
"Tok..tok..tok.." Adam mengetuk pintu rumah Mega. Tapi tidak ada jawaban sama sekali. Sudah beberapa hari ini Mega tidak ke kantor. Dia tidak memberi kabar pada orang kantor, ia juga tidak bisa dihubungi. Adam benar-benar cemas, ini pasti karena Mega marah.
Adam kembali ke mobilnya dengan gelisah. Apalagi ia tidak melihat sepeda motor Mega di parkir di depan rumah.
'Kemana dia!? Jangan bilang ia pindah rumah' batin Adam. 'Tidak mungkin kan dia pergi tanpa kabar?'
Saat ia sedang sangat bingung terlintas di benaknya nama 'Dinda', ia pasti tahu Mega kemana. Adam langsung melesat menuju ke rumah Dinda yang letaknya tidak jauh dari kosan Mega. Tapi anehnya rumah Dinda juga kosong.
Mega tidak pergi, ia juga bukannya pindah rumah. Ia lupa segalanya. Tidak ingat pekerjaannya setelah mengetahui bahwa si kecilnya mengalami koma. Ia memiliki begitu banyak tagihan yang harus dibayar akibat operasi besar yang dilakukan pada Guna.
Mega benar-benar merasa buntu, Dinda selalu berada di sisinya untuk menemani Mega. Dinda merasa amat bersalah. Kejadiannya itu terjadi begitu saja.
Tepat saat Dinda mengantar anak dan suaminya untuk pergi mengikuti kegiatan kemah sekolah, Guna yang tadinya bermain di dalam rumah mengejar bolanya yang menggelinding keluar dan masuk ke jalan raya. Dinda yang terpana memandang bis anaknya menjauh tidak sadar bahwa Guna berlari keluar hingga suara tabrakan terdengar.
"Mega, kamu harus kembali bekerja. Biar mbak disini yang menjaga Guna" ucap Dinda.
Mega menangis tiada henti menatap Guna yang terbaring lemah di atas ranjang. Ia sangat merindukan senyuman anaknya itu bahkan ia rindu tangisannya saat ini.
"Ndak mbak! Aku udah banyak repotin mbak! Kalau mbak disini jagain Guna, gimana dengan keluarga mbak?!"
"Tapi kalau kamu tidak bekerja dan menghasilkan uang bagaimana kamu akan menyelamatkan Guna!?" Ujar Dinda dengan air mata berlinang.
Mega sedang merasa bimbang, di satu sisi ia ingin terus mendampingi Guna. Ia ingin terus berada di sisi anaknya itu. Namun disisi lain apa yang Dinda bilang itu benar. Ia harus bekerja agar bisa membiayai perawatan Guna.
Mega bangkit dan ijin keluar ruangan Guna untuk menjernihkan pikirannya. Ia duduk dengan wajah kusut di depan kamar Guna dan tiba-tiba seorang perempuan berdiri di depannya.
"Kamu sedang membutuhkan banyak uang!? Saya akan memberikannya, tapi kamu harus melakukan sesuatu untuk saya!"
****
Adam langsung berlari ke luar ruangannya saat mendengar Mega ada di luar. Ia melihat langkah Mega yang memasuki kantor. Hati Adam langsung berubah cerah.
'Ah! Tapi.. dia datang dengan tujuan baik kan!? Jangan bilang dia mau menyerahkan surat pengunduran diri!' Batin Adam.
Hatinya yang tadi berubah cerah sekarang berubah mendung lagi. Dia mengintip Mega yang ternyata menuju ke ruangannya. Adam pun berlari dan masuk ke ruangannya segera. Untung saja tidak ada yang melihatnya, atau kalau tidak pasti orang-orang berfikir bos Bramastya Jewelry sudah gila. Semakin dipikir, ini semakin masuk akal. Tidak mungkin Mega datang keruangannya pagi-pagi tanpa sebab, pasti ia ingin mengundurkan diri.
Tepat saat pintu terbuka dan Mega muncul, Adam langsung meraih tangan Mega "Maapkan saya! Saya..."
Kata-kata Adam tercekat saat Mega menarik dasi Adam dan langsung mencium bibir Adam. Adam kaget, namun tidak lama setelahnya Adam langsung memainkan lidahnya mengikuti permainan Mega. Tangannya menarik perlahan kepala Mega untuk mendapatkan sesuatu yang lebih dalam dan dalam. Sesuatu seperti meledak-ledak di dada Adam. Saat Mega melepas kecupannya, Adam menatapnya dengan tatapan penuh ketidak percayaan. Ia menatap mata Mega lekat-lekat berharap Mega memberinya penjelasan atas apa yang terjadi beberapa hari ini dan kali ini tepatnya.
"Pak! Maap selama beberapa hari ini saya menghilang, saya bingung! Saya merasa bersalah karena menyentuh suami orang. Saya berusaha menghindar. Tapi semakin lama saya semakin sadar bahwa saya juga menginginkan pak Adam" ucap Mega "Saya minta maaf tidak pernah berkabar ke kantor!"
Mendengar kata-kata Mega, Adam benar-benar senang. Rasanya ia ingin melompat. Namun akhirnya ia merengkuh tubuh Mega dan mengusap pundak Mega lembut, kemudian ******* lembut bibir Mega.
****
Adam memandangi Mega yang duduk di depannya. Ia masih tidak percaya gadis itu akan menjadi miliknya juga, "saya boleh mencium kamu lagi!?" Tanya Adam.
Ini sudah kesekian kalinya Adam mencium bibir Mega. Ia seolah-olah tidak mau berhenti. Ia ingin terus memeriksa apakah yang terjadi ini mimpi atau bukan?!
Mega tersenyum kemudian perlahan mendekatkan wajahnya pada Adam, Mega ******* lembut bibir Adam kemudian melepaskannya. "Sudah!?" Bisik Mega.
"Belum.." desah Adam. Ia kembali mencium bibir Mega. Kembali ********** dengan lembut. Namun sebuah ketukan di pintu membuyarkan kemesraan mereka. Adam melepaskan tubuh Mega dari dekapannya dan merapikan bajunya.
"Maap pak! Pintunya terkunci" ucap Irene.
Adam lupa tadi ia menguncinya. Dia takut seseorang masuk dan memergoki mereka sedang bermesraan. Dia tidak mau Mega merasa malu. Adam kemudian membukanya. Dan Irene muncul dengan Seruni yang mengikutinya di belakang.
Seruni pun masuk ke dalam ruangan Adam dengan tatapan tajam 'Kenapa pintunya di kunci!?' Pikir Seruni.
Menurut pengalamannya dulu, pintu Adam tidak pernah dikunci sebelumnya. Seruni tambah kesal saat melihat ternyata ada orang lain di ruangan itu. Ada Mega disana.
"Ada apa?!" Tanya Adam.
"Mas bisa kita bicara berdua?!" Tanya Seruni.
"Mega tidak boleh keluar. Mega harus tetap disini" ucap Adam tegas.
"Mas, aku tidak mau kita udahan gitu aja mas!" Ucap Seruni.
"Kamu mau berapa!?" Tanya Adam langsung.
"Maksud kamu apa mas!?" Sergah Seruni.
Adam menghela nafas "Kamu mau berapa!? Biar aku tranfers" ucapnya.
Amarah langsung naik ke kepala Seruni, ia benar-benar kesal "Kamu pikir aku penjaja s*ks apa?!"
"Terus mau kamu apa?!" Tanya Adam.
"Aku gak mau kamu cuekin!! Aku gak mau kita kayak gini! Aku mau kita kayak sebelumnya" ujar Seruni ngamuk.
"Tapi aku tidak bisa" ucap Adam. "Aku tidak mau bermain-main denganmu lagi"
"Mas! Kamu anggap apa aku!?"
"Dengar Seruni. Aku sudah bilang sebelumnya, kamulah yang menawarkan dirimu padaku. Selama ini aku tidak pernah mengejarmu" ucap Adam lagi.
Seruni terdiam. Jika Adam mengungkit tentang 'menawarkan diri' Seruni tidak mampu mengelak. Karena faktanya Seruni memang menawarkan dirinya sendiri pada Adam. Dia berambisi menggulirkan posisi istrinya Adam. Untuk apa seorang pria berselingkuh!? Pasti karena tidak puas atau tidak cinta lagi pada istrinya. Seruni ingin menggantikan posisi istri Adam.
"Maap Seruni, tapi aku sudah tidak ingin menjalin hubungan apapun denganmu" ucap Adam.
Seruni benar-benar marah, ia sangat kesal. Ia pergi sembari membanting pintu ruangan Adam. Segera setelah Seruni pergi, Adam berbalik dan menatap Mega. Ia merasa tidak enak.
"Apa kamu marah!?" Tanya Adam.
Mega menggeleng dan tersenyum. Adam duduk di meja kerjanya kemudian menarik tangan Mega dan menuntunnya untuk mendekatinya.
"Dengar Mega. Saya tidak akan mencari wanita lain lagi sekarang. Saya berjanji saya hanya milik kamu seorang" ucap Adam sembari mengecup lembut kening Mega. "Kamu tahu saya sebrengsek apa saya dulu. Tapi itu dulu, sekarang saya akan berubah demi kamu"
Hari ini terjadi banyak hal untuk Adam. Untuk pertama kalinya ia merasa sangat senang mendengar kata-kata cinta dari seorang perempuan. Ini juga adalah kali pertama setelah bertahun-tahun Adam merasa seolah-olah hatinya ingin meledak saat mencium seorang perempuan. Dan Mega adalah satu-satunya wanita yang hatinya ingin ia jaga selain Zahra dahulu.
*****