The Seducer

The Seducer
Undangan Pernikahan



"Mega!!" Teriak Adam lagi. Sudah ketiga kalinya Adam memanggil nama Mega tapi Mega sama sekali tidak bergeming. Wajahnya menatap pucat ke arah sepasang pria dan wanita yang sedang bercengkerama sambil memilih cincin-cincin di etalase.


Adam mengernyit, menyipitkan matanya untuk melihat lebih jelas siapa gerangan manusia yang membuat asistennya itu kurang fokus.


Oh! Itu adalah anak tunggal dari keluarga Adinata. Yoga Adinata. Dan siapa perempuan di sampingnya?!


Adam melirik penasaran ke arah Mega kemudian melangkah ke arah Yoga dan Desi dengan senyum yang mengembang di bibirnya.


"Hay! Mas Adam!!" Pekik Yoga girang. Ia mengulurkan tangannya hendak mengajak Adam bersalaman. Dengan senang Adam menerimanya.


"Hay! Apa kabar kamu?! Bapak Ibu apa kabar?!" Ujar Adam lagi.


"Baik mas! Mas gimana!? sehat-sehat?!" Tanya Yoga basa-basi.


"Seperti yang kamu lihat!" Sahut Adam "Mau beli apa nih!?"


"Ini mas, aku mau beli cincin kawin. Kira-kira yang mana bagusnya ya?!" Tanya Yoga lagi.


"Lho.." Adam terlihat kaget "Bukannya kamu sudah kawin ya?!"


Yoga tersenyum kecut "Itu.. aku udah cerai mas! Ini aku mau nikah lagi sama perempuan yang aku cintai" Yoga merengkuh bahu Desi di sebelahnya,"Ini calon aku mas, namanya Desi!"


"Desi" ucap Desi ramah sembari menyodorkan tangannya ke arah Adam.


Adam mengangguk pelan tanpa menjabat tangan Desi. Dengan malu Desi menarik tangannya.


"Oh iya mas aku sekalian mau kasih ini. Kalau mas ada waktu datang ya mas!"


Yoga meraih sebuah undangan dari dalam tas yang ia bawa. Adam menerimanya dengan sopan. Ia sedikit berbasa-basi dengan Yoga sebelum akhirnya kembali ke ruangannya.


"Kamu kenapa Mega?!" Ujar Adam saat melirik wajah Mega yang bertambah pucat.


"Mmmmnn.. ti-tidak pak! Saya tidak apa-apa!" dusta Mega.


"Wajah kamu pucat, kamu sakit?!" Adam menempelkan tangan kanannya ke dahi Mega.


Mega yang terkaget langsung menjauhkan wajahnya sedikit dari tangan Adam. "Ah, saya hanya sedikit kecapean pak!"


"Bagaimana rasanya?!" Tanya Adam tiba-tiba.


"Huh?!" Mega tidak paham maksud dari bosnya itu. 'Bagaimana rasanya kecapean?!' Batin Mega.


"Bagaimana rasanya melihat orang yang kita cintai bersama dengan orang lain?!" Adam memperjelas pertanyaannya.


"Maksud bapak gimana?!"


"Itu! Disana! Yoga Adinata itu suami kamu kan?" Adam menunjuk ke arah Yoga dan Desi yang sedang asyik memilih cincin kawin.


"Ba-bapak tahu darimana?!"


"Hmnn.. saya pikir kamu ingat saya" Adam terlihat kecewa "Masak kamu gak inget sama saya?!"


Mega mengernyit. 'Tidak inget sama saya?!' Batin Mega. Kata-kata Adam membuatnya berfikir bahwa mereka pernah bertemu sebelumnya selain sebagai atasan dan bawahan.


"Serius kamu lupa?!" Tawa renyah keluar dari mulut Adam "Saya dateng lho di resepsi pernikahan kamu dan Yoga, saya menyalami kamu waktu itu!"


Hah?! Mega berusaha mengingat-ingat. Tapi entah sekuat apapun ia berusaha ia tidak bisa mengingat wajah Adam diantara banyaknya tamu undangan yang datang waktu itu.


Kelemahan terbesar Mega adalah menghafal wajah dan nama seseorang. Itu adalah hal yang paling tidak bisa ia ingat. Jadi jangan salah paham jika Mega tidak mengingat siapapun orang yang baru dikenalnya atau orang-orang yang sudah lama tidak ditemuinya.


"Oh.. ma-maap pak! Saya sungguh tidak ingat!" ujar Mega.


Adam tersenyum, "Saya inget banget lho senyum kamu yang sumringah yang berdiri di sebelah Yoga!"


"Bapak kok bisa kesana?!"


"Jelas donk! Orangtua saya dan Pak Adinata merupakan teman dekat!"  ucap Adam lagi, "Kenapa kalian bercerai?!"


Mega terdiam sejenak dan kemudian berkata, "Yoga berselingkuh dengan sahabat saya!" Mega melirik sejenak ke arah Yoga dan desi disana. Mereka masih sibuk memilih cincin kawin yang pas untuk mereka. "Dia lebih memilih wanita itu ketimbang saya. Jadi.. saya lebih memilih mundur. Saya tidak mau menghalangi mereka!"


Adam tertawa sinis, "Kenapa kamu bodoh!? Kenapa kamu malah mundur?! Sekarang liat, mereka akan menikah kemudian bahagia. Terus kamu disini dapet apa?! Sendirian dan menderita!? Coba kamu tetap bertahan dan halangi persatuan mereka. Pasti mereka tidak bisa bahagia seperti sekarang!"


Mega menggeleng, "Tidak pak! Kalau saya masih memaksakan diri untuk bertahan hanya satu yang saya dapat. Kebencian! Saya memilih melepaskan bukan semata-mata untuk mereka. Tapi juga untuk saya. Dengan melepas mas Yoga, saya juga melepas rasa sakit saya. Semakin lama saya bertahan, saya yakin semakin banyak luka dan kebencian yang akan saya dapat. Saya juga ingin bahagia dan menemukan orang lain yang bisa menggantikan posisi mas Yoga. Tidak hanya mas Yoga yang berhak bahagia. Saya juga memiliki hak yang sama!"


Adam terdiam memandang lekat-lekat wajah Mega di depannya. Lama ia terdiam namun kemudian dia berkata, "Suami kamu bodoh ya!"


"Maksud bapak?!" Tanya Mega.


"Dia bodoh karena meninggalkan sebuah berlian hanya demi sebuah permata murahan"


****


"Ada apa?!" Tanya Mega tanpa basa-basi. Ia tahu kenapa Yoga mengajaknya bertemu. Tidak lain dan tidak bukan adalah untuk memberinya undangan.


"Aku tahu kita berakhir dengan buruk tapi setidaknya aku tidak mau memutus silaturahmi dengan kamu. Bagaimanapun aku adalah ayah dari anak kita!" ucap Yoga sembari menyodorkan sebuah undangan berwarna merah muda."Kalau kamu ada waktu. Tolong hadir bersama Guna di acara pernikahanku dengan Desi"


Seolah-olah ada orang yang tiba-tiba menjatuhkan seember air dingin di atas kepala Mega, seperti itulah perasan Mega saat ini. Ia tahu bahwa Yoga dan Desi akan menikah. Ia juga tahu kenapa Yoga ingin menemuinya. Tapi saat Yoga mengatakannya langsung di depannya, rasa sakitnya selalu mengejutkan. Sekuat tenaga Mega menahan perasaannya. Ia hendak mengucapkan barang sepatah atau dua patah kata, namun lidahnya terasa kelu.


"Oh iya.. apa Guna sehat-sehat saja?!" Ujar Yoga mengalihkan topik pembicaraan.


Ia sendiri merasa tidak enak memberikan surat undangan itu kepada Mega. Tapi ia sepaham dengan calon istrinya bahwa Mega memang layak untuk diundang. Bagaimanapun tidak bisa memutus silaturahmi begitu saja dengan ibu dari anaknya.


"Dia baik," ujar Mega singkat.


"Nggg.. kalau gitu aku pamit ya. Masih banyak yang perlu aku persiapkan!" ucap Yoga diiringi senyum.


Mega tidak menjawab. Ia hanya mengangguk. Yoga kemudian berbalik dan melangkah pergi dengan cepat. Dengan perasaan tak menentu Mega menatap punggung pria yang pernah berbagi kebahagiaan dengannya itu. Tidak pernah walau hanya dalam mimpi sekalipun Mega membayangkan Yoga akan memberinya undangan ke pernikahannya.


Entah sejak kapan jarak diantara mereka begitu jauh. Orang-orang bilang jika suami selingkuh ia akan menjadi orang lain secara tiba-tiba. Ia bisa berubah menjadi sangat baik, sangat perhatian, suka memberi hadiah dan akan lebih royal atau ia akan berubah dingin, menjadi lebih cuek dan sering pulang malam. Tapi Yoga tidak menunjukkan tanda-tanda semacam itu. Ia terlihat sangat biasa. Tidak berubah menjadi lebih baik dari biasanya ataupun sebaliknya. Seandainya hari itu ia tidak pulang lebih cepat maka semuanya tidak akan terbongkar. Entah itu keberuntungan atau kesialan. Bagi Mega itu terlihat sama saja.


Tiba-tiba seseorang duduk di depan Mega dan membuat Mega mendongak karena terkejut.


"Ngapain kamu galau?!" Adam duduk sambil menyeruput minuman yang dibawanya.


Masih setengah sadar, Mega hanya bengong menatap ke arah Adam tanpa menjawab. Adam kemudian menyadari masalahnya saat melihat undangan yang ada di atas meja.


"Oh.. dia undang kamu juga!"


"Eh! Kok pak Adam bisa ada disini?!" Tanya Mega setelah kembali sadar.


"Saya tadi ada meeting di deket sini. Terus pas lewat saya liat kamu!" dusta Adam. Dia memang sengaja membuntuti Mega pas pulang. Dia mendengar Mega akan bertemu dengan Yoga dan entah kenapa hati Adam merasa tergelitik untuk mengikutinya.


Mega mendengus, Meeting macam apa coba?! Palingan bosnya itu ketemu sama pacarnya. Namun perasaan Mega saat ini sedang tidak enak, dia tidak ingin bertanya lebih lanjut.


"Pak, kalau gitu saya pamit pulang dulu ya!" ucap Mega sembari meraih undangan yang ada di meja dan menaruhnya di dalam tasnya. Ia kemudian bangkit dari duduknya.


"Eh! Tunggu sebentar. Saya mau makan nih! Temenin saya makan dulu donk" ucap Adam.


"Hah?!" Mega terlihat bingung. Di satu sisi ia ingin melarikan diri segera dan menangis sepuasnya tapi di sisi lain ia tidak bisa menolak ajakan atasannya.


"Wah, kamu tega juga ya meninggalkan atasan kamu makan sendirian?!" Ujar Adam lagi.


Seketika Mega kembali ke posisi duduknya. Adam tertawa melihat ekspresi Mega saat kembali duduk di depannya.


"Ayo kamu mau makan apa?!" Tanya Adam.


"Saya sedang tidak ingin makan pak! Saya disini untuk menemani bapak" ucap Mega lagi.


"Mega, please kalau sudah bukan jam kerja panggil saya 'mas' saja. Kalau kamu panggil saya 'bapak' saya merasa tua " senyum usil tersungging di bibir Adam kali ini.


"Ya ampun pak, bapak kan memang sudah bapak-bapak!"


Adam tertawa. "Meskipun sudah bapak-bapak tapi banyak gadis remaja yang tergila-gila pada saya!"


Mega memutar bola matanya seolah-olah bosan mendengar ocehan bosnya yang besar kepala. Tapi ia tidak mampu menjawabnya karena meskipun ia tidak ingin mengakuinya Adam memang sosok pria yang tampan bahkan di usianya yang sudah menginjak kepala empat.


"Kamu nanti dateng tuh ke pernikahan mantan suami mu?!" Ujar Adam.


"Ngg... entahlah pak. Saya belum memutuskannya!" jawab Mega jujur.


"Saya mau ngajak kamu kesana sih. Kebetulan kamu juga dapet undangan kan bisa sekalian," ujar Adam lagi.


Mega mengernyit. Sebenarnya ia tidak ingin datang. Pikirannya berkata ia harus datang demi menunjukkan bahwa ia akan baik-baik saja meskipun melihat mantan suami dan sahabatnya itu menikah. Tapi hatinya belum siap melihat Yoga berdiri di pelaminan bersama Desi. Ia takut air mata akan jatuh tidak terkontrol saat itu.


"Apa itu perintah pak?!" Tanya Mega lagi.


****