
Anasca melanjutkan langkahnya dengan mantap, membimbing langkahnya menuju ke perpustakaan megah di dalam istana kerajaan. Edward dan Lucia tak kuasa menahan rasa keingintahuan mereka, berjalan dengan hati penuh antusias. Perpustakaan itu terbuka di depan mereka, memamerkan deretan buku-buku sejarah yang tersusun rapi, seolah menyimpan kisah-kisah lama yang siap mengurai misteri masa lalu. Di antara buku-buku itu, lukisan-lukisan menghiasi dinding dengan anggun, merayakan kehadiran tokoh-tokoh yang membentuk jejak kerajaan ini.
Di tengah ruangan, terdapat lilin-lilin mangkuk yang diletakkan di atas air, memberikan cahaya yang hangat dan menyejukkan. Lilin-lilin itu terapung di antara bunga-bunga teratai yang bermekaran dengan indahnya. Lilin dan bunga itu tak akan pernah padam, selalu menyala dan mekar untuk selamanya, mereka abadi.
Anasca melanjutkan penjelasannya dengan nada sedih. "Mereka adalah orang tua kalian. Salah satu dari mereka masih hidup, namun ia berada dalam tawanan di Kerajaan Selatan. Aku tak pernah tahu apa yang terjadi pada Ratu Alexa ataupun keadaannya," katanya.
"Mereka terlihat sama. Wanita di malam itu benar-benar ibu kami." Edward menatap saksama lukisan Ratu Alexa. "Kau tahu apa yang aku lihat?"
"Apa yang kau lihat, Ed? Mengapa aku tak bertemu dengannya?" tanya Lucia merasa khawatir dicampur dengan kesedihan yang tak mendapat kesempatan untuk melihat sang ibu.
Edward menghela napas, "dia sangat berantahkan menurutku. Gaun hijau mudanya bernoda darah dan sangat terlihat kumal juga sobek dibeberapa bagian. Ia berjalan dengan kaki kanannya yang pincang. Saat itu kau sedang pingsan, itulah mengapa kau tidak melihat ratu Alexa." Edward merangkul Lucia yang tampak murung. "Oh ya Anasca, ratu Alexa memberikan tongkatnya kepadaku. Apa yang harus ku lakukan dengan tongkat itu?"
Anasca memandang Edward dengan serius, "aku rasa ibumu sudah mengatakannya Edward. Kau harus mengingatnya kembali jika kau lupa. Itu bukan tongkat biasa, kau harus menggunakannya dengan baik dan hati-hati. Kau mengerti?"
"Aku tak akan mengecewakanmu."
Setelah mengunjungi perpustakaan kerajaan, Anasca melanjutkan langkahnya dengan penuh keyakinan, membimbing Edward dan Lucia melalui lorong-lorong istana yang penuh dengan keajaiban. Saat kisah-kisah kerajaan diwariskan melalui setiap sudut, Anasca berbicara dengan penuh semangat, menghidupkan jejak masa lalu dan membuka pintu untuk petualangan yang sedang mereka jalani.
Tidak butuh waktu lama sebelum Anasca mengajak mereka masuk ke ruangan berikutnya, menggiring mereka melewati pintu-pintu yang berhias megah. Di dalam ruangan ini, kisah-kisah kerajaan tersebut menjadi lebih hidup. Sebuah tarian cahaya dan bayangan yang terukir di dinding-dinding istana, menghidupkan kembali peristiwa-peristiwa bersejarah dalam kilauan yang ajaib. Tapi pada akhirnya, Anasca menghentikan langkah mereka dengan lembut. Dia memandang Edward dan Lucia dengan senyum bijaksana.
"Sekarang, saatnya kalian berdua merasakan keajaiban yang ada dalam diri kalian," katanya dengan penuh arti. Edward dan Lucia dimintai Anasca untuk dilukis.
Edward dan Lucia memasuki kamar yang menjadi tempat persinggahan mereka dalam petualangan yang luar biasa ini. Ruangan itu lebih dari sekadar kamar; itu adalah oasis kemewahan di tengah dunia ajaib. Dalam keadaan yang penuh kekaguman, mereka menatap sekeliling, merasakan aroma kayu dan bunga yang lembut.
Kamar mereka terletak bersebelahan dengan ruangan besar yang sebelumnya telah mereka jelajahi. Fasilitasnya lengkap, menghadirkan kenyamanan dan kehangatan. Di sana, mereka mendapati tempat tidur yang paling istimewa. Kasur itu seolah diciptakan oleh tangan ajaib, terbuat dari daun-daun hijau yang dipilin dengan cermat menjadi rangka yang kokoh. Kerangka kuat itu didukung oleh ranting pohon yang memberikan kestabilan yang luar biasa.
Namun, yang paling memukau dari kasur itu adalah bunga-bunga yang mekar dengan lembut di tengahnya. Bunga-bunga itu membentuk hamparan warna dan kelembutan, menciptakan tempat di mana mimpi-mimpi indah bersarang. Saat mata lelah menutup, mereka akan ditemani oleh kelembutan bunga-bunga itu, memberikan istirahat yang luar biasa.
Para peri yang berada di Deeymerall sebelumnya memasuki kamar Edward dan Lucia. Peri pria membantu Edward begitu pula dengan peri wanita membantu Lucia bersiap di kamar mereka masing-masing. Edward dan Lucia mendapati diri mereka berada di hadapan cermin besar, seolah menjadi saksi bagi kehidupan mereka sendiri. Mereka mulai berdandan dengan penuh semangat, membaur dengan para peri yang membantu mereka memilih pakaian yang sesuai.
Setiap pakaian yang mereka kenakan adalah cerminan dari karakter dan kepribadian masing-masing. Edward, yang selalu tegar dan bijaksana, terlihat luar biasa dalam kemeja berwarna krem dan celana joger coklat yang mencerminkan ketangguhannya. Lucia, dengan hati lembutnya, bersinar dalam gaun biru muda yang menunjukkan kelembutan dan keanggunannya. Mereka mengenakan pakaian yang sederhana, namun penuh dengan pesona yang khas dari dunia ini. Namun, itu bukan hanya penampilan yang berubah. Dalam momen ini, Edward dan Lucia merasakan kehadiran sejati mereka, seperti sepotong teka-teki yang akhirnya menemukan tempatnya. Pakaian itu bukanlah sekadar kain dan jahitan ataupun hasil dari serbuk peri yang berterbangan, melainkan cermin dari jiwa mereka yang telah diketahui para peri sekaligus menjadi tanda bagi mereka yang harus mengerti peran yang akan mereka emban sebagai salah satu penghuni negeri indah itu.
Edward dan Lucia berdiri tegak di tengah ruangan megah kerajaan, tempat singgasana berada, megah, di bawah cahaya yang terpancar dari jendela-jendela tinggi, mereka merasa seperti pangeran dan putri dari negeri dongeng yang sesungguhnya. Di sana, mereka dilukis oleh seniman kurcaci terampil bernama Xevrus; sang seniman kurcaci yang mahir, mulai menggerakkan kuas dengan penuh cinta dan keterampilan. Lukisan itu pun mulai terbentuk, mengabadikan momen yang tak terlupakan. Di bawah tangannya yang penuh inspirasi, Edward dan Lucia mengambil tempatnya dalam gambar, terjalin dengan latar belakang kerajaan yang begitu indah. Dan di situlah, di tengah keindahan dan keajaiban, Edward dan Lucia menjadi bagian dari cerita yang lebih besar dari diri mereka sendiri.
Bicara tentang Xevrus, ia adalah kurcaci pria berambut ikal blonde dengan jenggot panjang juga memiliki warna sama dengan rambutnya yang telah menginjak umur satu abad. Selama ini dia hidup sendirian tanpa ada keluarga. Semua keluarganya gugur saat perang terjadi. Tak membutuhkan waktu lama layaknya pelukis di London, Xevrus akhirnya mengeluarkan kalimat pertamanya setelah hampir setengah jam fokus pada kuas dan kanvas, "lukisan sudah selesai, Yang Mulia," kata Xevrus.
"Kalian terlihat seperti William dan Alexa," cetus Anasca saat melihat lukisan itu. "Terima kasih, Xevrus," sambungnya.
"Sama-sama, Yang Mulia."
"Xevrus, bisakah kau membantuku lagi?"
"Bisakah kau membawa Edward dan Lucia ke halaman kerajaan? Mereka sangat menyukai suasana alam."
"Ayo ikutlah dengan kami, Anasca. Ini pertama kalinya kami berada di sini," pinta Lucia dengan nada keluhan iseng miliknya.
"Aku masih memiliki urusan lain. Untuk saat ini kalian saja. Nikmatilah."
"Mari Pangeran Edward dan Putri Lucia," ajak Xevrus dengan segala kehormatan.
Kakak beradik itu senang bermain di halaman yang hijau dan luas, di tengah keindahan alam yang menciptakan keajaiban. Bersama alam dan ciptaan Tuhan, mereka menemukan kegembiraan yang tak tergantikan. Dalam momen-momen seperti itu, beban pikiran mereka terlupakan dan dunia seakan berhenti berputar walau itu tak berlaku untuk selamanya. Ah, seandainya aku pun dapat mengunjungi dunia seperti ini, di mana hari-hari indah tak akan pernah terlupakan.
Sebagai pangeran dan putri dari kerajaan yang agung, Edward dan Lucia merasakan kehidupan yang luar biasa di sini. Layanan dan fasilitas megah disajikan kepada mereka, jauh berbeda dengan apa yang mereka miliki di dunia manusia. Namun, yang membuat pengalaman ini begitu berharga adalah cara orang-orang di sini memperlakukan mereka. Bukan karena mereka adalah anak raja dan ratu, melainkan karena di dunia ini, nilai-nilai menghargai sesama tumbuh kuat.
Orang-orang di sini, meski bukan manusia (kecuali kurcaci yang memiliki kemiripan dengan manusia namun merupakan turunan peri), memberikan mereka perlakuan yang layak dan menghormati.
Di dunia ini, kita belajar untuk saling menghargai tanpa memandang derajat seseorang. Kebaikan dan kasih sayang menjadi prinsip hidup yang dijunjung tinggi. Saat mereka berada di sini, Edward dan Lucia merasakan harmoni yang tiada tara, terhubung dengan alam dan makhluk-makhluk ajaib di sekitar mereka. Setiap momen yang mereka lalui di dunia ajaib ini, mereka belajar tentang arti sejati dari kehidupan dan pentingnya menjaga kebaikan di dalam hati.
Malam akhirnya tiba, langit sudah tampak sama seperti sisi lain dari kerajaan ini. Sudah waktunya bagi mereka untuk beristirahat setelah melakukan perjalanan panjang dan berbagai tantangan yang mengancam nyawa. Keduanya terduduk di atas kasur besar dalam kamar Lucia dan dia meminta untuk menceritakan apa yang telah Edward lihat dan didengarnya pada saat ia pingsan. Edward pun menceritakan semuanya dan diujung cerita ia menyampaikan pesan ratu Alexa, bahwa dia sangat menyayanginya. Lucia yang mendengar cerita itu merasa sangat sedih dan juga terharu.
"Jangan menangis, Lu. Aku janji akan mempertemukan dengannya. Kita hanya perlu mengalahkan penyihir-penyihir itu dan menyelamatkan sang ratu."
"Aku tak menangis. Ini hanya beberapa tetes air saja. Dan itu janji yang besar, Ed. Kau masih ingin berjanji atas apa yang kau katakan?"
"Tentu saja. Aku janji. Kau juga berhak menemui dia, bukan? Kau bahkan lebih dari layak untuk menemuinya. Sekarang hapus air matamu, aku tak ingin melihatnya jatuh di pipimu ini." Edward menjawabnya dengan penuh keyakinan seraya mengusap air mata yang ada di pipi Lucia.
"Ed, apakah kau tidak merasakan ada teka-teki dengan tongkat yang ratu Alexa berikan?" Lucia mencari jawaban tentang tongkat biasa yang sebelumnya dapat membuat sebuat perisai.
"Tidak. Tidak sama sekali. Aku hanya berpikir bagaimana tongkat itu dapat merubah dirinya menjadi senjata yang hebat. Aku sudah mengingat pesannya. Dia memintaku menghancurkan tongkat penyihir saat berubah bentuk dengan barang ini.”
"Bolehkah aku meminjamnya sebentar, Ed?"
"Tentu saja, kenapa tidak? Kau tidak dilarang untuk melihat bahkan menyentuhnya."
Lucia terdiam sejenak saat memegang tongkat itu. Raut wajahnya menunjukkan bahwa dia sedang memikirkan sesuatu. "Abrakadabra ...." Sebuah mantra sulap terujar dari bibir Lucia sembari mengayunkan tongkat sihir hingga membuat Edward tertawa kegirangan melihat tingkah Lucia yang mengucapkan mantra dari pertunjukkan sulap yang biasa mereka tonton tak jauh dari sekolah.
"Kenapa kau tertawa? Aku hanya mencobanya. Ini tidak bekerja. Apa kau benar-benar yakin itu ibu?"
"Ya, Lucia. Aku merasa begitu dekat dengannya. Naluriku juga mengatakan ya saat itu," jawab Edward penuh keyakinan. "Biar aku coba," sambung Edward. "Abrakadabra ...." Dan sesuatu terjadi.