The Story Of Ferindya

The Story Of Ferindya
Seekor Kelinci dan Kentaur



"Tapi kau akan keberatan jika kami naik," jawab Edward khawatir.


"Cepat!" Kentaur itu membentak.


Tiga serigala hitam melolong dengan kencang. Mereka mengejar rombongan Edward. Tuan Kentaur berlari dengan lajunya, sebisa mungkin menghilang dari hadapan serigala itu. Itu tak terjadi. Beban yang ditanggungnya terlalu berat hingga tak mampu untuk mengalahkan kelajuan serigala-serigala hitam yang mengejar mereka. Sekarang satu dari serigala itu sudah sejajar dengan mereka.


"Ambil pedang yang ada di pelanaku! Beri aku dua dan satunya lagi untukmu!" perintah sang Kentaur itu.


Sesaat setelah Edward mengoperkan dua pedang yang dipegangnya, mereka terjatuh. Salah satu kaki kanan kentaur itu digigit oleh serigala yang membuatnya tak seimbang.


"Serang mereka menggunakan pedangmu, sekarang!" teriak Kentaur itu yang sedang membangunkan dirinya.


Edward mematuhi apa yang diperintahkan, sedangkan kelinci menjaga Lucia yang tergeletak di bawah. Perkelahian terjadi selama lima menit antara Edward yang melawan satu serigala dan kentaur melawan dua serigala sekaligus. Pada akhirnya serigala-serigala itu berhasil dikalahkan.


"Apa kau masih bisa membawa saudariku?" tanya Edward merasa tak enak.


"Ku rasa aku masih cukup kuat, namun hanya saudarimu dan kelinci saja yang dapat ku bawa. Kau harus berlari. Kita hampir terlambat untuk mengobatinya."


"Tak masalah untukku, apa saja untuk Lucia. Terima kasih banyak."


Edward kembali menaikkan Lucia ke punggung kentaur itu. Sungguh kasihan, Kentaur yang malang, ia berjalan agak pincang akibat gigitan serigala yang didapatnya. Perjalanan berlalu selama dua jam sebelum mereka menemukan sebuah pohon natal kecil yang telah dihiasi lampu-lampu yang bergerak mengelilingi. Tentu saja, mereka sudah tiba di tempat aman itu.


"Apa di sana adalah pohon natal?” tanya Edward yang tiba-tiba merasa terkesan akan keindahan pohon natal dan sesaat lupa akan Lucia.


“Bukankah natal masih lama? Bagaimana lampu-lampu itu dapat bergerak seperti sedang terbang?"


"Apa yang terjadi padamu? Bahkan di Kerajaan Utara juga menyambut natal tahun ini. Mungkin," tebak kelinci yang tak pernah tahu keadaan di Utara. “Tapi natal sudah berlalu bahkan tahun baru juga sudah lewat. Kau tak tahu? Apa kau semacam kurcaci yang memiliki ingatan pendek?”


"Itu bukan lampu. Itu adalah kunang-kunang yang beterbangan," sela kentaur. “Untuk mengisi kesepian yang ada di sini, maka mereka melakukannya setiap hari, begitu pula dengan bintang-bintang.”


"Oh, bodoh sekali aku. Tentu saja berbeda," gumam Edward sembari menepuk dahinya.


Setelah melewati semak-semak di belakang pohon natal tersebut, mereka akhirnya dapat melihat lebih banyak pohon natal yang sangat indah dengan bintang bersinar terang di atasnya. Tempat yang mereka katakan aman ternyata adalah tempat persembunyian, dibangun untuk melindungi mereka dari salju serta dari penyihir-penyihir Selatan. Bukan hanya seorang kentaur itu dan seekor kelinci saja yang menempati tempat itu. Saudari kentaur dan anak-anak kelinci juga berada di sana.


"Ibu ..." seru ketiga anak kelinci yang melompat ke arah ibunya saat dia pulang.


"Halo, anak-anak."


"Siapa mereka?" tanya saudari kentaur itu bernama Eillyet


"Dua kurcari tinggi. Kami menemukan mereka di hutan dan saudarinya sedang terluka parah. Kita harus menolongnya dengan segera, Eillyet!"


Lucia dibawa masuk ke dalam gubuk kecil terbuat dari batang-batang pepohonan yang berukuran tak terlalu besar, tingginya berbeda beberapa sentimeter saja dengan tinggi centaur, jikalau dibangun lebih rendah, pasti kepala kentaur itu akan terantuk setiap saat.


Atapnya normal seperti gubuk-gubuk yang pernah kau lihat yaitu berbentuk segita yang terbuat dari papan kayu tapi kau pasti akan kesulitan untuk melihat papan kayu apa itu karena semua tertutup salju. Begitu pula pintunya juga dari rakitan papan kayu dengan pegangan pintu yang sangat ketinggalan jaman (inikan bukan dunia manusia) yang mengharuskan kita untuk mengaitkan sepotong kayu dengan kayu lainnya yang sudah di siapkan sebagai penyangga (yang butuh di putar 90 derajat).


Saudari centaur dan kelinci itu mengobati Lucia dengan baik, sementara yang lainnya duduk di luar tepatnya di bawah pohon besar sebagai teduhan dari salju yang jatuh.


"Apa dia akan selamat?” tanya Edward yang terus saja mondar-mandir di depan keempatnya yang sedang terduduk.


“Kau terus mondar-mandir seperti ini membuatku merasa sedikit pusing, wahai kurcaci


tinggi,” kata salah satu anak kelinci.


“Duduklah bersama kami,” sambung anak kelinci yang lainnya.


“Tenanglah. Ibu kami dan Eillyet sangat hebat dalam mengobati,” anak kelinci terakhir juga ikut bersuara.


"Baiklah aku akan tenang—aku akan tenang.” Edward melepaskan napas khawatirnya dan membicarakan topik lain agar tak terlalu risau.


“Kita belum sempat berkenalan sebelumnya. Namaku Edward."


Kentaur itu mendadak berdiri dan membangunkan para anak kelinci yang baru saja akan tidur di punggung kudanya.


"Ada apa, Caleberz?" tanya salah satu anak kelinci bermata coklat.


"Dia pangeran Kerajaan Utara."


"Kau maksud dia adalah Pangeran Edward yang hilang di Deeymerall?" Anak kelinci lainnya yang bermata abu-abu mengajukan pertanyaan.


"Oh ya? Itu berarti kita memiliki 2 Pangeran di sini. Wow!" ujar kelinci bungsu (betina) yang memiliki warna mata biru. Ketiga anak kelinci itu kemudian melompat ke tubuh Edward bersamaan usai saudari mereka menyelesaikan perkataannya.


"Dua pangeran? Berarti kau juga seorang pangeran, Caleberz?" tanya Edward (dia tahu namanya dari anak-anak kelinci tadi). "Omong-omong sebenarnya aku bukanlah pangeran. Kenapa aku begitu dikenal sebagai pangeran Kerajaan Utara?"


"Dunia menyimpan begitu banyak rahasia, Edward. Kau akan memahaminya. Semua penghuni negeri tahu tentang kisah pangeran dan putri Kerajaan Utara yang menghilang dengan raja Timur. Terakhir, aku adalah Pangeran Kerajaan Barat. Pangeran paling tua dengan umurku dan Eillyet adalah seorang Putri."


“Berarti kau adalah anaknya raja Thumboss?”


“Bagaimana kau bisa tahu nama ayahku?”


“Ceritanya sangat pan—” Edward tak menyelesaikan katanya karena kelinci-kelinci mungil itu sudah mulai berbicara.


"Halo, Pangeran Edward. Sebuah kehormatan besar dapat bertemu denganmu. Namaku Georgogio. Aku adalah anak pertama, memiliki warna mata abu-abu."


"Aku Georgigio. Aku anak kedua dan warna mataku coklat."


"Aku Pullylyliyolee. Si bungsu dengan warna mata biru sama sepertimu."


"Dan nama ibu kami adalah Alice. Ibu terbaik yang pernah ada," ujar ketiganya bersamaan.


"Baiklah. Senang bertemu dan mengenal kalian semua. Satu pertanyaan. Apakah setiap memperkenalkan diri kalian selalu menyebutkan warna mata kalian?"


"Ya, Pangeran Edward. Begitulah cara membedakan mereka. Mereka kembar tiga." Caleberz tersenyum lebar.


"AHHH!!" jerit Edward kesakitan, menatap telapak tangan kanannya yang sedang diukir oleh goresan-goresan bersinar yang mengeluarkan darah.