The Story Of Ferindya

The Story Of Ferindya
Apa yang Terukir di Tangan part 2 : What now?



"Terangnya membuat kami dapat melihat langit biru dan tebalnya awan-awan putih," ujar Pully sembari melihat ke langit. “Bisakah kau melakukannya lagi?”


"Ya, Lu. Aku saja memalingkan wajah dari cahaya itu, tetapi aku sempat melihat serigala itu. Dia seperti meledak, terbuai menjadi butiran abu hitam. Kau tahu—seperti—seperti—boosh dan hilang."


"Cahaya? Langit biru? Serigala yang menjadi abu? Aku tak pernah tahu bagaimana itu bisa terjadi. Aku hanya memejamkan mata dan menutup wajah dengan kedua tanganku. Entahlah, aku tak mengerti yang kalian maksud."


"Tapi cahaya itu keluar saat kau mengangkat kedua tanganmu, Putri Lucia," ungkap Georgogio merasa yakin itu berasal dari Lucia.


'Kedua tanganku?' bantin Lucia bertanya. "Tunggu-tunggu ... aku rasa ini karena simbol matahari yang terukir di tanganku. Matahari bersinar, bukan? Memberikan cahaya untuk dunia, dan cahayanya juga dapat menghilangkan kegelapan di malam hari. Itu dia! Serigala itu pasti hanya buatan dari sihir gelap penyihir, maka dari itu dia musnah menjadi abu karena cahaya. Tapi—bagaimana cahaya itu keluar? Aku bahkan tak membaca mantra apa pun." Alis Lucia tertaut diucapan terakhirnya.


"Bahas saja nanti. Kita harus meninggalkan tempat ini dan pergi menuju Kerajaan Utara dan menemui Anasca di sana, secepat yang kita bisa. Itu adalah pesan dari Caleberz sebelum dia, Eillyet dan ibu kami dibawa oleh dua serigala lainnya yang datang dengan serigala tadi," kata Georgogio.


"Apa? Bagaimana bisa mereka membawanya?" tanya Edward terperanjat.


"Tentu saja, sihir membantu mereka. Serigala itu berubah wujud menjadi raksasa besar bermata satu."


"Cyclops ... apa yang terjadi selanjutnya?" sela Lucia.


"Kedua raksasa itu memasangkan sebuah cincin besar yang terbuat dari tubuh ular di leher mereka kemudian menghilang. Raksasa itu kembali menjadi serigala, melolong dan pergi. Namun aku tak tahu ada serigala ketiga yang akan menyerang kalian."


"Mengapa hanya mereka? Kenapa para cyclop tidak membawa gubuk ini dan juga kalian?"


"Gubuk itu telah dilindungi oleh sihir. Caleberz yang memasangnya agar tak ada seorangpun dapat melihat gubuk itu, kecuali Caleberz mengizinkannya."


"Itu sebabnya para cyclop tak mengetahui keberadaan kami. Baiklah ayo kita pergi dari sini. Kita dalam bahaya sekarang. Oh ya sebelum itu ikuti aku, Ed. Aku akan mengobatimu. Mereka punya banyak obat-obatan di sini."


Kembali melangkah memasuki gubuk, Lucia mengambil sebuah toples kaca berwarna hijau bertuliskan ‘obat untuk serangan hewan’. Obat yang berada dalam toples itu bertekstur seperti balsam, sedikit lebih cair namun tidak basah. Lucia hanya perlu mengoleskannya saja pada bagian yang terluka kemudian dibalut dengan perban.


Ketiga anak kelinci sudah menunggu mereka di luar lengkap dengan dua senjata yang akan diberikan pada Edward dan Lucia. Senjata itu milik Caleberz dan Eillyet sebelumnya. Satu pedang serta sebuah busur lengkap dengan anak panah.


"Apa kau bisa menggunakannya, Ed?" Lucia khawatir akan lengannya yang baru diobati.


"How about you, Lu? tanya Edward kembali dengan senyuman yang tertempel di bibirnya. Ia mulai menampakkan kebiasaannya yang selalu menggoda Lucia itu.


Lucia hanya membalas candaan dengan senyuman manis miliknya serta gelengan kepala. Ia mengambil senjata dari tangan para kelinci dan memberikan salah satunya pada Edward yang layak ia miliki yaitu pedang.


"Ayo, kita berangkat!"


***


"Itu adalah Edward dan Lucia.”


“Siapa mereka?” Kurcaci itu terdiam sebentar dan langsung melanjutkan, “Apa mereka adalah Edward dan Lucia dengan yang kita punya? I mean, are they the prince and the princess?”


“Yes. Mereka mulai bergerak menuju ke sini. Teruskan pembuatan senjata. Waktunya akan segera tiba. Dan jangan beritahu pada siapapun."


"Baik, Yang Mulia." Kurcaci itu pergi meninggalkan Anasca di ruang aula besar tepatnya di tempat takhta Kerajaan Utara.


Anasca tersenyum kecil menatapi kursi-kursi itu (singgasana) dan berkata, "Kekuatan persaudaraan akan merubah segalanya. Sejarah besar akan tertulis dan kejahatan akan tertunduk di depan kebaikan."


Pagi menuju siang, siang berlalu menjadi sore, dan sore pun berganti malam. Lebatnya salju-salju itu terus jatuh menyelimuti negeri gelap yang malang ini. Semakin jam berputar menjadi malam, kedinginan selalu saja terasa mengganas, menusuk-nusuk tulang dan membangunkan rambut-rambut mungil yang ada di kulit.


Pakaian yang dikenakan Edward dan Lucia berhasil melindungi mereka dari dingin itu. Sebuah pakaian ajaib yang dapat melindungi tuannya dari cuaca ekstrem. Cukup mengesankan.


Bulu-bulu putih para kelinci tampak menebal tertutup butiran salju.


Langkah kakinya mulai melambat. Kaki-kaki mungil mereka tampak gemetar, tentu saja akan terjadi karena mereka tak memiliki pakaian ajaib seperti Edward dan Lucia untuk menghangatkan tubuh. Satu cara yang mereka lakukan adalah bersembunyi di belakang pundak Edward dan Lucia yang menggunakan sebuah jubah merah maron bertopi, diambil di belakang pintu gubuk yang sebelumnya tergantung rapi.


Jubah merah (yang bentuknya seperti jubah super hero) itu biasanya digunakan oleh Caleberz dan Eillyet saat bepergian ke Selatan untuk melihat aksi para penyihir. Sayangnya, mereka benar-benar ditangkap sekarang.


Perjalanan sudah berlalu sejak sore menjadi malam. Tak ada pemandangan indah seperti yang pernah tergambar diimajinasi Lucia saat membaca buku dongeng Kerajaan Timur. Pemandangan yang sebenarnya adalah sebuah hutan kecil yang sangat gelap.


Semak-semak, pepohonan besar, burung hantu serta kelelawar-kelelawar yang bergantungan di pohon layaknya kamera pengawas yang selalu mengawasi setiap langkah dan gerak. Mereka memilih untuk istirahat, menyandarkan diri di sebuah pohon yang membeku. Dahannya tak terlalu besar dan tak juga terlalu ramping. Daun-daun yang diselimuti salju es terlihat sangat lebat dari bawah hingga mampu menjadi payung teduh gratis bagi mereka.


Api menyala redup di sebuah kayu yang dihasilkan oleh Edward dan Lucia dengan percikan api dari gesekan dua buah batu yang kebetulan mereka temukan tak jauh dari pohon itu. Mereka terlihat sangat kelelahan, bahkan perut para kelinci sedang bernyanyi bersamaan meminta sesuap makanan. Apa yang akan mereka makan di tempat gelap seperti ini? Di sebuah negeri dengan sedikit penghuni bahkan terancam tidak ada sama sekali. Di mana mereka akan mendapatkannya atau meminta? Tentu saja ada. Lucia membawa sebuah tas selempang putih sederhana berbahan kain yang sudah sedikit kumal.


Tas itu berisikan beberapa wortel dan roti yang sudah sedingin es untuk santapan malam ini. Untung saja kecerdasan Lucia tak ikut membeku—jika tidak—akan sangat mengerikan jika kau mati kelaparan.


Makan malam itu adalah makan malam paling mengerikan yang pernah terjadi dalam hidup, dilakukan di tengah hutan dengan tingkat kewaspadaan ekstra untuk menghindari kekuatan jahat menyerang. Bahkan jika kau menyuruhku untuk tinggal di dalamnya dengan imbalan, aku pasti akan memikirkannya hingga tiga kali dan kemungkinan besar masih akan menolaknya. Karena bisa saja keberuntungan tak memihakmu dan kau dapat masalah.


Usai makan malam, Edward, Lucia dan para anak kelinci tertidur pulas larut dalam mimpi hitam. Pullylyliyolee dan Georgigio tertidur di pangkuan kaki Lucia yang terbentang lurus, sedangkan si sulung Georgogio berada di pangkuan Edward, tepat di tengah lubang kaki yang bersila.


Tangan kanan Edward yang semulanya memegang bagian punggung Georgogio terjatuh ke bawah tepat pada salah satu akar pohon sandarannya yang timbul di atas permukaan. Tak ada hal yang mengejutkan atau istimewa sampai salju-salju mendadak berjatuhan ke bawah mengubur kaki mereka yang sedang tertidur.


"Edward—Lucia—bangun!" panggil Georgigio, yang pertama terkena salju..