
"Kamu harus menjemput anak kamu dulu gitu?!" Ucap Adam sembari tetap berkonsentrasi menyetir.
"Iya pak! Makanya tadi saya tidak mau diantar!" ujar Mega lagi. Tadi Adam memaksa untuk mengantarnya pulang. Padahal Mega sudah menolak tapi Adam terus memaksa.
"Anak kamu umur berapa Mega?!" Adam tidak menggubris perkataan Mega. Ia mengalihkan topik pembicaraan.
"Tiga setengah tahun pak!" Ujar Mega singkat.
"Pasti seru ya punya anak" ucap Adam lagi.
Tiba-tiba Mega teringat bahwa bosnya itu tidak memiliki anak. Seperti gosip yang beredar di kalangan karyawan, 'Salah satu dari mereka itu pasti mandul. Tidak mungkin kan menikah selama belasan tahun tidak punya anak sama sekali!'
Mega kemudian berfikir mungkin Adam selingkuh karena ia tidak mendapatkan keturunan dari istrinya. Ah! Tapi itu tidak benar. Meskipun istrinya tidak bisa memberikan anak, tidak sepantasnya ia mendapat perlakuan seperti itu. Lagian kalau Adam memang menginginkan anak, dia bisa menikah dengan perempuan lain ketimbang main serong sana-sini.
"Mega! Mega!" Karena melamun Mega tidak mendengar saat Adam memanggilnya.
Hanya setelah Adam menyentuh tangannya saja Mega mulai tersadar.
"Ah! Iya pak!?" Pekiknya.
"Kamu pasti cinta banget sama suamimu ya sampai-sampai setelah bertemu dia kamu langsung hilang fokus kayak gini. Dimana-mana bengong!"
Mega terkikik. Dia tertawa di dalam hati, sebenarnya ia tidak melamunkan Yoga.
"Bapak tahu darimana saya ngelamunin dia?!" Ucap Mega.
"Keliatan lho dari wajah kamu! Air muka kamu keruh!"
Mega tertawa "Bukan air mukanya yang keruh pak tapi memang muka saya yang butek"
Adam tertawa terbahak-bahak. Entah kenapa kata-kata Mega yang ceplas-ceplos selalu membuat ia tertawa. Setelah menjemput Guna, Adam mengantar Mega dan anaknya pulang. Guna setengah tertidur saat berada di dalam mobil.
"Anak kecil itu seperti malaikat pas tidur ya?" gumam Adam.
Mega tersenyum, "Iya pak! Guna adalah alasan saya untuk bertahan. Kalau dia juga diambil oleh Yoga, entah apa yang terjadi pada saya!"
"Kamu beruntung memiliki alasan untuk bertahan," ucap Adam lagi. "Saya sangat menginginkan seorang anak!"
Mega terdiam, dia memang penasaran kenapa Adam tidak memiliki anak. Apa rumor tentang kemandulan istrinya benar?! Mega benar-benar penasaran.
"Ma-maap pak bukannya lancang. Apa yang terjadi sebenernya?! Bapak tahu kan rumor di kantor seperti apa!?" tanya Mega ragu-ragu.
Adam tersenyum miring. Sorot matanya berubah sayu menatap jalanan yang gelap dan mulai sepi.
"Sebagian orang diberikan keberuntungan untuk bisa memiliki keturunan, sebagian lagi tidak memiliki keberuntungan yang sama"
****
"Mas, akhir-akhir ini kamu mulai cuekin aku ya?! Apa ini karena tante-tante itu?!" Keluh Dewi saat makan siang bersama Adam. "Dan lagi apa ini mas?! Biasanya kita makan cuma berdua. Kok sekarang kamu ngajakin asisten kamu juga sih!?"
Dewi merasa sikap Adam mulai berubah. Biasanya mereka akan menghabiskan waktu mereka bersama. Entah itu makan siang, makan malam atau saling berbagi kehangatan di kamar hotel. Namun kali ini sudah lebih dari seminggu mereka tidak bertemu setelah terakhir kali bertemu di kantor Adam bersama tante-tante sok cantik itu. Dewi berfikir bahwa Adam mulai mengacuhkannya. Mungkin Adam memiliki kekasih yang baru.
"Kalau iya, itu bukan urusan kamu kan!? Kamu sudah tahu pasti sebatas apa hubungan kita ini!" ujar Adam santai sambil menyendokkan makanan ke mulutnya.
Dewi terdiam. Sebelum memiliki hubungan yang lebih lanjut dengan Adam, Dewi sudah tahu pasti bahwa Adam telah memiliki istri dan bermain-main dengan beberapa wanita lain di luar sana. Dia juga tahu bahwa mereka hanya bersenang-senang saja. Tapi seiring berjalannya waktu, Dewi jatuh hati pada Adam. Sikapnya yang lembut, humoris dan penuh perhatian membuat Dewi terjerat oleh cinta. Apalagi Adam merupakan pria yang tampan dan gagah. Ia begitu sempurna, hanya satu yang kurang bahwa ia telah memiliki pasangan.
"Mas! Aku paham posisi aku dimana, tapi sungguh mas aku jatuh cinta sama kamu. Aku gak sanggup kalau kamu cuekin kayak gini!" Dewi terlihat sangat menderita.
"Dewi, aku rasa hubungan kita sampai disini saja. Aku tidak suka kalau kamu melibatkan perasaan disini!!" Adam langsung berhenti makan. Ia langsung bangkit dari duduknya dan memerintahkan Mega untuk mengikutinya.
Mega yang sedari tadi hanya diam sembari menahan rasa kikuk di hatinya langsung bangkit dan berjalan menyusuri langkah bosnya. Beberapa saat sebelum pergi, Mega sempat menoleh ke arah Dewi. Ia melihat gadis itu menangis sesegukan di mejanya. Bayangan Mega jatuh pada Desi. Apa Desi juga jatuh cinta pada suaminya?! Apa Desi akan merasakan sakit seperti itu jika Yoga memintanya untuk putus?! Dan lebih dari itu, apakah kekurangan yang ia miliki sehingga Yoga berselingkuh darinya?!
"Mega!" Suara Adam mengagetkannya. "Apa saya kejam?! Apa saya brengsek?!"
Mega akhirnya menatap mata Adam, mengira bahwa disana ada sebuah penyesalan. Tapi yang membuat Mega tertegun adalah wajah gelap Adam yang seolah-olah senang melihat rasa sakit yang diderita oleh Desi.
"Bapak senang!?"
"Tidak. Saya tidak senang. Saya hanya lega"
****
Seharian Mega berfikir tentang kata-kata yang keluar dari mulut bosnya setelah memutuskan gadis favoritnya, "Saya tidak senang, saya hanya lega!"
Apa itu?! Bahkan Mega sendiri merasa kasian. Memang benar Dewi orang yang tidak baik telah memacari suami seseorang tapi dia merasa simpatik juga karena Dewi menderita karenanya.
"Mbak Mega, pak Adam akhir-akhir ini jarang keluar ya!?" Ucap Santi.
"Ah iya. Saya juga lebih lega tidak harus menemaninya jalan-jalan. Kaki saya sampai terasa mau copot!" ucap Mega sekenanya.
"Apa pak Adam habis putus sama pacarnya?!" Bisik Santi.
"Kok kamu tahu!?" Mega keceplosan.
"Nah kan! Biasalah pak Adam kan emang gitu mbak. Kurang lebih tiga bulan!" Ucap santi antusias seolah-olah hendak menceritakan kisah yang epik.
Dia kemudian duduk di sebelah Mega, "Kurang lebih tiga bulan pak Adam akan bosan dan memutuskan semua pacarnya. Terus dia akan mencari pacar baru"
"Hah!?" Mega terkejut. Benar-benar kadal bosnya itu ternyata. Eh, buaya darat!!
Santi mengangguk. "Itu sudah jadi rahasia umum lho!"
Mega kembali merasa kesal pada Adam. Tadinya ia sempat merasa simpati karena mungkin pak Adam memiliki alasan pribadi untuk melakukan perselingkuhan seperti halnya Yoga. Meskipun itu menyakitkan baginya tapi Mega berusaha menerimanya jika jodoh mereka telah usai. Tapi pak Adam?! Bisa-bisanya ia menjadikan wanita sebagai mainan.
"Asyik banget ya mbak jadi orang kaya," bisik Santi," Mau apa aja bisa kejadian. Jangankan mencari satu wanita. Ribuan wanita juga bertekuk lutut asal ada uang!"
Mega mengangguk pelan. Matanya kosong dan menerawang. Ia kembali melamunkan alasan sebenarnya kenapa Desi memacari suaminya. Apakah karena uang juga?! Ataukah karena hal lain?! Perlahan di dalam pengelihatannya muncul seorang wanita dengan dress ketat berwarna biru tosca datang dengan langkah cepat menuju ke arahnya. Wanita itu adalah Tiwi.
"Mas Adam dimana?! Cepat suruh dia keluar!"
****