
Vins menarik selimut tebal di ranjang Jerriel hingga menutupi tubuh kakaknya hingga sebatas dadanya.
Membiarkan Jerriel tidur dengan nyenyak setelah perseteruan dingin di dalam dirinya itu perlahan mereda hingga menguras habis energi Jerriel.
Tangan kanan Vins memantik api untuk menyalakan lilin aromaterapi yang terletak di sebuah nakas di samping ranjang Jerriel. Aroma bunga neroli menjadi aroma lilin kesukaan Jerriel setiap malam tiba, aroma lembut yang selalu berhasil membuat hatinya tenang hingga terlelap.
Kemudian Vins bergegas membereskan barang-barang milik Jerriel yang berantakan. Memunguti setiap barang yang berserakan di lantai lalu menatanya kembali di kabinet kayu jati yang ada di setiap sudut kamar Jerriel itu.
Vins menyapu sisa pecahan keramik pot bunga dan juga tanahnya hingga lantainya kembali bersih. Ia tidak menyangka akan membersihkan kamar Jerriel yang sekacau
ini, sementara si pemilik kamar sudah berlabuh ke alam mimpi.
Cahaya bulan yang nampak begitu terang terlihat dari kaca jendela kamar Jerriel yang tertutup, membuat Vins termenung.
Mendekati penghujung hari, Vins menghela nafas dan memutar kembali semua kejadian tak terduga yang Ia alami sepanjang malam ini. Bahkan hari ini belum berakhir, dan malam terasa begitu panjang mengingat semua hal yang seolah terjadi secara beruntun tak terkendali.
Mulai dari kedatangan Keluarga Kerajaan Leruviana, kekacauan di tengah kota, penyerangan yang menimpa saudaranya-Pears, dan juga Jerriel yang kembali mengalami gejala aneh itu.
Melihat semua gangguan ini nampaknya perlindungan di Runthera sedikit demi sedikit mulai dapat ditembus oleh makhluk misterius itu.
Dan sekarang Ia memikirkan upaya apa yang bisa dilakukannya untuk melindungi Runthera dari serangan makhluk itu.
Segelumit pikiran Vins berujung kepada salah satu sosok kaum Umoya yang berada di sebuah wilayah yang mereka sebut Pseudowinter itu. Tuan Shaga.
Apakah aku harus menemuinya dan meminta bantuannya untuk mengatasi hal ini?
Jika situasinya memungkinkan, Vins akan membuka buku tersebut lagi dan melakukan ritualnya agar bisa pergi ke dimensi itu, lalu meminta Shaga untuk menolongnya. Lagipula makhluk itu sudah berjanji akan membantunya.
Namun tiba-tiba Ia teringat akan pamannya, Hugo.
Karena sejak beliau memperintahkannya untuk membawa Pears masuk ke istana, Vins tidak melihat keberadaan Hugo lagi.
Vins bergegas meninggalkan kamar Jerriel, menyusuri koridor yang lengang lalu berbelok menuju tangga utama dan hampir menabrak salah seorang pimpinan Kerajaan yang kebetulan sedang melintas.
"Pangeran Vins? Kenapa kau berlari seperti itu? Apa yang terjadi?" Tanya lelaki paruh baya itu nampak cemas, sembari mengusap punggung Vins yang masih terengah.
"Tuan Helmy, apakah kau melihat Paman Hugo? Dia ada dimana sekarang??" Cecar Vins tidak sabar.
"Tenanglah dulu.." Katanya dengan lembut. "Perdana Menteri sedang pergi untuk memeriksa keadaan sekitar."
"Apakah dia pergi sendirian??" Sahut Vins.
"Ya. Dia pergi sendirian, bersama kudanya."
"Aku harus menyusulnya--"
Tuan Helmy sontak memegangi kedua bahu Vins yang hendak pergi itu, "Hey, jangan lakukan itu. Kau tahu kan semarah apa dia ketika ada yang berani mengikutinya?"
"Tapi keadaan di Runthera sedang seperti ini, Tuan! Bagaimana kalau di luar sana Paman Hugo dalam bahaya?"
"Percayakan padanya. Dia akan baik-baik saja. Dia memintaku untuk menjaga Pangeran agar tetap berada di dalam istana sampai dia kembali. Jadi tetaplah disini ya, dia pasti akan kembali dengan selamat. Seperti biasanya." Ujarnya sambil tersenyum lembut.
Mendengar penuturan Tuan Helmy yang begitu tenang membuat kekalutan dalam diri Vins perlahan mulai mereda.
Ia hanya terlalu cemas setelah melihat segala bentuk kekacauan malam ini, dan Ia tidak ingin ada lagi yang menjadi korbannya.
Ketika sudah kembali tenang, Vins teringat pada orang-orang di sekitarnya, "Oh ya, Tuan. Apakah keluarga dari Leruviana masih disini?"
"Ya. Mereka masih berkumpul di sebelah sana, karena Perdana Menteri melarang mereka untuk meninggalkan istana sampai dia kembali." Ujar Tuan Helmy, sambil mengarahkan tangannya ke sebuah balai riung di dalam istana yang berada di lantai bawah.
Dari balik pembatas koridor istana, Vins bisa melihat para tamu dari Leruviana itu berkumpul di ruangan itu dan nampak begitu hampa sekaligus kebingungan.
Mereka pasti masih tidak mengetahui situasi yang sedang terjadi disini, dan hanya bisa menunggu kejelasan supaya bisa kembali melanjutkan perjalanan pulang menuju Kerajaannya.
Vins bergegas ke kamarnya sebentar untuk mengganti pakaiannya dengan setelan yang lebih rapi, lalu Ia pergi menemui mereka secara pribadi.
Rombongan dari Leruviana menyambutnya yang kini berjalan menuju ke tengah ruangan, menghampiri Raja Liam dan Ratu Cintya beserta kedua putri mereka yang sedang duduk berhadapan di sebuah sofa di sudut ruangan.
Disana Ia juga melihat Pears berada di tengah-tengah mereka. Meskipun lengan kanannya sedang menggunakan bidai, Pears tetap setia menemani mereka dengan hangat seolah tidak ada hal buruk yang baru saja menimpanya.
Vins membungkuk sejenak ketika sudah berada di hadapan mereka.
"Selamat Malam, Yang Mulia,"
"Oh, Pangeran Vins! Akhirnya kau muncul juga. Senang bertemu denganmu." Raja Liam mengulurkan tangannya dan menjabat tangan Vins dengan hangat. Begitu juga dengan Ratu Cintya yang tersenyum lembut.
"Aku secara pribadi ingin meminta maaf karena baru bisa bergabung dalam pertemuan ini dan harus menyambutmu dalam situasi seperti ini." Ujar Vins lembut.
"Tidak apa, Pangeran. Kami sangat mengerti dengan keadaanmu. Yang terpenting sekarang kau sudah kembali sehat." Ujar Raja Liam sambil menepuk lengan Vins.
"Terimakasih." Lirih Vins sambil tersenyum kikuk.
Ia baru teringat pada alasan yang dibuatnya pada Hugo demi menghindari pertemuan ini. Yang pada akhirnya tetap membuatnya bertemu dengan keluarga ini karena segala tragedi.
"Syukurlah Pangeran Vins sudah membaik, dan bisa ada disini bersama kita sekarang. Tapi apa yang kau lakukan tadi dengan pakaian penjaga itu?" Cetus Griselda curiga.
Rosela menyenggol lengan Griselda dan berkata, "Kau yakin tidak salah lihat, Gris? Vins tadi sedang sakit perut jadi sangat tidak mungkin dia berada di luar dengan pakaian seperti itu."
"Tapi Aku yakin itu dia." Timpal Griselda bersikeras.
Rosela terkekeh, "Tapi aneh sekali, untuk apa dia melakukan itu? Lagipula Pangeran Vins yang tampan tidak mungkin berpenampilan seperti penjaga kumal tidak bermoral seperti orang yang tadi itu!"
Mendengar peredebatan itu, Vins hanya berusaha menjaga ekspresi wajahnya agar tidak menunjukkan senyuman yang skeptis.
"Anak-anak!" Tukas Ratu Cintya, "Apa yang kalian bicarakan? Berhenti berdebat di depan Pangeran, kalian terlihat sangat tidak sopan."
Vins mengangguk dengan sopan, "Tidak masalah, Yang Mulia. Aku juga sangat bersemangat bertemu dengan Pemimpin Leruviana yang sudah seperti keluarga bagi Runthera ini." Ujar Vins lalu ditutup dengan seulas senyuman manis.
Kemudian Vins melirik Pears yang sedang tersenyum tipis menatapnya, "Bagaimana tanganmu?"
"Hanya seperti ini. Aku harus memakai benda ini setiap hari untuk beberapa waktu ke depan. Tapi tidak apa, ini akan menjadi gayaku yang baru." Kata Pears lalu tertawa kecil.
"Sebenarnya apa yang terjadi di luar? Tidak ada yang memberitahu alasan kenapa kami harus tetap berada di dalam istana. Ini sungguh membingungkan." Ujar Raja Liam.
"Yang Mulia, Aku hanya bisa memohon kesabaran kalian dan tetaplah menuggu disini demi keselamatan bersama. Kami juga sedang mencari tahu apa yang sedang terjadi, dan berusaha untuk memperketat keamanan Runthera agar anda bisa melalui perjalanan pulang dengan lancar." Ujar Vins.
"Ini semua gara-gara Tov, Ayah. Pengawalmu yang tidak becus itu sudah menyerang Pears tanpa sebab, sampai melukai lengan Pears seperti itu! Dia bahkan hampir menyerangku juga! Aku tidak mau tahu, pokoknya besok pagi pria itu harus pergi dari Leruviana!" Tandas Griselda kesal.
"Kita bicarakan itu nanti saja, Gris." Timpal Raja Liam.
"Lalu bagaimana dengan keadaan Pangeran Jerriel?" Griselda menatap Vins dan Pears dengan was-was. "Dia baik-baik saja, kan?"
"Jangan khawatir, dia sedang tidur dengan nyenyak di kamarnya." Kata Vins.
"Baguslah. Saat di taman, dia mengeluhkan sakit kepala setelah meneguk segelas minuman buatan salah satu pelayan muda. Aku masih khawatir ada sesuatu di minuman itu yang bisa membuatnya seperti itu."
Mendengar ucapan Griselda, Pears tertawa kecil, "Bukan karena minumannya. Aku bisa menjamin itu karena pelayan itu adalah orang kepercayaan kakak kami. Dan hanya kebetulan saja ketika Jerriel merasakan pusing setelah meminumnya."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Udara malam semakin dingin dan terasa begitu menusuk kulit.
Suasana di sepanjang jalanan Runthera juga mulai lengang. Selain karena sudah hampir tengah malam, pengumuman yang dibuat oleh Kerajaan yang memerintahkan semua penduduk untuk segera berlindung di dalam rumah juga menjadi alasan suasana kota menjadi sepi.
Terlihat hanya beberapa penjaga yang berkeliling dan memantau situasi sekitar di setiap titik wilayah di Kerajaan Runthera yang begitu luas.
Dari kejauhan terdengar derap sepatu kuda yang memecah keheningan malam.
Mereka membungkuk bersamaan ketika seekor kuda hitam yang dikendalikan oleh Hugo berlari melintas di hadapan mereka dengan begitu cepatnya.
Seekor kuda memang berlari dengan begitu cepatnya, namun ketika melihat kuda hitam milik Perdana Menteri Runthera maka semua orang akan merasa takjub.
Kuda jantan berbulu hitam mengkilat yang nampak gagah itu mampu berlari tiga kali lebih cepat dari seekor kuda pada umumnya. Dan hanya Hugo yang bisa mengendalikan kuda itu, seolah Hugo memiliki sebuah kekuatan khusus untuk mengendalikannya.
Hugo merawat kuda itu dengan tangannya sendiri dan tidak mengizinkan siapapun menyentuhnya, termasuk Para Pangeran yang telah dianggapnya sebagai putranya sendiri. Hal itu semakin memperkuat desas-desus yang beredar bahwa kuda milik Hugo bukanlah seekor kuda biasa.
Hampir mendekati wilayah perbatasan, mata tajam Hugo menyipit ketika merasakan hembusan angin semakin kencang bagaikan dihujam ribuan jarum yang menusuknya secara beruntun.
Bahunya mulai terasa berat, dan dadanya tiba-tiba terasa begitu sesak. Atmosfer di sekitar wilayah itu terasa begitu mencekam.
Ia memperlambat laju kudanya tepat di depan sebuah dinding bening yang nampak bersinar tepat di perbatasan.
Hugo bisa melihat sebuah dinding transparan yang begitu tinggi bagai sebuah kubah besar yang menaungi wilayah Runthera, yang telah dibangunnya untuk melindungi wilayahnya dari serangan bangsa tak kasat mata itu sedikit demi sedikit mengelupas dan membentuk sebuah lubang-lubang yang menganga dan mampu di tembus oleh makhluk seperti Umoya.
Sementara Hugo tertegun melihat perlindungannya nyaris rusak, sesosok makhluk bercahaya merah yang bersembunyi di salah satu dahan pohon baru saja menyemburkan sesuatu hingga menabrak punggung Hugo dan membuat lelaki itu terhuyung hampir terjatuh.
Seketika kudanya meringik dengan keras memecah keheningan malam.
Hugo menoleh ke arah sumber serangan itu berasal dan melihat setitik cahaya merah menuju ke arahnya, beruntung dengan sigap Hugo menarik pedangnya dan menebaskannya ke udara hingga cahaya merah itu terpental jauh darinya.
Tidak sampai disitu saja, serangan lain yang serupa dengan yang baru saja terjadi kembali menyerangnya dari sudut yang berbeda hingga membuatnya terjatuh dari kudanya dan tersungkur ke tanah.
Semburan angin berkilau merah menyala itu kembali menyerangnya secara bertubi-tubi dari arah yang tak beraturan, Hugo yang masih kesakitan ketika sihir-sihir itu menembus tubuhnya berusaha menghalau satu persatu serangan itu menggunakan pedangnya.
Kuda hitamnya terus meringik dan mendorongnya untuk bangkit. Kuda itu menggunakan kepalanya untuk membantu punggung Hugo bangkit hingga mampu berdiri dengan tegak kembali.
"Tunjukkan wujud kalian di depanku!! Jangan hanya bersembunyi dan menghujamku dengan sihir terkutuk kalian yang tidak ada gunanya itu!!!" Jerit Hugo marah.
Tak lama kemudian, sebuah cahaya merah besar yang jatuh dari langit bagaikan sebuah meteor jatuh itu menimpa Hugo dan membuatnya tak berdaya.
Ia kembali terjatuh ke tanah, bahkan sekedar mengambil pedangnya pun Ia tidak sanggup lagi.
Melihat Hugo yang tak mampu melawan, tiba-tiba terdengar suara tawa yang begitu nyaring dan memekakan telinga. Semakin lama suara itu semakin keras dan seolah menggema.
Namun angin mendadak berhembus dengan kencang dan membentuk sebuah pusaran angin yang cukup besar.
Pusaran angin itu mengelilingi Hugo dan kuda hitamnya seolah menyapu habis setitik cahaya merah yang bersembunyi di balik pepohonan itu. Pohon-pohon besar itu bergoyang hebat dan nyaris terangkat dari tanah dan terbawa pusaran angin.
Hugo nampak tercengang melihat fenomena mengerikan itu. Ia hanya mampu berpegangan pada tali kudanya yang masih setia berada dibelakangnya, yang sama takutnya dengan dirinya.
Pusaran angin itu terus berputar di sekeliling Hugo selama beberapa saat. Hingga akhirnya cahaya putih mengelilingi pusaran itu dan seolah menelannya sampai menjadi pusaran angin kecil yang menari-nari di tanah.
Suasana mendadak sunyi kembali.
Hugo melihat ke arah pepohonan yang begitu gelap, tidak ada tanda-tanda keberadaan Umoya itu lagi. Sekali lagi Ia mengedarkan pandangan dan berusaha memahami situasi yang baru saja terjadi.
Pusaran angin itu berasal darimana? Apakah ada seseorang yang mengirimkannya dan berusaha menolongnya?
Tapi siapa yang memiliki kekuatan sebesar itu di Runthera?
Lagipula siapa lagi pemilik kekuatan Umoya yang ada di dalam Runthera selain aku?
Disaat Hugo masih diselimuti rasa penasaran, terdengar dentuman cukup keras yang berasal dari dinding transparan di belakangnya yang secara tiba-tiba menjadi kokoh kembali.
Dinding itu kini menjadi utuh kembali dengan sedirinya dan seolah tidak pernah di tembus seperti sebelumnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jangan lupa tinggalkan like, komentar, dan votemu yaa. Terimakasih :)