
Detik itu ada sebuah pemberitahuan bahwa tamu mereka telah tiba di Istana.
Jerriel melirik Pears yang hanya diam dengan senyuman lebar yang nampak aneh disampingnya.
Lalu Ia berdeham, “Pears, kenapa kau masih diam disitu? Apakah aku juga yang harus menyambut mereka?”
Pertanyaan sarkastik Jerriel membuat Pears tersenyum kaku. Bagaimanapun dirinyalah yang lebih dulu mengenal Swain dan Ara, dan juga yang telah mengundang mereka ke istana. Tapi rasanya masih canggung baginya untuk melakukan itu, ketika biasanya yang menyambut para tamu adalah si Pangeran Mahkota.
Walaupun sempat ragu, akhirnya Pears beranjak dari kursinya meninggalkan ruang pertemuan untuk menyambut Swain dan Ara.
Para petinggi kerajaan yang malam ini bergabung di meja pertemuan bangkit dari kursi mereka dan menyambut dua bangsawan muda yang dibicarakan Pears itu.
Tak lama kemudian, bersama Pears seorang pemuda muncul dari balik pintu aula istana dengan senyuman hangat yang menawan. Dia berparas tampan dan terlihat percaya diri. Dan di sampingnya seorang gadis cantik melangkah dengan anggunnya dalam balutan gaun berwarna ungu yang indah.
Untuk sejenak semua orang terpana melihat dua bangsawan muda bersaudara itu berjalan memasuki ruangan. Pakaian bertema klasik yang mereka kenakan membuat semua orang hanya bisa terkagum melihatnya.
Begitu mereka berhenti di depan meja panjang itu, Pears memasang senyuman terindahnya dan bersiap memperkenalkan dua temannya itu kepada semua orang.
“Perkenalkan, dia Swain. Dan adiknya, Ara. Mereka inilah yang sudah membantu penduduk desa Wedelia melewati masa sulit selama kekeringan hingga bantuan dari Istana tiba. Selamat datang di Runthera ya!”
Keduanya membungkuk kepada para anggota kerajaan yang memberi salam.
“Selamat malam, Terimakasih atas undangannya. Suatu kehormatan bagi kami karena sudah diberi kesempatan untuk mengunjungi istana Kerajaan Runthera malam ini.” Ujar Swain dengan sangat sopan, sambil tersenyum kepada semua orang di hadapannya.
Pears mempersilahkan mereka untuk duduk disampingnya. Berhadapan langsung dengan Jerriel, Hugo, dan kursi Vins yang masih kosong. Sialnya Pears baru ingat jika Vins masih belum turun dari kamarnya hingga sekarang.
Kehadiran mereka benar-benar membuat semua orang terpesona. Lantaran gaya busana mereka yang unik, mereka mulai berekspektasi tinggi terhadap kehidupan Swain dan Ara sebagai seorang bangsawan yang tinggal di salah satu desa terbesar dan terkaya di Runthera yaitu Monostera.
Jerriel mempersilahkan mereka untuk duduk dan membuka jamuan makan malamnya. Namun Hugo yang masih terpaku atas apa yang ada di depan matanya kini seolah berdiri mematung.
Ia tercengang melihat sosok gadis umoya dengan cahaya merah yang sedikit redup itu sedang berada di hadapannya, sudah sangat jelas bahwa gadis itu bukanlah manusia biasa. Dia adalah sosok manusia yang berdarah umoya dari bangsa umoya Granades.
Moon Ara merasa kikuk menyadari tatapan mengerikan yang dilontarkan Hugo kepada dirinya. Namun Ia berusaha menutupi rasa cemasnya itu karena Ia yakin bahwa pria itu tidak akan mencelakainya dalam situasi ini.
Ia teringat kepada kejadian bertahun-tahun yang lalu, seorang perdana menteri yang memimpin pasukan dan Rajanya melewati kerajaan tak kasat mata miliknya.
Seorang perdana menteri separuh Umoya, yang mampu memahami ucapannya meskipun dia berusaha mengacuhkan keberadaannya. Kini dia ada di depannya seolah diam-diam siap untuk menyerangnya.
Dan Hugo mengingat jelas wujud Umoya yang menuntun langkahnya untuk keluar dari hutan belantara waktu itu. Salah satu Umoya dari Kerajaan Granades. Salah satu musuh besar Kerajaannya. Tapi kenapa mereka bersedia membantu rakyat Runthera tanpa menghabisi mereka?
Lalu bagaimana bisa Pears bertemu mereka dan membawanya ke istana tanpa kesulitan menembus benteng pelindung yang sudah dibuatnya mengelilingi wilayah ini?
Dan apakah mereka sedang berpura-pura menjadi penduduk yang bertempat tinggal di Monostera?
Hugo bingung dengan situasi ini.
“Apakah paman mau makan dalam keadaan berdiri?”
Sindiran halus Jerriel membuat Hugo tersadar dari pikirannya. Ia melihat sekelilingnya dan duduk di kursinya dengan kaku, tanpa mengalihkan pandangannya dari Ara sedikitpun.
Swain yang duduk berhadapan dengan pria itu pun menyadari tatapan tajam Hugo yang seolah terus mengincar Ara di sampingnya, hal itu membuatnya merasa sedikit curiga sekaligus waspada.
“Perkenalkan, namaku Jerriel. Aku adalah kakak tertua disini.” Kata Jerriel singkat.
Pears memiringkan kepalanya untuk melihat Swain dan Ara yang duduk disampingnya, “Dia adalah pangeran mahkota. Dan kami ini tiga bersaudara.”
“Wow, Pangeran Jerriel adalah anak pertama? Perjalananmu sebelum lahir ke dunia ini pasti sangatlah panjang, kan?” Cetus Ara dengan polosnya.
Ia tidak bisa menahan dirinya untuk tertarik dengan cerita si kakak pertama itu. Moon Ara hanya tidak menyangka bahwa bayi dalam kandungan Ratu waktu itu yang diserang oleh Fiers telah tumbuh dewasa dan menjadi setampan ini, dan dia tampak baik-baik saja.
Tapi tentu saja respon spontan dari Ara itu membuat Jerriel sedikit tersinggung.
“Untuk menjadi yang seperti sekarang, tentu saja perjalananku tidaklah mudah.” Timpalnya dingin.
Moon Ara tersenyum tipis mendengar jawaban angkuh dari Jerriel.
Pantas saja sifatnya angkuh, selama dalam kandungan dia sudah tenggelam dalam sihir Umoya sih... Batinnya.
“Aku juga memiliki saudara kembar, meskipun tidak identik. Namanya Vins. Aku lahir lima menit setelah dia.”
“Whoa, benarkah? Itu menarik sekali!” Sahut Swain.
“Ya, tapi dia belum turun. Nanti aku akan memperkenalkannya kepada kalian. Sekaligus membawa kalian mengelilingi istana, ya?” Pears beralih untuk memperkenalkan Pamannya. “Dan perdana menteri kami, Paman Hugo. Beliau adalah sahabat dari Ayahku.”
“Senang bertemu dengan anda, Tuan Perdana Menteri.” Timpal Swain ramah, setidaknya sapaannya itu berhasil membuat Hugo berhenti menatap Ara dengan tajam.
Pria itu hanya mengangguk pelan. Dan sekarang perhatiannya tertuju kepada sosok pemuda yang duduk di hadapannya. Hugo bisa melihat aura tubuhnya menguarkan bayangan putih yang nampak tidak asing baginya. Hugo mulai menerka sosok seperti apakah dia sebenarnya, dan darimana asalnya.
Begitu juga Swain yang mampu melihat cahaya putih meredup yang mengelilingi tubuh pria yang disebut Perdana Menteri itu. Sejak saat itu Swain mengerti bahwa pria itu adalah sosok yang sama seperti dirinya.
Merasa tak menemukan sosok Raja dan Ratu di jamuan makan malam ini, Swain tidak bisa menahan rasa penasarannya untuk bertanya kepada Pears dengan hati-hati, “Maafkan aku jika pertanyaanku sedikit lancang, tapi.. apakah Raja dan Ratu Runthera tidak akan hadir di jamuan ini?"
Raut wajah Pears mendadak muram, namun Ia tetap berusaha tersenyum meskipun tampak kaku.
“Ibuku tidak bisa hadir karena sedang sakit, dan Ayahku.. telah tiada.”
“Oh, astaga.. Maafkan aku!" Swain bangkit dari kursinya lalu membungkuk, "Aku minta maaf! Aku tidak tahu soal itu, karena kami masih baru disini.” Pekik Swain yang kini menyesali rasa penasarannya itu.
“Tidak apa, Swain. Duduklah kembali.“
“Ibumu sakit? Jika boleh mengetahuinya, Ibumu sakit apa? Apakah Ayahmu juga sakit sebelumnya??” Tanpa sadar pertanyaan itu keluar dari bibir Moon Ara dan membuat semua orang nampak terkejut.
Ara perlu mengetahui tentang itu, Ia khawatir sesuatu telah terjadi di keluarga ini tanpa sepengetahuannya sejak serangan Fiers dulu. Namun pertanyaan Ara yang dianggap cukup melewati batas itu pun membuat Jerriel buru-buru memotongnya.
“Bisakah kalian ceritakan tentang kalian saja? Kami semua sungguh penasaran dengan ceritamu menemukan desa rakyat kami dan membantunya dengan cuma-cuma.” Ujar Jerriel tegas.
“Rakyatmu sangatlah baik, mereka yang lebih dulu menolongku ketika sedang terluka di dekat hutan. Mereka membawaku ke gubuk mereka dan mengobatiku hingga tersadar.” Jawab Moon Ara.
“Terluka? Bagaimana bisa?” Tanya Hugo dingin. “Apakah kau tidak bersama dengan pengawalmu?”
“Uhmm.. ceritanya panjang! Dan saat itu aku melihat keadaan mereka yang benar-benar menyedihkan. Aku mengajak saudaraku, Swain untuk ikut membantu mereka. Aku ingin membalas kebaikan mereka.”
“Oh-iya. Tentu saja. aku suka mengunjungi tempat baru.”
“Kudengar kalian adalah keturunan Bangsawan yang tinggal di Monostera ya? Apakah aku boleh mengetahui marga keluarga kalian?” Tanya Hugo dingin.
“Mooswa.” Moon Ara berharap suaranya terdengar meyakinkan.
Hugo mengernyit, “Maafkan aku, apakah kalian pendatang? Karena aku tidak pernah mendengar nama itu sebelumnya."
Diam-diam Moon Ara mendengus ketika perdana menteri itu seolah berusaha membuatnya tersudutkan.
“Yeah, keluarga kami memang pendatang disini. Untuk beberapa kali kami berpindah-pindah rumah dari satu negara ke negara lain karena keluarga kami sangat suka menjelajahi setiap tempat baru. Jadi tidak banyak orang yang mengenal kami.” Sahut Moon Ara sambil menyeringai.
Merasa butuh dukungan, Moon Ara menendang kaki Swain agar turut membantunya bicara.
"Sebenarnya menurutku pribadi aku merasa tidak enak hati jika kalian menyebut keluarga kami adalah keluarga bangsawan, Kami baru saja pindah ke Monostera sekitar dua bulan yang lalu, dan kami tinggal di salah satu rumah kecil di sekitar Monostera. Berbeda dengan warga sekitar, kami hanya warga pendatang biasa.” Sambung Swain terdengar meyakinkan.
Lalu Ia tersenyum dan menambahkan, “Aku sangat senang dan merasa terhormat dengan pertemuan ini, jadi kami berdua bisa mengenal keluarga Kerajaan Runthera secara personal seperti ini. Kami benar-benar tersanjung. Terimakasih telah memberi kesempatan istimewa ini kepada kami.”
“Wah, kelihatannya kalian memiliki Kehidupan yang sangat menarik. Aku jadi tertarik untuk berkunjung ke rumah kalian.” Sahut Pears.
“Eits, aku jadi khawatir jika rumah kecil kami tidak bisa menampung kau dan pasukanmu untuk jamuan seperti ini.” Goda Swain dan membuat semua orang tertawa kecil.
“Apakah kalian hanya tinggal berdua?” Tanya petinggi kerajaan lain yang tertarik untuk bergabung dengan obrolan ini.
“Kami tinggal bersama Ayah kami, Ayah kami adalah seseorang yang baik dan bijaksana. Dia telah merawat kami sendirian dengan sangat baik dan tulus. Tapi sayangnya dia tidak pernah meninggalkan istananya.”
Swain agak terharu mendengar Moon Ara dengan tulus mengakui Shaga sebagai Ayahnya.
"Tidak pernah meninggalkan istananya bagaimana? Bukankah kalian sangat suka berpindah-pindah tempat tinggal?" Sahut Hugo.
"Ayahku lebih menyukai ketenangan, dan mempunyai sedikit trauma. Maka jika dia telah menemukan tempat yang bisa membuatnya nyaman dan merasa aman, dia tidak akan meninggalkan tempat itu dalam jangka waktu yang lama."
"Apa yang terjadi sehingga keluarga kalian harus pergi dari tempat satu ke tempat yang lain? Apakah ada alasan khusus, atau karena ada penyebab yang lainnya?" Tanya Hugo serius.
Ara merasa pria itu masih berusaha menyudutkan dirinya karena telah mengetahui siapa dirinya sebenarnya, dan Ia berusaha memancing situasi agar Ara bisa membocorkan siapa dirinya sebenarnya.
"Ada alasan khusus sekaligus penyebab kami melakukan itu. Tuan ingin tahu apa itu?" Timpal Swain dengan tegas.
"Apa? Tolong ceritakan kepada kami," Sahut Hugo, terlihat menantang.
Merasa situasi mulai berubah menjadi tidak menyenangkan, Pears pun menyela, "Uhmm.. Paman, kurasa perkenalannya sudah cukup. Kita memang harus mengetahui satu sama lain, tapi sepertinya tidak perlu serinci itu, bukan?"
"Tidak apa, Pears. Aku ingin menjelaskannya kepada Tuan Perdana Menteri yang sepertinya sangat penasaran dengan cerita kami. Penyebab utama kami melakukan pindah sesering itu adalah..." Ujar Swain serius sambil menatap mata Hugo yang seolah menerawangnya.
Ara cemas jika Swain benar-benar akan mengatakan cerita asli dari sandiwara yang sedang mereka buat, apalagi Swain nampak sempat terpancing emosi melihat sikap Hugo. Tangan kanan Ara kini sedang menarik ujung jas yang dikenakan Swain.
"Kami menghindari penagihan pajak tempat tinggal. Hahahaha!!"
Celetukkan Swain membuat Ara menghela nafas lega, dan membuat orang-orang disekitarnya tertawa kecil.
"Tentu saja, pajak yang harus kami bayar benar-benar di luar nalar. Keluarga kami hanya terlihat kaya, tapi sebenarnya tidak sekaya itu. Jadi tolonglah.." Celoteh Swain
Setelah mengobrol panjang, Jerriel mempersilahkan mereka untuk menyantap hidangan yang sudah di siapkan.
“Ayo coba ini, ini adalah makanan khas dari Runthera!” Pears menyarankan keduanya.
Pears begitu senang mengenalkan hidangan andalan di istananya. Dengan semangat Swain mencicipinya. Namun minat Moon Ara bukanlah di makanannya. Ia hanya diam dan terus mengedarkan pandangannya ke sekeliling istana mencari seseorang.
Hingga Swain menyikut pelan lengan kirinya dan berbisik, “Hey, hargailah yang ada di depan matamu. Kenapa kau malah memutar kepalamu seperti burung hantu?”
Ara tersenyum manis menatap Swain tanpa memberinya jawaban, lalu perlahan tangan kanannya dengan sengaja menyenggol semangkuk sup yang ada tepat di depannya hingga sup itu tumpah dan membasahi gaun yang dikenakannya.
Semua orang disana terkejut melihat kejadian itu tak terkecuali Moon Ara si pembuat kegaduhan itu sendiri.
"Astaga! Nona, kau tidak apa-apa?" Pekik beberapa petinggi Kerajaan yang duduk di dekatnya.
Swain menutup wajahnya dengan frustasi.
“Setan kecil ini!” Desis Swain sebal. Lalu Ia membantu mengelap gaun Moon Ara dengan serbet sembari berbisik tajam padanya, "Apa yang sedang kau rencanakan hah?"
Moon Ara bangkit dari kursinya dan membungkuk kepada mereka, “Maafkan aku, aku tidak sengaja menumpahkan supnya. Aku benar-benar minta maaf!”
"Tidak apa, Nona Ara. Tak perlu minta maaf. Apakah kau baik-baik saja? Karena supnya masih panas." Timpal Pears cemas.
Pears meminta seorang pelayan untuk mengantar Moon Ara membersihkan gaun miliknya. Namun begitu Ia dan si pelayan memasuki lorong istana menuju ke sebuah ruangan, Moon Ara meminta pelayan itu meninggalkannya.
“Di sebelah sana, kan? Aku bisa sendirian. Terimakasih.”
"Aku akan mengantarmu, Nona. Apakah kau perlu berganti baju? Aku akan mengambilkan--"
Moon Ara meringis, "Tidak perlu, aku hanya perlu membersihkan noda ini sedikit saja. Jadi kau boleh pergi, Nyonya."
Wanita itu menggeleng lalu mendorong tubuh Moon Ara dengan lembut untuk masuk ke ruangan itu, "Izinkan aku membersihkannya,"
Moon Ara menatapnya dengan jengah, mengapa susah sekali untuk membuatnya pergi. Ia malah terus memaksa untuk menemaninya, seolah mencurigainya akan melakukan sesuatu atau mencuri sesuatu jika ditinggal sendirian.
Tak ada pilihan bagi Moon Ara kecuali menghembuskan halus sihirnya untuk membuat wanita itu tertidur.
Begitu pelayan istana itu terkulai lemas di lantai hingga terlelap, Moon Ara bergegas meninggalkannya dan memulai pencariannya.
Ia mengagumi setiap inci penataan istana Kerajaan ini yang tampak begitu megah dan indah. Lampu gantung yang sangat besar dan mewah menggantung di ruang tengah. Sebuah tangga besar dihiasi pegangan tangga berwarna gold dengan ukiran yang unik menuntun penglihatan Moon Ara untuk mendongak ke lantai atas istana ini.
Ornamen gold menjadi sentuhan cantik di setiap sisi bangunan, seperti pegangan tangga, pembatas koridor, pilar, dan lorong. Di setiap sudut terdapat vas bunga aster berwarna-warni. Jajaran lukisan abstrak berukuran lebar terpajang di setiap jengkal dindingnya.
Namun pikirannya masih tertuju kepada Pangerannya. Apakah Ia akan bertemu dengannya disini?
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...