The Seducer

The Seducer
Makan siang



Santi tahu benar siapa bosnya itu, tapi melihat 'pemandangan' itu di depan mata sungguh membuat jantung Santi mencelos hingga ke bawah. Santi menghela nafasnya berkali-kali. Santi hendak memberi tahu Adam bahwa Aldi, temannya dari bandung datang untuk menemuinya.


Memang Santi jarang bersopan santun saat masuk ke ruangan bosnya itu. Namun selama ini Santi tidak pernah melihat ada seorang wanita pun berani 'begitu' di ruangan bosnya. Wanita ini sungguh sesuatu.


"Mbak! Mbak tahu gak! Mbak liat gak!?" Ujar Santi sembari mengatur nafas. "Tadi aku masuk ke ruangannya pak Adam gak pake ketok pintu. Terus.. terus...terus.." Santi tak sanggup melanjutkan kata-katanya. Bayangan pemandangan itu kembali melesat di benaknya.


"Apa sih?! Kamu ngomong apa?!" Ucap Mega kebingungan.


"Pak Adam dan wanita itu.. dia.. mereka.." Santi tidak sanggup berkata-kata. Ia kemudian menguncupkan kedua tangannya dan saling menempelkannya.


Mega tertawa geli melihat tingkah Santi.


"Kamu ngapain masuk ke ruangan bos gak pakek ketuk pintu?!" Ujar Mega di selingi tawa.


"Mana aku tahu mereka sedang begituan!!" Sergah Santi. "Besok-besok kasih tanda kek!!"


Mega hanya tertawa. Ia tahu hal ini akan terjadi. Ia sudah berusaha menasehati bosnya itu tapi jika ternyata tidak digubris, mau bagaimana lagi?! Untung saja yang maauk kesana adalah Santi bukan orang lain. Jika itu Zahra?! Mega tidak bisa membayangkan sehancur apa perasaan bu Zahra jika melihatnya.


Mega teringat akan rasa sakit yang ia dapat saat memergoki suaminya berselingkuh. 'Itu pasti sangat menyakitkan! Kenapa para pria tidak pernah paham bahwa kesenangan bagi mereka adalah sumber rasa sakit istrinya'


"Ddrrtt.. drrtt..drrtt.." sebuah panggilan masuk ke hape Mega. Itu adalah panggilan dari Yoga. Mega mengernyit bingung. 'Kenapa dia tiba-tiba telepon?!'


"Halo" sapa Mega.


"Apa hari ini kamu ada waktu?!"tanya Yoga langsung tanpa menjawab salam dari Mega.


"Ada apa ya?!"


"Bisa kita bicara sebentar?! Nanti jam makan siang kita ketemu di cafe biasa" ajak Yoga.


"Tunggu! Kamu mau bicara soal apa?!" Tanya Mega lagi. Bagaimanapun Yoga telah menjadi suami orang lain. Hal yang salah jika Mega terus menemuinya. Meskipun Yoga adalah ayah dari anaknya, tapi tetap saja mereka tidak bisa terus-terusan bertemu seperti sepasang lajang.


"Bisa kita ketemu dulu baru kita omongin!?" Tanya Yoga.


Mega menghela nafas. Ada sebuah perasaan enggan menyerangnya. Ia tidak ingin membuat masalah pada dirinya dan Yoga. Bertemu Yoga hanya menyakiti hatinya dan membuatnya terlihat 'gatal' karena mendekati mantan suaminya lagi.


"Kalo bisa diomongin di telepon, kita omongin di telepon aja ya!! Aku gak mau bikin orang salah paham" jelas Mega.


"Mega, kita hanya bertemu di cafe. Kita tidak melakukan hal aneh. Kenapa kamu takut ada yang salah paham!? Kamu sedang menjaga hati seseorang?!"


Mega menghela nafasnya lagi. "Aku tidak sama denganmu. Bagaimanapun kamu harus menjaga perasan istrimu. Dia pasti kesal kalau tahu kamu menemuiku. Aku hanya tidak ingin ada salah paham. Aku bukan wanita yang mampu menyakiti hati wanita lain." sahutnya pelan.


"Aku hanya butuh waktumu sebentar! Aku tidak akan meminta bertemu lagi setelahnya. Hanya kali ini saja" ujar Yoga bak sedang memelas.


Mega menghela berat. 'Apa ini hal yang sangat penting?! Mana mungkin dia ingin menemuiku jika bukan hal penting!?' Batin Mega.


"Okey" sahut Mega kemudian sembari menutup telepon.


Pada jam yang ditentukan, Mega datang ke cafe yang disebutkan Yoga. Saat dia memasuki cafe itu, Mega ingat betul kenangan apa yang ia lalui dengan Yoga selama bertahun-tahun di cafe itu.


Senyum merekah di bibir Yoga saat melihat sosok Mega yang muncul di pintu masuk. Yoga melambai, sama seperti saat mereka kencan pertama kali.


'Sial! Untuk apa dia mengajakku kesini!?' Batin Mega.


"Duduk dulu Mega!" ucap Yoga ramah.


"Ada apa?!" Tanya Mega langsung. Ia tidak perlu basa-basi yang tidak penting.


"Kita makan dulu yuk. Ini kan jam makan siang, aku belum makan" ucap Yoga.


Mega menghela nafas, "Yoga, kamu sudah punya istri. Makan sianglah bareng dia disini. Aku cuma sebentar. Aku akan kembali bekerja setelah ini!" ujar Mega menjelaskan.


"Apa?! Kamu sudah mulai bekerja?! Kamu bekerja di perusahaan mana?!"


"Yoga, please jangan mengalihkan topik pembicaraan. Tolong sebutkan mau kamu apa?!" Ucap Mega lagi.


Yoga menghela nafas panjang, ia bingung tidak tahu bagaimana harus menjelaskannya pada Mega.


"Sebelumnya, maap aku lancang! Apa kamu.. datang ke acara pernikahanku dengan pak Adam?! Adam Bramastya?!"


"Iya, aku datang dengan pak Adam" ucap Mega jujur.


"Kamu tahu kan dia pria yang sudah beristri?!"


Mega mengangguk. 'Tentu saja, Dia kan atasanku!' Batin Mega.


"Mega, kamu gak tahu pak Adam itu seperti apa. Dia.. dia bukan pria sembarangan. Dia suka main perempuan" ucap Yoga. "Aku minta kamu jauhin dia. Tolong jangan dekat-dekat dengan pria semacam itu"


Mega mengernyit. 'Ini anak maksudnya apa coba?!' Batin Mega. Gimana gak dekat-dekat?! Wong dia asisten pribadinya Adam. Memang bisa gitu kerja jarak jauh kayak orang LDR?!


"Kamu mungkin ngeliat sisi baik dia saat ini tapi asal kamu tahu, dia bukan pria yang setia pada satu wanita! Tolong jangan berdekatan dengan dia" ucap Yoga lagi.


Mega semakin bingung, tapi dia kemudian mengiyakan perkataan Yoga agar bisa cepat pergi.


"Iya, baiklah" ucap Mega.


Yoga tersenyum simpul saat mendengar jawaban yang ia inginkan. "Kalau gitu.. kamu mau makan bareng aku sekarang?!"


****


Adam bangkit dari ranjang, meraih bungkusan rokok di nakas dan mengambil sebatang untuk dihirupnya. Ia tidak menyalakannya hanya menyelipkannya diantara kedua jarinya. Adam berjalan ke arah jendela di depannya. Pemandangannya sungguh indah, hiruk pikuk kota yang dipenuhi kemacetan. Adam berbalik kemudian menatap tubuh yang masih lemas di atas ranjang.


Seruni tertidur begitu lelap setelah pertempuran mereka selama beberapa jam. Adam menatapnya tanpa minat, menghela nafas kemudian membalikkan arah pandangannya lagi ke jendela. Ia lelah, apapun yang ia lakukan ia tidak pernah menemukan 'kedamaiannya'.


Sebanyak apapun wanita disisinya tidak mampu memuaskan jiwanya.


"Aku harus apa?!" Gumam Adam perlahan.


"Sayang...?!" Suara lembut nan manja itu memanggilnya. Rupanya Seruni baru saja terjaga dari tidurnya. Dengan pelan ia berdiri mendekati Adam. Tubuh jenjangnya itu melangkah dengan santai ke arah Adam. Ia langsung menggelayutkan kedua lengannya di bahu Adam.


"Mau lagi?" Bisik Seruni mesra.


Adam melepaskan lengan Seruni dari tubuhnya kemudian melangkah memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai. Dengan santai ia berjalan ke arah kamar mandi.


"Oh iya. Uangnya aku tranfers ya!" Teriaknya tepat sebelum memasuki pintu kamar mandi.


Wanita itu semua sama. Mereka hanya menganggap uang sebagai raja. Demi uang mereka akan menjual segalanya. Hanya sedikit diantara mereka yang benar-benar mahal dan tidak mampu dibeli dengan uang sebanyak apapun juga. Bagi Adam wanita seperti itu langka. Dan ia bahkan tidak mampu menemukannya.


Ia sudah rapih sekarang, siap meninggalkan hotel dengan mobilnya. Namun tiba-tiba Seruni menghalanginya.


"Sayang, aku nebeng donk" ucapnya.


"Kamu naik taxi aja ya! Aku buru-buru" ucap Adam. Tanpa mendengar tanggapan dari Seruni, ia langsung tancap gas.


Entah kenapa Adam merasa jengkel, moodnya selalu buruk setelah melakukan 'hal itu' dengan wanita. Ia tidak pernah merasakan hal yang baik setelahnya. Adam lebih menikmati saat menggoda dan merayu mereka ketimbang saat 'bermain' dengan mereka. Ia terbengong-bengong di jalan dan tiba-tiba teringat dengan Mega yang sering mengomelinya jika sedang mengemudi. Adam melirik jam tangannya, 'Waktunya makan siang' batinnya.


Adam menghubungi Mega hendak mengajaknya makan siang bersama namun ponselnya tidak aktif. Akhirnya ia menghubungi Santi melalui telepon kantor.


"Santi, Mega mana?!" Tanya Adam langsung.


"Mbak Mega tadi keluar pak! Katanya makan siang. Sekejap lagi juga balik dia" ujar Santi.


"Oh! Oke" sahut Adam sembari segera menutup panggilannya.


Adam kemudian melajukan mobilnya ke arah kantor. Tadinya ia akan makan siang tanpa Mega. Namun mendengar Mega akan kembali ke kantor, alangkah baiknya jika ia menjemput asisten pribadinya itu dan mengajaknya makan siang bersama. Masa bodoh Mega sudah makan atau belum, Mega tidak mungkin menolak perintah bosnya kan?!


Saat Adam sampai di depan ruangannya, Mega terlihat murung di posnya. Ia terbengong-bengong seperti manusia tanpa nyawa. Adam tertawa geli melihatnya. Apa Mega terkejut mendengar rumor 'insiden' di dalam ruangannya?! Pasti Santi sudah menggosipkannya. Anak itu kan tipe ember bocor.


"Mega!" Panggil Adam.


Mega terlonjak. Ia segera berdiri, "Ada yang bisa saya bantu tuan!?" Ucapnya.


Adam tertawa geli "Kamu sigap juga ya!"


"Eh.. pak Adam!? Ada yang bisa saya bantu pak!?" Tanya Mega.


"Kamu sudah makan belum!? Temenin saya makan donk!!" Ajak Adam.


"Oh.. saya sudah makan siang pak pake burger sama kentang goreng tadi" sahut Mega.


"Oh!" Ucap Adam "Tapi saya gak lagi ngajakin lho. Saya perintahkan kamu ikut saya makan siang"


Mega mengernyit, beberapa saat ia terpaku. Ia masih suka terpana dengan sikap atasannya itu yang berubah-ubah setiap waktu. Namun akhirnya Mega mengikuti langkah Adam yang melangkah keluar.


Adam mengajak Mega kembali ke cafe dimana ia menemui Yoga tadi. Itu membuat Mega sedikit tidak nyaman. 'Apa semua orang kaya suka kafe ini ya?!'


"Kenapa kamu bengong?!" Tanya Adam.


Mega menggeleng cepat, "Tidak pak! Saya tidak bengong. Saya cuma melamun"


Adam tertawa, "Kamu mikirin apa sih!?"


"Ah ndak pak!" Ucap Mega.


"Kalau kamu mau mengomeli saya seperti biasa, ayo silahkan! Saya akan dengarkan" ujar Adam lagi.


'Apa?! Mengomelinya?! Untuk apa?' Batin Mega bingung.


"Kenapa saya harus mengomeli bapak?!" Tanya Mega kemudian.


"Ada hal yang saya lakukan tadi pagi, apa kamu tidak mau mengomentarinya?!" Tanya Adam lagi


"Bukannya kamu paling suka mengomentari hal semacam itu"


Mega merenung, 'Apa hal yang terjadi tadi!? Apa ada yang terlewat?!' Lama Mega mengotak-atik otaknya untuk mengingat hal apa yang bosnya maksud. Kemudian ia berdecak saat menemukan maksudnya


"Oh.. yang itu!! Iya ya.."


Adam mengernyit, kenapa itu tidak terlihat begitu penting. Melihat ekspresi Mega yang B aja membuat Adam penasaran. Biasanya kalau ketemu cewek lain aja dia udah ngomel-ngomel, apalagi kalau yang semacam ini seharusnya Mega double ngomel donk.


"Kamu gak marah?!" Tanya Adam.


"Hah?! Kenapa saya mesti marah coba?!" Tanya Mega.


"Kan biasanya kamu ngomelin saya kalau saya selingkuh dari istri saya" ujar Adam.


Mega kemudian tertawa "Saya sadar sesuatu pak! Kalau hal semacam itu sudah menjadi niatan seseorang, segigih apapun orang lain untuk menghalanginya maka tidak akan berhasil. Itu harus ada niatan dari diri bapak sendiri"


Adam tertawa "Jadi kamu menyerah nih ceritanya?!"


"Saya sudah berusaha untuk mengingatkan bapak. Tapi kalau bapak tidak mau menggubrisnya, saya tidak mungkin memaksa kan. Yang berhak untuk hal ini sebenernya kan bu Zahra" ujar Mega.


"Kamu.. apa kamu gak mau jadi yang berhak?!" Ucap Adam pelan.


Mega yang sedang menyantap makananya dengan santai hampir tersedak, ia kemudian menatap wajah bos di depannya itu. Adam tersenyum dengan mata yang seolah-olah memandang Mega lekat-lekat. Bak tersetrum, itulah perasaan Mega saat beradu mata dengan Adam.


"Bapak ngaco!" Sergah Mega kuat-kuat. Ia berusaha menyingkirkan perasaan aneh yang menggelitiknya.


"Saya serius.." gumam Adam pelan sembari mengulum senyum.


"Bapak benar-benar ya! Apa semua asisten bapak, bapak goda seperti ini juga?!" Tuduh Mega.


"Coba saya ingat-ingat dulu.." Adam terlihat berusaha mengingat "Yang cantik-cantik saja sih"


Mega tertawa sinis "Memang asistennya bapak ada yang jelek gitu?!"


"Masalahnya sih.. semua asisten saya harus cantik" ucap Adam diiringi tawa. "Kalau gak cantik gak mungkin jadi asisten saya"


****