
Hal selanjutnya yang terjadi adalah Edward yang tak melihat apapun. Pandangannya hanya hitam karena matanya tertutup rapat, tertidur pulas. Kemudian daun-daun telinga mereka mulai bergerak pelan dengan sendirinya tapi bukan karena mimpi buruk, melainkan suara burung yang berkicau dengan riang gembira, menyambut pagi hari yang cerah dengan rintik-rintik salju tipis yang tersisa dari musim dingin berjatuhan dengan gemetar, menandakan musim semi akan tiba.
Sinar matahari mulai terbit dari ufuk Timur negeri ini. Bunga-bunga mulai memekarkan kelopaknya, berniat membangunkan para peri yang sedang tertidur di dalamnya. Tubuh mereka mungil, sayapnya indah berkilau dan pakaian unik yang berbeda warna menjadi dasar ciri khas dari para peri itu. Mereka mengedipkan mata sebanyak tiga kali dan perlahan mulai terbang keluar dari kelopak bunga sembari merenggankan kedua tangannya ke atas.
Peri dengan kostum merah muda tercengang melihat kearah Deeymerall. Ada sesuatu di sana yang mengagetkannya. Peri itu mengajak peri lainnya untuk melihat kesana dengan menunjuk hal yang ia lihat. Suara mereka saat berbicara terdengar seperti—suara—cicit—cicit, sulit untuk dijelaskan dan kita tak akan pernah memahaminya.
Terdapat orang asing yang tergeletak di Deeymerall. Seorang wanita yang cantik dan pria tampan, para peri mulai menerka apakah benar mereka adalah pangeran dan putri yang sering dibicarakan oleh Anasca sejak ia kembali. Salah satu dari mereka kemudian terbatuk-batuk membuat para peri terkejut dan terbang menjauh atau menjaga jarak dari orang asing itu.
Lucia terduduk keheranan, "Edward, bangun," kata Lucia menepuk-nepuk tangan kiri Edward yang masih belum tersadar dari tidurnya.
'Apakah kita berada di Kerajaan Utara?' lanjut batin Lucia menerka dengan yakin. "Ed ...." Lucia kembali memanggil saudaranya.
Akhirnya Edward terbangun, juga terkejut melihat langit yang biru dan awan yang mengambang indah di atas matanya. Edward mendudukkan tubuhnya, mendapati puluhan peri mengitari dan sedang menatapi mereka dengan penuh pertanyaan. Kecanggungan itu berlangsung selama beberapa menit tanpa ada kata-kata satupun dan hingga suara menghilangkan rasa canggung di antara mereka.
"Selamat datang Edward. Selamat datang Lucia," cetus Anasca dari arah belakang. Edward dan Lucia yang sedang tercengang menatapi para peri mulai memberhentikan kedua bola mata mereka yang bergerak melihat sekeliling dan perlahan melebarkan bibir untuk tersenyum.
"Anasca," sorak mereka serentak sembari memutar pandangan ke belakang, menuju suara.
Anasca tersenyum lebar dan mengulangi perkataannya, "Selamat datang Edward dan Lucia. Putra dan putri dari raja William dan ratu Alexa." Kedua kakak adik itu yang sebelumnya memberikan senyuman mulai mengurangi takarannya. Mereka tak menyangka bahwa suara itu berasal dari seekor singa jantan dengan bulu dan surai yang lebat nan indah, berkibar oleh hempasan sepoi angin, serta goresan yang melintasi mata kanannya berbentuk vertikal persis seperti sosok profesor yang mereka kenal.
Singa itu sangat besar, wajahnya terpampang ekspresi yang lembut. Aku jamin kalian tak akan merasa takut untuk mencoba mendekatinya dan mengelus bulu serta surai indah miliknya.
“Lihatlah goresannya, Lucia,” bisik Edward sangat dekat dengan daun telinga Lucia. “Aku akan tanya kepadanya,” sambungnya lagi.
"Siapa kau wahai Singa yang indah? Mengapa kau memiliki suara dan bekas luka yang persis seperti paman kami?" tanya Edward.
"Kurasa singa itu adalah dia, Ed. Singa itu adalah Anasca, paman kita.”
“Bagaimana mungkin? Paman adalah manusia,” bantah Edward berbisik dengan sangat hati-hati.
“Aku ingat semua yang kubaca dari buku dongeng Kerajaan Utara. Itu semua nyata. Mereka tidak mengada-ada menyebut kita seorang pangeran dan putri kerajaan. Aku juga mengingat bahwa pemimpin Kerajaan Timur adalah singa jantan yang bernama—itu semua benar adanya," jelas Lucia sambil mendirikan tubuhnya dan juga Edward.
"Kau benar Lucia. Semua yang kau baca itu benar adanya. Akulah yang membuat dongeng-dongeng itu sesaat kalian masih kecil, kalian ingat? Untuk buku terakhir yang berjudul Kerajaan Utara, aku membuatnya dengan sedikit sentuhan sihir yang kumiliki. Itulah mengapa tulisan di buku itu tampak bercahaya saat kau membacanya terakhir kali."
"Kau benar, Anasca. Tulisan itu bercahaya. Tapi kenapa sebelum-sebelumnya tidak?"
"Mengapa kau tidak menceritakan semua ini sejak awal, Anasca?" sela Edward.
"Kalian akan menjawab pertanyaan kalian sendiri. Katakan padaku saat kalian berdua menemukan jawabannya."
"Dengan semua kejadian ini, bisakah kami menemui orang tua kami?" Edward kembali melontarkan pertanyaan. “Sebenarnya ini semua masih sulit untuk dipercaya. I don’t know, but—ini benar bukan mimpi, kan?” sambungnya sedikit terbata-bata.
Hati Anasca tergelitik mendengar ucapan Edward hingga membuatnya mengikik, "Kau sudah menemui salah satunya. Wanita yang kau temui sebelum kau terbangun di Deeymerall."
"Ya, wanita itu juga mengatakan bahwa dia ibu kami dan aku juga tak merasa asing didekatnya. Bagaimana kau bisa mengetahui semuanya?"
"Dunia menyimpan begitu banyak rahasia, Ed. Aku yakin itu adalah kalimat yang akan dikatakan oleh Anasca untuk menjawab pertanyaanmu tuan Edward," kata Lucia.
Anasca kembali tertawa kecil, "Kau benar, anakku. Biarku beritahu kalian, sebenarnya bukan hanya dunia, materi yang terisi di dalamnya juga menyimpan begitu banyak rahasia," jelasnya, "come with me. Akan kutunjukkan dunia kelahiran kalian."
Para peri yang mengelilingi Edward dan Lucia mulai mendekat dengan lemah lebut dan terbang dengan elegan di antara mereka berdua. Hal menakjubkan sedang peri-peri itu lakukan. Mereka berputar-putar di udara dengan keindahan yang mempesona, menyisakan jejak keajaiban di setiap gerakan mereka.
Seperti mantra yang tak terucap, busana mereka yang kotor dan basah berubah menjadi bersih, rapi, dan kering. Busana baru itu terbuat dari serangkaian bunga dan dedaunan yang cantik, mencerminkan keindahan alam yang melingkupi mereka. Seperti mahkota yang melambangkan keagungan, para peri dengan penuh kelembutan menempatkan mahkota sederhana di atas kepala mereka masing-masing.
"Look at yourself, Lu. kata Edward dengan penuh kagum. "Kau terlihat begitu cantik dan menawan seperti biasanya, tetapi kali ini lebih dari itu. Kau seperti bidadari yang turun dari surga."
Lucia tersenyum lebar mendengar pujian dari saudaranya, "So are you, Ed. You look so cool and—extremely handsome. Aku tak pernah tahu jika kau sememikat ini pantas saja kau populer. Kau benar-benar memanah hatiku kali ini, " jawabnya gembira dengan senyuman paling indah miliknya.
Edward dan Lucia saling tertawa, merasa begitu bahagia dengan penampilan baru mereka. Mereka merasa terhormat oleh hadiah yang diberikan para peri, merasakan keajaiban yang tersembunyi di dalam diri mereka muncul ke permukaan. Mahkota bunga dan dedaunan di atas kepala mereka adalah simbol dari kekuatan dan keanggunan yang ada dalam diri mereka.
"Itu semua adalah turunan dari Raja William dan Ratu Alexa. Sekarang kalian sudah siap. Ikuti aku," pinta Anasca lembut dan bibirnya yang tersenyum manis.
"Kemana kita akan pergi?" tanya Lucia penasaran. Mereka berjalan bersama dengan Edward di sisi kanan Anasca dan Lucia di sisi kiri.
"Aku akan menunjukkan hal yang belum pernah kalian lihat dan rasakan."
Singa jantan itu dengan anggun memimpin Edward dan Lucia melintasi samping istana yang megah. Mereka melangkah masuk ke dalam halaman yang luas, di mana rumput hijau bergoyang lembut oleh hembusan angin. Bunga-bunga dengan warna-warni yang mencolok tumbuh dengan teratur, menciptakan taman yang memesona. Kupu-kupu dan burung beterbangan dengan bebasnya di antara pepohonan yang berjajar rapi, sementara daun-daun pohon melambai-lambai menyambut kedatangan sang pangeran dan putri.
Tidak jauh dari situ, terlihat sekelompok kelinci mungil yang duduk dengan nyaman di dahan Royabiz. Mereka bermain dengan gembira, berlomba-lomba merebut sebuah wortel yang digelindingkan di antara mereka. Alice, sang ibu kelinci, menunjukkan sikap keibuan saat mengawasi anak-anak kelinci yang bermain riang.
Semua pemandangan ini begitu menakjubkan, memukau, dan menyiratkan misteri yang tak terhingga. Bagi Edward dan Lucia, yang belum pernah merasakan kehidupan di negeri kelahiran mereka, hal ini adalah keberuntungan yang luar biasa.
Dengan penuh kekaguman, Edward dan Lucia berjalan menyusuri halaman istana, menghirup segarnya udara dan merasakan kehangatan matahari yang menyinari langkah mereka. Mereka merasa seperti terbangun dalam dunia baru yang penuh dengan keajaiban dan keindahan yang tak terbayangkan sebelumnya.
"Can you believe this, Lu?" tanya Edward dengan suara terpana. "Semua ini begitu indah. Seperti mimpi yang menjadi nyata."
Lucia mengangguk, matanya berbinar-binar. "I can't believe it either, Ed. Negeri ini sungguh ajaib. Ini adalah tempat di mana impian menjadi nyata dan keajaiban benar-benar ada."
"Mustahil rasayanya, kita benar-benar berada di Kerajaan yang agung ini."
"Ya. Aku bahkan tak pernah bermimpi memasuki dunia seperti ini, Lu. Ini sungguh luar biasa."
"Kalian menyukai tempat ini?" tanya Anasca.
“Tentu saja!” jawab keduanya bersamaan.
“Kalian tahu, jika kalian sudah pernah datang sebelumnya.”
“Benarkah?” Edward terkejut.
“Kapan?” tanya Lucia.
“Coba kalian ingat-ingat lagi.” Percakapan tak terjadi untuk beberapa saat.
“Oh! Jangan bilang—” Lucia sepertinya menemukan jawaban. Kalian pasti masih ingat saat masih kecil mereka pernah terbangun di sebuah tempat dan menemukan penghuni yang sama seperti dalam dongeng yang diceritakan Anasca saat malam badai petir (ada di bab pertama).
“Bukankah itu hanya mimpi?”
“Wah! Bahkan kau juga tahu tentang pagi itu, Anasca? Kau tahu, aku selalu menganggap itu nyata. Walaupun sepertinya bukan, tapi aku percaya itu benar terjadi. Tempat itu sangat indah.”
“Ternyata kalian masih mengingatnya. Aku senang jika kalian percaya. Negeri ini akan tampak lebih indah jika seluruh bagian terang dan tenang layaknya di sini."
"Apa yang harus kita lakukan untuk mengembalikan semua itu?" tanya Edward.
"Itulah yang ingin aku bicarakan bersama kalian. Aku butuh bantuan kalian berdua."