
Wajah dan bibir Lucia tampak berubah menjadi putih pucat dan kering. Ia kehilangan begitu banyak darah saat belati hitam itu ditarik dari perut penyihir itu. Saat ini, kekuatan para penyihir bertambah dua kali lipat, mereka semakin gila saat menggunakan kekuatan yang dimiliki.
Penyihir shapeshifter dapat melukai orang yang ditirunya tanpa menyentuh orang sebenarnya. Itu terjadi pada Lucia sekarang, penyihir itu menusukkan belati hitam ke perutnya akan tetapi yang terluka dan kesakitan adalah Lucia. Setelah melakukan hal itu, ia kembali ke wujud asalnya, gaun yang mengembang berbentuk seperti kelopak bunga yang menutupi bagian dadanya dan tertaut di pundaknya (baju seperti model sabrina) dan mahkota yang menyerupai gigi-gigi taring hiu, memiliki ukuran besar dan kecil yang berselang-seling. Semuanya serba hitam.
Kondisi Lucia semakin buruk setiap detiknya hingga ia tak mampu lagi untuk meneruskan perjalanan. Mereka berhenti berjalan saat sampai di perbatasan Kerajaan Timur dan Kerajaan Barat. Kau pasti bisa membayangkan berapa lama waktu yang diperlukan untuk sampai di sana jika untuk sampai ke Selatan bersama anjing dan serigala itu saja membutuhkan waktu satu jam. Edward menyandarkan Lucia di sebuah pohon yang hampir mati. Daunnya sampai dapat kau hitung dengan jari-jarimu.
"Lucia, apa kau baik-baik saja?" tanya Edward memegang pundak Lucia.
"Aku rasa tidak. Lukanya menyengatku. Tubuhku semakin lemah, Ed. Kita harus hentikan pendarahannya." Lucia menjawab pelan dan menarik napas setiap kata-kata keluar dari mulutnya.
"Bertahanlah. Aku tak ingin kehilanganmu. Kita butuh perban untuk menahan darahnya. Setelah itu, kau akan baik-baik saja."
"Di mana kau akan mencari perban itu? Kita berada di antara hutan, Ed."
Edward mengingat sesuatu saat melihat dahan pohon yang disandar oleh Lucia, "Ini bukan hutan yang lebat, Lucia. Lagi pula ini bukan sekedar pohon. Ini tempat tinggal para pohon." Edward mendirikan tubuhnya. "Halo, Tuan Pohon," sapanya pada pohon itu. Ia kembali mengingat Royabiz.
"Kau berbicara pada pohon? Kau sudah gila atau sedang membuat lelucon, Ed? Aku kesakitan."
"Tentu saja tidak. Kau salah paham, Lu. Aku menemukan sebuah pohon yang benar-benar bisa bicara saat terbangun di dunia ini. Saat itu aku sedang meneriaki namamu dan juga Anasca, secara tiba-tiba aku mendengar seseorang berbicara. Aku mulai mencari sumber suara itu, berharap ada seseorang yang dapat membantuku untuk menemukan kalian dan ternyata suara itu berasal dari pohon di sampingku, namanya Royabiz. Saat keadaanmu membaik aku pasti akan memperkenalkanmu padanya."
"Tapi Ed, jika kau berpikir secara logika, tumbuhan tak dapat berbicara," balas Lucia masih tak mempercayainya kata-kata anak lelaki itu.
"Jika kau juga berpikir secara logika maka hewan juga tak dapat berbicara seperti temanmu itu."
"Stycky dan Dillighost? Setidaknya hewan memiliki mulut."
"Tepat sekali. Itu semua terjadi dihadapan kita. Ini adalah dunia ajaib, sama seperti dongeng yang ditulis paman Anasca. Mereka semua seperti memiliki sihir dan aku sangat menyukainya.” Edward mengekspresikan kekagumannya dengan mengangkat kedua tangannya seperti selesai menampilkan pertunjukkan.
“Kurasa Anasca sudah pernah ada di sini sebelumnya dan semua yang ditulisnya adalah sebuah kenyataan."
"Aww!" Lucia menjerit kesakitan. Lukanya sudah sangat parah saat ini, bahkan darah sudah keluar dari mulutnya saat terbatuk usai menjerit tadi. Dengan kondisinya yang terluka ditambah dengan suhu udara yang berada di atas rata-rata musim dingin sebenarnya, membuat tubuhnya semakin lemah. Edward pun juga tampak pucat.
Bocah itu ingin sekali mendapatkan sebuah solusi yang keluar dari kepalanya untuk membantu Lucia tapi itu tidak berhasil. Musim dingin ini seperti membekukan otaknya juga.
Seekor kelinci betina putih bermata hitam tiba-tiba saja muncul dari belakang, jalan mendekati Edward dengan kedua tangan yang disatukannya di depan dada, pinggulnya bergerak kanan dan kiri. Ia mengatakan bahwa perempuan itu harus segera diobati, lukanya sudah terlalu parah. Edward langsung memutar lehernya. Kelinci itu mengikuti jejak darah yang terjatuh di atas jalan. Edward meminta tolong kepada kelinci itu dengan segera untuk menyelamatkan saudarinya.
"Ayo, Nona Kelinci. Kita harus cepat!" Edward menyiapkan tubuhnya untuk menggendong Lucia.
"Kau tak akan mampu menggendongnya ke sana. Jaraknya cukup jauh dari sini."
"Lalu bagaimana caranya agar aku bisa membawa Lucia ke tempat aman itu?" tanya Edward tergesah-gesah.
Kelinci betina itu sempat terdiam sejenak saat mendengar nama sang gadis sebelum akhirnya meletakkan kedua jari kelingking mungilnya ke masing-masing ujung bibir dan mulai bersiul.
Apa? Dia bersiul? Apakah dia memanggil suruhan penyihir? Apakah dia akan membawa mereka ke Kerajaan Selatan? Itu yang pertama kali muncul di dalam benakku.
"Sssstttttt!! Apa yang kau lakukan Nona Kelinci? Apa kau ingin mengundang suruhan penyihir ke sini?"
Kelinci itu tak menjawab. Dalam hitungan lima detik seorang kentaur (manusia bertubuh kuda, makhluk mitologi yang sangat terkenal) tiba. Kentaur itu adalah teman kelinci betina yang akan membantu mereka. "Meminta bantuan. Itu yang aku lakukan, kurcaci tinggi dan juga tampan,” kata kelinci.
"Wah kentaur. Terima kasih banyak Nona Kelinci dan juga kau, Tuan Kentaur. Aku akan menaikkan Lucia ke punggungmu. Oh, terima kasih sekali lagi. Aku tak tau apa yang harus aku lakukan jika tak ada kalian."
Edward mendirikan Lucia yang benar-benar sudah sekarat dan menaikkannya ke punggung kentaur itu. Perjalanan dimulai. Kentaur memimpin jalanan, sedangkan Edward dan kelinci itu berjalan di sampingnya. Mereka tidak berlari hanya berjalan cepat saja. "Kemana kita akan pergi?" tanya Edward memandangi kelinci putih.
"Kita akan pergi hampir ke ujung wilayah Timur dekat dengan Utara. Penyihir-penyihir itu tak pernah berkunjung dan mengawasi daerah itu. Mereka menganggap para hewan adalah makhluk bodoh yang tak dapat melakukan apapun selain mencari makanan dan tidur."
"Mereka salah untuk hal itu, bukan?. Kalian tak sama seperti hewan yang berasal dari duniaku."
"Tentu saja kami lebih dari yang dia pikir. Mereka belum melihat kekuatan rakyat Kerajaan Timur saat murka." Kelinci itu mengentakkan kaki kanannya berulang kali seolah sedang menginjak-injak sesuatu. "Tunggu ... kau tadi bilang dari duniaku?" sambungnya dengan pertanyaan. Nona kelinci merasa bingung.
"Hei nak, kurasa gadis ini memanggilmu," ujar kentaur menghentikan langkah keempat kakinya.
Edward mendekati Lucia.
Kondisinya sangat memprihatinkan. Dia kesakitan dan kedinginan hingga sulit untuk berbicara. Kepalanya jika kau sentuh dengan kulit telapak tanganmu, mungkin kau akan merasa terbakar karena panasnya.
"Bertahanlah Lu. Kau akan baik-baik saja,” kata Edward mengelus kepala Lucia. "Dia tak memanggilku sebenarnya. Ku rasa dia sedang mengigau. Demannya sangat tinggi. Kita harus segera mengobatinya."
"Sssttt ..." desis Tuan Kentaur. "Ada sesuatu yang mengikuti kita. Cepat naik ke punggungku!"