The Seducer

The Seducer
Prasangka



Kok kamu diem!?" Tanya Adam. Dia merasa aneh karena Mega terdiam terus di sepanjang perjalanan.


"Ah.. ti-dak pak! Bapak kan diem jadi.. saya mau ngomong apa!?" Ujar Mega.


"Kan biasanya kamu laporan setelah saya ajak ngecek cabang" ucap Adam.


Mega menghela nafas, "Kan gak ada yang perlu dilaporkan pak!" Ucap Mega.


Adam mengangguk. Dia terdiam lagi. Biasanya gampang baginya mencari topik pembicaraan saat bersama Mega tapi akhir-akhir ini seolah-olah ia seperti komputer yang error.


"Ngg.. ba-bagaimana keadaannya Guna. Apa dia baik?!" Tanya Adam.


"Baik pak! Terimaksih kadonya kemarin!" Ujar Mega.


"Ah.. bukan apa-apa.." ujar Adam. "Oh iya.. sejak kapan kamu mulai suka berdandan?!"


Mega tertawa "Ada yang kasih tau saya kalau saya cantik saat saya berdandan"


Adam mengernyit 'Ada yang ngasih tau!? Apa cowoknya!?' Batin Adam.


"Oh.. berarti kamu sedang membuka diri ya?! Kamu udah move on ya dari Yoga!?" Ujar Adam sinis.


Mega tertawa lagi "Yah! Harus donk pak! Gak mungkin kan saya terpuruk selamanya dalam masa lalu" ucap Mega.


Adam semakin yakin. Ada pria yang sedang dekat dengan Mega. "Siapa pria itu!?"


"Hah!? Bagaimana pak!?" Tanya Mega.


'Kenapa dia bertanya tentang pria!? Perasaan kita gak lagi ngomongin pria deh!' Batin Mega


Adam mendengus "Siapa pria yang bilang kamu cantik kalo dandan!?"


Mega tertawa ngakak "Temen saya pak! Dia bukan pria, dia wanita!"


****


"Mas apa kamu gak bosen!?" Ucap Zahra saat untuk pertama kalinya setelah beberapa bulan ini Adam pulang kerumah.


Adam diam, dia tidak menggubrisnya. Dia masuk ke dalam kamarnya.


"Mas! Lebih baik kita bercerai!! Kamu bisa pacaran dengan wanita mana saja yang kamu mau tanpa harus di cap sebagai tukang selingkuh!! Aku juga bisa tenang dan gak bakalan ganggu kamu lagi!!" Zahra menggedor-gedor pintu kamar Adam. "Mas! Aku mohon! Aku gak butuh uang kamu! Kamu gak harus kasih aku apa-apa! Cukup biarkan aku pergi menjalani hidupku sendiri!!"


Tiba-tiba Adam membuka pintu dan dengan geram berkata "Kamu tahu!! Itulah yang aku mau!! Biar kamu juga gak bisa menjalani hidup kamu! Biar kamu gak bisa bahagia juga sama seperti aku!!" Ucap Adam. Dia langsung menutup pintu tanpa mau mendengar sepatah katapun dari Zahra.


Zahra menangis tersedu-sedu di depan pintu kamar Adam. Ia sudah sangat lelah. Dia menunggu sangat lama untuk bisa berpisah dari Adam dan menikah dengan pria yang ia cintai. Anton sendiri sudah sangat bosan menunggu kelanjutan hubungan mereka.


Zahra bingung harus melakukan apa. Gugatan cerai yang ia layangkan hanyalah butiran debu bagi Adam. Sungguh sangat membuatnya menderita. Ia seperti ada di dalam sangkar emas. Semua orang mengira ia hidup bahagia sebagai istri dari Adam Bramastya. Tapi kenyataannya 360° berbeda.


Padahal dulu Adam adalah pria yang sangat baik. Ia menawan, hatinya baik dan pengertian. Meskipun tidak mencintai Adam, Zahra sangat menyanjung suaminya itu. Namun setelah bertahun-tahun menikah, Adam tidak kunjung memberinya anak. Pergi ke berbagai dokter pun tidak ada hasilnya. Zahra pun mulai curiga. Sampai akhirnya ia mendengar bahwa Adam menyebut kata 'Mandul' dengan dokter.


Saat itu Zahra tidak tahu bahwa salah satu dari mereka mandul. Namun saat Zahra bertanya pada Adam, Adam terus menyembunyikannya. Sampai Zahra menyimpulkan bahwa Adam mandul. Jika itu dirinya pasti Adam akan mengatakannya, mungkin juga Adam akan mencari wanita lain. Tidak mungkin kan dia hanya akan berdiam diri saja!? Pasti Adamlah yang mandul!


Di dalam kebimbangannya, Zahra bertemu dengan seorang pria yang membuat ia merasa nyaman. Hubungan mereka berlanjut menjadi lebih spesial hingga akhirnya terjerumus menjadi perselingkuhan.


Semua kenangan dan bayangan dari masa lalunya muncul bagai slide foto di benaknya. Dia tahu bahwa Adam sangat mencintainya. Terlihat jelas dari cara Adam memperlakukannya. Tiba-tiba kata-kata Adam barusan muncul di benak Zahra 'Biar kamu juga gak bisa bahagia seperti aku'. Zahra kemudian mulai memahaminya. Berarti Adam harus bahagia dulu agar Adam bisa melepaskannya untuk mencari kebahagiaannya sendiri.


****


"Siapa?!" Tanya Mega.


"Penggantiku mbak!" Ucap Santi.


"Lho!? Kenapa!? Kok kamu..?!" Mega terkejut. Santi tidak pernah berkata bahwa ia akan berhenti bekerja dan digantikan oleh orang lain.


"Kisahnya panjang mbak! Untuk saat ini aku gak bisa cerita ke mbak! Nanti pasti mbak bakalan tau!" Ujar Santi.


Seorang gadis cantik berusia diawal 20 tahunan datang dengan lenggok cantiknya. Ia menggunakan kemeja motif bunga dan rok span pendek dengan warna senada. Wajahnya terpoles cantik dengan make up yang cukup tebal.


"Hallo mbak!" Ujarnya ramah.


"Mbak, kenalin dia pengganti aku namanya Irene! Dia temen aku pas kuliah." Ucap Santi.


"Aku Mega!" Ucap Mega sambil mengulurkan tangannya mengajak Irene berjabatan tangan.


Irene meraih tangan Mega kemudian berkata "Irene mbak!"


"Irene, ayo kita menghadap ke bos dulu" ucap Santi sembari mengajak Irene masuk ke ruangan Adam.


Setelah beberapa menit di dalam ruangan Adam mereka keluar, wajah Irene terlihat merah bagai tomat.


"Astagaa, bos kamu hot banget sih San!" Ujar Irene sembari menutup wajahnya.


"Aku kan udah bilang ke kamu bos aku kayak apa!" Ujar Santi.


"Aduh! Aku sih mau banget jadi salah satu koleksinya!!" Pekik Irene tertahan


****