
"Wah! Bukannya itu Mega?!"
"Dia kan mantan istri Yoga?"
"Sumpah! Sabar banget kali si Mega mau hadir di acara ini"
Bisik-bisik mulai menyebar saat Mega masuk ke dalam ruangan resepsi. Semua mata yang mengenal Mega tertuju kepadanya. Terutama Yoga dan Desi.
Yoga bahkan tidak mampu mengenali mantan istrinya itu dalam balutan pakaian yang mewah. Mega tidak seperti biasanya. Bahkan ia merias dirinya dengan baik.
'Apa kamu mau membuat aku menyesal?!' Batin Yoga.
Dia tersenyum tipis. Merasa lega bahwa mantan istrinya mungkin belum bisa move on darinya. Tapi air muka Yoga berubah seketika saat melihat pria yang berjalan di belakang Mega. Ialah Adam Bramastya yang kemudian mengiringi langkah Mega. Mereka bercakap-cakap seolah-olah sangat akrab.
'Apa mereka saling mengenal!?' Batin Yoga. Yoga tahu betul pria seperti apa Adam itu.
"Selamat ya Yoga!" Adam mengulurkan tangannya ke arah Yoga. Yoga pun dengan kikuk menyambutnya.
Kemudian Mega memberi ucapan selamat juga. Mega berusaha melakukannya sealami mungkin, meskipun untuk berdiri di sana saja kakinya terasa lemas.
"Selamat ya mas. Semoga kali ini langgeng!" ujar Mega pelan. Suara dan mimik wajahnya datar, tapi isi hatinya hancur berantakan.
"Terimakasih ya Mega kamu sudah menyempatkan diri datang kesini!" ujar Yoga sembari menyambut tangan Mega. "Kamu sendirian aja kesini?! Kamu gak ajak Guna?!"
"Ah! Aku kesini sama.." Mega melirik ke arah Adam. Adam pun tersenyum saat Mega meliriknya.
"Ap-apa kamu kesini dengan.." Yoga terkejut. Belum habis kata-kata keluar dari mulut Yoga, Desi sudah menyerobotnya.
"Terimakasih ya Mega kamu sudah menjadi bagian dari kebahagiaanku hari ini" senyum kemenangan menghiasi wajah Desi.
"Sama-sama Des! Semoga kali ini langgeng ya! Jaga suamimu dengan baik" ujar Mega lagi.
Mega menyalami Desi sejenak kemudian berlanjut pada kerabat kedua mempelai. Wajah Ibu dan Ayah Yoga menggelap. Tubuh Mega direngkuh oleh kedua mertuanya (mantan mertua rek), mereka menangis.
"Maapkan kami nak! Maapkan kami!" Ucap mereka berulang.
Mega menggeleng, ia berusaha memasang senyum tapi tidak mampu.
"Tidak apa pak, bu! Ini memang sudah jalannya"
Melihat kedua mertuanya itu menangisi mantan menantunya, wajah Desi mulai ditekuk.
'Kenapa sih kedua tua renta itu pakek nangis segala!! Mau nunjukin banget ke orang-orang mereka gak suka aku ya!?' Batin Desi kesal.
Hati Mega terasa teriris. Bertahun-tahun ia menghabiskan waktu bersama keluarga itu dan kini mereka seolah-olah orang asing baginya. Mega berjalan melangkah ke arah Adam yang kemudian mengiringinya keluar ruangan.
Mata Yoga tidak dapat lepas dari Mega. Ia ingin memastikan bahwa mantan istrinya tidak datang bersama playboy cap kadal itu.
'Tidak mungkin! Ini tidak mungkin!' Batinnya.
***
Adam diam memandang Mega yang menangis di sebelahnya. Sudah lebih dari 20 menit dia meraung-raung disana. Adam sedikit takut jika orang-orang berfikir mereka sedang melakukan perbuatan tidak senonoh. Soalnya mobil Adam parkir di tempat yang sepi khusus membiarkan Mega menangisi kejadian tadi.
"Rasanya sakit banget ya?!" Tanya Adam.
Mega masih belum menjawab, ia sibuk menangis.
"Ya udah kalau kamu masih mau menangis, menangis saja" ujar Adam lagi.
Mega tidak menjawab lagi, ia masih saja menangis terisak.
"Saya ingin meringankan rasa sakit kamu, boleh saya elus-elus kepala kamu?!"
Seketika itu Mega menoleh dan menghentikan tangisnya. 'Enak aja pak Adam mau ambil kesempatan dalam kesempitan!' Batin Mega.
Adam segera tertawa geli melihat penampilan Mega yang acak-acakan.
"Coba liat! Sini liat muka kamu!" Ujar Adam sembari menahan tawa. "Mega, bersihin make up kamu terus kita habiskan waktu ini untuk melupakan kejadian tadi" ucap Adam.
Tadinya Mega tidak berniat untuk mengikuti perintah bosnya itu. Tapi seperti sebuah 'magic' Mega ikut saat Adam mengajaknya pergi. Mereka sempat berkeliling mengendarai mobil, sempat teriak-teriak di pantai, diam pinjam tempat duduk di sebuah restaurant hingga sampai pada sebuah club.
"Kamu bisa minum?!" Tanya Adam.
Mega menggeleng. Ia merasa tidak nyaman. Mega tidak pernah menginjakkan kakinya di sebuah tempat seperti club sebelumnya.
"Pak kita pulang saja yuk!" Gumam Mega.
"Gak apa. Kita sudah sampai disini. Lebih baik kita menikmati suasana ini sebelum pergi"
"Kamu mau pergi ke hotel?! Di sana lebih nyaman.." bisik Adam di telinga Mega. Terdengar lembut dan terasa sengaja dibuat mesra. Sesaat seperti ada sesuatu yang menggelitik telinga Mega dan merasuk hingga ke hatinya.
'Kenapa aku!?' Batin Mega. Ia segera menggeleng berusaha mengembalikan kewarasannya. 'Ini pasti karena tempat dan suasana hatinya yang tidak baik'
"Pak! Ayo kita pulang. Disini tidak nyaman" ajak Mega lagi.
Namun Adam sudah menenggak beberapa botol alkohol seolah-olah itu adalah air mineral. Kondisinya sudah setengah mabuk. Adam menolak untuk pulang.
"Saya disini saja. Kalau kamu mau pergi, tinggalkan saja saya disini" ujar Adam parau. Sembari menarik gelas besar di tangannya dan segera meminumnya.
Mega meringis. Perutnya terasa sakit, biasanya kalau kelewat panik Mega akan merasa perutnya seperti teriris.
"Pak! Ayo kita pulang" pinta Mega lagi.
"Tidak apa. Kamu pulang saja dulu, saya sudah biasa ditinggalkan" ujar Adam lagi.
"Pak.. saya tidak akan meninggalkan bapak. Ayo kita pulang bersama-sama"
"Bersama-sama?! Apa kamu mau melewati malam ini bersama dengan saya?!"
'Aduh!' Batin Mega. Si bos pasti sudah sangat mabuk.
"Ayo pak Adam kita pulang. Kita pulang pak!" Ujar Mega.
Namun Adam tetap menolak. Hingga akhirnya Adam teler dan tidak mampu berbicara. Saat itu Mega meminta bantuan security untuk menolongnya membawa Adam ke dalam mobil.
Mega kemudian mengemudikan mobil menuju ke rumah Adam. Namun ditengah jalan ia teringat bahwa ia tidak tahu rumah Adam ada dimana.
Ditengah kepanikan, sebuah nama muncul di ingatannya 'Santi'. Ia bertanya pada Santi dimanakah alamat rumah bosnya itu. Namun yang Santi tahu hanyalah alamat apartemen Adam, bukan rumahnya.
Tanpa pikir panjang Mega membawa Adam langsung ke apartemennya. Dengan bantuan seorang satpam, Mega membawa Adam ke dalam kamarnya.
Adam tertidur dengan lelap. Ia bahkan tidak terganggu saat Mega melepaskan sepatu dan ikat pinggangnya. Mega ingin menyingkirkan pakaian Adam juga yang penuh dengan aroma alkohol yang kuat. Tapi Mega malu melakukannya. Akhirnya ia hanya menyelimuti bosnya itu dengan selimut.
"Pak, saya pergi dulu ya" gumam Mega.
"Tunggu.." tiba-tiba Adam bangkit dari tidurnya dan berjalan ke arah Mega. "Jangan pergi sayang.. temani saya disini" ujar Adam lembut. Ia memeluk Mega erat.
Sepersekian detik Mega terpana. Ia tak mampu melakukan apapun. Ini di luar dari bayangannya. Namun ia kembali sadar dan melepas pelukan Adam kemudian mengembalikannya ke tempat tidur.
****
Adam tersenyum geli saat mengingat aktingnya semalam. Pura-pura mabuk memang jalan yang baik untuk mendapatkan seorang gadis, seperti yang sering ia lakukan pada gadis-gadis lain sebelumnya. Ahh.. tapi Mega sedikit berbeda. Ia tetap menolak dan dengan tenang mengembalikannya ke tempat tidur. Adam jadi merasa sedikit bersalah karenanya. Mega kan sedang kalut tapi dia malah mencoba memanfaatkan situasinya untuk menghabiskan malam bersama.
Adam tertawa, "Aku ini benar-benar brengsek ya!" Gumamnya.
Selama ini Adam selalu bermain-main dengan gadis mata duitan. Ia paling benci cewek matre makanya mereka selalu menjadi incarannya. Kali ini ia tertarik pada asistennya sendiri. Ini di luar kebiasaannya. Padahal Mega bukan tipe gadis incarannya. Mega gadis yang sederhana, juga bukan gadis yang mencari uang dengan jalan pintas. Namun akhir-akhir ini Adam merasa tertantang untuk mendapatkannya.
'Dia yang sangat membenci perselingkuhan, apa ia bisa jatuh ke dalamnya juga?' Batin Adam.
"Tok..tok..tok.." suara ketukan pintu.
"Masuk!" Perintah Adam.
Segera setelah Adam memberi perintah. Wajah yang ia tunggu-tunggu pun muncul. 'Seruni' Ia muncul dengan blouse berwarna putih dan rok span pendek dengan motif bunga. Sungguh penampilan yang segar nan menggoda.
Tidak butuh waktu lama menarik pancingan seperti 'Seruni', gadis ini mata duitan. Ia tak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk berkencan dengan seorang konglomerat.
"Mas! Aku jadi mampir lho" bisik Seruni sembari masuk ke dalam ruangan Adam dan menutup pintu.
"Hmnn.. iya! Aku pikir kamu gak jadi kesini. Aku sudah kecewa lho tadi" ucap Adam.
"Tadi aku sedikit sibuk. Hampir saja gak jadi kesini. Tapi demi kamu.. aku sempatin waktuku" Seruni sengaja duduk di sofa di depan Adam. Menaikkan satu kakinya dan memperlihatkan keindahan bagian bawah tubuhnya.
Adam pun paham dan bangkit dari duduknya mendekati Seruni yang sedang tersenyum memperlihatkan lesung pipinya.
Entah siapa yang memulai duluan namun mereka telah berada dalam sebuah pergelutan yang panas. Seruni sedang menindih tubuh Adam dari atas sembari ******* pelan bibir Adam. Tangan Seruni sudah berhasil melepas sebagian kancing kemeja yang Adam gunakan. Sedangkan Adam, ia sudah berhasil melepas penutup bagian atas dan rok span Seruni pun sudah naik ke bagian perutnya. Namun tiba-tiba pengacau muncul, Santi masuk ke ruangan Adam tanpa aba-aba.
"Ah! Eh! Ma-maap pak! Ee.. sa-saya.."
"Brukk!" Santi langsung menutup pintu tanpa menyelesaikan kalimatnya.
Seruni sangat terkejut. Secepat kilat ia bangkit dari posisinya dan merapikan pakaiannya. Sedangkan Adam terlihat santai saja. Senyum mengembang di bibirnya sesaat setelah pintu ruangan di tutup oleh Santi.
"Mau lanjutin di tempat lain?!" Bisik Adam.
****