The Seducer

The Seducer
Mendadak



Adam terdiam memandang langit-langit kamarnya. Entah kenapa akhir-akhir ini dia tidak hunting pacar. Biasanya kalau putus, ia sudah mencari wanita lain yang bisa ia gandeng. Namun kali ini ia malas. Bahkan saat Irene datang memberinya umpan, seharusnya ia menerimanya. Tapi entah kenapa ia tidak berselera. Padahal Irene bukanlah gadis yang buruk rupa. Ia gadis yang menarik dan masih muda.


'Kenapa ya!?' Gumam Adam heran pada dirinya sendiri.


Beberapa hari terakhir ini ia merasa canggung setiap kali berdekatan dengan Mega. Ia merasa tidak nyaman tapi ia juga tetap ingin melihatnya. Ia sendiri bingung. 'Aku kenapa coba!?' Batinnya.


Namun karena kecanggungannya, ia merasa jarak diantara mereka kian merenggang. Akhirnya Adam berusaha sekuat tenaga kembali mendekatinya seperti biasa.


Akhir-akhir ini bayangan Mega memenuhi kepalanya. Ia selalu ingin menghabiskan waktu bersama dengan Mega. Jadi Mega lebih sering stand by diruangannya.


"Hahhhh..." desahnya. Ia menatap dengan jenuh jam dinding di depannya. Masih menunjukkan pukul 06.00. Masih beberapa jam lagi sebelum kantornya di buka. Kira-kira Mega lagi apa ya sekarang!? Apa dia sudah bangun atau masih tidur?!


Adam meraih smartphonenya. Ia hendak melakukan sesuatu untuk membunuh waktu. Ia mengobrak-abrik sosmednya. Ada begitu banyak pesan di beberapa aplikasi pertemanannya. Itu adalah pesan dari para wanita yang ingin mengenalnya.


"Haahhh..." desah Adam lagi.


Adam kemudian mengecek beberapa foto yang ada di galerinya. Hanya beberapa bukti tranfers dan satu dua buah fotonya.


'Oh.. aku tidak punya foto Mega' gumamnya.


****


"Mega, mau selfie!?" Tanya Adam tepat saat Mega masuk ke ruangannya Adam.


"Hah!?" Mega kaget bukan kepalang. Untuk apa bosnya memintanya datang pagi-pagi keruangannya cuma untuk selfie!?


"Ayo kita selfie" Ajak Adam lagi.


"Saya pikir saya salah dengar. Bapak mau selfie?! Untuk apa pak!?" Tanya Mega penasaran.


"Oh.. itu.. saya lagi kepengen saja" ujar Adam ngawur.


Mega tertawa dan mengambil smartphone Adam, dia kemudian mengajak Adam selfie. Tapi Adam kurang suka hasilnya.


"Gak bagus" ucap Adam.


"Lho kenapa pak!? Bapak cakep kok disitu" ujar Mega.


"Saya gak mau posisinya kayak gini" ujar Adam. Adam duduk di kursinya dan dihalangi oleh meja sedangkan Mega berdiri di depan meja.


"Terus bapak maunya gimana?!" Tanya Mega.


Adam bangkit kemudian merengkuh bahu Mega, "Kaya gini.."


Mega terkesiap saat tangan Adam menyentuh bahunya, sesaat Mega merasakan tangan Adam meremas bahunya. Mega hendak menghindar, tapi tenaga Adam jauh lebih kuat. Mega tidak bisa menghindarinya.


"Saya tidak tahu kenapa, tapi akhir-akhir ini saya sering memikirkan kamu" bisik Adam. "Kamu tahu gak kenapa?!"


Mega terbengong berusaha mencerna semua yang Adam katakan, ia masih terpana dan tidak bisa menjawab.


"Saya rasa saya suka sama kamu" ucap Adam lagi.


Mega hendak menjawab, mulutnya sudah terbuka namun Adam menghentikannya "Saya tahu kamu akan bilang kalau saya ngaco! Atau kamu bakal mengomel lagi! Tapi.. saya tidak menuntut jawaban dari kamu. Saya cuma mau kamu tahu perasaan saya sama kamu"


"A- pak! Tap-tapi..." Mega tidak bisa berkata-kata. Ia blank.


"Hah?! Apa?! Bapak.." lagi-lagi kata-kata Mega tercekat saat Adam mengecup pelan bibirnya. Mega tadinya ingin menolak. Tapi kecupan Adam yang lembut dan hangat membuatnya terpaku. Bahkan saat Adam ******* pelan bibirnya, Mega hanya bisa terdiam. Di benak Mega tidak terbayang apapun, hanya helaan nafas Adam yang lembut yang ia rasakan.


Saat Adam melepas ciumannya, Mega tersadar. Ia terlihat terkejut dan langsung berlari keluar ruangan Adam.


Jantung Mega berdegup kencang, wajahnya terasa panas. 'Apa yang aku lakukan!?' Batinnya. Mega segera berlari ke toilet. Di depan kaca yang terpajang di toilet, dia menatap wajahnya. Ciuman yang Adam lakukan tadi terngiang lagi di ingatannya. Mega menyentuh bibirnya pelan. Kepalanya terasa pusing.


'Apa ini!? Pak Adam sudah beristri! Kenapa aku membiarkannya menciumku seperti ini!? Ya ampun!! Ada apa denganku!?' Mega mengusap Kasar bibirnya. Ia mengambil air dan membasuh bibirnya berkali-kali.


Sementara Mega menyesali kejadian itu, Adam terus tersenyum di ruangannya. Hatinya seperti mau meledak. Sebelumnya ia tidak berencana untuk mengatakannya. Tapi entah kenapa kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutnya saat ia merengkuh bahu Mega. Dan dengan spontan ia meminta mencium Mega. Meski Mega tidak menjawab perasaannya, Adam tahu perasaannya tidak bertepuk sebelah tangan. Fakta bahwa Mega tidak menolak ciumannya menunjukkan bahwa Mega juga menaruh hati padanya.


Adam bingung harus apa setelah ini, apa ia akan terang-terangan menunjukkan keinginannya pada Mega atau berpura-pura cool dan menganggap semua tidak pernah terjadi?!


'Ahh tidakk!!' Batin Adam.


***


"Mega! Cepat ke rumah sakit Mentari! Guna! Guna! Terjadi sesuatu dengan Guna" ujar Dinda di seberang telepon.


Seperti ada petir yang menyambar kepala Mega, ia kalut seketika. Ia hendak pergi langsung berlari ke rumah sakit tapi ia ingat tidak bisa melakukannya tanpa seijin atasannya. Mega kebingungan karena Adam sedang rapat dan tidak bisa diganggu.


"Irene, mbak minta tolong. Tolong bilang ke pak Adam, mbak minta ijin pulang ada sesuatu yang sangat penting dan mendadak" ucap Mega panik.


Irene mengangguk. "Iya mbak"


Segera setelah mendengar jawaban dari Irene, Mega langsung berlari keluar kantor dan meraih motornya. Ia sudah tidak mampu berfikir. Guna kenapa?! Apa yang terjadi!? Kenapa ia ada dirumah sakit!?


Sampai di rumah sakit mentari, hati Mega seperti mencelos. Sebuah mobil menabrak Guna. Si kecilnya mendapat banyak luka dan harus melakukan operasi.


"Maapin mbak, Mega! Mbak gak sadar Guna keluar rumah mengejar bola" Dinda menangis tersedu-sedu.


Mega menggeleng cepat sembari membendung air matanya dengan sapu tangan "Mbak, jangan kayak gini! Ini bukan salah mbak kok! Jangan terlalu menyalahkan diri mbak sendiri"


Disaat bersamaan, Adam tidak fokus dengan apa yang diperdebatkan di depannya. Kepalanya dipenuhi dengan kejadian tadi pagi diruangannya dengan Mega. Ia juga bingung bagaimana caranya untuk mengajak Mega makan siang bersama.


Sepanjang rapat Adam beberapa kali tersenyum sendiri sampai beberapa karyawannya terheran-heran. Apa angka-angka yang ada di depan itu mengandung humor ya sampai si bos senyum-senyum!?


Namun semua perasaan Adam pupus seketika saat mengetahui Mega tidak ada di tempat.


"Mega dimana?!" Tanya Adam saat melihat hanya Irene yang ada disana.


"Mbak Mega ijin pulang, katanya ada hal yang mendadak" ujar Irene.


Adam merasa hatinya tiba-tiba remuk 'Apa dia marah!? Apa dia pulang untuk menghindariku!?' Pikir Adam.


"Apa dia bilang hal apa yang mendadak itu!?" Tanya Adam lagi. Berharap bahwa hal itu memang sesuatu yang penting bukan hanya alasan Mega semata.


Irene menggeleng "Mbak Mega tidak bilang apa-apa lagi pak"


Mendengar perkataan Irene, Adam benar-benar kecewa. Ia berfikir bahwa kemungkinan besar Mega marah terhadapnya.


'Apa hanya aku yang senang dengan kecupan itu!?' batin Adam.


****