
Kamu mau pulang!?" Tanya Adam saat Mega meraih motornya dan hendak mengendarainya.
'Menurut bapak saya mau ngulek cabe gitu ngambil sepeda motor!? Gak berbobot banget pertanyaannya' Batin Mega.
Ia jengkel karena bosnya itu terus mengganggunya dengan rayuan. Walaupun Mega tahu itu adalah kegemaran si bosnya. Adam memang terbiasa memberi gombalan pada karyawannya. Namun saat itu terjadi padanya, Mega merasa sedikit risih.
"Iya lha pak! Saya gak punya tempat tujuan lain selain rumah!" ucap Mega ketus.
"Mau saya antar?!"
Mega mendengus "Pak, motor saya mau taruh dimana donk pak kalau saya nebeng di bapak?!"
"Gak apa, tinggal aja disini. Besok pagi biar saya yang jemput kamu!" ujar Adam lagi.
"Ah gak pak! Biar saya pulang sendiri" tolak Mega lagi.
"Sebenernya saya mau makan malam dengan kamu dan Guna" ujar Adam lagi.
Mega menghela nafas, "Pak!Seorang laki-laki yang beristri makan malam dengan seorang janda dan anaknya, apa itu keliatannya lazim?!"
"Siapa yang bakalan tahu kalau saya suami orang dan kamu janda?!" Ucap Adam dengan percaya diri.
'Aduh bener-bener!' Mega menepuk jidat.
Dia kewalahan menjelaskan persepsinya pada bosnya yang playboy ini.
"Pak, ini gak bener! Serius deh. Meskipun maksud bapak mungkin baik cuman ngajakin saya dan anak saya makan malam. Tapi orang lain belum tentu berpikiran sama"
****
Adam duduk di sisi sofa, menonton sebuah acara televisi yang ia tidak tahu sebenarnya apa. Matanya memang menatap ke arah layar kaca, namun hatinya pergi entah kemana. Ia makan kentang goteng dan burger sendirian. Ia menatap makanan itu dengan jijiknya.
Tidak ada yang tahu kehidupan Adam yang sesungguhnya selama ini. Mereka hanya tahu bahwa Adam memiliki segalanya dalam hidupnya. Wajah dan tubuh yang rupawan, kekayaan yang melimpah, istri yang cantik dan menawan. Tapi tahukah mereka bahwa Adam tidak memiliki hal yang paling berharga!?
Selama hidupnya, ia selalu makan sendirian. Ia harus membayar seseorang untuk menemaninya. Itulah alasan kenapa Adam memerlukan asisten pribadi yang menemaninya pergi kemanapun ia pergi, mengingatkan jadwalnya setiap hari dan makan siang dengannya.
Orang bilang 'Tidak ada gading yang tak retak', dalam hidup manusia pasti ada satu hal yang tidak ia miliki di dunia. Begitu juga dengan Adam yang konon hidupnya sempurna.
Keluarga Adam memang konglomerat. Namun dari kecil Adam tidak pernah mendapatkan kebahagiaan. Tidak pernah merasakan kasih sayang kedua orang tua. Ibu Adam mengalami depresi berat karena Ayah Adam tukang selingkuh kelas kakap. Di sekolah, Adam bagai sapi perah. Orang-orang hanya akan menjadi temannya saat ia mau memberi uang. Begitu juga dengan wanita. Mereka hanya datang karena kekayaan yang Adam miliki. Bukan karena cinta.
Tadinya Adam merasa beruntung menemukan Zahra diantara ribuan wanita yang hanya mengincar uangnya saja. Namun semua itu tidak lagi menjadi sebuah keberuntungan saat Zahra menikam Adam dari belakang. Zahra berselingkuh. Adam ingat sekali saat ia melihat Zahra bermesraan dengan seorang pria yang merupakan kekasih gelapnya.
"Apa-apaan ini?!" Bentak Adam.
"Pah!? Kamu disini!?" Tanya Zahra gelagapan sembari merapihkan pakaiannya yang berantakan.
"Siapa dia?!" Tanya Adam lagi.
"Apa yang.. kenapa kamu..?!" Adam tidak mampu berkata-kata.
Selama bertahun-tahun Zahra adalah hidupnya. Meskipun Zahra divonis mandul, Adam tetap setia terhadapnya dan menyembunyikan semua kebenaran ini darinya. Tapi apa yang ia dapat setelah semua kasih sayang dan pengorbanannya?!
"Pah! Aku minta maap! Selama ini kamu baik dan perhatian. Kamu suami yang sempurna. Tapi hanya satu kekurangan kamu yang bikin aku terluka. Kamu gak bisa kasih aku anak!"
Seperti petir yang menggelegar, kata-kata Zahra membuat Adam terluka. 'Ia berselingkuh karena aku gak bisa kasih anak!?'
Kata-kata Zahra membuat Adam merasa bahwa dirinya adalah penjahat dan Zahra adalah korbannya.
"Pah! Aku gak minta apa-apa dari kamu! Kamu bisa marah sama aku atau apa. Tapi aku cuma minta tolong lepasin aku, aku tidak akan mengganggu kamu. Kamu bisa cari wanita lain untuk kamu!" ucap Zahra panjang lebar
"Aku juga gak mungkin bisa mencintai kamu lagi, hatiku milik Anton sekarang" tambahnya.
Benar-benar terasa menyedihkan sekali. Adam bahkan tidak mampu berkata-kata saat Zahra memilih pergi bersama kekasihnya itu. Dia hanya diam terpaku dan merasa seolah-olah ia adalah penjahat yang membuat istrinya memilih jalan sesat seperti perselingkuhan untuk menemukan kebahagiaan.
Meskipun bertahun-tahun berlalu, ingatan tentang kejadian itu membekas kuat di pikiran dan hati Adam. Ia bertemu dengan seorang wanita yang membuatnya memilih jalan setan.
"Wow!! Kayaknya kamu lagi galau nih!" Ujar seorang perempuan dengan dress mini hitamnya. Ia menatap dengan penuh minat ke arah Adam yang memegang gelas whisky.
Adam tidak menggubris, ia memalingkan mukanya. Di dalam benaknya, hanya berputar kejadian saat istrinya berselingkuh dengan pria laknat itu.
"Galau kenapa?! Boleh donk cerita!" ucap gadis itu lagi sambil menuangkan Whisky ke gelas yang dipegang Adam. Awalnya Adam tidak menolak atau menerima kehadiran gadis itu, namun seiring dengan berjalannya waktu dan ia mulai mabuk. Adam menceritakan segala kegalauannya hari itu.
"Wah! Istri kamu **** sekali ya, meninggalkan suami seganteng kamu! Aku mau lho mengisi kekosongan kamu malam ini.." ucap gadis itu sembari menyentuh lembut paha Adam.
"Tidak.. aku bukan lelaki seperti itu.." ucap Adam.
Wanita itu tertawa, suara tawanya yang renyah membuat Adam sedikit tersadar.
"Jangan naif sayang! Istrimu duluan yang menghianati kamu!" gadis itu mulai meremas paha Adam. "Kenapa kamu tidak coba melakukan hal yang sama padanya dan liat apa dia merasakan rasa sakit seperti yang kamu rasakan?"
Adam tidak ingat dengan jelas kejadian malam itu. Yang ia ingat hanyalah saat terbangun ia ada di sebuah kamar hotel dengan kondisi tubuh yang seperti habis berperang. Adam terus mengingat kata-kata dari gadis itu saja. Bahkan wajah dari gadis itu ia lupa.
Sejak hari itu Adam mulai bermain-main dengan banyak wanita berharap istrinya merasakan sakit yang sama dengannya. Namun Nihil, perasaan mereka berdua berbeda. Adam mencintai Zahra sedangkan Zahra tidak. Zahra tidak begitu terpengaruh saat Adam mulai mengencani wanita lain. Zahra bahkan merasa bahwa jalan yang akan dilaluinya untuk bercerai semakin mudah. Zahra berusaha menggugat cerai Adam dengan alasan Adam berselingkuh.
Adam akhirnya tahu bahwa tindakannya tidak berarti apapun bagi Zahra. Zahra hanya ingin bercerai dan menikahi Anton yang sangat ia cintai saat ini. Adam mulai mengalami depresi saat memikirkan bahwa ia akan ditinggalkan sendiri dan mereka yang menyakitinya akan hidup bahagia disana. Beberapa kali ia datang ke club, mencari sembarang wanita yang mau menemani malamnya. Namun hatinya tetap tidak tenang juga. Sampai pada puncaknya ia berfikir bahwa dia akan membuat semua yang menyakitinya menangis juga.
Adam menggunakan uangnya untuk membatalkan gugatan cerai istrinya dan membuat Zahra menderita karena tidak bisa mencapai keinginannya.
"Semua terlihat menyenangkan di awal melihat dia menangis setiap malam. Tapi kenapa sekarang terasa hambar?!" Gumam Adam sembari menyandarkan tubuhnya di sofa.
****