
Tiwi mengamuk disana. Dia mendobrak pintu ruangan Adam karena marah saat mendengar jawaban Mega dan Santi yang mengatakan Adam tidak ada di ruangannya. Ia sedang meeting dengan klient dari Australi. Tepat sepuluh menit sebelum Adam keluar dari ruang rapat, Tiwi sudah diseret keluar dengan paksa oleh dua sekurity.
"Ada apa tadi kok ribut-ribut?!" Tanya Adam pada Mega dan Santi.
"Pacar bapak kesini!" Lapor Santi. "Dia ngamuk saat kami bilang bapak gak ada diruangan"
"Mbak Tiwi, pak!" ucap Mega singkat.
"Oohhh..." Adam berohria saat mendengar nama itu.
"Bapak putusin dia ya?!" TebakĀ Santi.
"Tahu aja kamu!" Ujar Adam diiringi tawa. Santi yang mengetahui tebakan benar juga ikut tertawa.
"Oh iya. Kamu temenin saya donk. Saya mau beli setelan nih buat dipake kundangan," ucap Adam pada Mega.
"Bapak mau kundangan kemana pak?!" Mega menatap cemas.
"Kemana lagi, saya cuma dapet satu undangan pernikahan minggu ini. Itu pernikahan Yoga Adinata!" ujar Adam diiringi senyum.
Adam segera bergegas menuju sebuah butik yang cukup mewah. Bukan tanpa alasan Adam memilih butik tersebut, ia sedamg mengincar pemilik butik itu.
"Cantik gak?! Umurnya 29 tahun. Seumuran denganmu. Ia janda tanpa anak!" bisik Adam di telinga Mega.
Mega mendelik, "Pak! Yang bener aja!! Masih mau ngelakuin ini?! Bapak gak liat akibatnya tadi!?" Protes Mega.
Adam terkekeh, "Kalau kamu gak mau saya sama yang lain, kamu aja yang jadi pacar saya?!"
"Wah! Pak Adam ngaco nih!" Mega mengeleng-geleng. Meski belum genap sebulan menjadi asisten Adam, Mega tahu wanita seperti apa yang menjadi incaran Adam. Mereka adalah gadis-gadis cantik dengan dandanan yang mewah! Sementara dirinya?!
Adam terkekeh lagi, "Serius kamu nolak?!"
"Ampun deh! Lelucon bapak yang satu ini gak lucu! Tapi kalo bapak tanya pendapat saya tentang cewek ini, please jangan pak!" Jawab Mega serius.
Entah itu intuisi atau apa. Tapi Mega melihat pemilik butik ini bukan wanita seperti Tiwi atau Dewi. Wanita ini berbeda.
"Dia berbeda pak!" Gumam Mega lagi.
"Saya suka yang Berbeda. Lain daripada yang lain!" Senyum mengembang dibibirnya.
Mega langsung tepuk jidat saat mendengar perkataan atasannya itu. 'Si Bos memang orang gila!!' Batinnya.
"Bagaimana pak!? Yang ini suka?! Cocok lho untuk eksekutif muda seperti bapak!" ujar Seruni. Pemilik dari butik itu. Pakaiannya seksi, wajahnya bulat kecil dengan kulit yang putih bin bening, dandanannya masih lebih natural dari Tiwi dan lesung pipinya sungguh menambah daya tariknya.
"Ah! Anda bisa saja, saya bukan eksekutif. Saya cuman punya toko kecil-kecilan. Dan lagi saya sudah tidak muda!" Ucap Adam basa-basi. Senyum sumringah dan ramah langsung mengembang di bibirnya.
'Luar biasa bosku ini! Kayaknya dia memang penjinak wanita' batin Mega lagi.
"Oh iya, istrinya tidak ikut memilih baju?!" Tanya Seruni sambil menatap Mega. Mega yang ditanya malah gelagapan.
"Eh! Ma-maap bu saya bukan istrinya. Saya asisten pak Adam!" ujar Mega jujur.
"Pak Adam?! Adam Bramastya?!" Pekik Seruni senang. "Pemilik Bramastya Jewelry!?"
Adam tersenyum, "Ah, iya! Saya Adam Bramastya!"
"Ya ampun, sudah lama saya ingin melihat pak Adam! Saya tidak sangka pak Adam datang langsung ke butik saya. Ini sungguh sebuah kehormatan!" Air muka Seruni langsung berubah. Ia semakin ramah dan lebih lengket dengan Adam.
Beberapa menit berada disana, panggilan mereka sudah berubah. Dari 'saya' dan 'anda' kemudian menjadi 'aku' dan 'mas'. Mega yang menyaksikan itu secara 'live' tidak mampu berkata-kata. Adam dan Seruni sekarang tampak jauh lebih akrab.
"Oh iya. Kamu gak mau beli sesuatu?!" Tanya Adam tiba-tiba. Ia menoleh ke arah Mega.
"Saya pak?!" Tanya Mega.
Adam mengangguk, "Kamu kan yang bakalan nemenin saya ke acara pernikahannya Yoga!"
****
Walaupun ia tahu bahwa itu perintah bukan permintaan, tapi tetap saja Mega merasa jengkel. 'Sungguh tega pak Adam menabur garam pada luka yang menganga!'
"Kamu seriusan gak mau temenin saya ke kundangan?!" Tanya Adam lagi. Memancing suara keluar dari mulut asistennya itu.
Mega masih diam, ia sama sekali tidak menjawab. Bahkan ia tidak menatap Adam yang sedari tadi memperhatiknnya. Sungguh asisten yang durhaka.
"Ayolah Mega. Masak saya kesana sendiri? Kan aneh kalau saya sendirian!" ujar Adam sembari berakting memelas.
"Pak Adam, malah aneh lho kalau bapak pergi kesana dengan saya " akhirnya Mega membuka mulutnya, "Seharusnya bapak kesana dengan bu Zahra!"
Adam langsung tertawa saat nama 'Zahra' disebutkan, "Dia tidak akan ada waktu untuk itu"
Mega terkejut. Mana mungkin seorang istri tidak ingin menemani suaminya ke acara semacam itu? Kundangan dan acara bisnis merupakan hal yang paling Mega suka lalui bersama Yoga dulu. Mega sangat senang saat Yoga mengakui bahwa ia adalah istrinya. Mega juga merasa sangat bahagia bisa mengenal lingkungan suaminya. Jadi mana mungkin bu Zahra tidak suka hadir ke acara seperti itu bersama pak Adam?!
"Kenapa pak!? Apa ada hal yang membuat bu Zahra enggan menghadiri acara seperti itu?!" Tanya Mega.
Adam tersenyum kecut, "Bukan acaranya yang jadi problem tapi Saya. Dia tidak mau menghabiskan waktu dengan saya!"
****
Hari H, resepsi pernikahan Yoga dilaksanakan. Sejak pagi tadi pak Adam sudah terlihat rapih dengan pakaian yang ia beli di butik Seruni. Tinggallah Mega yang belum bersiap.
"Mega mana?!" Tanya Adam saat melihat Mega tidak ada di depan ruangannya.
"Mbak Mega tadi ada kok pak. Mungkin ke toilet!" ujar Santi sembari celingak-celinguk mencari sosok Mega.
Adam tertawa, "Kalau dia sudah datang, suruh dia masuk ke ruangan saya!"
Mega sebenarnya tidak bersembunyi. Tapi dia sedang mengatur hati. Meskipun berat tapi ini tantangan. Ini perintah dari atasan, tidak mungkin Mega menolaknya. Sejak kemarin ia terus berusaha mematrinya dalam hati.
"Kamu hanya perlu menemani pak Adam. Anggap saja ini bukan pernikahan Yoga dan Desi! Anggap mereka hanya manekin!! Ya pernikahan dua manekin!!"
Tapi semakin dibayangkan perasaan Mega semakin tidak karuan. Bagaimanapun Mega tahu siapa saja orang yang akan ia temui pada acara itu. Selain kedua manusia yang menikah itu, ada keluarga besar Adinata dan rekan-rekan bisnis Yoga disana. Selain itu juga pasti ada keluarga dari Desi yang ia kenal dan teman-teman sekolah mereka dulu.
"Tidaaakkkkk" rasanya Mega ingin berteriak kencang. Untung ia sadar sedang berada di dalam toilet.
Mega menatap cermin lekat-lekat kemudian membasuh mukanya perlahan dan langsung mengelapnya dengan handuk yang ia bawa. Dia kemudian menepuk-nepuk wajahnya dengan bedak bayi kemudian menggunakan lip gloss.
Rambutnya digelung seadanya. Mega benar-benar tidak bisa berdandan. Hadir ke sebuah acara dengan Yoga pun ia selalu berdandan apa adanya. Apalagi suaminya tidak pernah protes bahkan menyukai penampilan istrinya yang apa adanya.
Setelah selesai memoles wajahnya, Mega mengganti cepat pakaiannya dengan yang dibelikan oleh Adam di butik Seruni. Kebaya modern dan rok lilit yang cantik.
Warnanya sengaja dipilih menyesuaikan setelan yang Adam gunakan.
Mega mendesah saat melihat pantulan dirinya di cermin, "Pakaiannya begitu cantik, tapi akunya?!"
Mega bertahan beberapa menit disana menyesali ketidak cocokan dirinya dan pakaiannya yang cantik itu. Ia mulai berfikir, 'Pantas saja mas Yoga meninggalkanku dan jatuh hati pada Desi. Penampilanku bagai bumi dan langit dengan Desi'
Mega menghela nafas berat berkali-kali hingga akhirnya ia berbalik dan keluar dari toilet melangkahkan kakinya menuju ruangan Adam.
Adam terpana sedikit saat melihat Mega masuk ke dalam ruangannya.
"Pak!" Ucap Mega.
Adam tersenyum, "Wah! Kamu cantik sekali pake pakaian itu"
"Pak saya tahu maksud bapak pakaiannya yang cantik" Mega menganggap Adam meledeknya.
"Tapi ada sesuatu yang kurang! Ayo ikut saya untuk melengkapinya!"
Adam kemudian mengajak Mega pergi ke sebuah salon, itu adalah salon terdekat dari kantornya.
"Saya suka kesederhanaan kamu. Tapi kamu tidak boleh terlihat seperti ini di acara pernikahan mantan suami kamu!" bisik Adam.
****