The Seducer

The Seducer
Tertantang



Mega mendadak gondok saat melihat Dewi datang pagi-pagi. Bukan masalah kalau yang di dalam hanyalah Adam. Tapi ada Seruni juga yang masuk beberapa menit lalu. Mega takut kejadian kemarin terjadi. Santi mungkin malu melihat kejadian itu, tapi Dewi!? Tidak bisa dibayangkan.


"Aaa.. ee.. anu.. mbak Dewi. Ada yang bisa saya bantu!?" Tanya Mega gelagapan.


"Mas Adam di dalam kan!?" Tanyanya.


"I-itu.. anu mbak.. pak Adam.. di-dia" Mega tiba-tiba hank. Dia bingung mau mengatakan alasan apa. Seolah-olah ada orang yang mengosongkan isi otaknya saat itu. Perutnya pun terasa teriris-iris.


"Saya tahu dia ada di sini. Mobilnya ada di parkiran!" ujar Dewi lagi. Dia langsung menerjang, melewati Mega dan masuk ke dalam ruangan Adam.


"MAS ADAM!!" Bentak Dewi seketika saat melihat Seruni ada di pangkuan Adam. Keadaan mereka tidak sekacau saat Santi memergokinya. Namun itu sudah mampu menyulut kemarahan Dewi hingga mencapai batas maksimal.


"Siapa lagi kamu!!" Bentak Dewi kesal.


"Dia istrimu mas?!" Tanya Seruni tanpa menggubris perkataan Dewi. Seruni berfikir bahwa gadis di depannya itu mungkin bukan istri dari Adam melihat reaksi Adam yang datar-datar saja.


"Bukan. Dia gadis lainnya. Tapi kami sudah putus!" ucap Adam santai. Ia bahkan masih duduk di tempatnya tadi. Adam sama sekali tidak terkejut. Sebaliknya Mega yang keringat dingin. Ia hendak memanggil sekurity tapi masih merasa bimbang, apa itu perlu sekarang!?


"Mas!! Apa karena ini kamu putusin aku!?" Tanya Dewi, air mata jatuh di pipinya.


"Kita sudah putus. Tidak ada yang perlu dijelaskan!" ucap Adam lagi.


"Mas, itu cuma keinginan sepihak kamu! Aku belum- hiks.. aku belum setuju dengan keputusan kamu" ucap Dewi terisak.


Adam menghela nafas, "Ngapain kamu di situ Mega?! Bawa wanita itu keluar!!" Perintah Adam.


Mega yang tiba-tiba diperintah oleh bosnya segera bertindak, ia memegang tangan Dewi dengan lembut dan menariknya ke luar ruangan.


"Inget ya mas! Suatu hari kamu akan merasakan apa yang aku rasakan. Kamu juga akan menderita karena disakiti oleh orang yang kamu cinta!" ucap Dewi sembari keluar ruangan Adam.


Segera setelah pintu ditutup, Adam bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah jendela kantornya. Dia tersenyum miring, "Akan disakiti oleh orang yang dicinta?!" Adam merasa itu lucu!! Sebenarnya itulah alasan kenapa ia menyakiti orang lain. Jika orang yang ia cintai tidak menyakitinya lalu untuk apa ia melakukan hal yang sia-sia seperti ini!?


"Mas.." Tiba-tiba Seruni merengkuhnya dari belakang. "Ayo.. kita lanjutkan yang tadi" ujar Seruni manja.


Adam tersenyum kemudian mencium bibir Seruni dan perlahan **********.


****


"Sekarang mbak yang sport jantung ya?!" Santi tertawa cekikikan. "Mereka lagi apa?!"


"Mereka lagi apa gundulmu!! Kamu tahu gak tadi si Dewi dateng kesini! Dia yang masuk keruangan pak Adam dengan paksa" ucap Mega sembari mengatur nafasnya. Tenaga Dewi itu benar-benar kuat. Mega dihempaskannya hingga terantuk di dinding, untung tubuhnya tidak ada yang memar.


"Wah! Luar biasa! Kenapa juga aku tadi keluar ya mbak! Aku kelewatan scene seru donk!" Ucap Santi lagi.


Mega hanya bisa menggelengkan kepalanya, Santi memang selalu menganggap kehidupan Adam seperti sinetron di tv. Dia selalu tertarik dengan setiap episode kehidupan Adam.


"Seru apanya!! Itu namanya horor" ujar Mega lagi.


Tiba-tiba telepon di meja mereka berdering "Mega, datang ke ruangan saya!" Perintah Adam.


Mega berjalan tergopoh-gopoh ke ruangan Adam. Seruni sudah pergi sekiar tiga puluh menit yang lalu. Saat Mega membuka pintu ruangannya Adam, Adam sedang duduk mejanya.


"Selamat siang pak! Apa bapak memanggil saya!?" Tanya Mega.


"Kamu sudah makan siang?! Mau makan siang dengan saya!?" Tanya Adam lagi.


Mega terdiam, "Mohon maap pak! Saya ada sedikit kegiatan. Jadi saya pulang lebih awal hari ini"


"Oh!? Kenapa kamu tidak ijin dengan saya?!" Tanya Adam.


Mega memutar matanya. Beberapa hari yang lalu Mega sudah meminta ijinnya dan Adam mengiyakannya. Tapi kenapa sekarang ia lupa?! Mega berusaha berpositif thinking


'Mungkin terlalu banyak yang ia pikirkan sehingga pak Adam melupakannya'.


"Beberapa hari lalu saya sudah minta ijin ke bapak dan bapak bilang 'iya' lho pak!" Ujar Mega.


"Kapan!?" Tanya Adam. Dia berusaha mengingat-ingat. Dan secercah ingatan melesat di benak Adam. Mega pernah bilang bahwa ia minta ijin pulang lebih awal untuk merayakan ulang tahun putranya.


"Oh iya, saya baru ingat! Itu hari ini ya?!" Tanya Adam.


Mega mengangguk pelan.


"Hmnn.. saya boleh ikut gak!?" Tanya Adam tiba-tiba.


"Hah!? Ke-kemana pak!?" Mega tidak paham maksudnya.


"Saya ingin ikut merayakan ulang tahun anak kamu"


Wah! Dia benar-benar merasa aneh. Tidak pernah seumur hidupnya ia bertemu dengan seorang big boss yang merayakan hari ulang tahun anak karyawannya. Apa ini semacam dunia ajaib?!


"Pak! Tolong.. diulang!? Saya kira saya salah dengar pak!" Ujar Mega lembut bermaksud untuk menolaknya secara halus.


"Saya bilang.. saya mau ikut merayakan hari ulang tahun anak kamu"


Mega menghela nafas. "Maap pak! Lebih baik jangan" ujar Mega tegas.


****


'Semakin menarik!' Pikir Adam. Semakin Mega menolaknya, ia semakin merasa tertantang. Sebelumnya tidak ada wanita yang mengabaikan perhatiannya apalagi karyawannya sendiri. Mereka bahkan berlomba untuk mendapatkannya. Kenapa seorang Megania Putri berani menolaknya?!


Apa dia kurang ganteng di mata gadis itu?! Atau Mega tidak terlalu tertarik dengan kekayaan yang dimilikinya!?


Adam kemudian ke luar ruangannya, berlari ke arah mobilnya dan mengejar Mega yang pulang ke rumahnya. Seperti yang Mega katakan, hari ini dia langsung pergi ke rumah Dinda untuk menjemput anaknya. Setelah berpamitan dengan keluarga Dinda, Mega membawa Guna naik ke atas motornya. Ia menyelipkan Guna di depannya pada sebuah tempat duduk anak yang terpasang di motornya. Dengan penuh senyum, Mega memakaikan Guna helm. Anak itu juga terlihat bahagia.


Sepanjang jalan mereka seperti mengobrol, anak itu tidak henti-hentinya tertawa. Adam membuntuti mereka dengan perasaan tidak tentu. Tadinya Adam penasaran dengan Mega, tapi setelah melihat kebahagiaan Mega dan anaknya, hatinya seperti luluh.


Ia yang tadi dengan menggebu-gebu ingin menaklukkan Mega merasa kasihan dengan wanita itu. Ia teringat juga bahwa Mega adalah korban dari perselingkuhan juga.


'Kenapa aku harus menyakitinya juga?!' Gumam Adam.


Adam pun berbalik dan meninggalkan Mega. Ia merasa sangat rendah.


'Gadis itu mampu melawan rasa sakit hatinya sendiri. Kenapa aku yang lelaki harus menahannya dengan menyakiti orang lain!? Sebenarnya apa yang aku lakukan ini!?' Batin Adam.


Sementara Adam penuh dengan kegalauannya, Mega sedang amat bahagia bersama Guna. Ia sudah menyiapkan beberapa hadiah untuk anaknya. Dan tentunya kue ulang tahun beserta Nasi goreng kesukaan anaknya. Ia ingat saat Guna berkata beberapa hari lalu.


"Mamak! Mamak! Ulang tahun Guna kapan!?" Tanya Guna.


"Wah! Guna tau aja sih ulang tahunnya udah deket" goda Mega.


Guna cengengesan, " Desta yang kasih tau!!"


"Guna mau mamak beliin apa nanti!?" Tanya Mega.


Guna menggeleng.


"Wah! Tumben nih Guna gak mau apa-apa!" Ucap Mega sedikit terkejut. Biasanya ia akan meminta mobil-mobilan atau mainan lain sejenisnya.


"Siapa bilang Guna gak mau apa-apa!?" Ucap Guna polos.


"Tadi kan mamak tanya terus Guna menggeleng, artinya kan gak mau?!"


"Guna gak mau beli hadiah. Guna mau sama mamak" ucap Guna.


Dheg! Mega terkesiap.


Selama ini ia selalu sibuk. Pagi hari ia hanya bertemu Guna sebentar. Saat ia pulang pasti sudah malam, Guna sudah lelah dan tertidur. Mereka jarang menghabiskan waktu bersama. Mega tidak bisa meminta liburan karena masa kontraknya tiga bulan.


Tidak ada cuti bagi karyawan kontrak di Bramastya Jewelry. Satu-satunya jalan hanya meminta ijin untuk pulang lebih awal.


Dan disinilah ia sekarang, merayakan hari ulang tahun buah hatinya dengan gembira. Melihat mata Guna yang berbinar membuat hati Mega juga bahagia. Guna menikmati setiap proses acara ulang tahun kecilnya bersama mamanya.


"Tok..tok..tok.." Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu rumahnya. Mega mengintip dari jendela. Ia jarang kedatangan tamu setelah mulai bekerja. Siapa yang datang ke rumahnya?!


Ia sangat terkejut melihat Yoga dan Desi ada di depan pintu rumahnya.


"Mega! Mega!" Teriak Yoga.


Mega tertegun. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Meski bagaimanapun, ia masih tidak ingin bertemu dengan dua sejoli itu.


****