
Seiring berjalannya waktu, Edward dan Lucia telah tumbuh besar menjadi remaja yang menawan. Siapapun yang pertama kali melihat mereka atau bertemu mereka pasti akan merasa terpesona dan tak ingin memalingkan wajah dari Edward dan Lucia. Selain dari rupawan mereka juga memiliki hati yang baik dan penyayang bak malaikat, membuat banyak orang di sekeliling mereka merasa nyaman dan betah saat berteman dengan keduanya.
Edward tumbuh menjadi remaja laki-laki bertubuh tinggi, memiliki kepribadian yang bertanggung jawab, berkulit putih dengan rambut hitam kecoklatan serta yang tidak bisa dilewati adalah warna mata biru mudanya yang sangat terang seperti lautan. Kalian yang menatapnya langsung, pasti akan tenggelam di dalamnya. Ditambah lagi lesung pipit kanan kiri yang sangat dalam. Membayangkannya saja bisa membuat kau tersenyum malu seolah dia sedang menatapmu.
Bukan hanya Edward saja yang memiliki ketampanan, Lucia juga tumbuh menjadi gadis yang cerdas, sangat lemah lembut dan juga penyayang. Bahkan kau akan sangat jarang melihatnya marah. Selain itu dia diam-diam adalah pecinta makhluk mitologi seperti dalam dongeng yang sering diceritakan oleh paman Anasca. Ia juga masih mempercayai mimpi masa kecilnya tentang sebuah hutan dan tuan tupai adalah nyata. Lucia juga memiliki mata yang sama indahnya dengan kakak laki-lakinya serta warna rambutnya juga. Jika aku bisa menyanjungnya, aku akan bilang bahwa dia memiliki rambut yang sangat indah dari gadis manapun. Aku menyukai bentuk lengkungan bagian bawah rambutnya (keriting gantung) selalu terlihat rapi.
Sebuah jam weker kuno di atas meja kayu yang berada di tengah-tengah kasur Edward dan Lucia berdering kencang. Hari Minggu telah berubah menjadi hari Senin. Ini adalah hari pertama di kelas semester akhir pendidikan menengah pertama mereka. Tepat pukul empat pagi mereka sudah terbangun dari tidur. Setiap pagi hal yang selalu mereka lakukan yaitu merebut sebuah kamar mandi tua hingga membangunkan paman tercinta mereka.
"Baiklah, baiklah. Apa yang kalian lakukan sekarang?" tanya Anasca sambil mengucek mata kanannya. “Merebut kamar mandi tua itu lagi? Kalian tak pernah bosan sepertinya,” lanjutnya. Anasca memasang kembali kacamatanya.
"Maaf, Anasca (Anasca memberi izin untuk memanggilnya dengan nama. Sebenarnya Anasca juga memintanya). Apakah kami membangunkanmu?" tanya Edward berwajah lugu.
"Apa yang harus aku lakukan? Itu sambutan pagi setiap hari buatku sebelum sarapan, bukan?" Anasca tersenyum kecil sembari membenarkan kacamata bulat hitam miliknya yang terpasang miring.
"Maafkan kami, Anasca. Tapi Edward selalu saja memulainya." Lucia bergerak dan menyembunyikan tubuhnya di balik Anasca.
"Apa?” Tangan Edward berada di pinggangnya.
“Kau menuduhku?" Dahi Edward mengerut.
“All right. Itu akan menjadi kebenaran terbesar yang pernah aku ucapkan jikalau kau berhasil menangkapku!" Lucia keluar dari persembunyiannya dan berlari.
"Hei! Kau curang!" teriak Edward. "Kau lihat Anasca?" Edward menyambung kata-katanya, kemudian mengejar Lucia yang sudah berada cukup jauh di depan.
Anasca hanya bisa tersenyum lebar melihat mereka dan mengatakan, "Kekuatan persaudaraan akan merubah segalanya."
Kedua adik kakak itu berlari menuju pintu utama rumah tua yang panjang ini. Lucia terjatuh dan terguling ke bawah karena tak melihat tiga anak tangga yang berada di depannya setelah membuka pintu. Edward juga ikut terjatuh karena tak dapat menahan laju lariannya. Mereka terbaring di atas halaman rumah yang luas dengan empuknya rerumputan hijau yang menangkap.
Lucia tertawa terbahak-bahak saat melihat Edward dan berkata, “Kau juga jatuh, Ed?”
"Wajahmu terlihat sangat lucu saat terjatuh.” Lucia masih tak berhenti tertawa. "Mengapa kau terburu-buru? Kita masih punya cukup waktu untuk akhirnya terlambat. Lihatlah langitnya! Bukankah itu indah? Pemandangan seperti ini yang selalu aku nantikan." Lucia memandangi aurora hijau bercampur merah muda yang ada di langit. “Ini tak sering terjadi. Bersantailah sedikit lebih lama,” sambungnya menoleh ke arah Edward yang terbaring di samping kanannya.
"Ya, aku tahu. Aku bahkan tak ingat kapan terakhir kali aku melihat aurora di langit. Mereka sangat menakjubkan seperti sihir," balas Edward tersenyum, membuat lesung pipitnya yang dalam terlihat. Ini sangat melelehkan mata.
"Kau tahu apa yang sedang aku pikirkan?" tanya Lucia lembut melihat ke arah saudaranya.
"Mungkin cara aurora itu terbentuk? Berapa banyak warna yang dimiliki aurora? Mengapa aurora bisa terbentuk? Panjangnya aurora itu terbentang?" Edward menerka-nerka. “Oh, jangan-jangan kau akan bertanya apa sihir itu nyata?”
"Entahlah. Aku hanya memikirkan ayah dan ibu. Sudah lima belas tahun lamanya kita hidup, tapi kita tak pernah bertemu dengan mereka. Walaupun kutanyakan berulang kali kepada Anasca, tetap saja tak ada jawaban untuk pertanyaan itu. Dia selalu menjawabku dengan kalimat yang sering diucapkannya. Tidakkah kau ingin melihat bagaimana wajah mereka? Senyuman mereka? Sehat atau tidak? Dan yang benar-benar aku inginkan adalah rasa pelukan dari seorang ibu. Ya, pelukan ayah mungkin saja dapat kita rasakan dari Anasca. Tetap saja aku inginkan keduanya. Apakah aku tamak jika memikirkan hal seperti itu? Sekalipun mereka telah tiada bukankah kita berhak untuk mengetahui jalan ceritanya?"
"Ayah dan Ibu pasti berada di suatu tempat yang sangat indah. Di mana mereka dikelilingi oleh para peri dan langit aurora seperti yang kita lihat. Mungkin saja mereka sedang menikmati makanan terenak yang tidak ada di dunia ini," jawab Edward memandangi Lucia.
“Jadi maksudmu mereka benar-benar sudah tak ada lagi?”
"Dunia menyimpan begitu banyak rahasia. Kalian akan mengetahuinya, di saat waktunya sudah tepat," sela Anasca di depan ambang pintu. "Masuklah atau kalian akan terlambat di kelas pertama semester akhir ini," sambungnya dengan senyuman penuh gula.
"Bye… aku duluan." Edward berlari masuk ke dalam rumah.
"Edward... kau curang!" teriak Lucia mengejar Edward dari belakang dan tak menyadari bahwa Edward sedang membalas kecurangan yang dilakukannya tadi.
***
"Kring... Kring... Kring...." Suara bel masuk mulai terdengar hingga sudut sekolah yang berdinding putih membosankan. Memori buruk yang terukir dalam pikiran mendadak kembali dalam ingatan
Edward dan Lucia. Mereka memanglah anak berprestasi, akan tetapi keduanya selalu saja dipandang sebelah mata oleh teman-temannya karena berasal dari keluarga tidak berada, yatim piatu dan tinggal di rumah tua yang bisa saja hancur secara tiba-tiba jika badai besar datang menghantam. Terkadang mereka tak mampu untuk menahan ejekan yang dilontarkan oleh teman-temannya dan tanpa sengaja membuat kasus di sekolah terutama Edward.
Edward dan Lucia tidak akan memiliki kelas yang sama kali ini karena jurusan yang dipilih berbeda. Edward berada di kelas jurusan kimia, karena ketertarikannya kepada cairan-cairan yang mengandung zat kimia dalam lab sekolah. Dia menganggap itu seperti meracik ramuan dan juga sihir. Lanjut ke Lucia, ia mengambil jurusan sejarah karena dia terobsesi pada makhluk zaman purba dan juga hal yang berhubungan dengan mitologi-mitologi kuno. Ini kali pertama mereka terpisah karena kelas kejuruan ini hanya ada di semester akhir sebelum kelulusan.