
“Lihat! Apa itu?” tanya Pullylyliyolee (karena nama kelinci yang satu ini sangat panjang, maka kita akan menyingkatnya dengan Pully saja).
“Aku tak tahu. Rasanya sakit sekali!”
“Bertahanlah, Yang Mulia.”
Ibu kelinci dan saudari Caleberz keluar dari gubuk kayu dan dengan cekatan Edward menyembunyikan rasa sakitnya untuk mendengar bagaimana Lucia. Keadaan saudari Edward sudah membaik dalam waktu dekat dia akan siuman, itulah yang didengar Edward hingga membuat perasaannya lega dan tanpa ia sadari tangannya tak lagi bercahaya dan tidak sakit.
Alice dan Eillyet mengobati dengan cekatan dan dapat menyelesaikannya tepat waktu. Andai saja mereka telat sedikit saja, aku tak tahu apa yang akan terjadi pada gadis malang itu. Hari yang cukup lelah dan penuh tantangan telah mereka lewati, ini lebih parah dari masa-masa mereka di sekolah yang hanya diserang dengan puluhan gumpalan kertas.
Bintang-bintang yang menghiasi pohon natal lebih tepatnya pohon cemara berukuran kecil tampak melayang perlahan kembali ke atas langit. Hal itu pertanda malam sudah berganti menjadi pagi walau langit tak berubah warna menjadi biru dengan awan putih beragam bentuk yang bergerak pelan terhembus angin.
Perlu kalian tahu bahwa hitamnya langit yang mereka lihat saat ini bukanlah langit asli yang berubah menjadi malam terus. Langit yang asli seolah dibungkus oleh awan-awan hitam buatan para penyihir jahat. Waktu sangatlah cepat berlalu, tak ada perubahan satupun yang berhasil dibuat untuk mengembalikan negeri ini.
Entah kapan terakhir kali Kerajaan Timur dan Barat memiliki hari terang dan cerah, di mana matahari menampakkan diri dengan ceria dan tersenyum lebar menyambut pagi negeri ini. Bahkan kaupun akan senang jika hidup di sini.
Lupakan saja semuanya, itu sudah sangat lama terjadi bahkan rasanya mustahil untuk kembali merasakannya. Rakyat dari negeri ini sudah hampir menyerah karena Anasca yang tak kunjung kembali.
Edward dan Lucia diberikan pakaian baru untuk menjaga mereka tetap hangat. Sebuah kemeja ajaib berkerah sanghai dengan warna abu-abunya yang menawan, lengannya agak lebar tapi masih cocok untuk pemakainya, dilengkapi dengan sepuluh butir kancing mutiara kecil yang berwarna putih mengkilau di depannya dan di bagian paling luar ada vest (seperti rompi) berwarna coklat tua, namun vest ini berbeda dengan vest yang ada pada zaman kita sekarang. Ya, rompi itu hampir sama seperti kemeja tanpa lengan dan tanpa kerah namun lebih tebal, panjang hingga ke bawah pinggang hampir menutup paha. Kemeja itu dikenakan Edward dengan celana kargo (tak ketat) yang berwarna sama dengan rompinya, sesaat dia tampak benar-benar memikat hati bak musketri dari hutan gelap.
Pakaian terusan sederhana berlengan panjang dengan warna coklat tua tampak terpasang di tubuh Lucia. Pada baju itu kau akan melihat ada bordiran di dekat leher baju itu, bagian paling bawah lengan dan di dekat kaki, juga sebuah ikat pinggang kecil agar terusan itu pas di postur tubuhnya.
Saat ini Lucia sudah sadarkan diri ketika Edward hendak menjenguknya ke dalam gubuk. Ia terduduk sendirian di atas tikar berwarna kuning gading dan sibuk menatapi tangan kanannya tanpa henti. Hal yang sama menyerang Edward kemarin juga terjadi pada Lucia. Edward memperhatikannya dari ambang pintu seperti menunggu Lucia agar menyadari kedatangannya namun ia tidak menoleh ke Edward sedikitpun. Setelah puas berdiam di sana, ia berjalan masuk.
"Itu juga terjadi padamu, Edward?" Lucia sedikit kaget saat Edward memperlihatkan telapak tangan kanannya.
"Ya, Lucia. Ini menyakitkan saat terjadi. Tapi, kenapa ini terjadi bersamaan ya?"
"Aku tak tahu. Kau dan aku memilikinya, apakah yang lain tidak?"
"Tidak sama sekali."
"Kau sudah tanya tentang hal ini pada Caleberz atau yang lainnya? Ini tampak aneh dan sedikit menakutkan. Aku takut ini kutukan dari penyihir itu.
"Aku rasa mereka juga tak mengetahui maksudnya, jika memang tahu Caleberz pasti sudah mengatakannya semalam. Kenapa kau berpikir hal yang bukan-bukan. Buang semua itu, pikir lebih positif, mungkin ini hanya luka kiriman dan bukan sebuah kutukan. Setahu aku juga kutukan terjadi face to face."
"Tapi, Ed aku memikirkannya kembali. Bentuk dari luka ini adalah matahari. Bukankah penyihir menyukai kegelapan? Untuk apa juga matahari?"
"Nah, kau benar. Mungkin luka ini ada sisi baiknya. Aku akan menanyakannya nanti, mungkin saja mereka ada sebuah referensi untuk dibaca tentang luka-luka seperti ini."
"Omong-omong, bagaimana keadaanmu adikku yang cantik?" Edward mengalihkan pembicaraan.
Lucia tercengang sebentar, lalu memukul bahu Edward ringan, "Apa aku tak salah mendengar tadi kau memujiku? Apa yang kau inginkan?"
"Hahaha," tawa Lucia sangat lepas. “Baiklah. Aku sudah tahu itu, lagipula saudaraku inikan juga tampan maka dari itu aku juga terlihat—"
“Auungg ….” Suara aungan serigala muncul mengacaukan candaan seru mereka. Kepala mereka langsung menoleh ke arah pintu yang tak tertutup. Belum pernah ada satu makhluk yang dapat sampai hingga tempat persembunyian ini, seperti yang dikatakan Alice bahwa tidak pernah ada yang mengawasi.
Edward dan Lucia jalan mengendap-endap dan berhenti saat meraih ambang pintu. Mereka tak melihat siapapun di luar sana.
Semak kecil yang berada di seberang gubuk bergerak dengan pelan dan terkadang berhenti, terulang beberapa kali membuat jantung Edward dan Lucia berdetak dengan cepat. Ternyata itu adalah Georgogio, mengintip dengan kepala mungilnya dan memberi tanda untuk diam.
"Ssstttt!" kata Georgogio dan kembali bersembunyi.
Edward memegang tangan kiri Lucia yang berdiri selangkah di belakangnya. Mereka berjalan dengan perlahan ke arah semak itu dan akhirnya sampai pada pertengahan jalan antara gubuk dan semak. Edward melangkahkan kaki kanannya, kemudian dengan tak sengaja menginjak sebuah ranting kayu kering yang ada di depannya dan menimbulkan suara.
Suaranya sangat nyaring dan garing, lalu sesuatu datang menikamnya dari sisi kiri mereka. Edward terjatuh ke samping, dadanya menghadap ke bawah dan muka nya menelungkup di atas salju, punggungnya tertimpa oleh seekor serigala hitam. Edward segera memutar tubuhnya tak lama setelah mencapai permukaan, berusaha menahan gigitan yang tertuju pada lehernya.
"Watch Out!" teriak Lucia kaget.
Lucia mengambil dahan beranting pohon lainnya yang berukuran lebih besar yang ada di belakangnya. Dengan dahan itu dia berusaha menyingkirkan serigala hitam yang mengancam nyawa saudaranya. Serigala itu terseret jatuh dua meter di samping kanan Edward saat dorongan Lucia yang ketiga. Akan tetapi, serigala itu tidak menyerah ataupun melarikan diri. Ia tampak semakin ganas dengan ludah cair yang meleleh keluar dari mulutnya. Matanya besar dan sangat merah.
Kali ini ia tak memandangi Edward tapi menatap lurus ke arah Lucia setelah membangunkan tubuhnya. Lucia tertegun menatap serigala hitam itu dan kakinya mulai bergerak mundur dengan pelan.
"Lucia, lari!" kata Edward cepat saat melihat serigala itu berlari dan melompati tubuhnya dari atas yang ingin menikam Lucia.
Lucia membuang dahannya dan segera menutup wajah dengan kedua tangan yang bersilangan karena terlalu takut melihat serigala. Telapak tangannya mengarah ke serigala. Sinar yang sangat terang dan menyilaukan muncul dari tangan Lucia, bahkan Edward berpaling menghadap ke sisi kanan tubuhnya untuk tak melawan melihat cahaya itu dengan matanya. Serigala hitam itu musnah menjadi abu yang beterbangan tanpa hitungan detik ataupun menyentuh Lucia sedikutpun.
Lucia merasa aneh, serigala itu tak kunjung menggigit atau menjatuhkannya ke atas tanah bersalju. Ia membuka matanya perlahan dan menyingkirkan tangan-tangannya dari wajah.
Kemudian melihat sekeliling namun tak mendapati seekor serigala hitam yang mengerikan tadi. 'Di mana serigala itu? Ke mana dia pergi?' batin Lucia bertanya-tanya saat kepala dan juga tubuhnya belum berhenti berputar. Pertanyaan itu hilang dalam sekejap saat Edward yang masih terbaring memanggil namanya.
"Edward. Are you all right?" balas Lucia berlari kecil ke arahnya. Lucia membantu saudaranya mengambil posisi duduk dan tanyanya sekali lagi, "Kau baik-baik saja?"
"Aku pernah lebih baik sebelum ini. Lengan kananku terluka jawab Edward sembari memegang bagian yang terluka. “Rasanya seperti diamputasi,” sambungnya.
“Kau tak pernah diamputasi. Kau tahu darimana rasanya? Jangan mengada-ada!”
"Bagaimana kau lakukan itu, Lucia?" tanya Georgogio yang keluar dari persembunyian bersama kedua adiknya yang menyusul.
"Bagaimana aku melakukan itu?" Lucia mengulang pertanyaan Georgogio. "Apa yang aku telah aku lakukan?"
"Sinar itu. Sinar yang sangat-sangat terang," sela Georgigio