The Prince & The Curse of Granades

The Prince & The Curse of Granades
Bab 25 - Perseteruan Dingin



"Pears, ada yang terasa sakit?"


Pertanyaan lembut Minea menyadarkan Pears dari lamunan.


Selama di perjalanan ketika Vins dan Jerriel membopongnya menuju ke istana, Pears hanya terdiam dan membiarkan isi kepalanya berdebat hebat dan terus menyudutkan dirinya.


Dan saat sudah di dalam istana pun wajahnya benar-benar nampak murung, Ia hanya terduduk di sebuah sofa di salah satu ruangan di dalam istana dengan selimut tebal yang menghangatkannya.


Jerriel juga menyalakan perapian supaya Pears yang sempat basah kuyup itu tidak lagi kedinginan.


"Pears," Panggil Minea sekali lagi.


Pemuda itu hanya tersenyum singkat dan mengeratkan selimut yang menghangatkannya, sambil berkata, "Aku tidak apa-apa kok."


"Apa yang kau pikirkan? Kau terlihat muram."


Pears melirik Minea yang sedang menatapnya teduh, gadis itu selalu mengerti apa yang sedang dirasakannya.


"Ah, kau selalu menyadarinya." Dengus Pears.


"Ada apa? Kau mau menceritakannya padaku?"


"Aku.. hanya merasa bersalah karena sudah mengganggu latihan Vins dan Jerriel tadi. Sebaiknya aku berdiam diri di istana saja, dan berhenti merepotkan mereka semua."


"Tidak ada yang merasa direpotkan olehmu, kami senang bisa merawatmu, Pears."


"Tapi Jerriel dan Vins masih bertengkar karena kecerobohanku,"


Minea tersenyum lalu mengusap bahu Pears dengan lembut, "Tanpa adanya hal yang terjadi hari ini, mereka berdua memang terkadang sulit akur, kan? Sudahlah, jangan pikirkan tentang mereka berdua."


Sebenarnya masih banyak yang ingin Pears ungkapkan pada Minea tentang kekhawatiran dan hal-hal aneh yang dirasakannya belakangan ini, namun Ia memilih untuk tetap menyimpan semua itu untuk dirinya sendiri.


"Kemana Jerriel dan Vins?" Tanya Pears.


"Mereka sedang berganti pakaian karena basah kuyup. Sebentar lagi mereka pasti akan kesini." Katanya sambil membereskan pakaian basah yang tadi dipakai oleh Pears.


Tak lama kemudian, terdengar derap sepatu yang melangkah dari arah lorong hingga muncullah Jerriel di balik pintu dengan busana dan mantel coklat yang membuatnya terlihat gagah.


"Sudah merasa lebih baik?" Tanya Jerriel, "Tadi kau sempat menggigil di perjalanan."


"Aku merasa lebih hangat sekarang, Jerriel. Tenang saja."


"Lain kali, kau harus mendengar apa kataku. Supaya hal seperti itu tidak lagi terjadi padamu. Kau masih membutuhkan waktu sedikit lagi untuk bisa pulih, jadi jangan melakukan hal yang bisa membuat waktumu untuk sembuh menjadi lebih lama." Ujar Jerriel tegas.


Pears hanya bisa tertunduk, "Aku minta maaf, Jerriel."


"Tidak perlu minta maaf, ini bukan salahmu. Vins yang memaksamu untuk ikut kesana." Ujar Jerriel. Lalu pandangannya beralih pada Minea yang masih tertunduk tak mengatakan apapun ketika melihat Jerriel memasuki ruangan itu.


Pears bisa melihat tatapan tajam yang ditunjukkan Jerriel pada gadis itu, dan juga nada bicaranya yang terdengar ketus.


"Dan kau, antar Pears ke kamarnya sekarang. Pastikan dia beristirahat di kamarnya." Titah Jerriel dingin.


Seolah tidak peduli dengan sahutan Minea, Jerriel langsung berbalik pergi tanpa menunggu jawaban.


Tentu saja Pears merasa heran dengan drama singkat yang terjadi antara Jerriel dan Minea di depan matanya itu. Tidak biasanya mereka bersikap bak orang asing pada satu sama lain seperti itu.


Jerriel memang pemuda yang dingin, tapi jika bersama Minea sifat dinginnya itu akan mencair. Tapi hari ini situasi ini benar-benar canggung.


"Apa itu tadi?" Cetus Pears heran. "Kenapa dia bersikap seperti itu padamu? Ada sesuatu yang terjadi diantara kalian?"


"Entahlah."


"Apakah kalian bertengkar? Tapi kenapa??"


Minea tidak bisa menjelaskan kepada Pears tentang apa yang sedang terjadi diantara dirinya dan Jerriel saat ini.


Karena menurutnya pertengkaran mereka memang hanyalah hal yang biasa terjadi dalam sebuah pertemanan.


Sebuah kesalahpahaman ataupun perbedaan pendapat menjadi pemicu dinginnya suasana yang mendadak terbangun diantara mereka berdua. Sebagai sahabat, memang tak jarang mereka bertengkar hingga tidak saling bertegur sapa.


Namun setiap kali melihat Minea dengan tulus merawat Ibunya, emosi Jerriel selalu melemah.


“Pangeran Jerriel, kaukah itu?” Seru Minea lembut setelah membasuh tubuh Ratu dan merapikan rambut, pakaian, pembaringan dan seisi kamar Ratu.


Ia merasa seseorang di balik pintu sedang mengawasinya dengan sembunyi-sembunyi.


Dan Jerriel seseorang di balik pintu itu pun mengurungkan niatnya untuk kabur dari sana setelah tertangkap basah oleh Minea.


“Jika kau ingin bertemu Ratu silahkan masuk, Pangeran. Jangan karena kita bertengkar kau jadi enggan menemui Ratu disini. Dia pasti mencarimu,”


Jerriel menghela nafas mendengar penuturan lembut Minea dari dalam. Akhirnya Ia membuka pintu lebih lebar dan melangkah masuk dengan keangkuhan seorang Pangeran Jerriel.


Minea memandangnya sekilas lalu menunduk pada cawan berisi air untuk merawat Ratu di tangannya. Dan tidak ada yang ingin Jerriel katakan detik ini.


Hampir tiga hari lamanya mereka berdua tidak bertegur sapa sejak keributan mereka.


Hanya karena Minea melarangnya berbuat sesuka hatinya sendiri, Jerriel berteriak padanya dan merasa bahwa Minea terlalu mengurusi kehidupannya.


Sebuah undangan dari Kerajaan seberang bernama Summerion yang harus dihadiri oleh pemimpin dari Kerajaan, dikirim ke istana beberapa hari yang lalu. Namun Jerriel telah bertekad untuk tidak menghadirinya.


Seorang Pangeran dari Kerajaan Summerion yang bernama Carl menjadi alasan bagi Jerriel untuk menolak datang kesana.


Selain karena sifatnya yang sombong, Pangeran Carl yang penggila arak dan suka bersenang-senang dengan banyak wanita itu membuat Jerriel malas jika harus bercengkrama dengannya di jamuan makan malam antar kerajaan.


Pernah sekali Ia menghadiri suatu undangan dan bertemu dengannya. Menghadapinya dan membicarakan tentang kerja sama ataupun tentang rakyatnya, dengan gayanya yang angkuh dan dikelilingi banyak wanita, bagi Jerriel itu sudah cukup untuk menghilangkan rasa segannya kepada Pangeran Carl.


“Mereka sudah datang untuk mengantarkan kabar ini kepadamu, Pangeran Jerriel. mereka berharap lebih agar kau bisa datang di Kerajaan mereka, kumohon hargailah itu.” Ujar Minea.


“Tapi kau tidak tahu bagaimana si Carl itu, Minea. Aku bisa saja mempertemukanmu dengannya, dan akan membuatmu kehilangan rasa hormatmu kepadanya juga.” Timpal Jerriel.


“Jangan lihat sisi lainnya, dia adalah seorang pangeran tapi bagaimanapun dia juga sama seperti pemuda biasa.”


“Aku juga sama seperti pemuda lainnya. Tapi aku tidak akan melakukan hal gila seperti dia itu!”


“Itu karena kau adalah Pangeran yang baik. dan Pangeran Carl berbeda jauh denganmu. Dengar, kau tidak bisa menuntut semua orang untuk bisa berpikir sama seperti dirimu, Pangeran.”


“Itulah kenapa aku merasa bahwa menolak undangan ini adalah pilihan terbaik.”


“Begini saja, lupakan Pangeran Carl dan sisi gelapnya, Kau harus menghargai Ayahnya, Raja Lucas dari Summerion.”


Minea menatapnya dengan merengut, “Pangeran? Inikah dirimu? Aku tidak mengerti kenapa mereka bisa memilihmu menjadi pangeran mahkota yang suka bertindak seenaknya dan tidak bisa menghargai kerajaan lain!”


“Jika kau berpikir begitu, baiklah. Kau hanya temanku, berhenti mengatur hidupku dan pergilah dari hadapanku Minea!!” Sergah Jerriel tepat di wajah Minea.


Perdebatan mereka waktu itu masih mengiang di telinga Jerriel. Dan Ia yakin Minea juga masih sangat mengingatnya. Ia tahu Ia sudah keterlaluan kepada Minea yang berusaha memberinya pengertian, namun tuturan lembut Minea tak diindahkannya.


Maka ketika Minea hendak melangkah pergi dari hadapannya, Jerriel menangkap tangannya dan membuat Minea menatapnya heran.


“Kau belum merapikan tempat tidur ibuku,” Kata Jerriel dingin.


“Aku sudah merapikannya, Pangeran.” Jawab Minea sambil menarik tangannya dan menatap lantai.


“Kau sudah mengganti bunganya?”


“Sudah,” Jawabnya singkat.


Dengan alis menaut Jerriel menatap Minea, “Ibuku menyukai lilin aromaterapi di sekitarnya saat dia tidur, kau sudah menyiapkannya?"


“Aku tidak pernah lupa menyalakannya, Pangeran.”


Ia merasa kesal ketika Minea bisa menjawab semua perintahnya.


Dan ketika Jerriel membuka mulutnya untuk menanyakan hal yang lain, Minea langsung berkata, “Dan aku juga menutup semua jendela agar angin tidak mengganggu suhu tubuh Ratu, dengan korden yang kubiarkan terbuka supaya Ratu masih bisa mendapat sedikit cahaya dari luar. Kurasa aku tidak melewatkan sedikitpun jika itu tentang Ratu.”


Jerriel mendengus kesal, “Baiklah, maafkan aku,”


“Untuk apa?”


“Maaf karena aku sudah berteriak kepadamu waktu itu. Kau tahu aku keras kepala dan kau juga sama. Aku hanya tidak ingin kau terlalu mengaturku, tapi aku juga tidak ingin kita bertengkar. Aku yang salah.”


“Ini bukan soal siapa yang salah, Pangeran. Kau harus membuang kebiasaan burukmu itu,”


“Iya, iya. Aku janji. Lagipula Paman Hugo sudah kesana kan, dan dia bilang pertemuan itu sebenarnya tidak ada kaitannya denganku juga. Jadi berhentilah menyalahkanku,”


“Setidaknya aku sudah mendengar penyesalan darimu,” Kata Minea lalu tersenyum manis.


“Bagus,” Jerriel balas tersenyum lalu melangkah mendekati ranjang Ratu.


“Kau bisa disini sebentar lagi?” Tanyanya kepada Minea.


"Tapi, aku harus kembali ke dapur untuk membantu yang lainnya."


Jerriel menatap Minea dengan tatapan tajam, "Tapi ini perintah dariku."


Gadis itu hanya menghela nafas, “Baiklah,”


Minea berdiri di sisi kanan ranjang, sedangkan Jerriel duduk di tepi ranjang Ratu sambil menyentuh tangan Ratu yang dingin.


Ia terhanyut mendengarkan suara merdu Pangeran Jerriel yang menyanyikan lirih sebuah lagu untuk Ratu.


Sebuah kebiasaan yang diyakini bisa membuat keadaan Ratu perlahan pulih. Karena setiap kali mendengar Jerriel bernyanyi, perlahan wajah Ratu menunjukkan sebuah senyuman tipis.


Mungkin mekaran cherry dan musim dingin


Nanti akan berakhir


Aku merindukanmu.. Aku merindukanmu..


Tunggu aku sebentar lagi


Hanya beberapa malam lagi


Aku akan kesana untuk melihatmu


Aku akan datang untukmu..


“Ratu mendengarmu, Pangeran Jerriel.” Kata Minea kagum.


Jerriel tersenyum melihat raut wajah Ibunya yang nampak cerah dalam ketenangannya itu.


Kemudian Ia mencium kening ibunya.


“Kau harus bangun, Ibu.” Lirihnya.


“Dia pasti akan segera bangun,” Minea mengusap punggung Jerriel untuk menguatkannya.


Jerriel tersenyum, “Terimakasih,”


“Ohya, Pangeran. Mohon izin, besok pagi aku akan pergi ke tempat belajar di desa untuk bertemu anak-anak sebentar. Setelah itu aku akan segera kembali untuk merawat Ratu,”


“Aku akan kesana bersamamu,” Kata Jerriel tanpa mengalihkan pandangan dari wajah Ibunya.


“Oh, tidak perlu, Pangeran. Aku bisa pergi sendirian.”


Jerriel mengernyit melirik Minhea, “Tapi aku juga ingin kesana denganmu!”


“Jangan, Pangeran. Ah, baiklah mungkin aku bisa kesana lain kali saja,”


Mendengar Minea berusaha menghalanginya untuk turut pergi dengannya, Jerriel segera bangkit dan menatapnya penuh perhitungan, “Kenapa kau jadi melarangku pergi kesana?” Jerriel menatapnya curiga.


Minea menghela nafas, “Aku tidak ingin membuat orang-orang berpikir bahwa aku tidak tahu diri jika aku terlalu sering bersamamu. Sekarang semua orang diistana ini mengira aku si pelayan tidak punya malu yang sok akrab dengan Pangeran.”


Jerriel hanya tertawa singkat, “Hey, siapa yang peduli? Kita kan sahabat, Minea.”


“Pelayan yang lainnya peduli, khususnya para wanita disini. Mereka memandangku sinis karena kau,”


Jerriel tersenyum lebar melihat Minea yang sedang merutuki dirinya, “Itu karena mereka iri melihatmu. Seharusnya kau bersyukur bisa dekat dengan Pangeran tampan sepertiku, Minea.”


“Dasar besar kepala!” Dengus Minea sambil tertawa kecil.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jangan lupa tinggalkan like, komentar, dan vote yaa..


Terimakasih! :)