The Prince & The Curse of Granades

The Prince & The Curse of Granades
Bab 38 - Chemistry



"Hah!”


Vins terperangah ketika buku rahasia tentang Umoya milik Hugo yang ada di mejanya itu tiba-tiba melayang dan setiap lembarnya terbuka dengan cepat seolah tersapu angin topan.


Ia sudah berusaha menurunkannya lalu menyimpannya di bawah bantal ataupun di bawah sesuatu agar buku itu tidak melayang lagi, namun berkali-kali Ia gagal menahannya. Buku itu terus terlepas dari genggaman Vins dan membuatnya kesulitan untuk meraihnya lagi.


Ia berusaha mencari tahu apa penyebabnya namun tak ada yang dapat dipahaminya.


Sejak tadi Ia mengurung diri di dalam kamar tak berani membuka pintu kamarnya berharap buku itu tidak keluar dari sana dan membuat kekacauan. Ia pun jadi terlambat untuk bergabung dengan jamuan makan malam karena tragedi buku ini.


Jika Vins meninggalkan bukunya dengan keadaan seperti ini dan bila Hugo melihatnya, sesuatu yang buruk pasti akan menimpa dirinya.


“Oh, ayolah! Apa yang ingin kau tunjukkan padaku?” Gerutu Vins lelah.


Tiba-tiba buku itu jatuh di dekat kakinya dalam keadaan terbuka di halaman tengah, dengan perlahan Vins mendekat dan memperhatikan halaman yang terpampang disana.


Crymoya Chemistry.


Vins mengernyit melihat judul bab di buku itu yang menurutnya terdengar sedikit tabu.


“Suatu fenomena yang terjadi ketika dua energi besar nan kuat yang akan menjadi satu ilusi, hadir dan terkoneksi menyentuh tanah yang sama hingga menimbulkan—“ Vins belum selesai membaca isi halaman itu dan tiba-tiba buku itu kembali terbang kesana kemari seolah terbawa angin ****** beliung, hingga menabrak barang-barang di kamarnya dan menjadikannya kacau balau.


“Jangan membuat kekacauan! Bagaimana kalau Paman Hugo tau?!” Seru Vins sambil berusaha melempar selimutnya untuk menangkap buku itu.


Namun buku itu masih tidak menghiraukannya, hingga Ia mulai naik pitam.


Vins mengatur nafas menahan marahnya kemudian mengutuk, “Siapapun iblis yang menguasai buku tua itu, kuperintahkan kau untuk berhenti memainkan aku!”


Buku itu semakin kuat berputar-putar menimbulkan angin yang kian membesar.


Ucapan Vins barusan seolah semakin membuatnya senang ketika Vins mulai menunjukkan kemarahannya.


Keadaan di dalam kamar Vins pun semakin tak terkendali, barang-barang di kamarnya berterbangan ke segala arah mengikuti pusaran angin yang ditimbulkan oleh buku tersebut hingga mampu membuat deretan jendela dan pintu tinggi di kamar Vins terbuka.


“Oh, tidak! Jangan keluar dari sini!!!” Teriak Vins panik.


Tapi buku itu telah melesat lebih cepat daripada langkah Vins.


Ketika buku itu menghilang dari balik pintu tersebut, Vins meninggalkan kamarnya yang seketika hening dan tetap berantakan.


Buku itu terus melayang hingga menyusuri lorong istana, dan Vins secepatnya mengejar buku itu sebelum ada yang melihat kejadian aneh ini.


Vins yang sedikit kesal karena buku itu sulit digapainya pun mengerang, namun begitu pandangannya menangkap sebuah bayangan seseorang sedang berjalan di ujung lorong istana, seketika Ia mematung di tempatnya.


“Hey! Menyingkirlah!” Tegur Vins spontan, kemudian langsung menutup mulutnya dan mencoba bersembunyi.


Namun orang itu terlanjur berbalik badan.


Vins mendengar pekikan seseorang saat buku tua itu mendarat keras di kepalanya.


Khawatir telah mencelakai orang lain, Vins bergegas menghampirinya dan melupakan ketakutannya karena telah mencuri buku milik Pamannya itu.


Dengan bantuan cahaya lampu di lorong yang sedikit redup, Vins melihat orang itu jatuh tertelungkup dengan gaunnya yang cukup panjang namun Ia masih belum bisa melihat dengan jelas wajahnya. Ia sedang tersungkur disana sambil merintih kesakitan.


“Maafkan aku! B-bukan aku yang melakukannya. Buku itu—“


“Apakah kau sengaja melempar buku itu ke kepalaku? Sakit tahu!” Dengusnya kesal.


“T-tidak. Aku tidak melemparnya. Bukan aku yang melakukannya, tapi buku itu melayang sendiri ke arahmu!” Vins terus berusaha memberi penjelasan yang cukup logis agar orang itu mempercayainya, meskipun Ia tahu bahwa kata-katanya pasti akan terdengar tidak masuk akal.


Namun Ia teringat bahwa jangan sampai ada yang mengetahui keanehan tentang buku milik Pamannya itu, lalu Ia buru-buru memberi penjelasan lain,


“Ah, m-maksudku. Ya, aku yang melemparnya ke arahmu, tapi bukan.. aku tidak berniat melemparnya! Aku hanya.. bagaimana ya mengatakannya..“


“Kau ini bicara apa sih?!“ Moon Ara mengangkat wajahnya dan berusaha menatap si pelaku yang terdengar kebingungan di depannya itu


Lidahnya mendadak kelu ketika melihat seseorang yang akhir-akhir ini selalu ada di pikirannya sedang berlutut di depannya, dengan wajah murung dan merasa bersalah.


“Kumohon maafkan aku.. dan jangan katakan ini pada siapapun.. tolong,” Suara baritone itu berbisik padanya dengan sangat memohon.


Sepasang mata tajam yang selalu hadir dalam setiap detik pikirannya itu berhasil membuat Moon Ara seketika melupakan apa yang baru saja terjadi padanya.


Mulutnya masih tidak mampu bicara ketika Vins menunggu jawabannya, kemudian pemuda itu meraih buku tua terkutuk yang sangat tebal itu.


Namun tiba-tiba buku itu kembali melayang tak beraturan mengelilingi mereka berdua.


“Apa yang terjadi?!!” Moon Ara menatap buku itu dengan ngeri.


“Inilah yang terjadi. Aku juga tidak tahu, kumohon jangan katakan pada yang lain ya!”


Setelah cukup membuat Vins dan Moon Ara ketakutan, buku itu perlahan berhenti dan menimpa kepala Vins. Dan sekarang mereka berdua impas.


“Dasar buku aneh!” Umpat Vins sambil mengusap kepalanya yang kesakitan.


“Buku apa itu, kenapa dia terbang seperti itu?!”


Pertanyaan Moon Ara membuat Vins menatapnya dan bingung bagaimana harus menjelaskannya. Namun perhatian Vins teralihkan ketika melihat sesuatu di kening gadis itu.


“Oh tidak, dahimu...”


......................


Seorang pelayan membawakan sebuah wadah dan kain ke arah Vins dan Ara yang sedang duduk di pelataran belakang istana. Di bawah cahaya bulan yang membuat suasana menjadi syahdu.


Vins memasukkan selembar kain ke dalam air lalu perlahan mengusap kening Moon Ara yang benjol.


“Katakan padaku jika sakit,”


“Oh, aku b-bisa melakukannya sendiri.”


Moon Ara buru-buru meraih kain itu dari tangan Vins, sebelum tubuhnya semakin bergetar ketika harus melihat Vins dalam jarak sedekat itu.


“Aku sungguh minta maaf telah membuatmu ketakutan.” Vins tersenyum malu.


“Tidak masalah, aku hanya sedikit kaget tadi.”


Moon Ara meleleh melihat tingkah Vins yang begitu ramah kepada siapapun. Bagaimana bisa dia duduk di sampingnya, berusaha mendinginkan dahinya yang benjol, dan bukannya meninggalkannya sendirian ataupun memanggilkan penjaga istana, padahal Ia belum mengetahui siapa dirinya. Bagaimana jika Moon Ara adalah pelayan baru? Bagaimana jika Moon Ara adalah penyusup?


Sebagai seorang pangeran, sikap Vins benar-benar membuatnya kagum.


"Tunggu," Kening Vins seketika berkerut ketika mengamati wajah Ara yang menurutnya cukup familiar. "Sepertinya aku pernah melihatmu. Dimana ya?"


"Oh! Kau gadis yang pergi ke kedai minuman waktu itu, kan?" Cetus Vins, yang kemudian menyesali ucapannya sendiri. Karena Ia nyaris membocorkan penyamarannya waktu itu sebagai Victor si penjaga istana.


"Memangnya kita pernah bertemu disana? Tapi kenapa aku tidak mengingatnya...?"


"Ah, tidak. Maksudku.. aku tidak sengaja melihatmu di tengah keributan, kau diserang oleh orang asing di depan kedai itu. Benar 'kan?" Tukas Vins cepat.


"Tapi bagaimana bisa kau pergi kesana? Dan seingatku aku tidak melihat penjagaan yang seperti biasanya ketika ada Pangeran datang ke tempat umum seperti itu." Jawaban Ara semakin membuat Vins kebingungan untuk memberi penjelasan.


"Uhmm.. aku tidak datang kesana bersama para pengawal, kecuali satu pengawal pribadiku. Jadi mungkin mereka yang berada disana saat itu tidak menyadari kehadiranku."


Moon Ara hanya mengangguk pelan tanpa ingin mencoba mengulik tentangnya lagi, “Perkenalkan, Aku Ara.”


“Ara?” Vins memandangnya sekali lagi, “Kau Ara yang diceritakan Pears itu? Ara dan Swain ya? Jadi.. itu kau?” Tanya Vins.


Moon Ara mengangguk.


“Tadi aku hanya pergi untuk membersihkan gaunku yang terkena tumpahan sup. Dan saat akan kembali ke pertemuan, buku itu menimpa kepalaku. Kau pasti terkejut melihat orang asing di dalam istanamu, maafkan aku ya.” Lirih Moon Ara.


“Tidak, jangan minta maaf, disini aku yang salah. Karena terlalu sibuk di kamarku sampai tidak mengetahui bahwa istana kami sedang kedatangan tamu.”


Vins mengulurkan tangannya, “Izinkan aku memperkenalkan diri. Namaku Vins, aku adalah putra kedua di Runthera.”


“Aku tahu,” Sahut Moon Ara pelan sambil menjabat tangannya.


“Kau tahu? Bagaimana kau bisa tahu?”


Moon Ara menunjukkan senyuman lebar, “Pears baru saja menceritakan tentang dirimu,”


“Oh, apakah aku sudah lama ketinggalan jamuan makan malamnya? Maafkan aku karena tidak bisa ikut menyambutmu dan saudaramu saat datang.” Ujar Vins yang tampak begitu bersalah.


“Tidak masalah. Tapi Aku harus segera kembali sekarang,” Moon Ara hendak berbalik pergi. “Ohya, terimakasih untuk kompresannya ya.”


“Nona Ara,”


Suara berat Vins yang memanggil namanya membuat Moon Ara mematung dengan perasaan gembira.


“Ya?”


Vins menggaruk rambutnya dengan kikuk, kemudian Ia berbicara dengan lembut sambil mengawasi keadaan sekitar mereka.


“Uhmm.. kumohon jangan katakan kepada siapapun tentang apa yang kau lihat tadi ya?”


“Maksudmu, buku ajaib yang menabrak kepalaku tadi?” Celetuk Moon Ara.


“Sssh!”


Vins sontak maju selangkah mendekati Ara agar gadis itu tidak bicara terlalu keras di lorong istana, apalagi beberapa penjaga ada di sekitar mereka.


“Suaramu akan menggema sampai ke ruang pertemuan, dan akan menjadi masalah besar bagiku jika Paman mengetahui itu.” Bisiknya was-was.


“Memangnya kenapa? Itu kan hanya buku tua,”


“Uhm.. tidak apa-apa.” Timpal Vins serius.


Moon Ara tersenyum melihat Vins berusaha menyembunyikan sesuatu di belakang pakaiannya sendiri.


“Aku juga suka membaca buku tua.”


“Benarkah?”


“Ya, aku suka tentang hal-hal yang tidak pernah kita ketahui dalam kehidupan sehari-hari. Seperti semesta, galaksi, dan... mahkluk-mahkluk misterius.”


“Apa yang kau tahu?” Vins tampak tertarik mendengarnya.


“Cukup banyak. Hey, kita bisa menjadi teman dan saling berbagi tentang buku yang kita baca. Apakah kau tertarik dengan hal seperti.. kehidupan setelah kematian dan sejenisnya?”


“Maksudmu seperti makhluk astral? Seperti.... umoya,” Cetus Vins antusias.


“Itu termasuk.”


“Aku tahu mereka hidup berdampingan dengan kita, dan mungkin saja saat ini dia sedang ada di dekatku.”


Kata-kata Vins yang terdengar dingin dengan pandangan penuh menyelidik itu membuat Moon Ara mendadak terpaku. Dan bagaimana jika dia sungguh-sungguh bisa mengetahui siapa dirinya?


“Keabadian, kekekalan, dan sihir yang mereka miliki. Aku pernah membaca buku itu. Katanya mereka hanya mahkluk mitologi, yang membawa kita terpengaruh di alam bawah sadar kita. Karena mereka terlalu sulit untuk dilihat dengan mata telanjang. Dan cukup sulit untuk membedakannya dengan wujud manusia yang sesungguhnya ketika mereka sedang melakukan penyamaran."


Moon Ara tersenyum, “Berarti kau belum mendalami buku itu ya?”


“Tapi aku percaya mereka ada.” Tepis Vins cepat.


“Apakah kau yakin tidak pernah bertemu dengan mereka selama ini?” Ia mulai memancingnya.


Pertanyaan Moon Ara membuat Vins berusaha menahan ucapannya.


“Guruku pernah mengatakan bahwa ada sebuah cara mudah agar bisa bertemu dengan mereka. Contohnya melalui sebuah buku, dan menguasai semua ilmu di dalamnya.” Sambung Moon Ara.


“Aku pernah. Tapi itu semua hanya lewat mimpi, dan.. selama itu tidak terjadi apa-apa."


“Pangeran," Suara berat yang menggema dari ujung lorong itu mengejutkan keduanya.


Terlihat sosok Hugo sedang berdiri jauh dihadapan mereka dengan tatapan tajam yang tampak sedingin es, sepasang mata biru dan alis yang hampir menyatu itu tertuju ke arah mereka seolah menyelidik Ara dan Vins hingga ke relung jiwanya.


Ara mengakui keberadaan Hugo saat ini sedikit membuatnya cemas.


Karena sejak tiba di istana, Hugo terus mengawasi gerak-geriknya dengan tatapan yang sangat tidak ramah dan cenderung seperti waspada.


Apalagi saat ini Vins sedang berdiri di sampingnya, dia pasti sangat membenci pemandangan ini. Lelaki itu pasti sudah bersiap-siap menyerangnya jika Ia bergerak sedikit saja yang menurutnya melewati batas terhadap Vins.


"Sedang apa disini?" Ucapnya, dengan nada bicara yang terdengar rendah.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Halooo teman-teman!


Mohon maaf sebesar-besarnya sudah membuat kalian menunggu kelanjutan cerita ini dengan sangaat lama🙏


Terimakasih banyak untuk yang sudah mau menunggu yaa


Happy reading! 😍