
Baru saja melangkahkan kaki masuk ke dalam ruang kelas, mereka sudah mendapatkan ejekan serta sekumpulan gumpalan kertas mendarat ke arah mereka. Sungguh kasihan, kan? Tapi mereka sudah terbiasa dengan hal-hal seperti itu bahkan guru juga tak menegur keras murid lain seolah guru juga ikut meremehkan (mungkin karena sogokan atau semacamnya). Kejadian itu tak berlangsung lama, karena wali kelas sudah memasuki ruangan untuk memberi arahan di akhir semester ini.
“Baiklah, anak-anak. Bagaimana liburan kalian apakah menyenangkan?”
“Tentu saja, Bu Guru.” Anak-anak menjawab dengan kompak.
“Kalian yakin, kalian memiliki liburan yang menyenangkan? Kurasa kalian hanya berdiam dalam rumah itu, bermain bersama anak-anak panti dan satu lagi mendengarkan dongeng fantasi profesor tua?” kata Esmond. Anak laki-laki, teman kelas mereka yang duduk di samping kanan bangku Lucia.
Esmond adalah salah satu murid dari keluarga kaya dan popularitasnya di sana sangat tinggi. Sekali saja kau menyebutkan namanya, siapapun murid dan guru di sekolah itu pasti akan mengenalnya. Namun dia selalu tersaingi jika melawan kecerdasan Lucia dan ketampanan Edward. Itu juga yang membuatnya begitu membenci Edward dan Lucia.
Dia selalu saja menjadi peringkat tiga di kelas karena satu dan dua selalu ditempati Edward dan Lucia. Dan pernah juga sekali, teman sekelas bermain untuk melakukan voting siapa yang tertampan di kelas, hasilnya Esmond berada diperingkat kedua. Kurasa kau sudah pasti tahu siapa yang pertama. Edward dan Esmond sering bertengkar.
“Setidaknya liburan kami lebih berarti dibanding kau. Kau bahkan tak bisa menghabiskan waktu bersama orang tuamu walau kau masih memi—” Lucia tak membiarkan kalimat itu selesai.
“Sudahlah, Ed. Biarkan saja dia mau berkata apa,” pinta Lucia.
“Baiklah-baiklah. Kalian tahu apa yang berbeda di semester ini bukan? Kalian sudah memilih masing-masing minat kalian dan sekarang aku akan mempersilahkan kalian untuk menuju kelas sesuai bidang yang kalian pilih. Sudah akan ada guru lain yang menyambut kalian di sana. Semoga berhasil, anak-anak.”
Tak terasa satu hari sudah berlalu, bel sekolah kembali berbunyi untuk mengakhiri kelas pertama di semester akhir. Hari Senin ini cukup berjalan dengan baik dibandingkan hari-hari yang pernah mereka lalui sebelumnya. Semua siswa berkumpul di terminal horsebus sekolah. Horsebus yang dimaksud di sini adalah kereta bertingkat yang dikendarai oleh kuda (juga dikenal omnibus berkuda yang terkenal pada akhir abad ke-19. Di sini kita akan menyingkatnya dengan bus saja).
Terminal ini hanya terletak di sebrang sekolah mereka saja. Mereka harus berbaris rapi di bawah terminal yang tak memiliki kursi dengan atap yang sudah—ya—jelek—hampir rusak. Jika hujan turun, kau bahkan tak akan dapat berteduh di bawahnya karena hampir di seluruh permukaan atapnya sudah berlubang kecil.
Di sana murid-murid akan menunggu beberapa waktu untuk seorang pria berumur lima puluhan tahun dengan perut buncit dan janggut hitam yang hampir setengahnya sudah berubah menjadi putih, datang untuk mengantar mereka pulang.
Seorang pemuda tiba-tiba saja menabrak Lucia dari belakang yang sedang jalan menuju sebrang sekolah dan langsung berkata, “Katakan maaf padaku!” Pemuda itu tak lain adalah Esmond. Dia benar-benar orang yang suka mencari gara-gara.
"Apa? Kau yang menabrak Lucia! Itupun dengan sengaja, kenapa harus dia yang meminta maaf?” Nada Edward terdengar kesal sekali.
“Baiklah, tidak masalah jika dia tidak mau mengatakannya. Kau bisa saja menggantikannya dan aku masih akan berbaik hati menerimanya.”
“Dasar tidak tahu diri! Kau yang seharusnya melakukan itu! Kau yang dengan senga—" balas Edward kesal dan dipotong oleh Esmond.
"Katakan maaf atau kau akan tahu akibatnya!" Esmond melangkah mendekati wajah Edward.
"Hanya kau yang akan mengatakannya!" tegas Edward.
"Buk!" suara itu terdengar saat Esmond memukul wajah Edward dengar keras. Perkelahian terjadi antara Edward dan Esmond di terminal sekolah.
Murid lainnya berkumpul untuk menonton dan bersorak, “pukul dia—pukul dengan keras. Pukul wajahnya. Pukul hingga dia pingsan.” Namun kau tak akan pernah tahu mereka bersorak untuk mendukung siapa.
"Edward, Esmond, hentikan ini! Apa yang kalian lakukan!" teriak Lucia ingin melerai dengan mulutnya. Mereka tetap saja terus berkelahi, seolah tak mendengar satu katapun yang diucapkan Lucia.
Berbicara saja tentu tak membuat perkelahian itu berhenti begitu saja. Apalagi mereka adalah seorang laki-laki. Ini menyangkut harga diri. Lucia melangkah masuk di antara Edward dan Esmond. "Hentikan ini!" ulangnya sekali lagi.
Saat mendengar kalimat itu terulang kembali, Esmond langsung mendorong Lucia dengan keras dan membuatnya terjatuh ke jalanan beraspal itu. Telapak tangan kiri Lucia terluka. Kemeja yang awalnya putih bersih terpaksa harus mendapatkan noda hitam. Edward yang menyadari hal itu membuat amarahnya semakin menggejolak dan memukul Esmond lebih keras lagi.
Akhirnya, perkelahian itu berhenti saat satpam dan supir bus sekolah (supir horsebus) datang melerai.
"Kau tak apa-apa, Lucia?" tanya Edward khawatir.
"Tidak! Terima kasih padamu. Apa yang kau lakukan tadi?" balas Lucia membersut.
"Dia menabrakmu dan memintamu untuk meminta maaf. Itu sebuah pembelaan diri, Lu. Kau tidak salah dalam hal ini."
"Oh Lucia. Kau selalu saja mengalah pada hal yang seharusnya tidak kau lakukan. Apa kau tidak lelah diperlakukan seperti ini terus? Tidakkah kau tahu kita ditindas selama ini? Aku tak mau selama hidupku terus begini." Edward membalas percakapan dengan raut wajah kesal.
"Edward! Hentikan ini! Aku lelah padamu yang selalu bertingkah seperti anak-anak!"
“Kau saja yang anak-anak.” Edward meninggalkan Lucia di belakang dan langsung memasuki bus.
“Edward!" Sekarang wajah Lucia juga tampak kesal dan menyusulnya masuk.
Lucia ataupun Edward terdiam tak ingin mulai berbicara satu sama lain. Wajah Edward tampak sedikit berantakan. Darah merah tampak terlihat di ujung bibir serta sedikit lebam di daerah pipinya. Hal ini membuat kekesalan Lucia mereda dan memulai percakapan, "Kau terluka, Ed." Lucia meraih sesuatu dalam saku almamater merahnya.
"Aw..." jerit Edward saat Lucia mengelap darah dengan sebuah saputangan putih.
“Ini yang tak aku inginkan. Mengapa kau sangat suka memancing luka-luka ini datang, Ed? Aku merasa bersalah padamu dengan melihatmu seperti ini. Maka dari itu aku bilang membencinya. Seharusnya aku mengatakan maaf lebih awal sebelum kau menjawab Esmond tadi. Ini juga salahku. Dasar Lucia bodoh.”
“Maafkan aku, Lu. Aku sangat marah saat dia memintamu untuk minta maaf. Itukan salahnya sendiri. Dan jangan menghina dirimu sendiri!”
“Itulah yang dia inginkan. Dia ingin memancing emosimu dan berkelahi denganmu. Tidakkah kau lihat dia menabrakku dengan sengaja? Kau sudah mendapat banyak sekali teguran. Haruskah kau juga membiarkan Anasca kembali ke sekolah untuk memohon agar kau tak dikeluarkan kali ini? Esmond keluarga berada, dia bisa mengatasi hal itu dengan mudah.”
“Mengapa kau sangat kuat menghadapi mereka yang memperlakukan kita seperti ini?”
“Mungkin aku hanya kuat di langit yang terang. Hampir setiap malam aku menangis dalam diam. Jika gelap datang, suasana sekolah datang padaku bersama serangan dari mulut mereka. Itu sangat mengusikku. Kurasa air mata menguatkanku.”
“Wah, aku salut padamu.”
“Apa yang kau saluti dari itu?”
Edward dan Lucia saling berbagi perasaan di dalam bus sampai-sampai tak sadar bahwa mereka sudah tiba di rumah. Ini membuat Esmond kembali mengeluarkan kata-kata yang pedas. “Hey yatim piatu, saatnya kalian turun. Lihat, teman-teman kalian sudah menunggu,” katanya. Satu bus mulai tertawa mendengar perkataan Esmond. Edward tak lagi ingin berkelahi dan hanya menarik napas yang sangat panjang, menahan amarahnya untuk tidak keluar.
Anasca seperti biasanya selalu siap menyambut kepulangan keponakannya di depan halaman rumah. Bukan hanya seorang paman yang berdiri di sana, melainkan juga ada anak-anak panti asuhan yang menanti kepulangan mereka (anak-anak itulah yang dimaksud Esmond tadi). Setiap harinya, seusai pulang mereka akan menghabiskan waktu untuk memberikan les, mendongeng, bermain, melakukan hal menarik lainnya bersama anak-anak itu.
"Bagaimana hari kalian di sekolah?" tanya Anasca.
"Tidak buruk. Seperti hari biasanya,” jawab Lucia.
“Dan bagaimana kau bisa mendapatkan luka di tanganmu itu. Edward juga di tepi bibirnya dan lebam itu.”
“Yah, hanya saja tadi ada sedikit masalah dan sudah berhasil diatasi. Edward tadi—”
"Oh … Lucia. Bisakah kau tak membahasnnya?" Edward mengeluh.
“Baiklah. Aku tak akan menanyakannya.”
“Halo anak-anak …” sapa Edward ceria yang sekaligus mengalihkan pembicaraan.
“Apa kabar kalian hari ini, adik-adik?” Lucia juga ikut menyapa. Anak-anak panti mulai menyelimuti kaki hingga perut Edward dan Lucia, meminta salah satu dari mereka untuk mendongeng.
"Ceritakan kami sebuah dongeng, Lucia. Tapi dongeng yang belum pernah kami dengar dari orang lain," pinta gadis kecil berkepang dua.
"Kurasa ini jadwalku untuk menyajikan teh hangat spesial dengan biskuit yang renyah. Semoga berhasil, Adikku." bisik Edward tersenyum, setelah itu meninggalkan Lucia di tengah kerumunan anak-anak.
"Baiklah adik-adik sekalian. Pertama kalian harus menyiapkan tempat untuk mendengarkan dongeng dariku. Ambil karpet merah di tempat biasa kita menyimpannya dan tunggu hingga aku kembali. Aku akan mengganti seragam kotorku ini dan mengambil bukunya, setuju?" kata Lucia, berlutut menyamakan tinggi para anak panti asuhan.