The Story Of Ferindya

The Story Of Ferindya
Stycky dan Dillighost



Kita akan berpindah pada Lucia sekarang. Dinginnya hembusan angin mulai menusuk kulit Lucia, membuat pori-pori disekujur kulit tangannya mengembang. Ia terbaring di atas salju empuk dan benar saja yang dikatakan Royabiz kalau Lucia terbangun di Timur.


Saat ini Lucia sudah bangun dan ia terkesiap karena dirinya di tempat seperti ini. Saat ia bangkit dari tidurnya, setengah dari pakaiannya berwarna putih (salju lengket di atasnya) begitu pula dengan rambutnya. ‘Dimana ini?’ Lucia bertanya kepada dirinya sendiri dalam batin. "Edward... Anasca....” Lucia berteriak dengan keras. Namun tak ada satu orangpun yang menjawab.


Tempat itu benar-benar sepi nyaris menjadi hutan berhantu. Lucia berjalan melewati jalan putih yang tertutup ratusan juta butiran salju. Berjalan pelan dan melihat berbagai patung hewan es yang terdiam aneh.


“Siapa yang membuat patung-patung es ini? Mengapa dibuat dengan ekspresi mengerikan? Tak mungkin mereka berdiam di udara terbuka sedingin ini hingga membeku. Atau mungkin saja seseorang menyihir mereka menjadi patung es.”


Lucia menghentikan langkah kakinya dan terdiam memikirkan sesuatu. “Oh tidak!" kata Lucia panik. “Apa aku bermimpi?” Lucia segera mencubit tangannya dan tentu saja rasanya sakit. “Tidak-tidak. Ini bukan mimpi dan ini adalah Kerajaan Timur dalam dongeng itu. Bagaimana aku bisa sampai di sini?” Lucia berlari dari tempatnya berdiam diri, berharap tak ada yang melihatnya sekaligus mencari keluarganya, Edward dan Anasca.


Akan tetapi sejauh apapun larian yang dibuatnya ia tetap hanya akan melihat patung-patung es hewan itu dan membuat tubuhnya lelah karena salju yang ada di sana terlalu tebal dan membuat kaki-kakinya harus sedikit terbenam(tentu saja akan membutuhkan banyak energi untuk berlari di atasnya).


Suasana terasa semakin mencekam dengan pikirannya yang mengada-ngada. ‘Halo,’ kata itu selalu saja muncul dalam benak Lucia. Ia berpikir apa yang akan terjadi pada dirinya jika tak menemukan Edward dan Anasca. Dia benar-benar merasa kesepian. Tak ada seorang pun atau satu pohon (setidaknya) ia dapati untuk bicara ataupun bertanya ke mana arah menuju Kerajaan Utara.


Giginya mulai menggeletuk. Ia mulai meniup-niup kedua telapak tangan dan menggosoknya untuk menimbulkan kehangatan, akan tetapi itu tak bekerja seperti yang dia inginkan. Usaha yang dia lakukan sama seperti menyalakan lilin disaat angin topan menerjang.


"Gong... Gong...." suara itu tiba-tiba saja menusuk pendengaran Lucia yang hening. Gadis itu terkejut dan terjatuh karena kehilangan keseimbangan saat hendak melihat ke belakang.


"Maafkan aku jika membuatmu terkejut, bukan maksudku untuk melakukannya."


"Ya, aku tahu. Tidak masalah." Lucia menatap anjing berbulu putih itu ketakutan dan berhati-hati. "Kau bisa bicara? Bagaimana kau melakukannya?" sambungnya.


"Ya, aku bisa. Sejak aku lahir, aku sudah bisa berbicara mungkin sama sepertimu. Ya dengan bantuan orang tuaku pastinya."


"Mustahil rasanya. Ini benar-benar nyata,” kata Lucia pelan.


“Maaf, apa yang kau katakan? Aku tak mendengarnya,” tanya anjing putih itu.


“Oh tidak-tidak. Bukan apa-apa. Aku hanya ingin bertanya, apa kau berasal dari Kerajaan Timur ini?” tanya Lucia tegang.


"Kau mengajukan pertanyaan seolah baru saja datang ke negeri ini. Apa yang kau lakukan di sini? Bukankah kurcaci sepertimu harusnya lebih aman jika berada di Utara?" tanya kembali anjing itu dengan nada lembut.


"Kau anjing yang baik. Aku tersesat." Lucia mendirikan kembali tubuhnya yang jatuh di atas salju. "Bisakah kau menunjukkan jalan ke Kerajaan Utara?" pinta Lucia.


“Kau terlihat aneh (sama seperti perasaan Royabiz). Kau bahkan tidak tahu jalan ke arah utara dan kau tak terlihat seperti kurcaci. Kau mirip dengan wajah ratu Alexa. Apakah kau pu—”


Seekor serigala hitam muncul secara tiba-tiba dari belakang semak-semak yang berada di samping anjing putih dan langsung memotong pembicaraan, "Tentu saja, kami akan membantumu untuk sampai ke Kerajaan Utara.”


Lucia sedikit kaget akan kehadiran serigala hitam itu. Wajahnya terlihat seperti serigala yang ganas tapi matanya dapat membuatmu merasa bahwa dia serigala yang baik dan lemah lembut. Kemudian Lucia berterima kasih atas bantuan yang diberikan oleh anjing dan serigala.


Tak banyak basa basi, dia berjalan mengikuti serigala hitam dan anjing putih itu. Seiring mereka berjalan, anjing putih memperkenalkan dirinya yang memiliki nama Stycky.


"Namamu sangat unik, Styc. Bagaimana denganmu wahai serigala yang perkasa?” Lucia terlihat ceria sepanjang jalan saat berbincang dengan anjing putih itu.


"Tidak bisakah kalian diam dan terus berjalan dengan cepat!"


"Oh. Apa aku melakukan kesalahan?"


"Santai saja temanku. Kau hanya perlu menyebutkan namamu saja. Dia dipanggil Dillighost, serigala jantan yang kuat dan pemberani," sela Stycky sembari mengayunkan ekornya ke kanan dan ke kiri.


"Dillighost?" Itu namanya?" tanya kembali Lucia mengkonfirmasi.


"Itu namaku. Aku tahu itu nama yang buruk. Terdapat ghost di sana yang berarti hantu. Kau sudah puas sekarang?"


"Tidak-tidak. Aku tak mengatakan itu nama yang buruk. Kalian memiliki nama yang unik. Aku menyukainya. Dunia menyimpan begitu banyak rahasia itu yang selalu dikatakan oleh pamanku. Menurutku ghost yang ada pada namamu memiliki rahasia besar yang sangat berarti di dalamnya. Kau hanya belum menemukan saat untuk mengetahuinya, Dillighost."


"Aku juga berharap seperti itu."


“Dan sekali lagi, aku sangat berterima kasih pada kalian.”


Sudah hampir satu jam lamanya mereka menempuh perjalanan, Lucia terus menggosok-gosok lengan atasnya dengan kedua tangan yang bersilang. Akhirnya, gedung tinggi tampak terlihat dari kejauhan di balik pepohonan. Gedung itu memiliki tiang yang runcing di atasnya, terbuat dari kristal hitam. Lucia sangat menikmati perjalanan bersama teman barunya, Stycky dan juga Dillighost. Akan tetapi, Dillighost lebih serius dan tak banyak berbicara, jika dilihat dari wajahnya Lucia dapat menyadari bahwa ada sesuatu yang sedang dipikirkan oleh serigala hitam itu.


Saat hampir tiba di perbatasan kerajaan, Lucia merasa hal aneh terjadi dan menghentikan langkah kakinya. Dia mulai meragukan kedua temannya dan bertanya-tanya dalam hatinya apakah Stycky dan Dillighost membawa dia ke arah yang tepat. Bukankah Kerajaan Utara tidak mengalami kegelapan seperti yang tertulis dalam buku dongeng itu? Dia merasa bahwa mereka telah menipunya.


"Kalian membohongiku! Ini bukan Kerajaan Utara tetapi Kerajaan Selatan. Apa yang kalian lakukan? Mengapa kalian melakukan ini padaku? Bukankah kita teman?" tanya Lucia dengan alis tertaut, penuh dengan kekecewaan.


"Ya, benar kita adalah teman," jawab Dillighost dengan tatapan penuh rasa bersalah.


"Lalu apa yang akan kalian lakukan dengan membawaku ke tempat ini?"


"Kami akan menukarkanmu kepada penyihir Kerajaan Selatan untuk mendapatkan keluarga kami kembali. Kau adalah syarat yang harus kami penuhi." Dillighost tak berani menatap wajah Lucia begitu pula Stycky.


"Tapi kenapa harus aku? Stycky kau tahu itu bukan perbuatan yang benar. Aku pikir kalian benar tulus mengantarku." Lucia hampir menangis.