The Story Of Ferindya

The Story Of Ferindya
Mimpi Emas part 2



Hembusan angin sepoi menepis pipi Lucia hingga membangunkannya. Matanya terbuka perlahan dan di sana ia melihat sebuah cahaya hijau dari depannya. Ia mengucek kedua matanya, menyadari tubuhnya terbaring dan langsung beranjak bangun, mendapati dirinya duduk di atas rerumputan yang sangat empuk. Angin yang terus berlalu-lalang seakan menimang kita untuk tidur.


Di sini, semuanya terasa begitu alami. Lucia dikelilingi oleh pepohonan yang sedang melambaikan dahan mereka seolah sedang menyapa. Sekali lagi, aku akan mengatakan bahwa tempat ini terasa sangat tenang dan damai. Mata Lucia hanya dipenuhi oleh lautan hijau di bawah maupun di atas. Tak ada serangga, tak ada manusia maupun binatang buas. Ini adalah tempat seperti surga yang tak akan pernah kita kunjungi di England. Kita bisa memanggilnya hutan kedamaian.


Hutan ini terasa berbeda dari hutan lainnya karena di sini semuanya terasa sangat hidup. Bahkan kita hampir dapat mendengar pohon yang sedang meminum air dengan akar-akar mereka. Satu kata yang hanya bisa terucap dari mulut Lucia yaitu, “Woah.” Lucia sangat takjub dan bertanya-tanya tempat apakah ini? Bagaimana dia bisa sampai di sini? Terakhir yang dia ingat hanyalah tidur di kamar paman Anasca.


Sesuatu memecah keheningan. Itu seperti sebuah suara—suara larian kaki menginjak rerumputan tanah yang lembab karena embun dan hembusan napas yang terengah-engah, memasuki telinga Lucia tanpa permisi. Langkah kaki yang cepat itu terdengar semakin jelas saja dan semakin dekat. Lucia berdiri di balik salah satu pohon yang berbatang besar dan terus memandang kiri kanannya. Ia terlihat sedikit ketakutan dan terus membayangkan bahwa ada binatang buas atau raksasa yang datang untuk memakannya, juga hal-hal buruk lainnya yang kemungkinan bisa terjadi.


“Pooh!” Suara keras itu datang dari belakang Lucia. “Kau sudah bangun, Lu?” Edward menepuk pundak bahu kanan Lucia dan berhasil membuatnya terlompat kekagetan.


“Demi Tuhan! Jangan sakiti aku!” teriaknya keras dan langsung memutar tubuhnya. “Edaward?” sambungnya kebingungan, “kau juga ada di sini?”


“Ya,” kata Edaward bersemangat, “tempat ini sangat luar biasa, Lu. Kau tak akan percaya dengan apa yang telah aku lihat.” Wajah Edward penuh dengan kebahagian.


“Baiklah. Tapi bisakah kau memberitahuku, bagaimana kita berdua dapat sampai di sini?”


“Mmm … aku tak begitu yakin. Aku terbangun dari tidurku dan sudah ada di sini. Aku pikir kau tahu bagaimana kita dapat kemari. Kau juga tidur tadinya di sampingku.” Ekspresi Edward berubah keheranan. “Lupakan saja, Lu. Mungkin paman yang membawa kita. Kemari ikuti aku! Ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan.” Lucia hanyalah anak kecil, makanya dia langsung setuju tanpa berpikir atau merasakan keanehan sedikitpun.


Edward menarik tangan Lucia dan berlari bersama ke suatu tempat. Setelah sampai di tempat itu. Lucia berkata, “Mustahil. Apakah ini nyata?”


Mereka berdiri di ujung hutan itu dan melihat padang rumput hijau yang sangat luas. Tak jauh dari sana, Edward dan Lucia dapat melihat sekelompok hewan yang sedang melakukan aktivitas layaknya manusia, seperti memasak hingga melakukan piknik (kelihatannya seperti itu) dengan meja yang terbuat dari batang pohon yang tertebang.


Di sana juga ada makhluk lain yang belum pernah mereka lihat sebelumnya secara nyata bahkan kau juga tidak pernah melihatnya secara langsung walau umurmu sudah mencapai setengah abad.



“Mereka persis—”


“Persis seperti karakter dalam dongeng paman Anasca semalam, bukan?”


Mata mereka bertemu satu sama lain. Bibir mereka perlahan melebar, tersenyum bersama seolah saling mengetahui apa yang ada dalam pikiran masing-masing. Edward dan Lucia berlari ke arah kerumunan yang berada di seberang.


Sesaat, setelah sampai, seekor tupai jantan menyadari kedatangan mereka berdua dan bertanya, “Apa kalian baik-baik saja? Apa kalian bertemu dengan bangsa gelap?”


“Bangsa gelap? Apa itu? Kami tak bertemu dengan siapapun. Kami datang dari hutan yang ada di sana.” Edward menunjuk ke arah hutan kedamaian. “Dan kami baik-baik saja,” lanjutnya.


“Kalian bersenang-senang? Kalian tampak sangat bahagia. Sebaiknya kalian tak bermain lagi di sana terlebih lagi malam hari. Well, aku tak pernah melihat kalian sebelumnya.” Tupai itu membengkokkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. “Biar kutebak, apa kalian kurcaci termuda di Kerajaan Utara?”


“Kerajaan?” balas Edward.


“Kami bukan kurcaci. Kami hanya anak-anak berusia lima tahun dan kami kembar. Tapi, di mana Kerajaan Utara itu?” Lucia merasa bingung. “Aku pikir hanya England yang memiliki kerajaan,” bisiknya ke telinga Edward agar tupai itu tak mendengarnya dan membuat mereka terlihat bodoh.


Tuan tupai tertawa keras mendengar jawaban mereka yang tak tahu keberadaan Kerajaan Utara, terlebih lagi ekspresi mereka saat menjawab pertanyaan. Itu membuatnya terus ingin tertawa. Tuan tupai kemudian menghidangkan roti bakar berselai kacang untuk Edward dan Lucia santap. Roti itu terasa sangat nikmat, lembut dan empuk. Penghuni di sana juga sangat ramah terhadap mereka.


Dari tempat itu, Edward dan Lucia percaya bahwa kentaur, faun, hewan yang berbicara adalah hal yang nyata, mereka bukan hanya sekedar dongeng. Seusai menyantap semua hidangan yang diberikan, mereka kembali mengantuk dan tertidur di atas meja piknik milik tupai itu. Tak berapa lama setelah terlelap tidur, Edward dan Lucia mendengar suara panggilan dari paman Anasca yang terus berulang.


Saat membuka mata, tak ada lagi cahaya hijau, hutan, maupun tuan tupai hanya langit-langit papan kayu yang mereka dapati. Secara bersamaan si kembar itu berkata, “itu hanya mimpi?” Paman Anasca yang sudah berada di ambang pintu tak sengaja mendengarnya dan tersenyum.