The Prince & The Curse of Granades

The Prince & The Curse of Granades
Bab 23 - The Guardian Angel, Swain



Langit sedang diselimuti kegelapan yang membentang luas dini hari ini.


Hanya nampak dua atau tiga titik terang sebuah bintang yang berkelap-kelip menemani bulan yang hampir ditelan awan pekat malam.


Di ujung sebuah tebing yang di bawahnya terdapat hamparan luas hutan pinus yang begitu lebat, Swain berdiri disana dan membiarkan angin menyapu lembut kulit tubuh juga pakaiannya yang panjang hingga berkibar.


Tangan kanannya menarik sebuah botol kaca berukuran sedang dari saku mantelnya.


Swain melihat ke dalam botol itu. Dari luar botol nampak sebuah pusaran angin kecil bercahaya putih yang terus berputar di dasar botol itu tanpa bisa berhenti.


Dengan perlahan Swain membuka tutup botol tersebut hingga pusaran angin kecil di dalamnya menyembur keluar dan membuat pusaran angin yang lebih besar.


Ketika pusaran itu menimbulkan angin yang cukup besar, dengan sengaja Swain menjatuhkan sesuatu ke tanah lalu bergegas meninggalkan ujung tebing itu dan berjalan pergi di tengah kegelapan di dalam hutan.


Pusaran angin itu terus menari di udara hingga perlahan menyatu dengan hembusan angin dan melepaskan titik-titik cahaya berwarna merah menyala.


Salah satu makhluk diantara titik-titik merah itu merubah wujudnya dan menampakkan dirinya. Lalu terlihat sosok Dan Tara yang menyala dan tampak marah.


Namun ketika pandangannya menangkap sesosok lelaki yang dikelilingi cahaya putih yang menyilaukan di tengah kegelapan hutan, Dan Tara seketika tercenung.


Rupanya tak hanya dirinya yang menemukan sosok itu. Para umoya Granades yang lainnya, yang juga terjebak di dalam pusaran angin itu, juga menyadari bahwa sosok lelaki tersebut yang sudah menangkap mereka dan melepaskan mereka ke tempat yang cukup jauh dari tempat asal mereka itu.


Salah satu umoya melesat hendak menyusul lelaki itu dan menyerangnya dari belakang, namun tiba-tiba dia terpental ketika hendak menembus sebuah batas yang tanpa mereka sadari telah dibangun oleh lelaki itu.


Sebuah dinding tipis yang sulit di tembus oleh para umoya yang telah dijebak olehnya. Agaknya lelaki itu tahu bahwa para umoya itu akan menyerangnya setelah melepaskan mereka dari pusaran angin dengan cara seperti itu.


Dari cahaya putih yang dipancarkan olehnya seketika Dan Tara tahu siapa dan darimana asalnya lelaki itu.


"Dia dari Pseudo." Desis Dan Tara, terdengar lirih.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di salah satu sudut di dalam Goa Pseudo.


Swain hendak meletakkan botol kaca yang digunakannya untuk menyimpan pusaran angin tadi di sebuah jajaran batu yang digunakan sebagai rak penyimpanan alat pusaka milik Pseudowinter.


Karena posisinya terletak di rak teratas, Swain harus menggunakan sihirnya untuk melayang demi mencapai tempat itu.


Sesekali Ia mengedarkan pandangan mengawasi sekitar memastikan tidak ada yang melihat dirinya di dalam ruang penyimpanan alat pusaka milik Shaga, yang sebenarnya tidak boleh digunakan dengan sembarangan oleh siapapun itu.


Namun tidak ada lagi yang bisa Swain lakukan selain mencuri salah satu 'senjata' milik Shaga untuk digunakannya sebagai perlindungan sekaligus kekuatannya melawan sosok umoya Granades yang ingin dilenyapkan oleh Moon Ara itu.


Swain berharap Shaga tidak memergokinya melakukan hal ini, atau suatu hal buruk bisa menimpanya sebagai hukuman.


"Swain?"


Mendengar gema lirih sebuah suara seseorang secara tiba-tiba, membuat Swain terkejut bukan main hingga Ia kehilangan keseimbangan dan terjembab ke tanah dengan begitu keras.


"Euna.." Gumam Swain lalu meletakkan telunjuknya di bibir.


Kini Moon Ara sedang berada di ambang pintu. Dari biasan cahaya obor yang menyala di dekatnya, terlihat sepasang mata yang nampak masih sembab itu sedang menatap Swain dengan sendu.


"Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Moon Ara dingin.


Swain beranjak bangkit lalu berjalan menghampiri Moon Ara yang terus membidiknya penuh curiga.


"Aku... aku hanya mengembalikan sesuatu yang sudah ku pinjam dari Tuan Shaga. Bukan suatu hal yang penting kok. Hehe.." Swain tersenyum lebar.


Merasa tak cukup dengan penjelasan lelaki itu, Moon Ara menyapukan pandangannya dari ujung kaki Swain hingga kepala.


"Kau darimana?" Tanya Moon Ara.


Swain bergeming tidak berani mengatakan apapun di depan gadis itu.


"Malam-malam begini kau baru kembali kesini. Kau pergi kemana tadi, Swain?" Cecar Moon Ara.


"Ternyata kau masih peduli padaku meskipun kau marah seperti itu ya?" Swain menggaruk tengkuk lehernya dengan kikuk.


Sebenarnya tidak begitu penting bagi Moon Ara kemanapun Swain mau pergi. Tapi Ia merasa heran ketika Swain kembali ke Goa Pseudo dengan membawa salah satu benda berharga milik Shaga itu.


Yang Ia tahu Swain tidak akan memiliki keberanian untuk menggunakannya dan tidak ada alasan yang pasti bagi Swain untuk meminjam benda itu. Karena Swain secara pribadi tidak memiliki musuh, dan Ia tidak pernah ingin terlibat dalam urusan apapun dengan makhluk lain.


Namun gadis itu sedang tidak ingin berdebat dengan Swain dan hanya bergegas pergi meninggalkan Swain yang masih nampak kikuk.


Tiba-tiba langkah Moon Ara tertahan ketika Swain menggenggam lengan kirinya dengan cepat.


"Kau masih marah padaku ya?" Tanya Swain dengan nada bicara yang terdengar lirih.


"Dengar ya," Kata Swain lalu menghela nafas berat.


"Aku pikir aku terlihat sangat bodoh sudah mengatakan tentang hal yang tidak-tidak padamu di depan goa tadi. Tidak seharusnya aku mengucapkan hal seperti itu. Aku benar-benar menyesal, Euna."


Moon Ara hanya menatap Swain dengan sinis.


"Aku minta maaf karena sudah bersikap kejam dengan mengingatkanmu tentang hukumanmu waktu itu."


"Kau pasti tahu, Swain. Aku sangat kecewa jika teringat akan kejadian itu, aku sangat merasa kasihan pada diriku sendiri pada saat itu. Tapi aku merasa lebih kecewa jika niat baikku dianggap sebagai sebuah akal bulus yang terkesan begitu licik." Ujar Moon Ara dingin.


Swain menjatuhkan lututnya ke tanah dan tertunduk di hadapan Moon Ara yang berusaha menahan emosinya.


"Aku sangat tahu. Tapi Aku tidak bermaksud menyakitimu dengan ucapanku. Dan aku benar-benar minta maaf sudah membuatmu marah mendengarnya." Ujar Swain.


"Percayalah, Euna. Aku tidak pernah menganggapmu sebagai musuh dalam selimut di Pseudo. Aku dengan sangat sadar bisa mengenal kepribadianmu yang berbeda dengan makhluk yang ada di Granades, itu sebabnya Tuan Shaga menyelamatkanmu dan merawatmu di wilayah ini."


Moon Ara tak ingin mengatakan apapun meskipun nada bicara Swain terdengar sangat pilu. Ia hanya membantu Swain untuk kembali berdiri.


"Aku hanya merasa bingung dengan cara apa lagi agar aku bisa membuatmu mengerti, apalagi ketika kau terus menyudutkanku dan memaksa untuk menyelamatkan orang-orang di Runthera. Aku sedang berusaha melindungimu, menjauhkanmu dari jangkauan Granades yang berbahaya demi keselamatanmu, tapi kau terus memaksa dan aku tidak bisa menahan amarahku. Aku hanya tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padamu. Tolong mengertilah, Aku tidak ingin mempi burukmu itu terulang kembali."


"Ya, aku bisa mengerti itu, Swain. Aku memang sangat tidak tahu diri. Aku selalu merepotkan semua orang, dan aku sangat keras kepala. Setidaknya jika tidak bisa melakukan sesuatu dengan benar, aku tidak perlu menjadi seseorang yang sekeras batu. Ya kan?" Kata Moon Ara, dengan seulas senyuman yang nampak getir.


Swain menghela nafas dan melangkah mendekat, Ia mengiba ketika gadis itu sedang menghakimi dirinya sendiri karena ulahnya.


"Jangan berpikir seperti itu."


"Tapi memang begitu kenyataannya, kan?" Timpal Moon Ara.


"Aku pergi ke Runthera," Kata Swain sembari menatap mata Moon Ara dengan lurus.


"Sendirian?" Pekik Ara.


"Ya. Tapi tidak banyak yang bisa kulakukan. Dengan terpaksa aku harus meminjam pusaran angin milik Tuan Shaga untuk memindahkan makhluk-makhluk itu dari kota. Aku berhasil memindahkan mereka sedikit lebih jauh."


"Lalu bagaimana dengan keadaan mereka??"


"Aku tidak mengerti kondisi di dalam Runthera lagi karena begitu melepaskan mereka di alam luas, aku langsung bergegas kemari untuk berlindung. Tapi aku yakin mereka sudah lebih aman karena dinding perbatasan yang melindungi kota mereka kubuat lebih kokoh dari sebelumnya. Itu berkat bantuan benda-benda ajaib milik Tuan Shaga tentunya."


"Kau...? Kau serius?"


Swain mengangguk, "Aku merasa bersalah melihatmu sedih seperti itu. Jadi kupikir tidak ada salahnya jika aku menuruti kemauanmu supaya impas."


"Makanya sekarang kau harus memaafkan aku sekarang. Kau tahu? Aku sudah mempertaruhkan tenaga dan nyawaku dalam rencanamu ini. Aku akan marah kalau kau masih benci padaku." Sambung Swain.


"Swain." Suara Ara terdengar lebih lembut, matanya nampak berbinar menatap Swain yang bersendakap di depannya. "Sebenarnya aku masih kesal karena kau sempat mencurigaiku. Tapi terimakasih banyak kau mau membantu orang-orang di Runthera karena diriku. Aku pikir kau tidak akan berani melakukannya."


Mata Swain sontak memicing, "Aku baru saja membantumu dan kau langsung meremehkanku? Kau.. benar-benar kurang ajar, Euna." Gerutunya.


Moon Ara yang mengerti bahwa Swain sedang pura-pura marah itu hanya tertawa kecil.


"Terimakasih, Swain. Kau sudah bersedia menjadi penjaga yang baik untukku, meskipun kau sangat membenci perintah dari Paman Shaga kali ini."


Seulas senyuman manis mengembang di wajah Swain, "Lagipula.. aku tidak bisa berlama-lama kau acuhkan seperti itu." Dengus Swain sambil berkacak pinggang.


Mendengar pengakuan Swain, Moon Ara tersenyum skeptis lalu berjalan meninggalkan Swain yang masih menatapnya serius.


"Kita baru bertengkar sebentar dan kau sudah merindukan aku, Swain?"


"Heeey! Jangan terlalu berharap!" Tukas Swain, lalu berusaha menyamai langkah Moon Ara. "Siapa yang bilang begitu? Tidak ada yang merindukanmu! Aku hanya tidak suka seseorang mengacuhkanku. Itu saja!"


"Ah, bilang saja kau merindukan aku. Melihat dari gelagatmu saja aku sudah tahu. Tidak perlu malu mengatakannya, Swain. Aku bisa mengerti itu kok."


Kening Swain semakin berkerut kesal, "Aku tidak merasa begitu! Tuan Shaga memerintahkan aku untuk menjagamu, lalu apa yang bisa aku katakan padanya kalau kau dan aku tidak mau saling bicara huh?"


"Tidak ada hubungannya dengan Paman Shaga. Melihatku marah seperti itu, kau pasti merasa sangat takut kehilangan aku, kan?"


"APA? Aku? Takut kehilanganmu? Hahaha.. yang benar saja. Apa untungnya buatku? Kau saja selalu merepotkanku setiap hari. Karenamu aku harus menjadi panglima sekaligus pengasuh anak nakal sepertimu. Teruslah hidup di dalam khayalanmu, Euna!"


"Apakah sudah ada yang mengatakan ini sebelumnya? Sungguh, Swain. Kau sangat lucu saat tersipu." Goda Moon Ara dengan kerlingan nakal diiringi gelak tawa.


Sedangkan Swain yang sedang marah sekaligus malu semakin memperjelas rona merah yang menguasai wajahnya yang menjadi merah padam.


Dengan tajam Ia menatap Moon Ara yang masih tertawa di depannya, kemudian Swain berbicara dengan nada yang lebih rendah, "Tutup mulutmu atau aku yang akan membuatmu diam hm?"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...