The Seducer

The Seducer
Aura Permusuhan



Mega menatap dengan panik Santi yang ada di sebelahnya. Mereka saling melirik seperti mengirim kode "gimana ini!?"


Dua orang wanita cantik dan seksi datang untuk menemui Adam. Mereka terlihat tak saling mengenal dan sebenarnya ada aura permusuhan di antara mereka. Mega dan Santi tahu betul siapa kedua perempuan ini. Yang pasti mereka adalah pacar Adam.


"Gimana ini mbak Mega?!" Bisik Santi.


"Pak Adam sudah bisa dihubungi?" Mega balas berbisik.


Santi menggeleng cepat.


Mega melirik dengan gelisah. Ia mulai menyadari siapa dua wanita di hadapannya. Yang satu adalah wanita yang kemarin yang bernama Tiwi Sandrika. Dan yang satunya lagi adalah Dewi Amalia. Yang satu wanita berumur 36 tahun dan yang satunya lagi adalah gadis berumur 26 tahun. Mereka saling mengamati diam-diam.


Tiba-tiba Mega dikejutkan oleh suara getaran hapenya. Adam menelepon.


"Kenapa Mega?! Saya masih dirumah!Kamu sudah kangen sama saya?!" Kelakar bosnya.


"Aduh pak Adam! Situasinya genting banget tau!!" Ujar Mega jengkel. "Kedua wanita favorit bapak lagi ada di kantor nih nungguin bapak!!"


"Oh!? Masak sih?! Wah.. seru donk!" Ucap Adam santai.


"Aduh! Bapak kok bisa-bisanya bercanda di saat kayak gini sih?!" Ucap Mega tambah jengkel "Saya kudu apa sekarang pak!?"


"Kamu diem aja! Suruh mereka nunggu, lima belas menit lagi saya dateng"


"Apa?! Bapak gak salah?! Bapak mau dateng!? Bisa jadi perang dunia nanti disini, pak!!" Ucap Mega mulai emosi. Ini orang kok santai banget ya selingkuhannya bedua pada nongol.


"Kamu tenang aja Mega. Saya bisa atur semua" setelah mengatakannya, Adam langsung menutup teleponnya. Membuat Mega terdiam melongo bak orang ****. Setiap hari ia selalu dikejutkan oleh tingkah polah bosnya itu.


"Gimana mbak?!" Bisik Santi lagi.


"Katanya pak Adam bakalan dateng 15 menit lagi" Mega balas berbisik.


Meskipun telat sekitar tiga puluh menitan, Adam datang dengan senyum ala iklan pasta giginya. Wajahnya tidak menyiratkan kekhawatiran saat melihat dua wanita duduk di depan kantornya.


"Mas Adam!" Pekik keduanya bersamaan. Keduanya terlihat terkejut dan saling memandang. Mega dan Santi yang menonton sedang merinding disco. Bak melihat adegan film horor di bioskop.


"Eh, kalian sudah datang! Sudah lama menunggu?! Ayo.. kita bicara di ruanganku" Adam mengajak kedua wanita itu masuk ke ruangannya.


Selama tiga puluh menit berlalu tidak ada suara pecahan benda ataupun gemerisik yang membuat curiga. Mega dan Santi masih nerdiri dengan tegangnya di luar kantor. Mereka takut akan terjadi perang di dalam sana. Apa lagi yang terjadi jika dua orang wanita memperebutkan seorang pria?!


Namun semua yang ditakutkan oleh Mega dan Santi tidak terjadi, Tiwi dan Dewi keluar dengan damai dari dalam ruangan Adam. Mega yang penasaran langsung masuk ke dalam ruangan Adam segera setelah bayangan Dewi menghilang.


"Pak! Bagaimana tadi?! Apa yang terjadi?!"


Mega mengamati sekujur tubuh bosnya itu. Tidak ada luka atau memar di tubuhnya, baju dan rambutnya juga tidak kusut. Seluruh ruangan rapi tanpa ada satu benda pun yang terlihat miring.


Melihat respon Mega yang heboh, Adam tertawa geli "Kamu maunya gimana?! Pasti kamu nunggu terjadi sesuatu tadi ya?!"


"Pak saya sudah sport jantung di luar sana sama Santi tauk!" Ucap Mega jengkel. Di saat begini juga bosnya masih bisa bercanda, benar-benar sifat yang sangat menjengkelkan untuk Mega.


"Saya kan sudah bilang, saya bisa atur semua" Adam mengedipkan sebelah matanya bermaksud menggoda Mega yang memasang wajah masam.


Mega hanya geleng-geleng kepala, ia membatin 'Mana bisa saya merasa terindimidasi sama bapak! Toh aura dingin dan angker bapak sudah luntur!'


"Menurut kamu, diantara mereka berdua siapa yang lebih cantik?!" Tanya Adam tiba-tiba. Ia sekarang melangkah mendekati Mega.


Mega terkejut saat mendengar pertanyaan dari Adam. Namun Mega langsung menjawab "Tidak ada yang cantik! Bu Zahra yang paling cantik!"


Adam tertawa terbahak-bahak "Memang kamu tahu wajah Zahra seperti apa?!"


Mega tidak tahu yang pasti seperti apa wajah istri bosnya itu, namun seperti yang sering digosipkan oleh karyawan lainnya Bu Zahra itu cantik dan elegan.


"Saya gak tahu sih seperti apa wajah Bu Zahra pak. Tapi yang pasti untuk suaminya, istri adalah wanita yang paling cantik!"


Adam tertawa lagi. "Seharusnya begitu ya!?"


***


"Jadi dia wanita itu mas?!" Tanya Tiwi sembari melirik Dewi yang duduk di depannya.


"Iya! Dia pacar saya yang lain" ucap Adam santai.


"Aku mau cuma aku pacar kamu mas!!" Teriak Dewi "Putusin cewek ini!! Aku bisa bikin kamu puas"


"Maksud kamu apa?! Kamu tuh yang putus sama mas Adam!" Balas Tiwi.


"Aku lebih muda dan lebih cantik, kamu itu udah tua dan jelek. Lebih baik kamu mundur aja!!" ujar Dewi lagi.


"Siapa kamu!? Memang menurut kamu, kamu lebih cocok dengan Adam ketimbang aku?!" Ucap Tiwi kesal.


"Kamu mesti ngaca! Coba kamu hitung berapa banyak keriput di wajah kamu!"


"Kamu suruh aku ngaca?! Kamu donk yang ngaca" balas Tiwi dengan wajah memerah bagai tomat.


Tiwi benar-benar kesal melihat penampilan gadis di depannya. Gadis itu jauh lebih muda darinya. Mana tubuhnya masih sintal dan seger. 'Pokoknya habis ini aku harus perawatan' batinnya.


Adam hanya diam mengamati dua wanita itu sedang beradu mulut. Dia tidak ingin melerai mereka berdua. Bahkan sedikit pun tidak menaruh minat pada dua wanita itu ataupun pada wanita- wanita lainnya yang ia kencani. Ia hanya bersama mereka untuk bersenang-senang dan menghabiskan waktu dengan mereka.


"Mas kamu pilih siapa?!" Ucap Dewi kemudian.


Adam tertawa kemudian berkata "Kalian yang paling tahu yang seperti apa yang aku suka" Adam memang tertawa tapi auranya itu menyeramkan. Hanya sepatah kata dari dia sudah membuat kedua wanita itu terdiam.


Mereka berdua sama-sama tahu wanita seperti apa yang paling Adam suka. Adam suka wanita yang penurut dan tidak banyak ikut campur tentang hidupnya, wanita yang tidak membawa-bawa nama cinta di depannya.


Meskipun menghabiskan waktu bersama, Adam tidak pernah membawa hati dan cintanya saat bertemu dengan wanita-wanita itu. Lagipula Adam sadar kenapa wanita-wanita itu rela melakukan segalanya untuk Adam. Tidak lain hanya untuk uang saja.


"Kalian sudah selesai?! Pulanglah!" Perintah Adam dingin. Tanpa banyak bicara kedua wanita itu bangkit dari duduknya kemudian melangkah keluar ruangan Adam.


****