
"Mbak Mega, dokumen ini untuk pak Adam ya!?" Tanya Irene.
"Iya.." sahut Mega singkat. Ia sedang sibuk mengetik sesuatu di komputer.
"Aku yang bawain ke ruangannya pak Adam ya mbak!?" Tanya Irene.
"Boleh! Tolong ya Irene!" Ujar Mega tanpa mengalihkan pandangannya dari komputer di depannya.
Dengan penuh senyum Irene melangkah ke ruangan Adam. Dia mengetuk pelan pintu ruangan, hingga terdengar suara 'masuk' Irene membuka pintu.
"Pak! Ini.. dokumen yang perlu bapak periksa" ucap Irene lembut.
"Iya.. taruh saja disana" ucap Adam. Dia duduk membelakangi mejanya. Lehernya mungkin sedang sakit, Adam memegang lehernya dan memutar pelan kepalanya. Dengan cepat Irene mendekat ke arah Adam. Dia kemudian meletakkan tangannya di leher Adam. Maksud hati memijit Adam.
"Mmnngh.. pak! Saya pinter lho pijat-memijat!" Ucap Irene sambil memijat lembut leher Adam.
"Ah!!" Adam terkesiap. Dia bangkit berdiri tanpa sadar.
Irene terkejut, dia mundur ke belakang beberapa langkah.
"Ma-maap pak!" Ucap Irene kikuk.
"Oh! Gak apa.. sa-saya tadi hanya terkejut!" Ujar Adam. "Ngg.. ada lagi yang kamu butuhkan?!"
Irene menggeleng "Ti-tidak pak! Maapkan saya.."
"Ya sudah kamu boleh pergi sekarang!" Ucap Adam langsung. "Oh iya, suruh Mega kesini!"
Irene mengangguk kemudian keluar dari ruangan Adam. Segera ia meminta Mega menemui Adam seperti apa yang Adam perintahkan.
Saat Mega masuk ke ruangan Adam, Adam masih memencet lehernya sambil memutar kepalanya.
"Mega, pijat kepala saya donk!" Ucap Adam sembari tersenyum nakal.
"Apa!?" Mega terpekik. 'Kambuh lagi nih bos gue!?' Pikir Mega.
"Pijat!Pijat leher saya donk!" Pinta Adam manja.
"Pak, saya gak salah denger!?" Tanya Mega.
"Kenapa!?" Tanya Adam.
"Pak! Ini gak pantas pak! Kalau ada yang liat gimana?! Kalau bapak lagi pengen dipijat bisa ke tempat massage!" Ujar Mega. "Kalau bapak tidak nyaman pergi kesana, pijat panggilan juga ada" tambah Mega.
"Lho.. kenapa gak pantas!? Irene aja tadi mau pijatin saya tapi saya tidak mau!" Ucap Adam. "Saya maunya kamu yang pijat saya!"
'Wah! Sudah kambuh pasti nih!' Batin Mega. Akhir-akhir ini Adam sudah tidak merayunya lagi tapi sekarang ia kembali merayu Mega.
"Pak! Jangan ngaco!" Ucap Mega.
Adam tertawa, "Kita makan siang yuk!" Ajak Adam.
****
Setelah sampai di cafe, Adam segera memesan makanan. Seolah-olah ia sangat lapar, tidak lupa ia menawari Mega makan. Mega tidak paham kenapa setiap kali makan siang, pasti cafe inilah yang menjadi pilihan Adam. Apa Cafe ini memiliki kenangan tersendiri bagi Adam?! Atau mungkin hanya karena rasa makanannya memang nikmat. Mega sendiri sangat mengenal cafe ini, ada banyak kenangan yang Mega miliki bersama Yoga di cafe ini.
Meskipun penasaran, tapi Mega tidak bertanya. Ia tidak ingin menanyakan hal-hal pribadi Adam.
"Mega.. "panggil Adam.
"Iya pak!?"
"Kamu gak lagi punya pacar kan!?" Tanya Adam.
"Apaan sih pak!? Emang saya keliatan kayak orang yang lagi punya pacar!?" Tanya Mega. Ia tertawa.
'Dasar bos aneh. Emang keliatan gitu di wajah seseorang kalau dia lagi punya pacar?!' batin Mega.
"Apa sih pak!? Emang saya lampu bohlam!?"
Adam tertawa "saya serius" ujarnya kemudian.
Mega menggeleng cepat "Bapak sekarang kambuh lagi ya!? Waktu ini bapak sudah resign lho gombalin saya. Sekarang kenapa lagi!?"
'Karena sekarang saya ingin serius menarik perhatian kamu' batin Adam.
"Saya lagi mood aja sih!" Sahut Adam sekenanya.
Mega menggeleng cepat! 'Dasar!' Batinnya.
"Kalau bapak memang lagi mood buat menggombal, bapak bisa gombalin Irene tuh. Dia terpesona berat sama aura bapak yang hot!" Ujar Mega jahil.
Adam tertawa lagi. "Dia bukan tipe saya!"
"Wah! Bapak keterlaluan. Irene cantik banget lho pak, masih muda lagi!"
"Kenapa nih!? Kamu mau mendorong saya untuk memiliki koleksi baru?!" Tanya Adam lagi."Kamu ternyata mulai berubah ya sekarang! Biasanya kan melarang!"
"Itu kan maunya bapak aja! Saya cuman bilang bapak sedikit keterlaluan kalau gadis secantik itu bukan tipe bapak!"
"Saya suka yang eksklusif!" Ucap Adam "Seperti kamu contohnya"
****
Seruni datang menemui Adam, tapi Adam sedang makan siang bersama Mega. Akhirnya Seruni menunggu di depan ruangannya. Irene menatap wanita itu lekat-lekat. Ia tahu betul siapa perempuan yang terlihat sombong itu. 'Dia pasti pacar pak Adam'
Sejak pertama Santi menawarinya pekerjaan sebagai penggantinya di Bramastya Jewelry, Irene tidak bisa tidur membayangkan seperti apa bosnya itu. Irene memang memiliki ketertarikan aneh dengan pria yang jauh lebih tua darinya. Dia juga suka menantang adrenalin dengan menjadi pacar suami orang. Dan pak Adam adalah salah satu 'impiannya'.
'Ini cewek yang jadi kekasih pak Adam!? Ternyata tidak lebih cantik dari aku. Aku bahkan lebih muda dari dia' batin Irene.
Tak lama kemudian Adam datang dengan Mega. Adam sedikit terkejut melihat kehadiran Seruni. Tapi Adam kembali terlihat biasa setelahnya.
"Hay sayang!!" Sapa Seruni saat Adam tepat berada di depannya.
"Hay!" Ujar Adam singkat. Seruni mengikuti langkah Adam ke dalam ruangan.
Segera setelah mereka duduk, Adam bertanya
"Ada apa ya kamu kesini!?"
Seruni melirik ke arah Mega, sepertinya ia hendak berkata bahwa 'Aku tidak mau cecunguk itu disini'. Adam paham namun ia tidak ingin meminta Mega untuk pergi " Mega ada perlu denganku setelah ini, kalau tidak ada yang penting. Kita bisa ketemu lain waktu"
"Mas! Kok kamu sekarang mulai berubah sama aku?!" Tanya Seruni.
"Aku tidak pernah merasa berubah" sahut Adam.
"Kamu gak pernah hubungin aku, kamu juga gak pernah dateng ke butiknya aku"
"Kayaknya kamu salah paham deh" ujar Adam. Dia terlihat tersenyum. "Aku dateng ke butik kamu kalau aku perlu membeli sesuatu. Saat aku tidak butuh itu, aku tidak pergi kesana. Dan.. asal kamu tahu selama ini kamulah yang selalu menghubungi aku duluan. Jadi kalau kamu tidak menghubungiku, untuk apa aku menghubungimu!?"
Seruni mengernyit. "Terus selama ini mas anggep hubungan kita apa?!"
"Hubungan apa!? Kamu tanyakan pada diri kamu, apa menurut kamu kita memiliki hubungan spesial?! Coba kamu pikir, siapa yang duluan memulai ini!? Setiap hari kamu yang datang kesini, kamu kesini untuk mendapatkan kepuasan kamu. Kamu yang menyodorkan diri kamu" ucap Adam "Sekarang coba kamu pikir, kucing mana yang menolak jika di sodorkan ikan!?"
Seruni tergagap. Ia ingat betul ialah yang selama ini terlalu agresif. Adam hanya datang padanya sekali. Saat membeli setelan untuk pergi ke kundangan dengan Mega. Setelahnya Seruni meminta nomor telepon Adam dan mulai menghubunginya. Seruni juga meminta ijin untuk pergi ke kantornya Adam dan dengan agresif menyerangnya dengan ciuman.
Setelahnya pun Seruni semakin berani menemui Adam, entah itu pagi, siang ataupun malam. Kalau ia tidak salah ingat, Adam memang belum pernah mencarinya.
"Tapi mas.. aku beneran suka sama kamu!" Ujar Seruni.
"Maap Seruni tapi saya tidak suka kamu" sahut Adam datar
****