
Guna menatap dengan bingung ke arah dua orang yang duduk di depannya. Ia tahu mereka adalah ayahnya dan tante Desi. Tapi ia tidak suka melihat saat mamanya berubah sedih.
"Kenapa papa kecini!?" Tanya Guna lagi.
Yoga terlihat terkejut sejenak, kemudian berkata "Papa mau rayain ulang tahun kamu sayang. Papa bawa kado!" Yoga menyerahkan sebuah kado besar yang ia bawa kepada Guna.
"Gak mau!!" Tolak Guna "Papah pergi aja!! Guna gak mau sama papa. Papa jahat bikin mama nangis!!"
Yoga terdiam, melirik ke arah Mega yang juga merasa tidak nyaman dengan perkataan si kecilnya. Sedangkan Desi terus tersenyum. Ia merasa senang. Berarti selama ini Mega pura-pura baik-baik saja padahal setiap hari nangis darah dirumah. Kasian!
"Sayang.. Guna sayang gak boleh gitu! Gak baik ya! Mama sudah pernah bilang kan kita tidak boleh marah pada orang lain. Guna gak boleh marah! Papa kan papanya Guna, Guna harus sayang papa!" ucap Mega sembari memangku anaknya.
Guna memalingkan wajahnya cepat. Guna ngambek.
"Ayo sayang terima hadiah dari papa. Hari ini kan hari ulang tahun Guna. Guna tidak boleh marah dan sedih, Guna harus ceria!!"
Guna menatap mamanya dengan tatapan memelas. Mega tersenyum ke arahnya dengan lembut "Ayo sayang" sambil mengarahkan tangan anaknya menerima hadiah dari Yoga.
"Bilang apa?!" Tanya Mega.
"Makasih pa" ucap Guna enggan.
"Papa juga beli kue nih! Guna mau tiup lilin bareng papa?!" Tanya Yoga.
Belum sempat Guna menjawab, suara ketokan menyela percakapan mereka.
"Tok..tok..tok.."
'Siapa lagi ini!?' Pikir Mega. Ia bergegas melangkah ke arah pintu dan mengintip lewat jendela.
"Pak Adam!?" Gumamnya.
"Mega! Mega!" Panggil Adam.
Mega kemudian membukakan pintu, segera setelah pintu terbuka yang terlihat adalah senyum sumringah Adam. "Hai! Saya datang merayakan ulang tahun si kecil!" Ujar Adam.
"Pak! Saya kan.."
"Kamu gak lagi sendiri kan! Ada tamu juga! Kenapa kamu takut saya masuk!?" Ucap Adam.
Sebelumnya Mega menolak Adam ikut merayakan ulang tahun anaknya karena dia tidak mau tetangga kosannya berpikiran negatif sebab ia membawa tamu pria masuk kosannya. Namun sekarang kan ada Yoga dan Desi juga. Jadi seharusnya itu tidak menjadi masalah kan?!
Sebenarnya Adam tadi hendak pulang dan tidak ingin menganggu waktu Mega serta anaknya yang sedang bahagia. Namun di jalan ia melihat toko mainan. Adam tergerak membelikan hadiah kecil untuk Guna.
'Beli aja sekarang, besok tinggal titip Mega biar dikasih anaknya' batin Adam.
Dan tanpa diduga-duga ia bertemu dengan Yoga serta Desi disana. Mereka juga sedang memilih mainan anak-anak. Sebenarnya mereka sedang berdebat sih.
"Mas! Kamu ngapain sih pake mau kesana segala. Biar dititip di aku aja. Aku yang kasih Mega besok" Ucap Desi jengkel. "Ada aja alesan kamu buat bisa ketemu Mega!"
"Kamu kenapa sih!? Aku gak mau ketemu Mega. Aku mau ketemu Guna! Hari ini dia ulang tahun, aku juga mau merayakan bareng dia. Gimanapun dia anak aku !" ujar Yoga kesal.
"Aku tahu kok kamu sebenernya masih penasaran kan apa Mega ada hubungannya sama pak Adam itu!?" Desi tambah jengkel. "Kamu kenapa sih mas peduli soal hal itu! Dia kan udah bukan istri kamu lagi, dia mau jalanin hubungan dengan siapa saja kan terserah dia!"
"Iya aku tahu!! Terserah dia mau sama siapa aja tapi pokoknya jangan sama Adam. Boleh siapa saja asal bukan Adam!!" Bentak Yoga.
"Kamu kenapa sih mas!? Lagian gak mungkin kali cewek selevel Mega bisa bikin pak Adam tertarik!!"
"Hallo Guna, kamu ingat om!?" Sapa Adam.
Guna mengangguk, ia tersenyum "Om ganteng mobil bagus kan!? Yang antar mama sama Guna"
Dheg! Yoga terkejut.
'Apa?!pak Adam sempat mengantar Guna dan Mega!? Kata Mega, dia akan menjauhi pak Adam. Terus sekarang apa?! Kenapa pak Adam bisa mengantarnya pulang!?"
****
"Pak!" Ujar Yoga memanggil Adam saat mereka sudah keluar dari rumah Mega.
"Hmn, iya kenapa?!" Sahut Adam penuh senyum.
"Apa bapak tertarik pada Mega!?" Tanya Yoga terus terang.
"Iya" sahut Adam singkat.
Yoga sedikit terkejut mendengar kata-kata Adam yang sangat berterus terang. Yoga pikir Adam akan berkelit.
"Tolong pak! Jangan dekati Mega" ucap Yoga serius.
Adam tertawa kecil "Kenapa memang!? Apa dia istri seseorang!? Dia single kan sekarang!?"
"Pak! Mega memang single tapi bapak bukan single. Bapak sudah punya istri!! Saya tau sepak terjang bapak! Saya mohon jangan sakiti Mega" ucap Yoga lagi.
"Siapa bilang saya mau menyakiti Mega?!" Kata Adam. Ia kemudian mendekat dan berbisik di telinga Yoga. "Saya mau membawa dia menuju ke Surga kenikmatan!"
Yoga terkejut, ia menatap Adam dengan nanar. Namun Adam tidak terlihat gentar, ia malah tersenyum miring ke arah Yoga.
"Kamu bilang saya pria beristri?! Terus kamu apa?!"
Yoga terdiam, ia terpaku tidak bisa melawan perkataan Adam. Sejak melihat Mega bersama Adam di acara resepsi pernikahannya, Yoga merasa tidak tenang. Ia terus memikirkan apa Mega memiliki hubungan dengan Adam. Bukan masalah jika itu Adam atau yang lainnya, tapi yang membuat Yoga tidak tenang adalah kemungkinan bahwa cinta Mega yang tidak lagi untuknya.
Adam tersenyum miring menatap ketidak berdayaan Yoga di depannya. Ia pun berbalik dan meraih kunci mobilnya. Dengan segera Adam melajukan mobilnya meninggalkan Yoga yang hanya bisa menatap bayangannya.
****
'Boleh siapa saja asal bukan Adam!?' Adam teringat perkataan Yoga di toko mainan itu. Ia tertawa.
"Memang kenapa dengan diriku!?" Gumamnya.
'Cewek selevel Mega gak bisa bikin Adam tertarik!?' Kata-kata Desi pun terngiang lagi di benak Adam.
Memang Mega kenapa?! Apa menurut wanita itu Mega tidak cantik!? Apa Mega terlihat tidak seksi!? Adam kembali membayangkan penampilan Mega di benaknya.
Mega itu gadis yang sederhana. Ia bahkan tidak bisa berdandan. Ia menggunakan pakaian yang sangat kuno, ia selalu ingin terlihat sopan. Itu sebabnya ia tidak terlihat seksi. Bukan karena tubuhnya yang tidak bagus, hanya karena ia tidak menonjolkannya. Lalu kenapa wanita itu mengira Mega bukan gadis yang mampu membuatnya tertarik!?
Mega juga bukan gadis yang jelek. Ia cantik bahkan saat tanpa menggunakan make up seperti gadis-gadis lainnya, itu sebabnya kenapa Adam memilihnya sebagai asisten pribadinya. 'Karena ia cantik!'
Adam menatap pada Seruni di sampingnya yang sedang terlelap. 'Ketimbang Seruni, mungkin Mega jauh lebih menggoda untuk dijamah. Lalu kenapa wanita itu berfikir sebaliknya?!' Pikir Adam.
****