
"Aku tahu kamu tidak mampu mendapatkan pria lajang sebagai pasanganmu makanya kamu merebut suamiku" Mega menyeruput es teh lemonnya dengan pelan. Berusaha menenangkan gejolak yang ada di dadanya. "Aku tidak masalah jika kamu mengambil bekasku!"
Desi tersenyum miring. Dia tahu benar seberapa besar rasa cinta Mega terhadap Yoga dan sebesar apa pula rasa sakit yang Mega terima saat Yoga menghianatinya.
"Bekas?! Jangan bercanda!" Desi tertawa renyah. "Aku tahu sebanyak apa kamu mencintainya. Maka dari itu aku merebutnya"
Selama ini Desi merasa sangat iri terhadap sahabatnya itu. Dia cantik dan selalu beruntung dalam segala hal. Desi ingin walau hanya sekali berada di posisi Mega. Dan kini itu terwujud dengan mengambil tempat Mega di hati Yoga Adinata. Dan sebentar lagi Desi akan menjadi istri dari Yoga Adinata. Seorang pengusaha muda yang sukses.
"Hhhh.." Mega menghela panjang " Aku tidak menyesal kami berpisah. Setidaknya Yoga sudah berada di tempat seharusnya"
Desi mengernyit. Dia tidak paham maksud di balik kata-kata Mega.
"Seorang penghianat hanya pantas bersama seorang penghianat juga" ucap Mega sembari bangkit dari duduknya "Terimakasih ya kamu sudah ajak aku ketemuan. Selamat untuk pernikahan kamu"
Tanpa mendengar jawaban dari Desi, Mega melangkah perlahan keluar dari cafe itu. Mega kemudian naik taksi yang terparkir tidak jauh dari cafe. Hanya beberapa detik setelah Taxi berjalan, tangis Mega pecah. Melihat Desi di depan matanya membawa kembali kenangan beberapa bulan lalu saat ia memergoki Yoga, suaminya sendiri sedang bergumul panas dengan Desi di ranjang yang biasa mereka gunakan. Lima tahun menjalani biduk rumah tangga dan tidak ada satupun orang yang berani masuk ke kamar itu kecuali sang empunya yaitu Yoga, Mega dan si kecil Guna. Bahkan Ibu dan Ayah mertua enggan masuk kesana. Katanya pamali jika ada orang lain yang masuk ke kamar suami isteri. Tetapi Yoga malah .. ahk sudahlah. Mega menghapus kasar air mata yang kembali tumpah tak terbendung itu.
"Non, saya antar kemana?!" Tanya supir taxi itu pelan. Kelihatannya sang supir merasa tak enak.
"Bawa saya berkeliling saja pak!" Ucap Mega perlahan. Ia merasa sangat kacau, padahal itu terjadi beberapa bulan lalu tapi rasa sakitnya masih begitu jelas. 'Bekas' apanya, nyatanya hati Mega begitu terluka mendengar Yoga akan menikahi Desi. Seandainya ini mimpi maka Mega ingin bangun secepatnya.
"Non! Laki-laki memang begitu non! Cari aja pacar yang baru. Non masih muda dan cantik, jangan menangis cuma karena satu laki-laki saja non!" Ujar pak supir sok tahu. Dia mengira Mega menangis habis diputusin pacarnya.
Mega bertubuh mungil dan imut, orang-orang mengira ia masih berusia 20 tahunan padahal usianya mau menginjak kepala tiga.
Mega tertawa getir mendengar ucapan sang supir "Bener pak ya! Kenapa sih cuma gara-gara satu laki-laki saja saya sampai begini"
"Wajar kok non kalau non sedih saat ini. Perpisahan itu memang selalu menyedihkan. Entah itu mendadak atau tidak. Apalagi perpisahan akibat penghianatan. Non bisa deh nangis sepuasnya tapi habis itu musti senyum non! Pak Haji bilang gitu. Kalau gak percaya tanya aja sama pak Haji" ujar pak supir diselingi lawakan.
Mega tertawa pelan "Bener ya pak" sahut Mega.
***
Setelah berpisah dari Yoga, Mega tinggal di sebuah kos-kosan sempit bersama Guna. Tadinya mereka hidup dengan menjual beragam produk online shop. Namun lama-kelamaan Mega mulai kewalahan karena kebutuhan kian meningkat dan tabungannya kian menipis.
Mega berniat mencari sebuah pekerjaan yang bagus. Sudah beberapa perusahaan yang Mega datangi tapi tidak ada satu panggilan pun yang ia terima. Yah mau bagaimana lagi, usia Mega sudah tidak muda lagi. Perusahaan-perusahaan besar pasti mencari fresh graduate.
"Aaa....Pesawat datang!!" Tangan Mega yang berisi sendok dilengkapi bubur beserta lauk pauk mendarat tepat di mulut Guna.
"Gak mau mak! Udah enyang!" Ucap Guna sembari menutup mulutnya rapat-rapat.
"Ayoo donk sekali lagi. Sekali lagi!" Pinta Mega dengan wajah memelas.
Mega tertawa geli. Si kecilnya kini sudah tumbuh besar. Ia bahkan bisa beradu argumen dengan mamaknya.
"Duh! Anak mamak udah besar yah!!" Ucap Mega sembari dengan gemas mencubit pipi anaknya.
"Ddrrtt.. ddrrtt..ddrtt.." suara getaran smartphone mengalihkan perhatian Mega. Ia meraih smartphone yang ada di meja dan melihat nomor tidak dikenal menghubunginya. Wajahnya berubah bersinar saat mengetahui bahwa ia diterima di sebuah toko perhiasan besar di kotanya. Bramastya Jewelry yang memiliki banyak cabang di beberapa kota lainnya.
"Terimakasih pak! Iya.. besok saya pasti kesana!" Ucap Mega bahagia.
Mega seorang yatim piatu, dari dulu ia hidup mandiri dan menjalani banyak pekerjaan paruh waktu untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Setelah bertemu dengan Yoga dan menikah dengannya, Mega tidak lagi bekerja. Ia hanya menjadi ibu rumah tangga. Hidupnya bahagia sampai sahabatnya itu datang dan merusaknya.
Mega menggeleng cepat. 'Tidak boleh memikirkan hal buruk saat mendapat berita baik' batin Mega lagi. Mega sangat antusias. Ini adalah awal yang baru. Dia sangat suka bekerja di tempat yang baru, mengenal orang baru dan mendapatkan pengalaman yang baru. Seharian Mega memikirkan kehidupan yang cerah bersama Guna. Tapi semua itu pupus saat ia menghadap bos Bramastya pada pagi hari di jam 08.15.
"A-asisten pribadi?!" Gumam Mega hampir tak terdengar.
Jantungnya berdengup kencang saat melihat sosok Adam Bramastya di depannya. Pria itu terlihat seperti pria yang berumur di akhir 30-an. Wajahnya tegas, matanya tajam dan dingin, kulitnya sawo matang kecoklatan, mimik wajahnya mengatakan "Salah bicara kamu mati" . Benar-benar terlihat sangat menyeramkan. Seluruh ruangan terasa angker dan Mega berubah merinding disco saat hendak mengucapkan sepatah kata.
"Saya menyeramkan ya?!" Tiba-tiba nada suara Adam yang dingin berubah hangat "Santai saja, saya tidak makan orang" ujar Adam dengan senyum tersungging di bibirnya.
Diam-diam Mega menghela nafas, sedari tadi nafasnya tersendat di tengah-tengah.
Adam tertawa renyah "Kamu pasti salah paham sama penampilan saya"
"Ah i-iya pak.. eh! Tid-tidak!" Ucap Mega gelagapan.
"Tenang saja. Saya orangnya santai kok! Kamu gak usah terlalu formal bicara sama saya" Adam bangkit dari duduknya dan berjalan mendekat ke arah jendela. Tangannya kanannya menyentuh bingkai jendela dengan lembut.
"Jadi kamu mau kan jadi asisten pribadi saya?! Asisten saya yang sebelumnya sedang cuti. Dia akan menikah seminggu lagi"
"Tapi pak...tugas saya apa saja?!" Mega bingung. Dalam benaknya asisten pribadi itu terdengar agak.. Mungkin karena ia sering membaca novel-novel yang berisi kisah bos dan sekretaris atau asisten pribadi yang berselingkuh.
"Kamu harus menemani saya kemanapun saya pergi dan mencatat hal-hal penting dan mengingatkan saya sama jadwal saya sehari-hari" ucap Adam sembari melangkah mendekat ke arah Mega. "Saya menawarkan gaji dua kali lipat dari karyawan biasa"
'Glek!' Mega menelan ludah. Dua kali lipat?! Gaji karyawan biasa saja sudah cukup besar apalagi dua kali lipat. Tapi Mega masih belum menjawab pertanyaan Adam. Mulutnya terasa kering untuk mengiyakan pekerjaan sebagai asisten pribadi. Stereotip itu tertanam di dalam pikirannya dalam-dalam.
"Tenang saja, saya tidak akan meminta kamu melakukan hal yang kamu tidak mau"
****