The Seducer

The Seducer
Hal yang Dibenci



Hanya butuh waktu seminggu bagi Mega memiliki alasan untuk membenci bosnya. Adam bilang Mega tidak akan dipaksa untuk melakukan hal yang dia tidak mau lakukan. Tapi apa ini?!Kenapa mereka disini?


Sekarang mereka berada di sebuah hotel mewah sedang melakukan reservasi kamar hotel.


"Pak Adam, lagi?!" Ucap Mega protes.


"Iya! Kamu kan sudah tahu!" Ujar Adam dengan senyum miring di bibirnya.


"Bapak bilang saya tidak akan dipaksa melakukan hal yang saya tidak mau!?" Mega sekarang sudah merasa tidak takut lagi pada Adam. Selain karena Mega tidak suka akan kebiasaan Adam yang akhir-akhir ini dia ketahui, Mega juga sudah tidak merasa takut akan 'aura' bosnya itu.


Adam memiliki penampilan yang dingin dan angker namun hati dan pembawaannya sangat baik dan ramah. Di luar dugaan dia juga orang yang humoris dan santai.


"Saya kan tidak meminta hal yang aneh-aneh! Saya cuma minta kamu memesan kamar hotel" ujar Adam diiringi senyum usil.


"Tapi saya tahu bapak akan melakukan apa! Pak, hari ini sudah yang ketiga kalinya" ujar Mega.


"Wah kamu tidak tahu ya! Sebelum saya punya cabang sebanyak ini, saya bisa melakukan ini minimal 5 kali dalam sehari" ujar Adam sembari manggut-manggut seolah-olah dia sangat bangga akan apa yang ia lakukan.


"Pak! Bapak sudah pu0nya istri lho" ujar Mega lagi.


"Orang lain saja boleh melakukan ini masak saya tidak?!"


Mega benar-benar kesal. Mentang-mentang sebagian orang di luar sana selingkuh terus yang lain boleh melakukannya gitu?!


"Pak, tidak semua hal bisa ditiru. Kenapa bapak melakukan sesuatu kalau sudah tahu hal itu adalah hal yang buruk. Jika orang lain melakukan bunuh diri apa bapak juga akan bunuh diri?!" ujar Mega kembali mengeluarkan argumentasi.


Adam tertawa geli "Diantara semua asisten pribadi saya, cuma kamu lho yang paling banyak protes pada apa yang saya lakukan"


Mega terdiam, ia tahu bahwa seharusnya ia tidak ikut campur pada apa yang bosnya lakukan. Tapi hatinya tergelitik melihat penghianatan yang dilakukan oleh Adam. Mega membayangkan perasaan Ibu Zahra jika mengetahui suaminya main serong dengan banyak perempuan. Pasti hati bu Zahra remuk redam sama seperti apa yang Mega rasakan saat mengetahui penghianatan Yoga.


Melihat Mega yang terdiam, Adam kembali berbicara "Terimakasih ya! Berarti kamu benar-benar peduli pada saya" sambil menepuk pundak Mega. Adam kemudian berbalik dan melangkah mendekati lift.


Mega hanya diam mematung menatap punggung Adam yang bergerak menjauh darinya. Di dalam hati Mega terkecamuk berbagai perasaan. Salah satunya adalah kemarahan. Sama seperti Yoga, ia adalah orang yang baik namun hanya satu kesalahan yang membuat ia menjadi buruk. Itu adalah ketidak setiaan.


Hari ini saja Adam sudah bertemu dengan tiga wanita yang berbeda di hotel yang berbeda pula. Selama seminggu ini tidak bisa dihitung berapa banyak wanita yang sudah dikencaninya. Mega sampai bingung menghafalnya.


"Haii, kamu asistennya Adam kan?!" Ujar seorang wanita yang berusia mungkin di pertengahan tiga puluhan. Dandanannya sedikit menor dengan dress ketat berwarna peach yang membalut tubuh jenjangnya.


"I-iya!" Sahut Mega gelagapan. Ia baru saja tersadar dari lamunannya. "Kamar berapa?!" Ucap wanita itu lagi.


Mega kemudian menyerahkan sebuah catatan yang ditulis oleh Adam. Wanita itu tersenyum dengan sumringah dan langsung berlenggok menuju lift. Mega mengamatinya dengan seksama. Kalau tidak salah ia sudah pernah bertemu wanita itu beberapa kali. Diantara banyaknya wanita yang berkencan dengan Adam hanya ada dua wanita yang paling sering ditemuinya, dan wanita ini adalah salah satunya.


Mega kemudian membuka catatannya. Tiwi Sandrika. Nama itu kemudian terbersit di benak Mega. Ia ingat beberapa hari yang lalu Adam memintanya mencatat sebuah catatan tentang wanita favoritnya. Yang pertama bernama Dewi Amalia dan yang kedua adalah Tiwi Sandrika.


"Malem mbak!!" Sapa Mega saat Dinda membuka pintu rumahnya "Maap mbak, aku pulang malem lagi"


Dinda tersenyum manis. Ia juga senang Guna main-main dirumahnya. Setelah kematian anak keduanya, Dinda merasa sangat kehilangan. Untungnya akhir-akhir ini ada Guna yang dititipin dirumahnya.


"Gak apa kok Mega! Mbak seneng lagi! Guna itu anteng banget. Si Desta suka banget main sama dia" Dinda mengajak Mega masuk ke dalam rumahnya.


"Oh iya mbak! Nih aku tadi beli makanan, nanti makan sama-sama bareng Mas Febri" ucap Mega sembari menyerahkan bungkusan di tangannya.


"Kamu gak usah repot-repot gini! Oh iya, si Guna udah bobok. Kamu yakin mau ajak Guna pulang?!" Guna sedang tertidur pulas bersama Desta. Mereka saling berpelukan. Lucu sekali.


"Iya mbak! Nanti juga kalo kena suara motor dia bakalan bangun!" Ujar Mega.


"Kamu yang sabar ya! Mbak gak bisa bantu banyak" Ucap Dinda terlihat menyesal.


Dinda adalah sepupu dari Yoga. Ia cukup dekat dengan Mega dan sudah menganggap Mega sebagai saudaranya sendiri "Mbak masih gak nyangka Yoga setega itu sama kamu"


"Yah.. mungkin sudah jadi takdir aku mbak! Aku juga kurang bisa sabar dan legowo sih. Istri yang lain mungkin akan mempertahankan pernikahannya. Tapi aku malah enggak.." ucap Mega sembari tersenyum getir.


Ia sudah berfikir berpuluh-puluh kali sebelum akhirnya memutuskan untuk melepaskan Yoga. Dia juga sempat berfikir untuk mempertahankan rumah tangganya. Tapi melihat Yoga lebih condong pada Desi, Mega merasa ia hanya akan menjadi duri dalam daging bagi hubungan dua sejoli itu. Ia juga tidak mau menyakiti dirinya sendiri lebih lama lagi.


Mega masih mengingat perkataan Yoga sehari setelah Yoga ketahuan selingkuh.


"Aku tahu aku salah. Tapi aku gak bisa bohongin hati nurani aku Mega" Yoga tertunduk. Ia tidak berani menatap mata istrinya. "Aku jatuh cinta sama Desi"


Jleb! Mega sudah sangat sakit melihat penghianatan yang dilakukan oleh Yoga dan mendengar langsung perasaan suaminya hanya seperti menabur garam di atas lukanya.


"Sekarang terserah kamu. Apa kamu mau memaafkan aku atau tidak, karena yang pasti aku akan menikahi Desi. Dengan atau tanpa persetujuan dari kamu"


"Maksud kamu apa mas?!"


"Jika kamu menerima maka dia akan jadi istri kedua aku tapi jika kamu menolak maka aku akan menceraikan kamu"


Detik itu juga hati Mega hancur sehancur-hancurnya. Meskipun tidak mengatakannya dengan jelas, makna dari kata-kata Yoga menyebutkan bahwa ia lebih memilih Desi dari dirinya. Mega benar-benar merasa bahwa langit runtuh di atas kepalanya saat itu. Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Mega saat itu. Hanya isak tangis yang keluar.


"Kamu harus tetep kuat Mega, Mbak yakin Tuhan memiliki rencana lain untuk kamu. Pasti Tuhan sudah menyiapkan orang yang lebih baik dari Yoga buat kamu" ucap Dinda tulus menyadarkan Mega dari flasback masa lalunya.


Dinda berkata seolah-olah sedang mendoakan Mega. Namun tanpa diketahui oleh Dinda dan Mega, perkataan Dinda memang benar. Karena kisah cinta Mega bukannya berakhir disini, itu bahkan baru dimulai saat ini.


****