bahwa aku sangat mempercayai adanya dunia-dunia lain selain dunia kita ini. Ya, tapi aku tak pernah tahu apakah mereka benar ada atau tidak. Namun, ada suatu waktu yang membuat aku sangat mempercayai dunia lain benar-benar ada. Saat aku kecil, aku tak yakin apa itu mimpi atau bukan, tapi semuanya terlihat sangat nyata, bahkan aku masih bisa mengingatnya dengan jelas.”
“Memangnya apa yang kau lihat?”
“Entahlah. Itu seperti hutan, kemudian padang rumput yang indah. Aku seperti bisa mendengarkan pohon yang sedang meminum air dan juga—tunggu dulu—mengapa kita jadi bicara di luar dongeng? Maafkan aku, akan aku lanjutkan.”
Lucia kembali melanjutkan dongengnya, "Kehidupan di negeri ini sangat damai dan harmonis. Pemimpin Kerajaan Utara ini memiliki calon keturunan yang sedang dikandung oleh sang ratu. Tepat pada saat musim dingin, hari natal negeri itu, pasangan penyihir dari Kerajaan Selatan melakukan sesuatu yang jahat. Mereka merubah pagi menjadi malam yang sangat kacau dan mengerikan, menelan semua cahaya emas yang baru saja tampak di horizon, kicauan burung di telan hingga menjadi hening, pohon-pohon yang bergerak pelan menjadi kaku membeku. Bukan hanya para pohon tapi kebanyakan penghuni juga disihir menjadi patung es. Untungnya penyihir-penyihir itu tak langsung menyerang Kerajaan Utara pada malam hari karena sang ratu sedang menjalani persalinan, tepat saat pergantian hari. Sang raja dan ratu dikaruniai sepasang anak yang sangat lucu. Mereka sangat bahagia dan ingin merayakan kelahiran putra putrinya. Akan tetapi perayaan itu tak dapat dilaksanakan karena ulah yang dibuat para penyihir itu. Saat pagi datang, Kerajaan Utara didatangi oleh pemimpin Kerajaan Barat bernama Thumboss dan beberapa rakyat dan prajuritnya yang berhasil menjauh dari maut penyihir itu. Bukan hanya pemimpin Thumboss saja, pemimpin Kerajaan Timur yang bernama—" Lucia terhenti sesaat karena melihat buku itu sedang menulis dengan sendirinya, tintanya berwarna emas dan menyala. Tangan Lucia mulai mendingin dengan cepat, sedingin es batu yang sudah berhari-hari di dalam kulkas.
"Kenapa berhenti?" tanya Edward yang baru saja tiba dan duduk di samping Lucia sambil membawa teh dan biskuit cokelat. Lucia hanya menggelengkan kepalanya.
"Pemimpin Kerajaan Timur yang bernama—bernama Anasca," lanjut Lucia dan Edward langsung memandangi saudarinya yang baru saja menyebut nama Anasca. Sejauh yang Edward tahu nama pemimpinnya adalah A. Dia merasakan ada hal aneh yang terjadi pada Lucia. Wajahnya juga berubah menjadi pucat seperti orang yang sedang demam tinggi.
Lucia seolah-olah telah terhipnotis dan duduk terpaku, terus melanjutkan dongeng itu. "Anasca juga datang bersama beberapa rakyatnya. Laporan dari kedua pemimpin tersebut membuat raja William dan ratu Alexa takut akan keselamatan anak-anaknya yaitu pangeran Edward dan putri Lucia.” Intonasinya berubah menjadi tidak stabil. Ia membacakannya dengan cepat dan semakin cepat. “Kegelapan terus menelan semua cahaya yang ada dan berhenti menelan saat mencapai perbatasan kerajaan Uta—" Tubuh Lucia bergetar hebat setelah membacakan nama pangeran dan putri Raja William.
"Lucia, hentikan! Hentikan dongeng itu!" potong Edward berteriak karena melihat tubuh Lucia yang sedang bergetar hebat. Anak-anak terdiam takut dan juga khawatir, sesegera mungkin Edward menutup buku dongeng yang dipegang oleh Lucia. Setelah buku itu tertutup, Lucia tak sadarkan diri. Tubuhnya terjatuh di pundak Edward.